Rabu, 07 Oktober 2015

Tentang Sudarman BK



Nama asli gue Sudarman. Alasan gue menambahkan dua huruf di belakang nama gue (BK) karena alasan yang sangat kuat. Kepanjangan dari dua huruf itu adalah: Bin Kaman—Jadi Sudarman bin Kaman adalah inisial gue sesuai dari pohon mana gue berasal. Bapak gue sendiri (Kaman) adalah tipe orang yang tenang. Cara dia mendidik gue dengan memberikan ruang seluas-luasnya tanpa sekat untuk gue agar bisa merauk pengalaman sebanyak-banyaknya. Dia nggak pernah membatasi gue dalam melakukan segala hal, termasuk Ibu gue yang selalu welcome dan mendukung apapun yang gue lakukan meski apa yang gue perbuat nggak selalu benar. Gue banyak melakukan kesalahan, tapi dengan itulah gue bisa belajar. Tanpa salah, siapapun orangnya nggak akan menemukan kebenaran.
Gue lahir pada hari kamis, 10 september 1992 di Bekasi, tempat yang sangat jauh: di samping Pluto, seperti yang telah banyak dicibir banyak orang di dunia maya beberapa waktu lalu. Gue lahir dari rahim seorang Ibu yang tangguh, sangat tangguh dan sabar. Tenaga dan hatinya seperti sungai yang bermuara di lautan sepanjang waktu untuk anak-anaknya. Gue rasa, sebanyak apapun gue melakukan hal terbaik untuknya, nggak akan sedikitpun dapat menyamakan secuil aja dengan apa yang telah dilakukannya pada gue. Namanya, Nimah, dia seorang strong girl.
Bagi gue, hidup bukan hanya sekedar hidup, bukan cuma tentang perut, melainkan bagaimana kita bisa memberi hal terbaik yang dapat kita lakukan kepada dunia selama kita hidup di sini; berkarya sekecil apapun masih lebih baik daripada nggak berbuat apa-apa, setidaknya ada orang-orang yang merasakan gue pernah hidup di dunia setelah gue mati.
Nilai akademik gue sangat buruk. Tapi menurut gue bukan sebuah nilai yang dibutuhkan dalam hidup untuk sebuah pengakuan banyak orang, melaikan apa yang kita lakukan. Ada nilai yang jauh lebih baik daripada nilai asli maupun palsu yang diberikan Universitas atau lembaga pendidikan, yaitu nilai pembelajaran jati diri yang diberikan Tuhan. Bagi kebanyakan orang nilai akademik umum memang sangat berarti—bisa dijadikan pengajuan beasiswa, tapi nggak untuk gue.
Dalam mengarungi hidup ini (sekarang), gue punya sembilan tujuan, namun pada esensinya semua tujuan itu bermuara pada satu titik. Sembilan tujuan itu gue tulis secara bertahap dalam blog dengan tema Nine Dreams. Nggak ada alasan yang benar-benar mempengaruhi gue untuk melakukan apa yang gue lakukan saat ini untuk segala tujuan gue; semuanya didasari oleh kesenangan gue melakukannya. Naluri-lah yang telah menuntun gue memilih jalan hidup seperti ini.
Sempat terpikir menjadi ulama adalah tujuan terbaik untuk dijalani, tetapi naluri menggerakan gue ke arah lain. Gue pun memilih untuk patuh dengan hati setelah gue sadar menjadi ulama pun belum tentu dapat mengantarkan kita bertemu dengan Tuhan. Nggak ada yang tahu akhir hidup yang kita jalani. Menjadi apapun mulia (positif), menjadi apapun bermanfaat (positif), segalanya untuk keseimbangan dunia.






Tidak ada komentar: