Hidup
itu mudah, bagi orang yang mempermudah, dan sebaliknya.
Gue
punya kacamata sakti yang memiliki ilmu Rawarontek seperti dalam kisah-kisah
serial Misteri Gunung Merapi yang ditokoh utamakan Mak Lampir. Ya, gue pikir kacamata
gue pantas untuk disamakan oleh Mak Lampir yang memiliki ilmu tersebut.
Gue bersyukur kacamata gue sakti mandraguna, dia
sangat membantu gue untuk membaca. Sebab, saat ini yang terpenting bagi gue
salah satunya adalah kacamata selain buku dan laptop. Tanpanya gue nggak
nyaman dalam membaca atau makan nutrisi untuk tetap hidup dalam
berkarya—mencapai sebuah tujuan, karena mata gue min, sejak kelas 3 SMP.
Itulah yang gue sadari.
O-ya, mungkin ada di antara lo yang gak ngerti ilmu
Rawarontek. Untuk lebih jelas, nih gue kasih lihat gambarnya aja:
Bingkai
kacamata gue patah. Dan selalu patah kalau terbentur sesuatu yang keras atau
terjatuh. Dan ilmu Rawarontek, nggak dengan sendirinya dia dapati dengan mudah,
selalu ada gue Sang majikannya yang selalu bersedia membantunya agar kembali
utuh. Kayak gini:
Dengan bermodal lem Power Glue dan silet bagi
gue dan dia untuk dapat menggunakan ilmu Rawarontek. Silet digunakan untuk
mengerik bekas lem sebelumnya jika kembali patah. Sementara lem, ya, lo pasti
udah tau sendiri: yang sangat berfungsi untuk penerapan ilmu Rawarontek supaya
berhasil.
Bagi gue, kacamata ini udah begitu melegenda. Dia-lah
yang setia menemani gue dalam keadaan susah dan senang sampai sekarang. Untuk
saat ini, jika ada uang, gue nggak berniat untuk menggantinya dengan yang baru,
karena masih banyak keperluan yang harus diutamakan. Kacamata ini masih tetap
layak pakai dan selalu memberi peran penting dalam hidup gue. Entah udah berapa
kali gue bekerjasama dengan dia menggunakan ilmu Rawarontek, rasanya udah
sering banget.
Apa menurut lo
cerita kacamata gue menyedihkan? Bagi gue nggak. Perjalanan bukan untuk
dibuat-buat seolah kisah yang menyedihkan dan membuat orang terharu dengan
cerita kita. Gue selalu berpikir, bahwa gue termasuk dalam jajaran orang yang
masih sangat-sangat beruntung, sebab gue sangat yakin terlalu banyak orang yang
lebih pahit merasakan hidup, bahkan sampai mereka mati.
Gue nggak mau
bercerita kisah yang seolah-olah gue mengalami perjalanan hidup yang pahit.
Hidup gue selalu manis. Itu semua gue rasakan karena gue selalu dapat mengecap
makna dari yang tersimpan dalam setiap perjalanan. Itulah manisnya, sehingga
kita dapat terus belajar untuk memperbaiki dan mendewasakan diri. Tuhan udah
begitu baik dengan telah memberikan kita makan, minum, bernafas, dan sebagainya,
sehingga kita mampu melewati semua yang sering dianggap orang perjalanan
terjal. Jika kita nggak diberikan hidup seperti itu (pahit), mungkin kita
nggak akan menjadi seperti sekarang: manusia yang bernilai. Jadi apa yang
pahit? Semuanya manis, bukan? Cobalah lebih dipahami agar kita lebih mensyukuri
hidup.
Jangan pernah
membuat susah hidup lo yang mungkin emang udah susah. Jadikan lebih simpel dan
sederhana sehingga mudah untuk dimengerti dan dijalani. Kita cuma perlu
melakukan apa yang kita bisa lakukan untuk suatu pencapaian yang besar. Sebuah
langkah kecil yang konsisten dilakukan akan jauh lebih berarti daripada langkah
besar yang hanya beberapa kali dilakukan. Seperti kacamata sakti gue yang
selalu menemani perjalanan majikannya dalam mencapai impian: dia melakukan
sesuatu yang dia bisa untuk terus tetap bersama gue, karena cuma dengan cara
itulah dia bisa tetap bertahan, berusaha sebisa mungkin untuk dapat memberikan
manfaatnya untuk gue. Gue bangga dengan dia.
Kacamata itu
nggak berusaha untuk menjadi sesuatu yang baru untuk gue. Dia tau keadaan gue. Jadi,
bagaimana pun keadaanya, dia akan selalu ada untuk memberikan manfaatnya tanpa
berpikir yang tidak mungkin bisa dilakukannya.
Jangan pernah
meremehkan hal kecil yang terjadi dalam hidup atau yang ada di sekeliling kita.
Cobalah untuk cari dan pahami jawaban dari yang tersirat. Karena dengan itulah
kita akan menemukan sesuatu yang teramat sangat berarti ketika orang lain
meremehkannya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar