Sepuluh september adalah tanggal yang membuat gue malu. Ya, gue malu dengan tanggal lahir gue sendiri. Gue masih begini-gini aja, bisnis juga tersendat. Kalau gue boleh berharap, gue nggak mau sepuluh september datang dengan cepat, gue mau sukses di usia ini. Tapi mungkin Tuhan menakdirkan kesuksesan gue nggak jatuh di tahun ini, gue terima. Gue akan terus jalani hidup ini dengan segala kemampuan gue untuk terus tumbuh kembang memanfaatkan segala potensi yang diberikan Tuhan Yang Mulia pada diri gue.
Gue nggak mengharapkan kata
“Selamat ulang tahun”, karena hari ini gue lagi bersedih. Gue tulis tulisan ini
pukul 00:54, tepat sepuluh september, kamis. Bagaimana bisa gue menerima kata
selamat sedang gue belum melakukan sebuah pencapaian yang berarti?. Atau
mungkin gue harus menafsirkannya dengan sudut pandang yang berbeda? Menganggap
kata ”selamat” sebagai rasa syukur atas segala kenikmatan dan kesempatan berupa
usia untuk terus mengejar impian? Kalau memang demikian bisa gue terima. Tapi
yang pasti, gue tetap bersedih dan malu karena sepuluh september.
Tanggal tujuh kemarin gue pulang
ke rumah, ketemu sama Ibu, Bapak, dan Fera, adik gue yang paling kecil. Setelah
itu gue balik lagi ke Jakarta untuk sekolah. Sebelum gue pergi, gue diminta
untuk pulang besok, tapi gue nggak bisa, ada sesuatu yang menanti gue di sana.
“Nih, duit, buat beli kado ulang
tahun.” Kata Ibu gue sambil menyodorkan sejumlah uang.
Gue nolak. Gue pulang bukan buat
minta duit atau menguras isi pendaringan
orangtua. Ibu gue terus menyodorkan uangnya, dan gue berusaha menolak.
“Ambil, beliin apa aja, atau
sandal Eiger. Jangan ditolak, ini kado dari Ibu.”
“Sandal hilang mulu, Bu.” Kilah gue.
“Ya, makanya di jaga. Itu kan
kado dari Ibu, terserah bagaimana cara kamu menjaganya.”
Gue diam sejenak memandang uang
yang terus disodorkan ke arah gue. Akhirnya gue terpaksa menerima uang itu.
Kadonya emang masih berbentuk uang, mungkin itu alasan Ibu meminta gue untuk
tinggal di rumah lebih lama. Hati gue langsung terbersit, Tuhan, adakah Kau mempercepat kesuksesanku agar aku bisa sesegera
mungkin membalas sedikit saja jasa Ibuku?.
Dalam perjalanan ke Jakarta, gue
sempatkan buat masuk ke Swalayan, beli sandal. Setelah itu gue lanjutkan
perjalanan naik kereta commuter line.
Setiba di stasiun Juanda, gue langsung menyebrang jalan ke arah Istiqlal,
masjid yang selalu bisa menentramkan hati. Setelah mengambil air wudhu, gue
langsung masuk ke ruang utama, mendekat pada tulisan besar “Allah” di dinding
sebelah kanan. Air mata gue menetes dengan deras. Gue nggak tau apa yang harus
gue ucapkan, gue yakin Dia lebih memahami apa yang tersirat dalam hati
makhluk-Nya. Setelah shalat maghrib pun gue melanjutkan kembali perjalanan.
Kini, dengan ucapan Ibu gue
seperti di atas, gue semakin belajar untuk lebih menjaga pemberian orang lain.
Sandal, emang rawan di kalangan kita ini, miris banget. Sering gue kehilangan
sandal jenis itu. Kalau nggak hilang di masjid saat shalat jumat, hilangnya di
pengajian umum. Gue heran, segitu miskinnya kah mental di kalangan kita?. Gue
nggak menyalahkan agama, tapi orangnya. Gue nggak peduli kalau dengan
mengamankan sandal itu dengan berbagai cara membuat orang lain berpikiran buruk
atau mencibir gue, sebab yang ini beda! Gue menghormati Ibu gue, maka gue
hormati pemberiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar