Suatu hari, di usia gue masih menginjak 22 tahun, jauh
dari hari lebaran gue sengaja pulang ke rumah. Alasan satu-satunya bukan karena
ingin bertemu orangtua, tetapi ingin mengambil uang yang gue simpan di rumah—kebetulan
masih punya simpanan saat itu. Ibu gue selalu bertanya
setiap kali nelepon atau saat gue di rumah.
“Sud, punya uang nggak?”
Gue selalu jawab dengan kata “banyak”,
meski terkadang gue gak punya uang samasekali, itu cara agar Ibu gue gak maksa
gue untuk nerima uang yang diberikannya. Karena gue tau, keperluan adik-adik
gue masih banyak. Siapa pun yang bertanya seperti itu, pasti gue jawab dengan
jawaban yang sama biar gak dikasihani orang. Karena gue merasa gak perlu
dikasihani sehingga orang lain bergetar hatinya untuk melemparkan koin ke arah
gue atau selembar uang yang dilemparkan ke wajah; gue orang muda, punya impian,
hidup gue bahagia. Gue mensyukuri hidup ini. Yang gue butuhkan adalah
dikasihani oleh Tuhan. Itu segalanya. Gue gak pernah berniat menjadi pengemis
atau peminta meski pada keluarga sendiri: Nenek, Bibi, atau siapa pun. Mungkin
bisa diartikan bentuk kasih sayang Tuhan melalui pemberian mereka selama gue
belum bekerja atau saat dagang menghadapi kesulitan. Tapi rasanya kalau seperti
itu gue hidup malah menjadi beban bagi mereka. Gue gak mau, seharunya gue yang
memberikan sesuatu pada mereka.
Pagi-pagi, sebelum Ibu gue berangkat
kerja, gue memasak air secukupnya. Setelah air mendidih, gue masukan ke dalam
bak kecil, kemudian gue campur dengan air biasa. Gue meminta kedua orangtua gue
duduk di tempat yang gue inginkan. Kemudian gue letakan bak di bawah kaki Bapak
gue terlebih dahulu. Saat itulah rasanya pertama kali air mata gue mengalir di
depan Bapak gue setelah gue dewasa. Sekiranya cukup mengusap kakinya, membersihkan
jari-jarinya, gue cium kakinya sebagai bakti gue sebagai seorang anak. Pun
demikian dengan Ibu gue, air mata gue nggak bisa terbendung. Gue mengingat
saat-saat lebaran setiap tahun, gak pernah gue nangis di depan mereka meski
keadaannya bagaimana pun. Kalau di belakang mereka, air mata gue emang suka
tumpah ketika memikirkan kapan gue bisa memberikan hal terbaik yang mampu gue
lakuin untuk wujud bakti gue sebagai seorang anak. Tapi nggak pernah bisa
tumpah saat hari lebaran. Gue bukan orang yang suka bersandiwara; menangis
sesaat seolah menyesali perbuatan yang dilakukan, kemudian gak memakan banyak
hari, menggunjing, menuduh, atau sebagainya terulang kembali. Drama mengharukan
itu terjadi setiap tahun di hari yang disebut fitri
oleh kebanyakan orang.
Hari itu juga, pertama kalinya
gue melihat mata Bapak gue berlinang air mata. Gue tau, sebisa munkin dia
menahan air matanya untuk nggak tumpah. Ya, emang nggak tumpah, tapi mata yang merah dan genangan
air yang memenuhi kelopak matanya terlihat jelas. Sedangkan Ibu gue, air
matanya mengalir dengan mudah melewati pipi.
Hari yang begitu melegakan
setelah gue berusaha keras untuk berani melakukannya. Gue mengharapkan
keridhoan kepada mereka atas doanya agar gue bisa dengan cepat meraih impian.
Gue yakin betul bahwa ridho orangtua adalah ridho Tuhan. Karena yang dapat mengabulkan
segala harapan adalah Tuhan, maka jalannya adalah membuat orangtua ridho.
Setelah hari itu, Bapak gue yang sebelumnya bersikap seperti canggung kepada gue, pun
demikian dengan gue, kini bisa lebih
hangat, gue dapat rasakannya.
Buat lo yang merasa punya
kerenggangan pada orangtua, cobalah lakukan kayak yang udah gue lakukan. Lo
pasti akan merasakan suatu perbedaan yang begitu kuat. Jika orangtua lo keras, maka dengan sekejap mereka
menjadi lebih lembut pada lo. Meski lo hanya melakukannya sekali, itu sangat
berkesan dan menjadi sebuah pengingat baik pada diri lo, jika ingin durhaka
pada mereka, atau pun bagi mereka ketika hendak mengomeli atau menghukum lo. Itu
akan menjadi pengingat yang ampuh untuk kelangsungan hidup yang lebih baik.
Emang, hal ini akan terasa
sangat berat untuk dilakukan meski terlihat sederhana. Justru yang terlihat
sederhana dan berat untuk dilakukan biasanya menyimpan sebuah secrets, atau bisa juga dikatakan
hikmah yang luarbiasa besar. Sekeras apa pun hati orangtua lo, atau sikap lo
kepada mereka, ketika lo memberanikan diri untuk melakukan itu, maka keajaiban Tuhan
akan datang bersamaan dengan usaha yang terlaksana.
Sorry, gue
sebenarnya bukan ahli agama, tapi gue ingin sedikit menyinggung yang menyangkut
tentang agama. Kalam Tuhan dalam lembaran kitab-Nya dikatakan pada surat
Yaasin, ayat 82: Sesungguhnya, urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu,
Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. Gue
memegang teguh firman itu. Makanya, untuk mencapai impian, hal pertama (jika lo
percaya Tuhan), membuat bagaimana caranya agar Tuhan memberikan perhatian-Nya
yang lebih terhadap kita agar apa yang kita ingin capai mendapat ridho dari-Nya
sehingga akan terasa bermanfaat untuk oranglain; salah satunya mencuci dan
mencium kaki orangtua. Karena di bawah telapak kaki salah satu dari mereka,
Ibu, tersimpan surga yang telah dijanjikan oleh-Nya.
Bay the way sebagai makhluk biasa, emang rasanya nggak pantas kita
mengharapkan surga-Nya karena untuk melakukan ibadah pun jarang kita lakukan.
Cuma sesekali dalam sehari, selebihnya dosa. Pun kalau dimasukan ke neraka kita
nggak bakal sanggup karena begitu pedihnya gambaran yang telah dicerminkan oleh
kitab-Nya. Mungin yang terbaik adalah mendapat ridho dari-Nya. Setelah itu,
terserah kepada-Nya mau menempatkan kita di surga atau neraka, asal Dia ridho.
Sebab, dengan ridhonya, malaikat Malik, sang penjaga neraka, dan Nabi Ibrahim
pun nggak kepanasan tubuhnya diselimuti api. Itu terjadi karena ridho-Nya. Dan
sebaliknya, Adam dan Hawa yang tinggal di surga, bisa hidup menderita karena
melakukan hal yang nggak diridhoi-Nya.
Ehm, gue kok tiba-tiba jadi
kaya ustadz ya? Apa kata ustadz yang asli kalau gue salah. Udah
ah, gue rasa cukup sampai di sini gue cerita. Sampai jumpa lagi, tetap semangat
jalani hidup, dan jangan pernah merasa sendirian, Your not walk alone,
someone care you. Setidaknya ada Tuhan. Pesan terakhir dari gue:
Berharaplah, karena Tuhan akan memberi keajaiban pada orang-orang yang berharap
pada-Nya.
Salam
cinta dari gue, Sudarman BK.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar