Minggu, 11 Oktober 2015

Kali Pertama Gue Nangis di Depan Orangtua



Suatu hari, di usia gue masih menginjak 22 tahun, jauh dari hari lebaran gue sengaja pulang ke rumah. Alasan satu-satunya bukan karena ingin bertemu orangtua, tetapi ingin mengambil uang yang gue simpan di rumah—kebetulan masih punya simpanan saat itu. Ibu gue selalu bertanya setiap kali nelepon atau saat gue di rumah.
“Sud, punya uang nggak?”
Gue selalu jawab dengan kata “banyak”, meski terkadang gue gak punya uang samasekali, itu cara agar Ibu gue gak maksa gue untuk nerima uang yang diberikannya. Karena gue tau, keperluan adik-adik gue masih banyak. Siapa pun yang bertanya seperti itu, pasti gue jawab dengan jawaban yang sama biar gak dikasihani orang. Karena gue merasa gak perlu dikasihani sehingga orang lain bergetar hatinya untuk melemparkan koin ke arah gue atau selembar uang yang dilemparkan ke wajah; gue orang muda, punya impian, hidup gue bahagia. Gue mensyukuri hidup ini. Yang gue butuhkan adalah dikasihani oleh Tuhan. Itu segalanya. Gue gak pernah berniat menjadi pengemis atau peminta meski pada keluarga sendiri: Nenek, Bibi, atau siapa pun. Mungkin bisa diartikan bentuk kasih sayang Tuhan melalui pemberian mereka selama gue belum bekerja atau saat dagang menghadapi kesulitan. Tapi rasanya kalau seperti itu gue hidup malah menjadi beban bagi mereka. Gue gak mau, seharunya gue yang memberikan sesuatu pada mereka.
Pagi-pagi, sebelum Ibu gue berangkat kerja, gue memasak air secukupnya. Setelah air mendidih, gue masukan ke dalam bak kecil, kemudian gue campur dengan air biasa. Gue meminta kedua orangtua gue duduk di tempat yang gue inginkan. Kemudian gue letakan bak di bawah kaki Bapak gue terlebih dahulu. Saat itulah rasanya pertama kali air mata gue mengalir di depan Bapak gue setelah gue dewasa. Sekiranya cukup mengusap kakinya, membersihkan jari-jarinya, gue cium kakinya sebagai bakti gue sebagai seorang anak. Pun demikian dengan Ibu gue, air mata gue nggak bisa terbendung. Gue mengingat saat-saat lebaran setiap tahun, gak pernah gue nangis di depan mereka meski keadaannya bagaimana pun. Kalau di belakang mereka, air mata gue emang suka tumpah ketika memikirkan kapan gue bisa memberikan hal terbaik yang mampu gue lakuin untuk wujud bakti gue sebagai seorang anak. Tapi nggak pernah bisa tumpah saat hari lebaran. Gue bukan orang yang suka bersandiwara; menangis sesaat seolah menyesali perbuatan yang dilakukan, kemudian gak memakan banyak hari, menggunjing, menuduh, atau sebagainya terulang kembali. Drama mengharukan itu terjadi setiap tahun di hari yang disebut fitri oleh kebanyakan orang.
Hari itu juga, pertama kalinya gue melihat mata Bapak gue berlinang air mata. Gue tau, sebisa munkin dia menahan air matanya untuk nggak tumpah. Ya, emang nggak tumpah, tapi mata yang merah dan genangan air yang memenuhi kelopak matanya terlihat jelas. Sedangkan Ibu gue, air matanya mengalir dengan mudah melewati pipi.
Hari yang begitu melegakan setelah gue berusaha keras untuk berani melakukannya. Gue mengharapkan keridhoan kepada mereka atas doanya agar gue bisa dengan cepat meraih impian. Gue yakin betul bahwa ridho orangtua adalah ridho Tuhan. Karena yang dapat mengabulkan segala harapan adalah Tuhan, maka jalannya adalah membuat orangtua ridho. Setelah hari itu, Bapak gue yang sebelumnya bersikap seperti canggung kepada gue, pun demikian dengan gue, kini bisa lebih hangat, gue dapat rasakannya.
Buat lo yang merasa punya kerenggangan pada orangtua, cobalah lakukan kayak yang udah gue lakukan. Lo pasti akan merasakan suatu perbedaan yang begitu kuat. Jika orangtua lo keras, maka dengan sekejap mereka menjadi lebih lembut pada lo. Meski lo hanya melakukannya sekali, itu sangat berkesan dan menjadi sebuah pengingat baik pada diri lo, jika ingin durhaka pada mereka, atau pun bagi mereka ketika hendak mengomeli atau menghukum lo. Itu akan menjadi pengingat yang ampuh untuk kelangsungan hidup yang lebih baik.
Emang, hal ini akan terasa sangat berat untuk dilakukan meski terlihat sederhana. Justru yang terlihat sederhana dan berat untuk dilakukan biasanya menyimpan sebuah  secrets, atau bisa juga dikatakan hikmah yang luarbiasa besar. Sekeras apa pun hati orangtua lo, atau sikap lo kepada mereka, ketika lo memberanikan diri untuk melakukan itu, maka keajaiban Tuhan akan datang bersamaan dengan usaha yang terlaksana.
Sorry, gue sebenarnya bukan ahli agama, tapi gue ingin sedikit menyinggung yang menyangkut tentang agama. Kalam Tuhan dalam lembaran kitab-Nya dikatakan pada surat Yaasin, ayat 82: Sesungguhnya, urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. Gue memegang teguh firman itu. Makanya, untuk mencapai impian, hal pertama (jika lo percaya Tuhan), membuat bagaimana caranya agar Tuhan memberikan perhatian-Nya yang lebih terhadap kita agar apa yang kita ingin capai mendapat ridho dari-Nya sehingga akan terasa bermanfaat untuk oranglain; salah satunya mencuci dan mencium kaki orangtua. Karena di bawah telapak kaki salah satu dari mereka, Ibu, tersimpan surga yang telah dijanjikan oleh-Nya.
Bay the way sebagai makhluk biasa, emang rasanya nggak pantas kita mengharapkan surga-Nya karena untuk melakukan ibadah pun jarang kita lakukan. Cuma sesekali dalam sehari, selebihnya dosa. Pun kalau dimasukan ke neraka kita nggak bakal sanggup karena begitu pedihnya gambaran yang telah dicerminkan oleh kitab-Nya. Mungin yang terbaik adalah mendapat ridho dari-Nya. Setelah itu, terserah kepada-Nya mau menempatkan kita di surga atau neraka, asal Dia ridho. Sebab, dengan ridhonya, malaikat Malik, sang penjaga neraka, dan Nabi Ibrahim pun nggak kepanasan tubuhnya diselimuti api. Itu terjadi karena ridho-Nya. Dan sebaliknya, Adam dan Hawa yang tinggal di surga, bisa hidup menderita karena melakukan hal yang nggak diridhoi-Nya.
Ehm, gue kok tiba-tiba jadi kaya ustadz ya? Apa kata ustadz yang asli kalau gue salah. Udah ah, gue rasa cukup sampai di sini gue cerita. Sampai jumpa lagi, tetap semangat jalani hidup, dan jangan pernah merasa sendirian, Your not walk alone, someone care you. Setidaknya ada Tuhan. Pesan terakhir dari gue: Berharaplah, karena Tuhan akan memberi keajaiban pada orang-orang yang berharap pada-Nya.
Salam cinta dari gue, Sudarman BK.

Tidak ada komentar: