Rabu, 07 Oktober 2015

Jati Diri



JATI DIRI
Musafir Kelana, ini tentang gue, yang selama ini mencari jati diri ke mana kaki gue melangkah. Nggak sedikit dari keluarga gue yang gak ngerti dengan jalan hidup yang gue pilih. Ketika orang lain iri dengan gue karena gue kerja di perusahaan bonavit, eh gue malah keluar. Ketika udah kuliah di semester tiga, eh malah mau ngulang ke semester satu di kampus yang lain dengan jurusan lain. Gue kayak orang plin-plan yang gak punya pendirian. Oh, sorry, orang plin-plan emang gak punya pendirian. Mungkin seperti itulah banyak orang berpikir tentang gue. Termasuk Ibu gue. Dan gue nggak keberatan meski semua orang berkata demikian. Bagaimana pun yang dapat menjawab adalah hasil. Bukan alasan gue untuk melakukannya.
Saat lagi santai, gue suka bertanya pada teman-teman; gue ambil contoh percakapan gue sama si Joni.
“Jon, lu udah tau jati diri lo?”
“Gue menganggap diri gue nggak ada. Gue cuma makhluk ciptaan Tuhan.”
Gue mangguk-mangguk. Dalam hati gue berkata Capek deh.. nenek-nenek bunting juga tau kalau lo ciptaan Tuhan. Tiba-tiba ada yang ikut nimbrung.
“Andai gue bisa milih, gue nggak mau dilahirkan ke dunia. Kan, sebelum lahir kita melakukan perjanjian kalau kita akan taat kepada Tuhan, tapi untuk melakukannya begitu susah.” Kata Odit. Joni mengiyakan.
Pertanyaan sederhana gue jadi kayak umpan untuk ibu-ibu ngerumpi yang nggak mengenal kata syukur. Tapi yang dikatakan si Odit banyak yang mengiyakan di luaran sana, bukan cuma si Joni.
Dari semua itulah gue coba terus memahami tentang jati diri. Sang Nabi akhir jaman pernah berkata “Kenalilah dirimu, maka kau akan mengenal Tuhanmu.” Tapi diri yang seperti apa? Gue selalu ingin menjadi diri sendiri, tapi bagaimana gue mau jadi diri sendiri kalau tentang diri gue sendiri aja gue nggak tau. Dari itulah gue terus melakukan pencarian menyusuri kehidupan-kehidupan baru untuk mengetahui di mana posisi diri gue yang cocok selama hidup di dunia. Dalam perjalanan, gue nggak pernah lupa membaca dan bertanya biar nggak salah arah. Dan, dari semua yang gue pelajari dengan pengamatan, pertanyaan, pemahaman membaca, akhirnya gue temukan sebuah jalan yang harus gue tempuh sesuai dengan diri gue.
Hal utama dalam pengenalan jati diri (paling penting) gue melakukan penyelaman jati diri, lo bisa baca di tulisan gue yang berjudul Nine Dreams, di blog ini, gratis.
Kemudian, coba deh lo perhatiin lagi gambar yang ada di atas. Ada tiga lapisan dan inti jati diri, masing-masing lapisan memiliki tingkatan seperti lapisan bumi. Untuk mengetahui lapisan Diri pertama, lu mesti berkaca di cermin yang besar, atau, boleh juga tuh ngaca di mobil orang. Hahaha… kan buanyak yang kayak begitu.
Lo mesti tau persis fisik dan perilaku lo seperti apa. Jelek, ganteng, cantik, slengean, gak beraturan, atau seperti apapun. Kebanyakan orang cuma tau diri mereka sebatas ini. Bahkan gue punya teman yang fisiknya kurang tampan, tapi seleranya terhadap lawan jenis sangat bagus, dia selalu mendekati perempuan-perempuan cantik, tapi lagi-lagi usahanya kandas. Kasihan gue melihatnya. Dia jadi jones (jomblo ngenes). Dia nggak melihat dirinya sendiri meski setiap hari ngaca. Memiliki selera lawan jenis yang tinggi itu bagus, sangat bagus malah. Tapi kalau kondisi fisik nggak memungkinkan untuk mendapatkannya—ya nggak bisa dipaksain dengan cara-cara asal yang pada akhirnya bikin makan paru-paru. Eh, ada yang protes, iya deh, makan hati. Strategi harus diubah: kembangkan potensi diri dulu, nanti perempuan cantik juga klepek-klepek, hatinya lumer buat lo. Kalau punya wajah tampan atau cantik kan masih mending banyak yang mau, meski ending-nya mungkin bakal buruk kalau pilihan cuma dilihat dari sudut pandang wajah. Tapi seenggaknya gak sampe ngenes banget. Kalau secara agama sih, mungkin orang-orang seperti ini lebih beruntung karena gak melakukan dosa yang banyak dilakuin orang-orang yang pacaran.
Setelah lo tau kondisi fisik lo, langkah selanjutnya berkaca lebih dalam—lapisan kedua. Ngacanya bukan pakai cermin lagi, tapi lewat malam. Luangkanlah satu malam aja buat merenung. Lihat diri lo memiliki tipikal mental seperti apa. Contohnya: pemberani, pemimpin, lemah lembut, keras, dll. Ini dimaksudkan untuk pemosisian tindakan agar lo bisa tau tempat yang nyaman buat lo. Manusia kan berbeda-beda, kalau lo tipe orang yang lemah lembut, gak mungkin dong bertingkah seperti seorang yang keras. Itu membuat lo nggak nyaman dengan diri lo sendiri karena itu bukan lo sesungguhnya.
Kemudian, lo harus masuk lebih dalam lagi—lapisan ketiga. Gue menyebutnya penyelaman jati diri, lo bisa baca selengkapnya di tulisan gue yang berjudul Nine Dreams, di blog ini, gratis. Dalam penyelaman jati diri, lo bisa melihat sejarah. Ya, sejarah. Lo akan mampu memperbaiki masa depan dengan melihat sejarah. Sejarah yang gue maksud adalah sejarah lo sendiri. Itu bertujuan agar lo bisa tau emosi lo mengarah ke mana. Bukan emosi marah-marah lho.
Lo harus mengerti emosional yang ada di diri lo. Ini sejalan dengan takdir Tuhan yang telah menentukan nasib, rezeki, kualitas diri, paras, dll, sebelum manusia dilahirkan. Dalam hal ini, lo diwajibkan untuk pandai membaca isyarat Tuhan yang lo lakuin dalam penyelaman jati diri. Ingatlah masa-masa satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, dua tahun, tiga tahun, sepuluh tahun, sampai lo masih unyu-unyu dan masih suka diciumin perawan cantik walau muka lo pas-pasan. Ingatlah suatu hal yang suka lo lakuin tan  pa tekanan dari hal apapun kecuali atas dasar rasa senang dari diri sendiri. Misalnya, waktu SMA lo suka gambar, SMP lo suka bikin gravity bagus (walau gak bagus-bagus amat), SD lo suka menghayal, saat masih unyu-unyu lo paling suka mainin cat atau main krayon kakak lo. Dan sekarang, lo masih suka gambar-gambar hal remeh-temeh yang lo anggap gak berarti. Sadarilah, bahwa semua itu adalah isyarat Tuhan. Di seni melukislah atau yang mirip dengan itu emosi lo berada. Lo perlu berlatih yang serius agar tercipta hasil yang berkualitas. Teruslah susuri emosi lo mengarah ke mana aja, karena kemampuan yang diberi Tuhan nggak cuma satu. Lo bisa fokuskan diri lo pada arah-arah yang lo inginkan. Mungkin bisa jadi pelukis sekaligus pengusaha atau fotographer.
Selanjutnya adalah yang ke-empat—inti dari setiap lapisan. Ini tentang makhluk dengan Tuhannya. Antara kita dan Tuhan, bukan cuma sekedar yang dibilang si Joni. Untuk bagian ini begitu banyak dan nggak bisa gue tuangkan dalam tulisan ini. Lakuin aja tiga lapisan itu, setelah kiranya lo mengerti mau melangkah ke arah mana, melangkahlah! Akan tetapi sembari melangkah sebaiknya, bagi lo yang muslim, pengenalan inti jati diri bisa lo dapat di jalan tasawuf/makrifat. Belajarlah pada gurunya, jangan cuma sama buku, bisa-bisa tiga bulan kemudian lo mengklain diri lo seorang Rosul. Dan bagi lo yang beragama lain, lo bisa melakukan pendekatan-pendekatan sesuai dengan agama lo.
Lapisan pertama sebagai wujud visual yang berbentuk fisik yang kemudian menjadi alat bagi dua lapisan lainnya yang berada di otak dan inti jati diri, sehingga terjadinya sebuah perilaku sebagai cerminan dari mental, emosi, dan hubungan ruh dengan Tuhan-nya. Ketiganya bertempat tinggal di hati karena hubungan Diri dengan Tuhan.
Untuk mengetahui diri sendiri, nggak cukup dengan melihat ke belakang aja, tapi perlu melihat ke depan. Dengan semua itulah kita akan mengerti dari mana kita berasal, melangkah sesuai dengan fasion diri sendiri, dan mengakhiri perjalanan. Dan yang paling penting adalah bersyukur telah diberikan kesempatan hidup, bukan malah menyalahkan kehendak Tuhan. Ekstream sekali.

Tidak ada komentar: