Minggu, 11 Oktober 2015

Takdir



Beberapa tahun lalu, dalam pencarian arti takdir yang dapat gue terima baik dari hati atau akal. Saat si Emon lagi nyantai gue tanya.
“Mon, lo tau gak sih takdir itu apa?”
“Takdir itu kayak diri lo sekarang. Apa adanya diri lo, itu takdir lo.”
Gue diam sebentar—mikir. “Udah gitu aja, Mon?”
Emon mengangguk. Lalu gue tanya lagi. “Kalau lo nyuri mangga, terus digebukin orang sampai mati, itu takdir bukan, Mon?”
Gantian, Emon yang diam. “Bukan. Eh, apa ya?” dia garuk-garuk kepala.
Kadang, sampai sekarang pun gue masih suka bertanya pada orang-orang atau teman-teman gue mengenai takdir. tapi banyak dari mereka nggak paham. Gue cuma ingin tau aja, karena sayang kalau sampai mereka nggak tau; biasanya cuma beranggapan takdir Tuhan-lah yang membuat mereka miskin, susah, dan sebagainya. Maka dari itu gue nulis ini biar nggak pada nyalahin Tuhan. Gara-gara Tuhan. Ih, extream.
Beberapa tahun lalu gue selalu memburu jawaban tentang sebuah kata takdir kepada ulama, pengusaha, teman, dan orang biasa sekalipun (mungkin aja yang terlihat sebagai orang awan malah lebih berilmu). Gue cuma ingin tau pengertian takdir menurut masing-masing dari mereka seperti apa. Dan karena mereka memiliki backround yang berbeda, maka timbulah jawaban yang berbeda-beda. Seorang ulama atau guru agama menjawab dengan pengetahuan agamanya. Mereka menjelaskan tentang takdir berdasarkan pada enam akidah, seperti: Ahlusunnah wal jamaah, Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, Jabariah, Qodariah.
Tapi gue nggak mau panjang lebar menjabarkan penjelasan yang lain, cuma mau menerangkan contoh Ahlusunnah aja yang menurut akal dan hati gue cocok, tapi kalau lo penasaran dengan penjelasan takdir yang nggak gue tulis di sini, silakan lo cari sendiri di tempat yang lain, atau tanya sama guru lo. Begini, kalau lo melempar piring ke lantai, lalu piring itu pecah, maka bersamaan dengan pecahnya piring itu adalah takdir Tuhan. Lo nggak bisa mengatakan dengan pasti kalau lo lempar piring itu bakal pecah meski secara logika demikian. Pecahnya piring itu karena takdir, bukan sebuah hal mutlak karena lemparan lo. Itu Ahlusunnah. Seperti kisah Abraham yang tidak dapat terbakar api meski sifat api itu membakar, itu karena takdir Tuhan atasnya.
Dalam pemahaman ini pun takdir terbagi menjadi dua, yaitu: takdir tetap atau pasti dan takdir yang dapat di rubah. Sebagai contoh takdir pasti yaitu kelahiran lo sebagai laki-laki atau perempuan, terlahir di keluarga miskin atau kaya, waktu yang nggak dapat mundur, matahari yang terbit dari barat ke timur. Sementara contoh takdir yang dapat dirubah ialah: lo terlahir dalam keadaan miskin, jika lo bekerja keras dan rajin belajar, maka lo akan kaya; lo bego, kalau lo malas belajar maka lo tetap bego. Atau bahasa kerennya GUOBLOK! Gue ulang G-U-O-B-L-O-K. Gimana keren, kan?
Kalau rata-rata kata pengusaha begini: Takdir itu pilihan, dan yang lo pilih itu takdir. Kalau lo mau buka usaha clothing dengan brand lo sendiri, lalu dalam perjalanan bisnis lo mengalami kegagalan yang disebabkan dengan berbagai macam hal, kemudian bisnis itu lo tinggalin dan mencoba untuk membuka bisnis baru yang lo pikir lebih menguntungkan dan mudah dalam proses marketing-nya, setelah mencoba bisnis baru ternyata bisnis itu tersendat juga, terus lo ganti usaha baru lagi, dan lagi-lagi mandet. Lo terus mencoba membuka usaha-usaha baru hingga pada akhirnya usaha lo nggak ada yang berjalan dengan baik. Sebabnya karena pantat lo lancip. Dan itu takdir lo.
Andai lo tetap bertahan di bisnis clothing meski bagaimanapun persoalan yang lo hadapi, mungkin ke depannya lo akan mendapat keberhasilan. Semuanya diperlukan konsistensi. Dan itu juga takdir lo. Logikanya gini: ketika lo memulai usaha dari nol, dan baru separuh jalan, anggap aja udah di angka 2 (angka 10 adalah kesuksesan), lo mendapat problem marketing, kemudian lu tutup usaha lo dan buka usaha baru, maka otomatis lo akan mulai dari nol lagi, dan butuh waktu lebih lama.
Kalau menurut orang biasa, rata-rata mereka beranggapan bahwa takdir mereka seperti yang mereka jalani sekarang. Tuhan telah menakdirkannya kayak gitu aja. Ada benarnya, tapi kalau ditanya lebih dalam, terjadilah seperti dialog gue dengan Emon.

Buat lebih mudah, gue bikin gambar biar lo bisa lebih mengerti. Gambar ini gue bikin sebagai kesimpulan dari yang gue pahami tentang takdir. Baik (hijau) dan Buruk (merah) adalah suatu takdir yang telah ditetapkan sebelum kita lahir ke dunia. Start adalah hari kelahiran di dunia. Garis putih adalah usia yang nggak pernah kita tau sampai di angka berapa kita berada di dunia ini. Lo boleh mengira-ngira usia lo untuk mengisi kolom usia tersebut. Garis kuning, merah, biru, dan merah muda, adalah perjalanan hidup manusia. Gue beri contoh garis yang warna kuning aja: selama Ipin lahir, dia selalu berbuat baik, hingga di usia 50 tahun, tiba-tiba segalanya berubah. Dia melakukan hal-hal buruk, dan mati di usia 51 sebelum bertaubat. Karena kita nggak pernah tahu sampai kapan kita hidup, maka disarankan untuk selalu mengingat mati agar senantiasa berbuat baik.
Contoh lain: Ketika Ipin kesusahan karena berbagai masalah, dia melihat peluang motor untuk dicuri karena kuncinya tertinggal di motor. Hatinya tau bahwa itu salah, itu nggak baik, ada resiko besar jika ada yang tahu. Tapi nafsunya mendorong dia untuk mencuri motor tersebut, dan akhirnya aksinya ketahuan sehingga ia dipukuli orang sampai hampir mati. Itulah takdir Ipin yang ia terima jika mencuri. Andai nggak mencuri, akan lain takdirnya. Tapi itu sudah menjadi ketetapan. Ada sebab akibat.
Ok, semoga bisa dengan mudah dipahami. Gue cuma ingin membuat tulisan yang sederhana agar lo yang membaca dapat lebih mudah paham. Semoga bermanfaat.




Tidak ada komentar: