Hari
kedua sejak kali pertama masuk kuliah setelah libur semester genap gue masuk
kelas terlambat. Emang seringnya kayak gitu juga. Pada hari itu gue dapat hasil
laporan atas hasil belajar selama satu semester. Total mata kuliahnya ada tujuh.
Dan gue dapat nilai sangat memuaskan. Gue cuma bisa tertawa saat melihat
selembar kertas biru yang gue terima. Rasanya puas dengan hasil prestasi yang
gue usahakan dengan asal.
Dari tujuh mata kuliah itu: 1 mata kuliah dapat
nilai B, 3 mata kuliah dapat nilai C, dan 1 mata kulaih dapat nilai D, serta 2
mata kuliah nilainya kosong. Total nilai yang gue peroleh dari lima mata kuliah
itu adalah 29. IP-nya kosong. Dengan pencapaian itu, akhirnya gue jadi
mahasiswa teladan. Keren!
Pernah ada satu dosen bertanya pada seluruh
mahasiswa, termasuk gue di dalamnya, tentang berapa banyak buku yang mereka
punya tentang perbankan. Ya, jurusan gue perbankan syariah. Dosen itu
menyebutkan sebuah angka untuk sebuah bilangan buku bagi mahasiswa yang
memilikinya.
“Ada yang punya lima?”
Beberapa mahasiswa tunjuk tangan. Sang Dosen pun
menuruni angka bilangannya, dan setiap itu ada yang menunjuk, sampai pada satu
buku. Tapi cuma gue yang nggak pernah tunjuk tangan sepanjang Dosen menyebutkan
semua itu.
“Ada yang nggak punya buku?” Tanya Dosen.
Gue tunjuk tangan. Cuma gue. Dan akhirnya… gue kena
semprot gara-gara udah semester empat nggak punya buku tentang perbankan satu
pun. Keterlaluan! Ditambah kalau belajar suka ketiduran di bangku paling
belakang setelah masuk terlambat. Lengkap sudah prestasi gue di bidang
akademik. Haha.
Gue sadar, kalau sampai orangtua gue tau tentang itu
semua, betapa kecewanya mereka memiliki anak seperti gue, mungkin nasib gue akan
sama kayak Malin Kundang. Tapi sejak lama gue punya sebuah prinsip: nggak
menjadikan nilai akademik sebagai patokan sebuah kesuksesan dalam hidup. Nilai
emang sangat-sangat penting bagi kebanyakan orang. Kertas resmi hasil belajar
yang berisi nilai-nilai asli atau palsu emang sangat keramat bagi kebanyakan
orang. Itu bisa dijadikan berbagai alat, salahsatunya untuk pengajuan beasiswa.
Tapi nggak buat gue.
Buku yang selalu gue beli menyangkut sastra dan
pengembangan diri. Karena itulah yang gue butuhkan menurut naluri. Keduanya
sangat gue senangi. Gue nggak mau kerja di bank; dilihatnya saja sangat-sangat
membosankan. Gue bukan tipe orang yang betah berdiam diri sepanjang hari di
belakang meja. Selalu dan seperti itu yang dilakukan sepanjang tahun. Sepuluh
tahun kemudian, mungkin baru bisa naik pangkat yang gak tinggi-tinggi amat.
Yang gue mau bukan itu, melainkan bekerja dengan sebuah karya tangan gue
sendiri. Sebuah karya yang berguna untuk banyak orang. Bukan cuma untuk perut
gue. Ya, lo tau lah gaji sebagai pegawai bank tingkat dasar berapa. Paling cuma
bisa mencukupi biaya hidup sehari-hari bersama istri, anak, dan sekolahnya.
Menang penampilan doang yang keren. Daripada kayak gitu, mending gue buka
warung atau bikin gelaran dagangan di kota tua.
Bagi sebagian orang, hidup terlalu
berharga untuk dihabiskan di balik meja sepanjang hari!
Gue punya sebuah alasan mengapa gue bisa masuk
perbankan. Nggak untuk diceritakan di sini. Nilai akademik gue emang ancur.
Tapi gue bisa memastikan bahwa gue bisa lebih baik di luar itu dan menjadi
orang yang lebih berarti ketimbang duduk di balik meja bank.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar