Rabu, 09 September 2015

Buruh pada demo. Pengusaha pusing mikirin buruh yang males, tapi banyak maunya dan anarkis. Lha gue ngapain?



Kekhawatiran di perusahaan tempat gue bekerja semakin memuncak seiring dengan kabar yang menerangkan buruh di perusahaan lain udah mulai swiping ke perusahaan lainnya untuk menghentikan kegiatan mereka dalam produksi dan mengajak seluruh karyawan untuk demo atau mogok kerja. Di saat jajaran tinggi perusahaan sibuk berpikir bagaimana caranya agar perusahaan bisa terus produksi, gue yang waktu itu baru lulus STM malah kepengen buruh-buruh dari perusahaan yang udah bergerumun di depan perusahaan tempat gue bekerja masuk men-swiping kegiatan produksi yang masih berjalan di tempat gue bekerja. Bukan cuma gue, tapi banyak karyawan lainnya juga.
Hari terjadinya kerusuhan itu nggak gue inget, tapi terjadi karena demo kenaikan gaji dari 1,8 juta ke 2,4 juta perbulan.
Demi menghindari kerusuhan yang malah akan berimbas pada penghancuran aset perusahaan, akhirnya petinggi di perusahaan tempat gue bekerja memutuskan untuk menghentikan proses produksi dan menyuruh para karyawan keluar—ikut alur yang mereka buat. Gak bermaksud untuk mengikuti alur, cuma sekedar mengikuti pergerakan mereka sebentar melewati beberapa blok, kemudian kembali lagi ke perusahaan untuk melanjutkan proses produksi. Ibarat bahasa kerennya emansipasi buruh.
Gue beserta teman-teman yang sehati jadi keranjngan mendengar keputusan itu setelah beberapa saat disembunyikan di gudang.
“Gue bahagia akhirnya kita keluar kandang! Biar hidup buruh sejahtera emang harus kompak.” Kata gue pada Remon.
“Bener banget. Seru nih kayak gini. Hidup buruh! Hidup buruh! Hidup buruh!” teriak Remon di jalan bersama buruh-buruh lain.
Gue bersama Remon yang udah jadi karyawan tetap di perusahaan itu turun ke jalan tol bersama buruh-buruh lain dari berbagai perusahaan. Remon yang badannya super gede-tinggi mengendarai motor (Kalau kata gue sih dia mirip raksasa), sedang gue yang kecil dan kurus bonceng—mirip cicak nempel di badannya. Gue inget kata itu karena gue pernah dibilang kayak gitu sama Ibu gue ketika gue bonceng motor sama teman sekolah gue yang badannya kurang tinggi dan gede dibanding si Remon.
“Sud, kamu malah kayak Cicak nempel di badannya deh kalau bonceng sama dia.” Kata Ibu gue.
“Cicak? Masa disamain kayak cicak?” protes gue.
Ibu gue mengangguk, kemudian tertawa penuh kemenangan.
Gue nggak bisa ngebayangin, kalau sama teman sekolah aja dibilang kayak Cicak nempel di badannya, apalagi kalau Ibu gue ngeliat waktu gue bonceng sama teman kerja gue. Bisa kebayang gak sih lo gue dibilang apa sama Ibu gue sendiri?
Sory, sory, gue jadi ngelantur nih. Kita kembali ke topik. Dengan menggunakan motor kami mondar-mandir dari tol Cibitung sampai tol Cikampek, tangan gue saling ngetos dengan sesama pendemo dari atas motor yang terus melaju berlawanan. Itu pertama kali gue ngerasain motor bisa masuk di jalan tol.
Setelah kecapean mondar-mandir, gue dan Remon kembali ke perusahaan. Di sana belum banyak yang datang kembali. Gue, Remon, dan para karyawan yang udah datang nyantai di halaman gedung pabrik. Para petinggi sibuk menelepon karyawan yang masih berada di jalan.
Banyak sampah berserakan di mana-mana, situasi masih belum kondusif, dan terdengar kabar bahwa beberapa perusahaan mengalami kerusakan asetnya karena anarkisme para pendemo yang men-swiping. Setelah semua karyawan berkumpul, kami kembali bekerja seperti biasa. Sebenarnya waktu itu gue jengkel juga karena masih aja kerja meski telah terjadi kerusuhan hebat.
Cerita ini gue alami ketika gue masih bekerja di Ayah Kaya sebelum bekerja di Ayah Miskin. Lo bisa baca certita yang bersangkutan dengan ini di tulisan gue yang lain dengan judul Ayah Kaya dan Ayah Miskin di Menu Nine Dreams. Setelah gue berhenti bekerja di Ayah Kaya dan Ayah Miskin, gue beru sadar dan dapat memahami kesalahan yang gue lakuin.
Kita selalu melihat yang udah gue ceritain berulang setiap tahun. Ya, setiap tahun para buruh berulah, termasuk gue dulu. Bikin macet jalan adalah hal paling utama yang dilakukan. Mereka meminta kesejahteraan, gaji yang layak untuk kehidupan lebih menyenangkan, menuntut segala hal yang menjadi hak mereka sucuil apapun yang—mungkin luput dari ingatan para pengusaha. Kenyataan berbeda dengan harapan setelah para pengusaha memenuhi permintaan para buruh.
Mereka, para buruh, nggak bekerja lebih baik setelah gaji dinaikan, tetap malas, nggak ada timbal balik yang seharusnya dilakukan. Gue berpikir dalam perenungan yang dalam; kalau emang kita inginkan kesejahteraan dengan menuntut kenaikan gaji dan tetap menjadi karyawan bukanlah sebuah solusi untuk mewujudkan kesejahteraan itu; dan kalau emang kita inginkan kebahagiaan dengan cara kayak gitu jelas nggak menghasilkan sesuatu yang kita harapkan meski telah terpenuhi segala tuntutan.
Coba kita perhatikan, dari setiap kenaikan gaji, semua barang-barang pokok ikutan naik, upah pembantu rumah tangga juga naik, termasuk angkutan umum. Gak banyak pilihan yang dimiliki para pengusaha selain menaikan harga atau mengurangi kualitas produk demi untuk tetap menyeimbangkan alur pendapatan dan pengeluaran kas perusahaan agar bisa menggaji karyawannya yang bawel—yang selalu menyamakan gaji di Indonesia dengan gaji di Jepang, Malaysia, Thailand, atau negara-negara lain yang gajinya jauh lebih besar dari Indonesia. Tak pernah sadarkah mereka bahwa gaji yang besar di negara-negara itu karena kebutuhannya juga tinggi? Kini kita pun demikian. Lalu bagaimana dengan nasib para pengais sampah? Yang nggak menikmati kenaikan gaji itu namun merasakan imbas kenaikan harga barang-barang.
Jika kita ingin sejahtera dan bahagia dengan cara kayak gitu salah. Salah total! Kalau lo mau sejahtera, berhenti jadi karyawan dong! Bikin usaha sendiri. Kalau lo mau bahagia, ya lo harus bersyukur dong! Bukan malah berbuat anarkisme kayak anak-anak STM jaman dulu. Selamanya lo akan merasa nggak ada kesejahteraan dalam hidup kalau lo pengecut. Selamanya lo nggak akan menemukan kebahagiaan kalau lo nggak bersyukur.
Udah males, hitungan terhadap waktu kerja, banyak maunya, gaji pengennya gede lagi!. (Gue juga dulu kayak gitu sebelum insaf) Jadi apa ya bangsa ini kalau seluruh rakyatnya kayak gitu semua?
O-ya, menyangkut judul tulisan ini: Buruh pada demo. Pengusaha pusing mikirin buruh yang males, tapi banyak maunya dan anarkis. Lha gue ngapain?. Gue pun punya jawabannya, yaitu: ambil hikmahnya, BIKIN USAHA. Buang pekerja kayak gitu (kalau gue udah punya karyawan). Nyari pengangguran kan gampang banget di Indonesia. Gitu aja kok repot!

Tidak ada komentar: