Rabu, 07 Oktober 2015

GUE JADI MAHASISWA TELADAN



Hari kedua sejak kali pertama masuk kuliah setelah libur semester genap gue masuk kelas terlambat. Emang seringnya kayak gitu juga. Pada hari itu gue dapat hasil laporan atas hasil belajar selama satu semester. Total mata kuliahnya ada tujuh. Dan gue dapat nilai sangat memuaskan. Gue cuma bisa tertawa saat melihat selembar kertas biru yang gue terima. Rasanya puas dengan hasil prestasi yang gue usahakan dengan asal.
Dari tujuh mata kuliah itu: 1 mata kuliah dapat nilai B, 3 mata kuliah dapat nilai C, dan 1 mata kulaih dapat nilai D, serta 2 mata kuliah nilainya kosong. Total nilai yang gue peroleh dari lima mata kuliah itu adalah 29. IP-nya kosong. Dengan pencapaian itu, akhirnya gue jadi mahasiswa teladan. Keren!
Pernah ada satu dosen bertanya pada seluruh mahasiswa, termasuk gue di dalamnya, tentang berapa banyak buku yang mereka punya tentang perbankan. Ya, jurusan gue perbankan syariah. Dosen itu menyebutkan sebuah angka untuk sebuah bilangan buku bagi mahasiswa yang memilikinya.
“Ada yang punya lima?”
Beberapa mahasiswa tunjuk tangan. Sang Dosen pun menuruni angka bilangannya, dan setiap itu ada yang menunjuk, sampai pada satu buku. Tapi cuma gue yang nggak pernah tunjuk tangan sepanjang Dosen menyebutkan semua itu.
“Ada yang nggak punya buku?” Tanya Dosen.
Gue tunjuk tangan. Cuma gue. Dan akhirnya… gue kena semprot gara-gara udah semester empat nggak punya buku tentang perbankan satu pun. Keterlaluan! Ditambah kalau belajar suka ketiduran di bangku paling belakang setelah masuk terlambat. Lengkap sudah prestasi gue di bidang akademik. Haha.
Gue sadar, kalau sampai orangtua gue tau tentang itu semua, betapa kecewanya mereka memiliki anak seperti gue, mungkin nasib gue akan sama kayak Malin Kundang. Tapi sejak lama gue punya sebuah prinsip: nggak menjadikan nilai akademik sebagai patokan sebuah kesuksesan dalam hidup. Nilai emang sangat-sangat penting bagi kebanyakan orang. Kertas resmi hasil belajar yang berisi nilai-nilai asli atau palsu emang sangat keramat bagi kebanyakan orang. Itu bisa dijadikan berbagai alat, salahsatunya untuk pengajuan beasiswa. Tapi nggak buat gue.
Buku yang selalu gue beli menyangkut sastra dan pengembangan diri. Karena itulah yang gue butuhkan menurut naluri. Keduanya sangat gue senangi. Gue nggak mau kerja di bank; dilihatnya saja sangat-sangat membosankan. Gue bukan tipe orang yang betah berdiam diri sepanjang hari di belakang meja. Selalu dan seperti itu yang dilakukan sepanjang tahun. Sepuluh tahun kemudian, mungkin baru bisa naik pangkat yang gak tinggi-tinggi amat. Yang gue mau bukan itu, melainkan bekerja dengan sebuah karya tangan gue sendiri. Sebuah karya yang berguna untuk banyak orang. Bukan cuma untuk perut gue. Ya, lo tau lah gaji sebagai pegawai bank tingkat dasar berapa. Paling cuma bisa mencukupi biaya hidup sehari-hari bersama istri, anak, dan sekolahnya. Menang penampilan doang yang keren. Daripada kayak gitu, mending gue buka warung atau bikin gelaran dagangan di kota tua.
Bagi sebagian orang, hidup terlalu berharga untuk dihabiskan di balik meja sepanjang hari!
Gue punya sebuah alasan mengapa gue bisa masuk perbankan. Nggak untuk diceritakan di sini. Nilai akademik gue emang ancur. Tapi gue bisa memastikan bahwa gue bisa lebih baik di luar itu dan menjadi orang yang lebih berarti ketimbang duduk di balik meja bank.

Tidak ada komentar: