JATI
DIRI
Musafir
Kelana, ini tentang gue, yang selama ini mencari jati diri ke mana kaki gue
melangkah. Nggak sedikit dari keluarga gue yang gak ngerti dengan jalan hidup
yang gue pilih. Ketika orang lain iri dengan gue karena gue kerja di perusahaan
bonavit, eh gue malah keluar. Ketika udah kuliah di semester tiga, eh malah mau
ngulang ke semester satu di kampus yang lain dengan jurusan lain. Gue kayak
orang plin-plan yang gak punya pendirian. Oh, sorry, orang plin-plan
emang gak punya pendirian. Mungkin seperti itulah banyak orang berpikir tentang
gue. Termasuk Ibu gue. Dan gue nggak keberatan meski semua orang berkata
demikian. Bagaimana pun yang dapat menjawab adalah hasil. Bukan alasan gue
untuk melakukannya.
Saat lagi santai, gue suka bertanya pada teman-teman;
gue ambil contoh percakapan gue sama si Joni.
“Jon, lu udah tau jati diri lo?”
“Gue menganggap diri gue nggak ada. Gue cuma makhluk
ciptaan Tuhan.”
Gue mangguk-mangguk. Dalam hati gue berkata Capek
deh.. nenek-nenek bunting juga tau kalau lo ciptaan Tuhan. Tiba-tiba ada
yang ikut nimbrung.
“Andai gue bisa milih, gue nggak mau dilahirkan ke
dunia. Kan, sebelum lahir kita melakukan perjanjian kalau kita akan taat kepada
Tuhan, tapi untuk melakukannya begitu susah.” Kata Odit. Joni mengiyakan.
Pertanyaan sederhana gue jadi kayak umpan untuk
ibu-ibu ngerumpi yang nggak mengenal kata syukur. Tapi yang dikatakan si Odit
banyak yang mengiyakan di luaran sana, bukan cuma si Joni.
Dari semua itulah gue coba terus memahami tentang
jati diri. Sang Nabi akhir jaman pernah berkata “Kenalilah dirimu, maka
kau akan mengenal Tuhanmu.” Tapi diri yang seperti apa? Gue selalu ingin
menjadi diri sendiri, tapi bagaimana gue mau jadi diri sendiri kalau tentang
diri gue sendiri aja gue nggak tau. Dari itulah gue terus melakukan pencarian
menyusuri kehidupan-kehidupan baru untuk mengetahui di mana posisi diri gue
yang cocok selama hidup di dunia. Dalam perjalanan, gue nggak pernah lupa
membaca dan bertanya biar nggak salah arah. Dan, dari semua yang gue pelajari
dengan pengamatan, pertanyaan, pemahaman membaca, akhirnya gue temukan sebuah
jalan yang harus gue tempuh sesuai dengan diri gue.
Hal utama dalam pengenalan jati diri (paling
penting) gue melakukan penyelaman jati diri, lo bisa baca di tulisan gue
yang berjudul Nine Dreams, di blog ini, gratis.
Kemudian, coba deh lo perhatiin lagi gambar yang ada
di atas. Ada tiga lapisan dan inti jati diri, masing-masing lapisan memiliki
tingkatan seperti lapisan bumi. Untuk mengetahui lapisan Diri pertama, lu mesti
berkaca di cermin yang besar, atau, boleh juga tuh ngaca di mobil orang.
Hahaha… kan buanyak yang kayak begitu.
Lo mesti tau persis fisik dan perilaku lo seperti
apa. Jelek, ganteng, cantik, slengean, gak beraturan, atau seperti apapun.
Kebanyakan orang cuma tau diri mereka sebatas ini. Bahkan gue punya teman yang
fisiknya kurang tampan, tapi seleranya terhadap lawan jenis sangat bagus, dia
selalu mendekati perempuan-perempuan cantik, tapi lagi-lagi usahanya kandas.
Kasihan gue melihatnya. Dia jadi jones (jomblo ngenes). Dia nggak melihat
dirinya sendiri meski setiap hari ngaca. Memiliki selera lawan jenis yang
tinggi itu bagus, sangat bagus malah. Tapi kalau kondisi fisik nggak
memungkinkan untuk mendapatkannya—ya nggak bisa dipaksain dengan cara-cara asal
yang pada akhirnya bikin makan paru-paru. Eh, ada yang protes, iya deh, makan
hati. Strategi harus diubah: kembangkan potensi diri dulu, nanti perempuan
cantik juga klepek-klepek, hatinya lumer buat lo. Kalau punya wajah tampan atau
cantik kan masih mending banyak yang mau, meski ending-nya mungkin bakal
buruk kalau pilihan cuma dilihat dari sudut pandang wajah. Tapi seenggaknya gak
sampe ngenes banget. Kalau secara agama sih, mungkin orang-orang seperti ini
lebih beruntung karena gak melakukan dosa yang banyak dilakuin orang-orang yang
pacaran.
Setelah lo tau kondisi fisik lo, langkah selanjutnya
berkaca lebih dalam—lapisan kedua. Ngacanya bukan pakai cermin lagi, tapi lewat
malam. Luangkanlah satu malam aja buat merenung. Lihat diri lo memiliki tipikal
mental seperti apa. Contohnya: pemberani, pemimpin, lemah lembut, keras, dll.
Ini dimaksudkan untuk pemosisian tindakan agar lo bisa tau tempat yang nyaman
buat lo. Manusia kan berbeda-beda, kalau lo tipe orang yang lemah lembut, gak
mungkin dong bertingkah seperti seorang yang keras. Itu membuat lo nggak nyaman
dengan diri lo sendiri karena itu bukan lo sesungguhnya.
Kemudian, lo harus masuk lebih dalam lagi—lapisan
ketiga. Gue menyebutnya penyelaman jati diri, lo bisa baca selengkapnya
di tulisan gue yang berjudul Nine Dreams, di blog ini, gratis. Dalam
penyelaman jati diri, lo bisa melihat sejarah. Ya, sejarah. Lo akan mampu
memperbaiki masa depan dengan melihat sejarah. Sejarah yang gue maksud adalah
sejarah lo sendiri. Itu bertujuan agar lo bisa tau emosi lo mengarah ke mana. Bukan
emosi marah-marah lho.
Lo harus mengerti emosional yang ada di diri lo. Ini
sejalan dengan takdir Tuhan yang telah menentukan nasib, rezeki, kualitas diri,
paras, dll, sebelum manusia dilahirkan. Dalam hal ini, lo diwajibkan untuk pandai
membaca isyarat Tuhan yang lo lakuin dalam penyelaman jati diri. Ingatlah
masa-masa satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, dua tahun, tiga
tahun, sepuluh tahun, sampai lo masih unyu-unyu dan masih suka diciumin perawan
cantik walau muka lo pas-pasan. Ingatlah suatu hal yang suka lo lakuin tan pa tekanan dari hal apapun kecuali atas dasar
rasa senang dari diri sendiri. Misalnya, waktu SMA lo suka gambar, SMP lo suka
bikin gravity bagus (walau gak bagus-bagus amat), SD lo suka menghayal, saat
masih unyu-unyu lo paling suka mainin cat atau main krayon kakak lo. Dan
sekarang, lo masih suka gambar-gambar hal remeh-temeh yang lo anggap gak
berarti. Sadarilah, bahwa semua itu adalah isyarat Tuhan. Di seni melukislah
atau yang mirip dengan itu emosi lo berada. Lo perlu berlatih yang serius agar
tercipta hasil yang berkualitas. Teruslah susuri emosi lo mengarah ke mana aja,
karena kemampuan yang diberi Tuhan nggak cuma satu. Lo bisa fokuskan diri lo
pada arah-arah yang lo inginkan. Mungkin bisa jadi pelukis sekaligus pengusaha
atau fotographer.
Selanjutnya adalah yang ke-empat—inti dari setiap
lapisan. Ini tentang makhluk dengan Tuhannya. Antara kita dan Tuhan, bukan cuma
sekedar yang dibilang si Joni. Untuk bagian ini begitu banyak dan nggak bisa
gue tuangkan dalam tulisan ini. Lakuin aja tiga lapisan itu, setelah kiranya lo
mengerti mau melangkah ke arah mana, melangkahlah! Akan tetapi sembari
melangkah sebaiknya, bagi lo yang muslim, pengenalan inti jati diri bisa lo
dapat di jalan tasawuf/makrifat. Belajarlah pada gurunya, jangan cuma sama
buku, bisa-bisa tiga bulan kemudian lo mengklain diri lo seorang Rosul. Dan
bagi lo yang beragama lain, lo bisa melakukan pendekatan-pendekatan sesuai
dengan agama lo.
Lapisan pertama sebagai wujud visual yang berbentuk fisik
yang kemudian menjadi alat bagi dua lapisan lainnya yang berada di otak dan
inti jati diri, sehingga terjadinya sebuah perilaku sebagai cerminan dari
mental, emosi, dan hubungan ruh dengan Tuhan-nya. Ketiganya bertempat tinggal
di hati karena hubungan Diri dengan Tuhan.
Untuk mengetahui diri sendiri, nggak cukup dengan
melihat ke belakang aja, tapi perlu melihat ke depan. Dengan semua itulah kita
akan mengerti dari mana kita berasal, melangkah sesuai dengan fasion
diri sendiri, dan mengakhiri perjalanan. Dan yang paling penting adalah
bersyukur telah diberikan kesempatan hidup, bukan malah menyalahkan kehendak
Tuhan. Ekstream sekali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar