Beberapa
tahun lalu, dalam pencarian arti takdir yang dapat gue terima baik dari hati
atau akal. Saat si Emon lagi nyantai gue tanya.
“Takdir itu kayak diri lo sekarang. Apa
adanya diri lo, itu takdir lo.”
Gue diam sebentar—mikir. “Udah gitu aja,
Mon?”
Emon mengangguk. Lalu gue tanya lagi.
“Kalau lo nyuri mangga, terus digebukin orang sampai mati, itu takdir bukan,
Mon?”
Gantian, Emon yang diam. “Bukan. Eh, apa
ya?” dia garuk-garuk kepala.
Kadang, sampai sekarang pun gue masih
suka bertanya pada orang-orang atau teman-teman gue mengenai takdir. tapi
banyak dari mereka nggak paham. Gue cuma ingin tau aja, karena sayang kalau
sampai mereka nggak tau; biasanya cuma beranggapan takdir Tuhan-lah yang
membuat mereka miskin, susah, dan sebagainya. Maka dari itu gue nulis ini biar
nggak pada nyalahin Tuhan. Gara-gara Tuhan. Ih, extream.
Beberapa tahun lalu gue selalu memburu
jawaban tentang sebuah kata takdir kepada ulama, pengusaha, teman, dan orang
biasa sekalipun (mungkin aja yang terlihat sebagai orang awan malah lebih
berilmu). Gue cuma ingin tau pengertian takdir menurut masing-masing dari
mereka seperti apa. Dan karena mereka memiliki backround yang berbeda,
maka timbulah jawaban yang berbeda-beda. Seorang ulama atau guru agama menjawab
dengan pengetahuan agamanya. Mereka menjelaskan tentang takdir berdasarkan pada enam akidah, seperti: Ahlusunnah wal jamaah, Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, Jabariah,
Qodariah.
Tapi gue nggak mau panjang lebar
menjabarkan penjelasan yang lain, cuma mau menerangkan contoh Ahlusunnah aja
yang menurut akal dan hati gue cocok, tapi kalau lo penasaran dengan penjelasan
takdir yang nggak gue tulis di sini, silakan lo cari sendiri di tempat yang
lain, atau tanya sama guru lo. Begini, kalau lo melempar piring ke lantai, lalu
piring itu pecah, maka bersamaan dengan pecahnya piring itu adalah takdir
Tuhan. Lo nggak bisa mengatakan dengan pasti kalau lo lempar piring itu bakal
pecah meski secara logika demikian. Pecahnya piring itu karena takdir, bukan
sebuah hal mutlak karena lemparan lo. Itu Ahlusunnah. Seperti kisah Abraham
yang tidak dapat terbakar api meski sifat api itu membakar, itu karena takdir
Tuhan atasnya.
Dalam pemahaman ini pun takdir terbagi
menjadi dua, yaitu: takdir tetap atau pasti dan takdir yang dapat di rubah.
Sebagai contoh takdir pasti yaitu kelahiran lo sebagai laki-laki atau
perempuan, terlahir di keluarga miskin atau kaya, waktu yang nggak dapat
mundur, matahari yang terbit dari barat ke timur. Sementara contoh takdir yang
dapat dirubah ialah: lo terlahir dalam keadaan miskin, jika lo bekerja keras
dan rajin belajar, maka lo akan kaya; lo bego, kalau lo malas belajar maka lo
tetap bego. Atau bahasa kerennya GUOBLOK! Gue ulang G-U-O-B-L-O-K. Gimana
keren, kan?
Kalau rata-rata kata pengusaha begini:
Takdir itu pilihan, dan yang lo pilih itu takdir. Kalau lo mau buka usaha clothing
dengan brand lo sendiri, lalu dalam perjalanan bisnis lo mengalami
kegagalan yang disebabkan dengan berbagai macam hal, kemudian bisnis itu lo
tinggalin dan mencoba untuk membuka bisnis baru yang lo pikir lebih
menguntungkan dan mudah dalam proses marketing-nya, setelah mencoba
bisnis baru ternyata bisnis itu tersendat juga, terus lo ganti usaha baru lagi,
dan lagi-lagi mandet. Lo terus mencoba membuka usaha-usaha baru hingga pada
akhirnya usaha lo nggak ada yang berjalan dengan baik. Sebabnya karena pantat
lo lancip. Dan itu takdir lo.
Andai lo tetap bertahan di bisnis clothing
meski bagaimanapun persoalan yang lo hadapi, mungkin ke depannya lo akan
mendapat keberhasilan. Semuanya diperlukan konsistensi. Dan itu juga takdir lo.
Logikanya gini: ketika lo memulai usaha dari nol, dan baru separuh jalan,
anggap aja udah di angka 2 (angka 10 adalah kesuksesan), lo mendapat problem marketing,
kemudian lu tutup usaha lo dan buka usaha baru, maka otomatis lo akan mulai
dari nol lagi, dan butuh waktu lebih lama.
Kalau
menurut orang biasa, rata-rata mereka beranggapan bahwa takdir mereka seperti
yang mereka jalani sekarang. Tuhan telah menakdirkannya kayak gitu aja. Ada benarnya,
tapi kalau ditanya lebih dalam, terjadilah seperti dialog gue dengan Emon.
Buat lebih mudah, gue bikin gambar biar
lo bisa lebih mengerti. Gambar ini gue bikin sebagai kesimpulan dari yang gue
pahami tentang takdir. Baik (hijau) dan Buruk (merah) adalah suatu takdir yang
telah ditetapkan sebelum kita lahir ke dunia. Start adalah hari
kelahiran di dunia. Garis putih adalah usia yang nggak pernah kita tau sampai
di angka berapa kita berada di dunia ini. Lo boleh mengira-ngira usia lo untuk
mengisi kolom usia tersebut. Garis kuning, merah, biru, dan merah muda, adalah
perjalanan hidup manusia. Gue beri contoh garis yang warna kuning aja: selama
Ipin lahir, dia selalu berbuat baik, hingga di usia 50 tahun, tiba-tiba
segalanya berubah. Dia melakukan hal-hal buruk, dan mati di usia 51 sebelum
bertaubat. Karena kita nggak pernah tahu sampai kapan kita hidup, maka
disarankan untuk selalu mengingat mati agar senantiasa berbuat baik.
Contoh lain: Ketika Ipin kesusahan
karena berbagai masalah, dia melihat peluang motor untuk dicuri karena kuncinya
tertinggal di motor. Hatinya tau bahwa itu salah, itu nggak baik, ada resiko
besar jika ada yang tahu. Tapi nafsunya mendorong dia untuk mencuri motor
tersebut, dan akhirnya aksinya ketahuan sehingga ia dipukuli orang sampai
hampir mati. Itulah takdir Ipin yang ia terima jika mencuri. Andai nggak
mencuri, akan lain takdirnya. Tapi itu sudah menjadi ketetapan. Ada sebab
akibat.
Ok, semoga bisa dengan mudah dipahami.
Gue cuma ingin membuat tulisan yang sederhana agar lo yang membaca dapat lebih
mudah paham. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar