Rabu, 09 September 2015

Ulang Tahun Gue ke 23 Tahun.


Sepuluh september adalah tanggal yang membuat gue malu. Ya, gue malu dengan tanggal lahir gue sendiri. Gue masih begini-gini aja, bisnis juga tersendat. Kalau gue boleh berharap, gue nggak mau sepuluh september datang dengan cepat, gue mau sukses di usia ini. Tapi mungkin Tuhan menakdirkan kesuksesan gue nggak jatuh di tahun ini, gue terima. Gue akan terus jalani hidup ini dengan segala kemampuan gue untuk terus tumbuh kembang memanfaatkan segala potensi yang diberikan Tuhan Yang Mulia pada diri gue.
Gue nggak mengharapkan kata “Selamat ulang tahun”, karena hari ini gue lagi bersedih. Gue tulis tulisan ini pukul 00:54, tepat sepuluh september, kamis. Bagaimana bisa gue menerima kata selamat sedang gue belum melakukan sebuah pencapaian yang berarti?. Atau mungkin gue harus menafsirkannya dengan sudut pandang yang berbeda? Menganggap kata ”selamat” sebagai rasa syukur atas segala kenikmatan dan kesempatan berupa usia untuk terus mengejar impian? Kalau memang demikian bisa gue terima. Tapi yang pasti, gue tetap bersedih dan malu karena sepuluh september.
Tanggal tujuh kemarin gue pulang ke rumah, ketemu sama Ibu, Bapak, dan Fera, adik gue yang paling kecil. Setelah itu gue balik lagi ke Jakarta untuk sekolah. Sebelum gue pergi, gue diminta untuk pulang besok, tapi gue nggak bisa, ada sesuatu yang menanti gue di sana.
“Nih, duit, buat beli kado ulang tahun.” Kata Ibu gue sambil menyodorkan sejumlah uang.
Gue nolak. Gue pulang bukan buat minta duit atau menguras isi pendaringan orangtua. Ibu gue terus menyodorkan uangnya, dan gue berusaha menolak.
“Ambil, beliin apa aja, atau sandal Eiger. Jangan ditolak, ini kado dari Ibu.”
“Sandal hilang mulu, Bu.” Kilah gue.
“Ya, makanya di jaga. Itu kan kado dari Ibu, terserah bagaimana cara kamu menjaganya.”
Gue diam sejenak memandang uang yang terus disodorkan ke arah gue. Akhirnya gue terpaksa menerima uang itu. Kadonya emang masih berbentuk uang, mungkin itu alasan Ibu meminta gue untuk tinggal di rumah lebih lama. Hati gue langsung terbersit, Tuhan, adakah Kau mempercepat kesuksesanku agar aku bisa sesegera mungkin membalas sedikit saja jasa Ibuku?.
Dalam perjalanan ke Jakarta, gue sempatkan buat masuk ke Swalayan, beli sandal. Setelah itu gue lanjutkan perjalanan naik kereta commuter line. Setiba di stasiun Juanda, gue langsung menyebrang jalan ke arah Istiqlal, masjid yang selalu bisa menentramkan hati. Setelah mengambil air wudhu, gue langsung masuk ke ruang utama, mendekat pada tulisan besar “Allah” di dinding sebelah kanan. Air mata gue menetes dengan deras. Gue nggak tau apa yang harus gue ucapkan, gue yakin Dia lebih memahami apa yang tersirat dalam hati makhluk-Nya. Setelah shalat maghrib pun gue melanjutkan kembali perjalanan.
Kini, dengan ucapan Ibu gue seperti di atas, gue semakin belajar untuk lebih menjaga pemberian orang lain. Sandal, emang rawan di kalangan kita ini, miris banget. Sering gue kehilangan sandal jenis itu. Kalau nggak hilang di masjid saat shalat jumat, hilangnya di pengajian umum. Gue heran, segitu miskinnya kah mental di kalangan kita?. Gue nggak menyalahkan agama, tapi orangnya. Gue nggak peduli kalau dengan mengamankan sandal itu dengan berbagai cara membuat orang lain berpikiran buruk atau mencibir gue, sebab yang ini beda! Gue menghormati Ibu gue, maka gue hormati pemberiannya.

Tidak ada komentar: