Kekhawatiran di perusahaan tempat gue bekerja
semakin memuncak seiring dengan kabar yang menerangkan buruh di perusahaan lain
udah mulai swiping ke perusahaan
lainnya untuk menghentikan kegiatan mereka dalam produksi dan mengajak seluruh
karyawan untuk demo atau mogok kerja. Di saat jajaran tinggi perusahaan sibuk
berpikir bagaimana caranya agar perusahaan bisa terus produksi, gue yang waktu
itu baru lulus STM malah kepengen buruh-buruh dari perusahaan yang udah
bergerumun di depan perusahaan tempat gue bekerja masuk men-swiping kegiatan produksi yang masih
berjalan di tempat gue bekerja. Bukan cuma gue, tapi banyak karyawan lainnya
juga.
Hari terjadinya kerusuhan itu
nggak gue inget, tapi terjadi karena demo kenaikan gaji dari 1,8 juta ke 2,4 juta perbulan.
Demi menghindari kerusuhan yang
malah akan berimbas pada penghancuran aset perusahaan, akhirnya petinggi di
perusahaan tempat gue bekerja memutuskan untuk menghentikan proses produksi dan
menyuruh para karyawan keluar—ikut alur yang mereka buat. Gak bermaksud untuk
mengikuti alur, cuma sekedar mengikuti pergerakan mereka sebentar melewati
beberapa blok, kemudian kembali lagi ke perusahaan untuk melanjutkan proses
produksi. Ibarat bahasa kerennya emansipasi
buruh.
Gue beserta teman-teman yang
sehati jadi keranjngan mendengar keputusan itu setelah beberapa saat
disembunyikan di gudang.
“Gue bahagia akhirnya kita keluar
kandang! Biar hidup buruh sejahtera emang harus kompak.” Kata gue pada Remon.
“Bener banget. Seru nih kayak
gini. Hidup buruh! Hidup buruh! Hidup buruh!” teriak Remon di jalan bersama
buruh-buruh lain.
Gue bersama Remon yang udah jadi
karyawan tetap di perusahaan itu turun ke jalan tol bersama buruh-buruh lain
dari berbagai perusahaan. Remon yang badannya super gede-tinggi mengendarai
motor (Kalau kata gue sih dia mirip raksasa), sedang gue yang kecil dan kurus
bonceng—mirip cicak nempel di badannya.
Gue inget kata itu karena gue pernah dibilang kayak gitu sama Ibu gue ketika
gue bonceng motor sama teman sekolah gue yang badannya kurang tinggi dan gede
dibanding si Remon.
“Sud, kamu malah kayak Cicak
nempel di badannya deh kalau bonceng sama dia.” Kata Ibu gue.
“Cicak? Masa disamain kayak cicak?”
protes gue.
Ibu gue mengangguk, kemudian
tertawa penuh kemenangan.
Gue nggak bisa ngebayangin, kalau
sama teman sekolah aja dibilang kayak Cicak nempel di badannya, apalagi kalau
Ibu gue ngeliat waktu gue bonceng sama teman kerja gue. Bisa kebayang gak sih
lo gue dibilang apa sama Ibu gue sendiri?
Sory,
sory,
gue jadi ngelantur nih. Kita kembali ke topik. Dengan menggunakan motor kami
mondar-mandir dari tol Cibitung sampai tol Cikampek, tangan gue saling ngetos dengan sesama pendemo dari atas
motor yang terus melaju berlawanan. Itu pertama kali gue ngerasain motor bisa
masuk di jalan tol.
Setelah kecapean mondar-mandir,
gue dan Remon kembali ke perusahaan. Di sana belum banyak yang datang kembali.
Gue, Remon, dan para karyawan yang udah datang nyantai di halaman gedung
pabrik. Para petinggi sibuk menelepon karyawan yang masih berada di jalan.
Banyak sampah berserakan di
mana-mana, situasi masih belum kondusif, dan terdengar kabar bahwa beberapa
perusahaan mengalami kerusakan asetnya karena anarkisme para pendemo yang men-swiping. Setelah semua karyawan
berkumpul, kami kembali bekerja seperti biasa. Sebenarnya waktu itu gue jengkel
juga karena masih aja kerja meski telah terjadi kerusuhan hebat.
Cerita ini gue alami ketika gue
masih bekerja di Ayah Kaya sebelum
bekerja di Ayah Miskin. Lo bisa baca
certita yang bersangkutan dengan ini di tulisan gue yang lain dengan judul Ayah Kaya dan Ayah Miskin di Menu Nine Dreams. Setelah gue
berhenti bekerja di Ayah Kaya dan Ayah Miskin, gue beru sadar dan dapat
memahami kesalahan yang gue lakuin.
Kita selalu melihat yang udah gue
ceritain berulang setiap tahun. Ya, setiap tahun para buruh berulah, termasuk
gue dulu. Bikin macet jalan adalah hal paling utama yang dilakukan. Mereka
meminta kesejahteraan, gaji yang layak untuk kehidupan lebih menyenangkan,
menuntut segala hal yang menjadi hak mereka sucuil apapun yang—mungkin luput
dari ingatan para pengusaha. Kenyataan berbeda dengan harapan setelah para
pengusaha memenuhi permintaan para buruh.
Mereka, para buruh, nggak bekerja
lebih baik setelah gaji dinaikan, tetap malas, nggak ada timbal balik yang
seharusnya dilakukan. Gue berpikir dalam perenungan yang dalam; kalau emang
kita inginkan kesejahteraan dengan menuntut kenaikan gaji dan tetap menjadi
karyawan bukanlah sebuah solusi untuk mewujudkan kesejahteraan itu; dan kalau
emang kita inginkan kebahagiaan dengan cara kayak gitu jelas nggak menghasilkan
sesuatu yang kita harapkan meski telah terpenuhi segala tuntutan.
Coba kita perhatikan, dari setiap
kenaikan gaji, semua barang-barang pokok ikutan naik, upah pembantu rumah
tangga juga naik, termasuk angkutan umum. Gak banyak pilihan yang dimiliki para
pengusaha selain menaikan harga atau mengurangi kualitas produk demi untuk
tetap menyeimbangkan alur pendapatan dan pengeluaran kas perusahaan agar bisa
menggaji karyawannya yang bawel—yang selalu menyamakan gaji di Indonesia dengan
gaji di Jepang, Malaysia, Thailand, atau negara-negara lain yang gajinya jauh
lebih besar dari Indonesia. Tak pernah sadarkah mereka bahwa gaji yang besar di
negara-negara itu karena kebutuhannya juga tinggi? Kini kita pun demikian. Lalu
bagaimana dengan nasib para pengais sampah? Yang nggak menikmati kenaikan gaji
itu namun merasakan imbas kenaikan harga barang-barang.
Jika kita ingin sejahtera dan
bahagia dengan cara kayak gitu salah. Salah total! Kalau lo mau sejahtera,
berhenti jadi karyawan dong! Bikin usaha sendiri. Kalau lo mau bahagia, ya lo
harus bersyukur dong! Bukan malah berbuat anarkisme kayak anak-anak STM jaman
dulu. Selamanya lo akan merasa nggak ada kesejahteraan dalam hidup kalau lo
pengecut. Selamanya lo nggak akan menemukan kebahagiaan kalau lo nggak
bersyukur.
Udah males, hitungan terhadap
waktu kerja, banyak maunya, gaji pengennya gede lagi!. (Gue juga dulu kayak
gitu sebelum insaf) Jadi apa ya bangsa ini kalau seluruh rakyatnya kayak gitu
semua?
O-ya, menyangkut judul tulisan
ini: Buruh pada demo. Pengusaha pusing
mikirin buruh yang males, tapi banyak maunya dan anarkis. Lha gue ngapain?.
Gue pun punya jawabannya, yaitu: ambil hikmahnya, BIKIN USAHA. Buang pekerja
kayak gitu (kalau gue udah punya karyawan). Nyari pengangguran kan gampang
banget di Indonesia. Gitu aja kok repot!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar