Rabu, 07 Oktober 2015

LEGENDA BATU BERTUAH



Dari balik pohon besar hutan Strombel, aku mengintip perempuan dengan mengenakan tudung bambu sedang menggali tanah dekat batu yang berbentuk huruf  Y, tempat di mana pernah ada orang asing menguburkan sembilan batang emas di situ bersama gadis desa ini di masa lalu, ratusan tahun silam. Cerita itu kutahu dari buku yang ditulis Paolo Cheolo, The Devil and Miss Prim, tentang desa ini.
Perempuan itu tengok kanan-kiri, memastikan tidak ada yang melihatnya. Demikian dengan aku, berusaha bersembunyi dengan baik agar tidak terlihat olehnya. Setelah ia merasa yakin tidak ada orang melihat apa yang dilakukannya, ia segera pergi dengan tergopoh-gopoh. Aku, terus memastikan perempuan yang tak kukenal itu terus berjalan menjauh meninggalkan batu berbentuk Y. Kini, tinggal aku sendiri di hadapan batu itu dengan bekas galian tanah yang disematkan oleh daun-daun kering.
Dulu, seluruh penduduk desa ini memang sangat mudah mengenali setiap orang yang datang, karena jumlah penduduk di desa tidak terlalu banyak seperti sekarang. Begitu juga dengan para turis. Tapi sekarang, perkembangan desaku telah menunjukan jati dirinya. Tidak lagi para turis berdatangan ke sini hanya untuk memburu Babi hutan di setiap musim dingin, melainkan menikmati keindahan alamnya yang seperti surga karena bosan dengan kehidupan di kota, meski aku tidak tahu surga seperti apa. Desa ini memang tidak pernah berubah dari dulu. Seluruh penduduk desa selalu menjaganya dan tidak membiarkan sesuatu yang dapat merusak keindahan alam desa ini.
Banyaknya orang asing yang datang dengan tidak mengenal musim, dan tidak hanya datang untuk berburu Babi di musim dingin, aku jelas tidak bisa mengenali mereka satu-persatu.
Aku mematahkan ranting dari salah satu pohon, menyingkirkan daun-daun yang menutupi tanah gembur, dan menatapnya lamat-lamat. Aku sedikit takut untuk menggalinya. Bagaimana kalau bom? Atau jebakan yang—kalau aku gali, benda di dalamnya langsung melukaiku? Tapi aku coba beranikan diriku. Bagaimanapun, menjalani hidup dengan pahit, masih lebih baik daripada diam dengan mimpi indah yang secara tak langsung dapat membunuhku, atau akan ada bayang-bayang yang selalu mengusik kehidupanku karena aku terlalu pengecut untuk menggali tanah di hadapanku.
Sebuah kain merah terlihat setelah aku menggali tanah. Di dalamnya ada batu berwarna merah gelap, bening. Aku tidak tahu nama warna dari warna batu itu, tapi yang pasti merah gelap seperti warna hati. Ukurannya kecil, seukuran lebar dua jari. Bentuknya tidak merata, tapi lebih berbentuk oval.
Aku tidak mengerti, mengapa perempuan asing itu mengubur batu ini? Apakah spesial? Batu seperti ini banyak ditemukan di desa ini. Atau, apakah mungkin ini juga batu dari surga seperti yang banyak dipercayai banyak orang—yang sekarang menempel di pojok bangunan berbentuk kotak—di suatu wilayah yang banyak para perempuannya memakai cadar? Konon, bangunan itu dibangun oleh Abraham dan putranya, Ishmael. Hajar Aswad, begitu nama yang kutahu.
Aku tidak bisa meraba jawaban dari batu ini. Mungkin sebaiknya aku membawanya pulang, mencari informasi tentang batu ini secara diam-diam.
Dalam perjalanan menuju rumah, aku melihat banyak orang-orang bergerumun, entah apa yang mereka lakukan. Kucoba menghampiri, dan ternyata.. Oh My God, perempuan asing yang tadi kulihat di hutan telah tergeletak tidak bernafas, tubuhnya dipenuhi oleh darah.
“Apa yang telah terjadi?” tanyaku pada salah seorang penduduk asli desa.
“Dia telah dibunuh oleh dua orang laki-laki asing. Sebelum dibunuh, orang-orang asing itu bertanya padanya tentang sebuah batu, tapi perempuan itu berusaha tidak menjawab. Kedua orang asing itu terus mendesaknya, mereka mengancam jika tidak diberitahu di mana ia menyimpan batu itu, maka seluruh keluarganya akan dibinasakan. Perempuan itu hanya menunjuk ke sebuah arah hutan Strombel tanpa menyebutkan apapun karena ia telah sekarat. Salah satu orang asing itu menendangnya dengan kuat, memintanya agar menyebutkan nama tempat batunya disembunyikan, tapi karena tendangan itu ia mati.”
Aku memekik mendengar penjelasan yang baru saja kudengar. Kucoba berusaha menenangkan diri dengan menarik nafas dalam secara berulang-ulang.
“Sebuah batu di hutan Strombel.” Gemingku, serasa masih tidak percaya atas semua yang telah kulihat karena batu itu yang kini ada di saku celanaku. Apa rahasia yang tersimpan di batu ini sehingga perempuan itu dibunuh dengan sangat mengerikan?
“Apakah kedua orang asing itu sekarang pergi ke hutan?” tanyaku lagi.
“Ya.”
Aku segera pulang ke rumah dengan keringat dingin memenuhi punggung dan dahiku. Mungkin dua orang asing yang tadi sempat aku jumpai ketika diperjalanan yang telah membunuh wanita itu, dan kini sedang mencari batu yang telah kucuri. Mereka memakai jaket kulit berwarna hitam.
Sesampai di rumah, langsung kuletakan batu itu di bawah bantal, lalu kutiduri. Berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang. Darahku terasa berdesir kencang, degup jantung memburu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak ingin nasibku sama dengan perempuan asing tadi. Bagaimana pun aku ingin hidup lebih lama bersama ketenangan desa ini.
Dari dalam jendela terlihat orang-orang berjalan entah ke mana. Beberapa dari mereka kudengar membicarakan batu berwarna merah hati. Aku menutup jendela rapat-rapat, kembali memandangi batu itu.
Hai batu, apa spesialnya dirimu sehingga sampai terjadi pertumpahan darah?” aku mengulangi pertanyaan itu tiga kali, tapi tidak ada jawaban yang kudengar darinya. Tiba-tiba, ada suara yang mengetuk pintu rumahku dengan keras seraya memanggil-manggil namaku,  suaranya sangat kukenal, dia Willy, temanku.
“Ada apa kau memanggilku dengan sangat tergesa?”
“Kepala desa meminta seluruh penduduk dan para turis berkumpul di lapangan, tanpa terkecuali. Katanya, akan ada hadiah beberapa batang emas bagi yang mengetahui sebuah rahasia.”
“Rahasia apa?”
“Aku tidak tahu, sebaiknya kita ke sana saja. Mungkin keberuntungan akan berpihak pada kita hari ini.”
Aku menggeleng. Aku tahu apa yang akan dibicarakan. Pasti kedua orang asing itu yang telah meminta kepala desa untuk mengumpulkan seluruh penduduk dan para turis lain untuk mencari tahu siapa yang telah mencuri batu dari hutan Strombel dengan iming-imingan imbalan beberapa batang emas, imbalan yang sama bagi siapa pun yang mengetahui rahasia itu.
“Kepala desa mewajibkan kita semua untuk datang.”
“Sejak kapan suara kepala desa menjadi suara Tuhan yang harus dipatuhi? Aku akan datang kalau Pastor juga datang ke sana.” Ucapku tegas. Aku tahu, Pastor adalah orang yang paling bijak di desa kecil ini. Dia sangat memberi pengaruh atas perkembangan desa setelah melewati masa kelam pada saat kedatangan orang asing bersama Iblis yang menggoda hati Miss Prim untuk berbuat jahat dengan imbalan satu batang emas hanya untuk membuktikan bahwasanya di dunia ini tidak ada kebaikan, yang ada hanya kejahatan, dengan cara merayu para penduduk untuk membunuh satu orang saja di desa ini, dan sebagai imbalannya maka desa akan mendapat sembilan batang emas untuk menyelamatkan desa yang hampir mati. Aku tidak ingin sejarah itu kembali terulang. Akan sia-sia perjuangan Ahab, yang telah mengubah desa sarang para penyamun menjadi desa  penuh kedamaian, ratusan tahun silam, jauh sebelum kedatangan orang asing yang menggoda Miss Prim.
“Pastor sudah lebih dulu ke sana. Kau bisa mempercayaiku. Kalau tidak, kau boleh pastikan dia ada di gereja atau tidak.”
Aku diam. Baiklah, selama ini Willy memang tidak pernah berbohong padaku. Sesampai kami di sana, sudah banyak orang yang bergerumun. Tepat dugaanku: dua orang asing itu yang mempengaruhi kepala desa untuk mengumpulkan penduduk.
“Siapa yang telah mencuri batu berwarna merah yang terkubur di hutan Strombel dekat batu berbentuk Y?” Tanya kepala desa dengan lantang menggunakan pengeras suara.
Tidak ada yang menjawab. Dan aku, yang telah mencurinya memilih bungkam sebelum kutahu rahasia batu itu. Kakiku sedikit bergetar mengingat gadis asing yang mati tadi. Namun aku terus coba mengendalikan diri dan bersikap tenang.
“Bagi yang tahu, maka akan mendapat kebahagiaan dalam hidup. Tiga batang emas cukup untuk berkeliling dunia dan berfoya-foya sampai akhir hidup. Satu batang emas besarnya sama dengan batu bata.”
Semua orang tercengang. Sedahsyat itu kah nilai dari sebuah batu di bawah bantalku? Mengapa bisa? Dilihatnya juga itu hanya batu biasa. Kalau memang batu itu tidak lebih baik dari tiga batang emas, mengapa kedua orang asing itu menginginkannya? Batu itu pasti jauh lebih memiliki nilai, aku harus lebih cepat mencaritahunya.
“Di sini banyak sekali batu yang indah, mengapa kalian menginginkan batu itu?” tanya Pastor pada orang asing.
“Katakan saja di mana batu itu Kakek tua!”
“Aku tidak tahu.”
Dor.. Suara pistol mengangkasa setelah kalimat itu terucap dari mulut Pastor. Semua orang berhamburan. Dan aku menuju tubuh Pastor yang tergeletak, darah terus mengalir dari keningnya. Aku membawanya pulang bersama Willy.
Kurang ajar, mengapa orang asing itu membuat kerusuhan di desa ini. Semua harus dibalas! Kataku membatin seraya menggotong tubuh Pastor tergopoh-gopoh. Aku tidak rela desa yang damai ini mengalami hal seperti ini hanya oleh orang asing.
Aku dan Willy meletakan tubuh Pastor di depan gereja. Orang-orang yang tadi berlarian kini bergerumun mengelilingi Pastor yang sudah tidak bernyawa. Kuserahkan urusan kematian Pastor pada Willy, kukatakan padanya kalau aku ada keperluan lain yang harus segera diselesaikan.
Aku kembali ke rumah. Bolak-balik dalam ruang kamar sembari menggenggam batu itu—mencoba mencari jawaban atas beribu pertanyaan yang menghujam kepalaku tentang batu yang tak kutahu namanya. Terdengar suara ketukan pintu, hanya tiga ketukan. Aku sembunyikan batu itu ke tempat yang jauh lebih aman, di bawah lantai rahasia. Kucoba mendekat ke arah pintu sambil membawa alat untuk memukul, jaga-jaga kalau kedua orang asing itu yang datang.
Ternyata, seorang Kakek dengan pakaian lusuh yang kutemui. Wajahnya kusam, memakai tudung, pakaiannya compang-camping, memakai tongkat, serta membawa buntelan kecil—mungkin pakaian yang sudah tahunan tidak dicuci.
“Apakah aku harus menyambutmu dengan ramah, Kakek?”
Dia tidak menjawab, melaikan langsung berjalan menuju ruang tamu seolah sudah mengetahui seluk-beluk rumahku. Ia duduk di kursi yang kubuat dari bambu dengan pandangan tetap menunduk.
“Dari mana kau datang?” tanyaku seraya menawarkan segelas minum.
“Nusantara.”
Aku mengulang kata itu. Tidak pernah kudengar nama itu selama hidupku. “Mau apa kau datang ke desa ini?”
“Aku datang dari dunia nyata, tempat banyak sekali bedebah seperti dua orang asing yang datang ke desa ini.”
“Dunia nyata, apa maksudmu?”
“Ada dunia lain di bumi ini yang tidak kau ketahui. Kau tinggal di dunia Imajinasi, berbeda denganku. Aku datang ke duniamu menggunakan lorong dimensi.”
