Rabu, 07 Oktober 2015

Mendidik Anak dengan Doktrinan

Gue sering lihat seorang anak mendapat perlakuan nggak baik dari orangtuanya. Bukan karena orangtuanya nggak sayang, melainkan cara mereka memperlakukan anaknya dalam mendidik. Segala sesuatu jika dilakukan terus-menerus maka akan masuk ke dalam alam bawah sadar anak.

Suatu ketika, gue lihat seorang anak berlarian sepulang sekolah masih dengan seragam melekat di tubuhnya hendak pulang bersama ibunya yang berjalan di belakang.

“Hey, jangan lari, nanti jatuh.” Teriak sang Ibu.

Anak TK itu terus berlari dengan langkah yang lucu. Tapi kemudian ia terjatuh, ibunya pun berlari menghampiri dan membangunkan seraya ngomel.

“Udah dibilangin jangan lari juga, masih aja lari.” Hardiknya, kemudian ia memukul pantat putranya yang sedang menangis. Gue yang saat itu masih duduk di bangku SMP miris lihatnya. Anak udah jatuh, diomeli lagi, ditambah dipukul pantatnya. Udah jatuh, tertimpa tangga, eh ditambah tertimpa tapak Dewa kayak di film Kera Sakti. Dia begitu menyedihkan. Bukan anaknya, tapi ibunya yang gak ngerti cara mendidik anak. Mungkin demikian dengan ayahnya, karena yang dilakukan Ibu itu adalah cerminan dari suatu keluarga.

Bukan nggak boleh marah dengan anak, tapi caranya harus diperhatikan. Jangan pernah biasakan mendidik anak dengan menggentaknya, karena itu akan membuat anak menjadi ciut, jiwanya nggak stabil. Saat memarahi, perhatikan perasaan mereka seperti halnya lo ingin dipahami. Emang ada orangtua yang mendidik anak dengan keras dan berhasil, tapi sayangnya anak yang tetap bisa terus berusaha lebih baik meski terus dimarahi itu minoritas, dan cara mendidik seperti itu cuma bisa diterapkan pada sebagian anak aja. Karakter manusia itu bermacam-macam, lo harus bisa memahami karakter anak lo dan belajar cara memarahi yang bisa mengembangkan jenis karakter apa pun juga. Karena itu tugas dari orangtua. Tugas lo dalam memarahi, jangan pernah memarahi dengan emosi, tapi pikirkan cara agar anak lo gak melakukan kesalahan yang sama. Karena tujuan memarahi adalah mengurangi kesalahan. Saat lo mau marah, ingat hal itu dan bimbing anak lo dengan tenang walau pasti berat. Gue sangat menyayangkan, banyak orangtua yang nggak pernah belajar dari masa kecilnya sendiri saat dimarahi orangtuanya atau orang lain sehingga dia terus mewarisi hal buruk untuk generasi-generasinya. Gue dapat ilmu ini dari buku komik Jepang dengan judul “Bikin Laris Restoran” yang ditulis oleh Akira Harada, Morihiko Ishikawa, dan Nikkei Restaurants, terbitan Gramedia. Buku itu emang tentang restoran, tapi pada bagian yang menerangkan aturan mendidik karyawan yang cakap, gue pikir sama dengan mendidik anak.

Oya, kalau anak dalam foto ini bukan anak gue. Namanya Karnita, keponakan gue. Dia begitu lucu. Dia nangis entah karena apa. Tapi ketika gue ajak foto bareng dia diam, kemudian lanjut nangis lagi. Sayang foto saat dia lagi berpose hasilnya jelek. Karena dia terus nangis, gue tanya baik-baik.

“Karnita kenapa?”Beberapa kali  gue  dicuekin. Dia masih terus nangis dengan air mata yang semakin membanjiri rumah gue. Untunglah akhirnya dia mau jawab.

“Pulang.” Ucapnya dengan rintih.

Mendengar ucapannya, langsung gue gendong. Kemudian dia tersenyum. Sederhana. Kita sebagai orang yang sudah dewasa seharusnya bisa lebih mengerti karena kita telah melewati fase ini. Tapi seringkali, kita hanya ingin dimengerti tanpa mau mengerti orang lain. Kita terlalu egois bahkan pada anak sendiri.

Dalam hal pendoktrinan, lo pasti udah mengetahui pendoktrinan berkedok agama yang bertujuan untuk menjadikan mereka sebagai alat bom bunuh diri. Mereka udah dewasa, mereka bisa berpikir mengenai apa yang mereka lakukan benar atau salah, tapi mereka dapat dipengaruhi dan rela melakukan hal yang kita anggap keliru mereka anggap itu hal yang mulia dan dijamin akan masuk surga oleh Tuhan.

Jika kita sering mengatakan hal yang buruk atau negatif pada seorang anak lantaran ia melakukan kesalahan kecil, dan itu sering lo lakuin karena anak  selalu mengulang kesalahannya, maka apa yang lo harapkan dari anak lo nggak akan lo dapatkan. Ah, gue rasa lo cukup cerdas untuk memahami yang telah gue jelaskan sehingga gue nggak perlu repot-repot memberi contoh. Ingat dengan kalimat "ucapan Ibu adalah doa?” Jika anak lo lambat dalam memahami pelajaran lalu lo selalu mengatakan padanya ia bodoh lantaran jengkel mengajarinya. Maka sesungguhnya lo telah menyeting atau mendoktrin anak lo menjadi orang yang bodoh. Maka jika anak lo bodoh, jangan menyalahkannya, jangan pula salahkan Tuhan, karena itu mutlak kesalahan lo. Berhati-hatilah dalam berucap!. Jangan biarkan mulut lo menelan diri lo sendiri hidup-hidup.

Ada seorang Ibu penghafal al-Quran selalu membaca Quran di mana pun ia berada kecuali tempat-tempat yang tidak dimungkinkan. Maka ketika anaknya lahir, ia menjadi anak yang shaleh karena sang Ibu telah mendoktrin anaknya sejak masih dalam kandungan dengan ayat-ayat suci itu. Ingatlah bahwa anak dalam kandungan pun dapat mendengar sesuatu yang ada di luar. Jika itu sering didengar, maka akan masuk ke dalam alam bawah sadarnya dan anak itu tumbuh dengan tuntunan apa yang telah ibunya sering ucapkan ketika ia masih dalam kandungan.Bagi lo yang udah memiliki balita, segeralah dokrin anak lo menjadi anak yang baik. Ini sedikit tips yang dapat lo jalani jika anak lo di bawah lima tahun. Namun sebelumnya lo harus tahu terlebih dahulu mengenai frekuensi otak. Gue nggak akan menjelaskan semuanya, selebihnya silakan lo tanya sendiri sama si Google.

Gelombang otak yang paling baik digunakan untuk mendoktrin anak adalah Alpha, dengan frekuensi 8-12 Hz. Dalam posisi frekuensi otak seperti inilah lo bisa memasukan sugesti pada anak lo. Apakah lo pernah merasakan ketika lo baru tertidur, lo dapat mengetahui atau mendengar suara-suara di sekitatar lo namun secara langsung lo tidak dalam keadaan sadar? Jika Lo aja bisa merasakan hal tersebut, begitu juga dengan anak-anak.

Lakukanlah! Jika lo seorang Ayah, katakan pada istri lo untuk membiarkan anak lo tertidur di ruang tamu, tempatnya belajar, atau di ruang keluarga, ketika anak lo sedang tertidur, gendonglah ia sembari membisikan kata-kata baik untuknya. Seperti; Ade rajin membaca yah, Ade suka memberi yah, Ade suka belajar yah, atau kata-kata baik lainnya. Cukup lo bisikan tiga sampai lima menit saja, lalu letakan ia di tempat tidurnya. Ingat! Hanya katakan kata positif, bukan kata negatif, seperti; Ade jangan nakal yah, karena sesuatu yang negatif akan lebih mudah untuk diserap dan dilakukan. Silakan tanyakan pada diri lo sendiri, lo lebih berhasrat melakukan hal negatif ketimbang hal positif yang berlawanan dengan hati nurani, bukan?Lo dapat melakukannya cukup sampai anak lo berumur lima tahun. Nggak perlu setiap hari, namun semakin sering lo melakukannya, maka semakin dalam perkataan lo masuk dalam alam bawah sadarnya sehingga ia tumbuh dengan sebuah tuntunan kata-kata lo tanpa harus lo selalu memarahinya.Ilmu berharga ini gue dapat dari Bapak Sigit Widodo, Dirut PT. Fukusuke Kogyo Indonesia, Ayah kaya gue selama gue masih bekerja di sana. Arigato Sensei atas ilmu mahalnya. Saya tidak bisa membalas dengan apapun, cuma ucapan terima kasih yang dapat saya suguhkan.

Ketika itu beliaulah yang mengajarkan pada gue tentang cara mendoktrin anak agar kelak buah hati yang kita sayang dapat tumbuh sesuai dengan harapan. Itu telah dibuktikan olehnya. Sejak saat itu gue mengamati banyak hal tentang anak-anak, tentang Ibu hamil, tentang cara kebanyakan orangtua mendidik anak, dan sebagainya. Gue belajar menjadi Ayah sebelum benar-benar menjadi Ayah untuk anak-anak gue.Gue juga belajar banyak dari Istri Kyai gue (Nyai Mufizah), beliau adalah seorang penghafal al-Quran. Dari mulutnya nggak pernah gue dengar omelan atau suara yang tinggi ketika berbicara pada anak-anaknya. Hasil didikan dari seorang Ayah (K.H Marsudi Syuhud) dan Istrinya terciptalah anak-anak yang sungguh luar biasa. Masih kecil, sudah terlihat karakter yang amat kuat. Lo juga dapat melakukannya pada diri lo sendiri. Lo mau apa? Sukses? Kaya? Atau apa? Jawablah sekarang. Gue ingin……………(Sebutkan)……………….. Jika lo ingin sukses, katakanlah pada diri lo sendiri bahwa lo akan sukses. Lakukan sesering mungkin, Katakan pada Tuhan, katakan pada

Tidak ada komentar: