Dari
balik pohon besar hutan Strombel, aku mengintip perempuan dengan mengenakan
tudung bambu sedang menggali tanah dekat batu yang berbentuk huruf Y, tempat di mana pernah ada orang asing
menguburkan sembilan batang emas di situ bersama gadis desa ini di masa lalu,
ratusan tahun silam. Cerita
itu kutahu dari buku yang ditulis Paolo Cheolo, The Devil and Miss Prim, tentang
desa ini.
Perempuan itu tengok kanan-kiri, memastikan tidak ada
yang melihatnya. Demikian dengan aku, berusaha bersembunyi dengan baik agar
tidak terlihat olehnya. Setelah ia merasa yakin tidak ada orang melihat apa
yang dilakukannya, ia segera pergi dengan tergopoh-gopoh. Aku, terus memastikan
perempuan yang tak kukenal itu terus berjalan menjauh meninggalkan batu
berbentuk Y. Kini, tinggal aku sendiri di hadapan batu itu dengan bekas galian
tanah yang disematkan oleh daun-daun kering.
Dulu, seluruh penduduk desa ini memang sangat mudah
mengenali setiap orang yang datang, karena jumlah penduduk di desa tidak terlalu
banyak seperti sekarang. Begitu juga dengan para turis. Tapi sekarang,
perkembangan desaku telah menunjukan jati dirinya. Tidak lagi para turis
berdatangan ke sini hanya untuk memburu Babi hutan di setiap musim dingin,
melainkan menikmati keindahan alamnya yang seperti surga karena bosan dengan
kehidupan di kota, meski aku tidak tahu surga seperti apa. Desa ini memang
tidak pernah berubah dari dulu. Seluruh penduduk desa selalu menjaganya dan
tidak membiarkan sesuatu yang dapat merusak keindahan alam desa ini.
Banyaknya orang asing yang datang dengan tidak mengenal
musim, dan tidak hanya datang untuk berburu Babi di musim dingin, aku jelas tidak bisa mengenali mereka satu-persatu.
Aku mematahkan ranting dari salah satu pohon,
menyingkirkan daun-daun yang menutupi tanah gembur, dan menatapnya lamat-lamat.
Aku sedikit takut untuk menggalinya. Bagaimana kalau bom? Atau jebakan
yang—kalau aku gali, benda di dalamnya langsung melukaiku? Tapi aku coba
beranikan diriku. Bagaimanapun, menjalani hidup dengan pahit, masih lebih baik
daripada diam dengan mimpi indah yang secara tak langsung dapat membunuhku,
atau akan ada bayang-bayang yang selalu mengusik kehidupanku karena aku terlalu
pengecut untuk menggali tanah di hadapanku.
Sebuah kain merah terlihat setelah aku menggali tanah. Di
dalamnya ada batu berwarna merah gelap, bening. Aku tidak tahu nama warna dari
warna batu itu, tapi yang pasti merah gelap seperti warna hati. Ukurannya
kecil, seukuran lebar dua jari. Bentuknya tidak merata, tapi lebih berbentuk
oval.
Aku tidak mengerti, mengapa perempuan asing itu mengubur
batu ini? Apakah spesial? Batu seperti ini banyak ditemukan di desa ini. Atau,
apakah mungkin ini juga batu dari surga seperti yang banyak dipercayai banyak
orang—yang sekarang menempel di pojok bangunan berbentuk kotak—di suatu wilayah
yang banyak para perempuannya memakai cadar? Konon, bangunan itu dibangun oleh
Abraham dan putranya,
Ishmael. Hajar Aswad, begitu nama yang kutahu.
Aku tidak bisa meraba jawaban dari batu ini. Mungkin sebaiknya
aku membawanya pulang, mencari informasi tentang batu ini secara diam-diam.
Dalam perjalanan menuju rumah, aku melihat banyak
orang-orang bergerumun, entah apa yang mereka lakukan. Kucoba menghampiri, dan
ternyata.. Oh My God, perempuan asing yang tadi kulihat di hutan telah
tergeletak tidak bernafas, tubuhnya dipenuhi oleh darah.
“Apa yang telah terjadi?” tanyaku pada salah seorang
penduduk asli desa.
“Dia telah dibunuh oleh dua orang laki-laki asing.
Sebelum dibunuh, orang-orang asing itu bertanya padanya tentang sebuah batu,
tapi perempuan itu berusaha tidak menjawab. Kedua orang asing itu terus
mendesaknya, mereka mengancam jika tidak diberitahu di mana ia menyimpan batu
itu, maka seluruh keluarganya akan dibinasakan. Perempuan itu hanya menunjuk ke
sebuah arah hutan Strombel tanpa menyebutkan apapun karena ia telah sekarat.
Salah satu orang asing itu menendangnya dengan kuat, memintanya agar
menyebutkan nama tempat batunya disembunyikan, tapi karena tendangan itu ia
mati.”
Aku memekik mendengar penjelasan yang baru saja kudengar.
Kucoba berusaha menenangkan diri dengan menarik nafas dalam secara
berulang-ulang.
“Sebuah batu di hutan Strombel.” Gemingku, serasa masih
tidak percaya atas semua yang telah kulihat karena batu itu yang kini ada di
saku celanaku. Apa rahasia yang tersimpan di batu ini sehingga perempuan itu
dibunuh dengan sangat mengerikan?
“Apakah kedua orang asing itu sekarang pergi ke hutan?”
tanyaku lagi.
“Ya.”
Aku segera pulang ke rumah dengan keringat dingin memenuhi
punggung dan dahiku. Mungkin dua orang asing yang tadi sempat aku jumpai ketika
diperjalanan yang telah membunuh wanita itu, dan kini sedang mencari batu yang
telah kucuri. Mereka memakai jaket kulit berwarna hitam.
Sesampai di rumah, langsung kuletakan batu itu di bawah
bantal, lalu kutiduri. Berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang. Darahku terasa berdesir kencang,
degup jantung memburu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak ingin
nasibku sama dengan perempuan asing tadi. Bagaimana pun aku ingin hidup lebih
lama bersama ketenangan desa ini.
Dari
dalam jendela terlihat orang-orang berjalan entah ke mana. Beberapa dari
mereka kudengar membicarakan batu berwarna merah hati. Aku menutup jendela
rapat-rapat, kembali memandangi batu itu.
“Hai batu, apa spesialnya dirimu
sehingga sampai terjadi pertumpahan darah?” aku mengulangi pertanyaan itu tiga
kali, tapi tidak ada jawaban yang kudengar darinya. Tiba-tiba, ada suara yang
mengetuk pintu rumahku dengan keras seraya memanggil-manggil namaku, suaranya sangat kukenal, dia Willy,
temanku.
“Ada
apa kau memanggilku dengan sangat tergesa?”
“Kepala
desa meminta seluruh penduduk dan para turis berkumpul di lapangan,
tanpa terkecuali.
Katanya,
akan ada hadiah beberapa batang
emas bagi yang mengetahui sebuah rahasia.”
“Rahasia apa?”
“Aku tidak tahu, sebaiknya kita ke sana saja. Mungkin
keberuntungan akan berpihak pada kita hari ini.”
Aku menggeleng. Aku tahu apa yang akan dibicarakan. Pasti
kedua orang asing itu yang telah meminta kepala desa untuk mengumpulkan seluruh
penduduk dan para turis lain untuk mencari tahu siapa yang telah mencuri batu
dari hutan Strombel dengan iming-imingan imbalan beberapa batang emas, imbalan
yang sama bagi siapa pun yang mengetahui rahasia itu.
“Kepala desa mewajibkan kita semua untuk datang.”
“Sejak kapan suara kepala desa menjadi suara Tuhan yang
harus dipatuhi? Aku akan datang kalau Pastor juga datang ke sana.” Ucapku
tegas. Aku tahu, Pastor adalah orang yang paling bijak di desa kecil ini. Dia
sangat memberi pengaruh atas perkembangan desa setelah melewati masa kelam pada
saat kedatangan orang asing bersama Iblis yang menggoda hati Miss Prim untuk
berbuat jahat dengan imbalan satu batang emas hanya untuk membuktikan
bahwasanya di dunia ini tidak ada kebaikan, yang ada hanya kejahatan, dengan
cara merayu para penduduk untuk membunuh satu orang saja di desa ini, dan
sebagai imbalannya maka desa akan mendapat sembilan batang emas untuk
menyelamatkan desa yang hampir mati. Aku tidak ingin sejarah itu kembali
terulang. Akan sia-sia perjuangan Ahab, yang telah mengubah desa sarang para
penyamun menjadi desa penuh kedamaian, ratusan
tahun silam, jauh sebelum kedatangan orang asing yang menggoda Miss Prim.
“Pastor sudah lebih dulu ke sana. Kau bisa mempercayaiku.
Kalau tidak, kau boleh pastikan dia ada di gereja atau tidak.”
Aku diam. Baiklah, selama ini Willy memang tidak pernah
berbohong padaku. Sesampai kami di sana, sudah banyak orang yang bergerumun.
Tepat dugaanku: dua orang asing itu yang mempengaruhi kepala desa untuk mengumpulkan
penduduk.
“Siapa yang telah mencuri batu berwarna merah yang
terkubur di hutan Strombel dekat batu berbentuk Y?” Tanya kepala desa dengan
lantang menggunakan pengeras suara.
Tidak ada yang menjawab. Dan aku, yang telah mencurinya
memilih bungkam sebelum kutahu rahasia batu itu. Kakiku sedikit bergetar
mengingat gadis asing yang mati tadi. Namun aku terus coba mengendalikan diri
dan bersikap tenang.
“Bagi yang tahu, maka akan mendapat kebahagiaan dalam
hidup. Tiga batang emas cukup untuk berkeliling dunia dan berfoya-foya sampai
akhir hidup. Satu batang emas besarnya sama dengan batu bata.”
Semua orang tercengang. Sedahsyat itu kah nilai dari
sebuah batu di bawah bantalku? Mengapa bisa? Dilihatnya juga itu hanya batu
biasa. Kalau memang batu itu tidak lebih baik dari tiga batang emas, mengapa
kedua orang asing itu menginginkannya? Batu itu pasti jauh lebih memiliki nilai,
aku harus lebih cepat mencaritahunya.
“Di sini banyak sekali batu yang indah, mengapa kalian
menginginkan batu itu?” tanya Pastor pada orang asing.
“Katakan saja di mana batu itu Kakek tua!”
“Aku tidak tahu.”
Dor.. Suara pistol mengangkasa setelah kalimat itu terucap dari
mulut Pastor. Semua orang berhamburan. Dan aku menuju tubuh Pastor yang
tergeletak, darah terus mengalir dari keningnya. Aku membawanya pulang bersama
Willy.
Kurang ajar, mengapa orang asing itu membuat kerusuhan di
desa ini. Semua harus dibalas! Kataku membatin seraya menggotong tubuh Pastor
tergopoh-gopoh. Aku tidak rela desa yang damai ini mengalami hal seperti ini
hanya oleh orang asing.
Aku dan Willy meletakan tubuh Pastor di depan gereja.
Orang-orang yang tadi berlarian kini bergerumun mengelilingi Pastor yang sudah
tidak bernyawa. Kuserahkan urusan kematian Pastor pada Willy, kukatakan padanya
kalau aku ada keperluan lain yang harus segera diselesaikan.
Aku kembali ke rumah. Bolak-balik dalam ruang kamar
sembari menggenggam batu itu—mencoba mencari jawaban atas beribu pertanyaan
yang menghujam kepalaku tentang batu yang tak kutahu namanya. Terdengar suara
ketukan pintu, hanya tiga ketukan. Aku sembunyikan batu itu ke tempat yang jauh
lebih aman, di bawah lantai rahasia. Kucoba mendekat ke arah pintu sambil
membawa alat untuk memukul, jaga-jaga kalau kedua orang asing itu yang datang.
Ternyata, seorang Kakek dengan pakaian lusuh yang
kutemui. Wajahnya kusam, memakai tudung, pakaiannya compang-camping, memakai
tongkat, serta membawa buntelan kecil—mungkin pakaian yang sudah tahunan tidak
dicuci.
“Apakah aku harus menyambutmu dengan ramah, Kakek?”
Dia tidak menjawab, melaikan langsung berjalan menuju
ruang tamu seolah sudah mengetahui seluk-beluk rumahku. Ia duduk di kursi yang
kubuat dari bambu dengan pandangan tetap menunduk.
“Dari mana kau datang?” tanyaku seraya menawarkan segelas
minum.
“Nusantara.”
Aku mengulang kata itu. Tidak pernah kudengar nama itu
selama hidupku. “Mau apa kau datang ke desa ini?”
“Aku datang dari dunia nyata, tempat banyak sekali
bedebah seperti dua orang asing yang datang ke desa ini.”
“Dunia nyata, apa maksudmu?”
“Ada dunia lain di bumi ini yang tidak kau ketahui. Kau
tinggal di dunia Imajinasi,
berbeda denganku. Aku datang ke duniamu menggunakan lorong dimensi.”
Aku diam, menunggu kalimat selanjutnya. Beberapa detik
kutunggu, dia tidak melanjutkan ucapannya, melainkan berjalan menuju perapian
mengambil sebuah wadah yang ada di atas meja dekat perapian. Sebuah wadah
seperti bakul yang terbuat dari tanah liat. Setelah kembali ke
hadapanku, ia memintaku untuk mengisi tempat itu dengan air. Aku memenuhi
pintanya tanpa banyak bertanya. Kemudian dia menaruh beberapa jenis bunga ke
dalam wadah berisi air itu dari sebuah kantung hitam. Hanya satu yang kutahu
dari tujuh jenis bunga yang digunakan, yaitu bunga tulip. Ya, aku hapal sekali
dengannya meski dalam wadah itu hanya tinggal kelopaknya saja.
Dia bergeming, seperti mengucapkan sebuah mantra yang tak
kumengerti. Beberapa menit kemudian dia menyuruhku untuk melihat isi dari wadah
itu. Aku kaget, tubuhku terperanjat. Air dalam wadah itu menunjukan sebuah
gambar yang menjelaskan diriku mati sama seperti si perempuan asing. Aku tidak
percaya, kakiku refleks melangkah mundur dari hadapan si Kakek misterius.
“Apa kau seorang penyihir?”
Dia menggeleng. Aku tidak percaya dengan gelengannya.
Kakek tua misterius itu pasti berasal dari Hoghward, tempat di mana Harry
Potter yang melegenda belajar ilmu sihir. Selama ini aku meragukan kebenaran
legenda Harry Potter, tapi kini aku benar-benar menyaksikan bahwa sihir itu
benar-benar ada.
“Aku bukan seorang penyihir. Itulah yang menjadi takdirmu
jika kau tetap menyimpan batu itu. Kau tahu batu apa yang kau sembunyikan di
balik lantai rahasiamu?”
Aku menggeleng. Bagaimana mungkin dia bisa tahu di mana
aku menyimpannya? Tak sempat aku bertanya, dia melanjutkan ucapannya.
“Itu adalah batu bertuah. Batu itu awalnya berasal dari
hasil penciptaan agung Sang Al-Chemist. Batu itu bisa merubah sebuah
besi menjadi emas hanya dengan menempelkannya pada besi yang sebelumnya telah
dicelupkan ke dalam air, maka seketika besi akan menjadi emas. Demi menjaga
emas tetap berharga, ia menggunakan penemuannya dengan bijak, hanya untuk
sebuah alasan agar dia bisa hidup dengan layak di dunia setelah masa
penderitaan yang panjang karena kemiskinan, kemudian ia membuangnya ke tempat
yang sangat jauh dengan cara melemparkannya pada pusaran pintu dimensi seperti
lorong yang kugunakan untuk datang ke duniamu. Tapi ternyata, batu itu kemudian
ditemukan di dunia sihir, dan menjadi perebutan antara Harry Potter dan
Voldemort, seorang penyihir yang sangat menginginkan sihir hanya dimiliki oleh
orang-orang yang berdarah murni dari keturunan penyihir, bukan darah campuran
hasil dari pernikahan penyihir murni dan Muggle, orang biasa.”
“Tapi bukankah batu bertuah itu sudah dihancurkan oleh
Doumbledore, kepala sekolah Hoghward setelah Harry Potter mampu mengalahkan
Voldemort?”
“Ya, cerita yang beredar memang seperti itu. Tapi cerita
tidak selalu sesuai kenyataan. Saat Doumbledore mencoba menghancurkan batu
bertuah dengan tongkat sihir Alder-nya, ternyata batu itu menghilang seirama
dengan halilintar dahsyat yang terpancar dari tongkat Alder menyentuhnya.
Sedangkan Doumbledore menganggap batu bertuah benar-benar berhasil ia hancurkan
dengan tongkat yang paling kuat di dunia sihir.”
“Lalu bagaimana batu itu bisa berada di tangan perempuan
asing yang telah mati?”
Dia diam sejenak, mengatur nafas, kemudian memperbaiki
posisi duduk. “Batu bertuah berada di halaman rumah perempuan malang itu tanpa
ada yang tahu persis secara pasti mengapa demikian. Tapi jika dijelaskan secara
fisika, halilintar adalah sebuah listrik dahsyat, dan batu bertuah yang terbuat
entah dari apa memiliki sebuah perlawanan. Seperti dua kutub magnet: akan
saling menjauh jika kedua kutub yang berbeda
dipertemukan. Plus hanya cocok dengan Plus;
air tidak mungkin bersatu dengan api, itulah hukum alam. Tidak terkecuali dengan
apapun, termasuk karakter manusia.
“Perempuan malang itu tanpa sengaja menyentuhkan batu
bertuah pada sebuah besi yang basah. Maka seketika besi menjadi emas. Dan saat
semua terjadi, mereka berdua melihatnya. Perempuan itu pun lari ke desa yang
damai ini demi menghindari mereka yang bernafsu memilikinya. Perempuan malang
tahu, bahwa akan menjadi malapetaka jika batu itu dimiliki mereka. Hanya
orang-orang yang mempercayai hati nuraninya sendirilah yang tahu suatu masa
depan akan baik atau tidak. Semua bergantung pada pilihan.”
“Dan mereka mengejar sampai ke desa ini?”
“Ya. Jika kau ingin menggunakannya, sebaiknya kau
waspada. Jika tidak, itu akan menjadi malapetaka. Emas tidak akan ada artinya
lagi, termasuk dirimu, akan hancur bersama dengan batang emas yang dipenuhi
darah.”
Aku tercenung mendengar semua penjelasan yang
dikatakannya. Aku teringat kembali sebuah gambar yang dilihatkan Kakek dalam
wadah berisi air tadi. Aku ingin hidup! Aku ingin hidup lebih lama. Kuambil
batu bertuah, kemudian kuletakan di hadapan Kakek yang belum kutahu namanya. Aku
dapat mempercayainya meski baru kali ini melihatnya. Hatiku berkata dia orang
yang baik. Ya, hati nurani seperti yang telah dikatakannya.
“Aku tidak ingin menyimpan batu ini. Sebaiknya
dihancurkan saja.” Kataku dengan suara bergetar, takut.
Kakek misterius mengangguk. Kemudian mengambil batu itu,
lalu dicelupkan pada air di wadah. Batu itu mengeluarkan udara kecil, jumlahnya
banyak, banyak sekali. Semakin lama batu itu semakin kecil seperti terkikis
seiring udara terus keluar darinya. Beberapa menit kemudian, wujud batu itu
benar-benar hilang, tinggal airnya saja yang berubah menjadi agak kemerahan.
“Kalau hanya semudah ini menghancurkannya, mengapa Sang Al-Chemist
tidak melakukannya?”
“Karena dia sendiri tidak tahu. Tidak perlu banyak
bertanya lagi. Hanyutkan air ini di sungai! Biarkan semuanya kembali pada alam
seperti sewajarnya.”
Aku mengangguk. Dor.. Dor.. Dor.. tiba-tiba,
dari luar rumahku terdengar suara tembakan. Kubuka pintu
atas paksaan si Kakek dengan kaki bergetar karena ketakutan,
memastikan semua yang baru saja kami dengar. Saat daun pintu
terbuka, pucuk pistol tepat menempel di keningku. Lelaki asing satunya,
menodongkan pistolnya pada si Kakek misterius. Keringatku membanjiri tubuh. Aku
akan mati.
“Di mana kau simpan batu itu?” Tanya orang asing yang
menempelkan pistolnya di keningku.
Bibirku
juga kini bergetar, entah apa yang harus kukatakan. Saat bibirku
yang pucat hendak bersuara, Kakek misterius mengetukkan tongkatnya ke tanah.
Mereka terpental. Kakek kemudian mengetukan tongkatnya kembali dua ketukan. Hal
yang sangat sulit kupercaya benar-benar terjadi di depan mataku. Tubuh mereka
melendung: tangan, kaki, wajah, leher, termasuk perutnya yang membuncit sangat
besar. Tak lama, semuanya pecah, memuncratkan cairan bening dengan bau
menyengat.
“Apa yang telah kau lakukan?”
“Kau tidak perlu tahu. Lakukan saja perintahku.”
Usai berucap, dia menghilang di perapian meninggalkan
lebih banyak pertanyaan di kepalaku. Aku benar-benar tidak mengerti, apakah ini
semua sihir atau ilmu kimia seperti Sang Al-Chemist yang telah berhasil
membuat penciptaan agung batu bertuah?
Di mana tempat yang bernama Nusantara? Siapa yang bisa menjawab
pertanyaanku?
Jika ada, di mana pun akan kutemui. Tanpa
mengulur banyak waktu, aku pun membuang air dalam wadah itu ke sebuah sungai.
Membiarkannya menyatu dengan alam seperti yang telah dikatakan Kakek misterius.
Note: Jangan lupa buat
koment dan beri ekspresi lo untuk setiap tulisan gue yang udah
lo baca di kolom ekspresi pembaca yang telah disediakan di bawah
postingan, atas kolom komentar.
1 komentar:
3rd chance casino【WG】nimax casino no deposit bonus
3rd chance 온카지노 casino【WG】nimax 메리트카지노총판 casino no deposit bonus septcasino
Posting Komentar