Aku diam, menunggu kalimat selanjutnya. Beberapa detik kutunggu, dia tidak melanjutkan ucapannya, melainkan berjalan menuju perapian mengambil sebuah wadah yang ada di atas meja dekat perapian. Sebuah wadah seperti bakul yang terbuat dari tanah liat. Setelah kembali ke hadapanku, ia memintaku untuk mengisi tempat itu dengan air. Aku memenuhi pintanya tanpa banyak bertanya. Kemudian dia menaruh beberapa jenis bunga ke dalam wadah berisi air itu dari sebuah kantung hitam. Hanya satu yang kutahu dari tujuh jenis bunga yang digunakan, yaitu bunga tulip. Ya, aku hapal sekali dengannya meski dalam wadah itu hanya tinggal kelopaknya saja.
Dia bergeming, seperti mengucapkan sebuah mantra yang tak kumengerti. Beberapa menit kemudian dia menyuruhku untuk melihat isi dari wadah itu. Aku kaget, tubuhku terperanjat. Air dalam wadah itu menunjukan sebuah gambar yang menjelaskan diriku mati sama seperti si perempuan asing. Aku tidak percaya, kakiku refleks melangkah mundur dari hadapan si Kakek misterius.
“Apa kau seorang penyihir?”
Dia menggeleng. Aku tidak percaya dengan gelengannya. Kakek tua misterius itu pasti berasal dari Hoghward, tempat di mana Harry Potter yang melegenda belajar ilmu sihir. Selama ini aku meragukan kebenaran legenda Harry Potter, tapi kini aku benar-benar menyaksikan bahwa sihir itu benar-benar ada.
“Aku bukan seorang penyihir. Itulah yang menjadi takdirmu jika kau tetap menyimpan batu itu. Kau tahu batu apa yang kau sembunyikan di balik lantai rahasiamu?”
Aku menggeleng. Bagaimana mungkin dia bisa tahu di mana aku menyimpannya? Tak sempat aku bertanya, dia melanjutkan ucapannya.
“Itu adalah batu bertuah. Batu itu awalnya berasal dari hasil penciptaan agung Sang Al-Chemist. Batu itu bisa merubah sebuah besi menjadi emas hanya dengan menempelkannya pada besi yang sebelumnya telah dicelupkan ke dalam air, maka seketika besi akan menjadi emas. Demi menjaga emas tetap berharga, ia menggunakan penemuannya dengan bijak, hanya untuk sebuah alasan agar dia bisa hidup dengan layak di dunia setelah masa penderitaan yang panjang karena kemiskinan, kemudian ia membuangnya ke tempat yang sangat jauh dengan cara melemparkannya pada pusaran pintu dimensi seperti lorong yang kugunakan untuk datang ke duniamu. Tapi ternyata, batu itu kemudian ditemukan di dunia sihir, dan menjadi perebutan antara Harry Potter dan Voldemort, seorang penyihir yang sangat menginginkan sihir hanya dimiliki oleh orang-orang yang berdarah murni dari keturunan penyihir, bukan darah campuran hasil dari pernikahan penyihir murni dan Muggle, orang biasa.”
“Tapi bukankah batu bertuah itu sudah dihancurkan oleh Doumbledore, kepala sekolah Hoghward setelah Harry Potter mampu mengalahkan Voldemort?”
“Ya, cerita yang beredar memang seperti itu. Tapi cerita tidak selalu sesuai kenyataan. Saat Doumbledore mencoba menghancurkan batu bertuah dengan tongkat sihir Alder-nya, ternyata batu itu menghilang seirama dengan halilintar dahsyat yang terpancar dari tongkat Alder menyentuhnya. Sedangkan Doumbledore menganggap batu bertuah benar-benar berhasil ia hancurkan dengan tongkat yang paling kuat di dunia sihir.”
“Lalu bagaimana batu itu bisa berada di tangan perempuan asing yang telah mati?”
Dia diam sejenak, mengatur nafas, kemudian memperbaiki posisi duduk. “Batu bertuah berada di halaman rumah perempuan malang itu tanpa ada yang tahu persis secara pasti mengapa demikian. Tapi jika dijelaskan secara fisika, halilintar adalah sebuah listrik dahsyat, dan batu bertuah yang terbuat entah dari apa memiliki sebuah perlawanan. Seperti dua kutub magnet: akan saling menjauh jika kedua kutub yang berbeda dipertemukan. Plus hanya cocok dengan Plus; air tidak mungkin bersatu dengan api,  itulah hukum alam. Tidak terkecuali dengan apapun, termasuk karakter manusia.
“Perempuan malang itu tanpa sengaja menyentuhkan batu bertuah pada sebuah besi yang basah. Maka seketika besi menjadi emas. Dan saat semua terjadi, mereka berdua melihatnya. Perempuan itu pun lari ke desa yang damai ini demi menghindari mereka yang bernafsu memilikinya. Perempuan malang tahu, bahwa akan menjadi malapetaka jika batu itu dimiliki mereka. Hanya orang-orang yang mempercayai hati nuraninya sendirilah yang tahu suatu masa depan akan baik atau tidak. Semua bergantung pada pilihan.”
“Dan mereka mengejar sampai ke desa ini?”
“Ya. Jika kau ingin menggunakannya, sebaiknya kau waspada. Jika tidak, itu akan menjadi malapetaka. Emas tidak akan ada artinya lagi, termasuk dirimu, akan hancur bersama dengan batang emas yang dipenuhi darah.”
Aku tercenung mendengar semua penjelasan yang dikatakannya. Aku teringat kembali sebuah gambar yang dilihatkan Kakek dalam wadah berisi air tadi. Aku ingin hidup! Aku ingin hidup lebih lama. Kuambil batu bertuah, kemudian kuletakan di hadapan Kakek yang belum kutahu namanya. Aku dapat mempercayainya meski baru kali ini melihatnya. Hatiku berkata dia orang yang baik. Ya, hati nurani seperti yang telah dikatakannya.
“Aku tidak ingin menyimpan batu ini. Sebaiknya dihancurkan saja.” Kataku dengan suara bergetar, takut.
Kakek misterius mengangguk. Kemudian mengambil batu itu, lalu dicelupkan pada air di wadah. Batu itu mengeluarkan udara kecil, jumlahnya banyak, banyak sekali. Semakin lama batu itu semakin kecil seperti terkikis seiring udara terus keluar darinya. Beberapa menit kemudian, wujud batu itu benar-benar hilang, tinggal airnya saja yang berubah menjadi agak kemerahan.
“Kalau hanya semudah ini menghancurkannya, mengapa Sang Al-Chemist tidak melakukannya?”
“Karena dia sendiri tidak tahu. Tidak perlu banyak bertanya lagi. Hanyutkan air ini di sungai! Biarkan semuanya kembali pada alam seperti sewajarnya.”
Aku mengangguk. Dor.. Dor.. Dor.. tiba-tiba, dari luar rumahku terdengar suara tembakan. Kubuka pintu atas paksaan si Kakek dengan kaki bergetar karena ketakutan, memastikan semua yang baru saja  kami dengar. Saat daun pintu terbuka, pucuk pistol tepat menempel di keningku. Lelaki asing satunya, menodongkan pistolnya pada si Kakek misterius. Keringatku membanjiri tubuh. Aku akan mati.
“Di mana kau simpan batu itu?” Tanya orang asing yang menempelkan pistolnya di keningku.
Bibirku juga kini bergetar, entah apa yang harus kukatakan. Saat bibirku yang pucat hendak bersuara, Kakek misterius mengetukkan tongkatnya ke tanah. Mereka terpental. Kakek kemudian mengetukan tongkatnya kembali dua ketukan. Hal yang sangat sulit kupercaya benar-benar terjadi di depan mataku. Tubuh mereka melendung: tangan, kaki, wajah, leher, termasuk perutnya yang membuncit sangat besar. Tak lama, semuanya pecah, memuncratkan cairan bening dengan bau menyengat.
“Apa yang telah kau lakukan?”
“Kau tidak perlu tahu. Lakukan saja perintahku.”
Usai berucap, dia menghilang di perapian meninggalkan lebih banyak pertanyaan di kepalaku. Aku benar-benar tidak mengerti, apakah ini semua sihir atau ilmu kimia seperti Sang Al-Chemist yang telah berhasil membuat penciptaan agung batu bertuah? Di mana tempat yang bernama Nusantara? Siapa yang bisa menjawab pertanyaanku?  Jika ada, di mana pun akan kutemui. Tanpa mengulur banyak waktu, aku pun membuang air dalam wadah itu ke sebuah sungai. Membiarkannya menyatu dengan alam seperti yang telah dikatakan Kakek misterius.

Note: Jangan lupa buat koment dan beri ekspresi lo untuk setiap tulisan gue yang udah lo baca di kolom ekspresi pembaca yang telah disediakan di bawah postingan, atas kolom komentar.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

3rd chance casino【WG】nimax casino no deposit bonus
3rd chance 온카지노 casino【WG】nimax 메리트카지노총판 casino no deposit bonus septcasino