Rabu, 09 September 2015

Cinta itu mengenal uang!



Pengalaman gue yang satu ini membuat gue kembali pada jalur “kebenaran”. Ceritanya begini: Gue ketemu perempuan yang membuat hati gue bergetar kayak gempa di sebuah perusahaan Jepang saat magang, kelas dua STM lalu. Gue ngeliat dia sekilas-sekilas aja kalau waktu istirahat—mau makan. Setiap hari gue cuma bisa ngeliatin dia aja tanpa punya keberanian buat kenalan. Gue nggak terbiasa dengan kenalan sama cewek. Tapi akhirnya gue tau nama dia dari temannya yang juga dekat dari tempat gue kerja. Setiap hari kalau ketemu dia, gue suka manggil-manggil nama dia dari jauh sampe dia bingung sendiri.
Demi bisa ngeliat dia, gue yang kerjanya di lapangan bagian warehouse, sedangkan dia bagian office, jadi sering bolak-balik ke toilet office walaupun jarak tempat gue dan dia kerja jauh banget karena besarnya perusahaan itu. Dan kalau dikalkulasikan, mungkin, 12 banding 1 ketemunya. Dia nggak pernah menghiraukan kalau gue manggil, karena emang waktu itu bagi gue, udah bisa nyebut namanya di depan orangnya aja udah luar biasa senang, apalagi kalau dia membalas dengan senyuman, mungkin gue bakal kejang-kejang di depan dia. Ya, gue emang cemen kalau masalah perempuan.
Suatu ketika gue dapet nomer HP dia dari temennya. Gue mulai sms-in.
“Ehm, gue Sud. Ini kamu, ya?”
“Bukan. Salah sambung!”
Lho, kok dibilang salah sambung? Oh iya, pantesan, gue nggak nyebutin namanya. Bego!.  Dimulai dari itulah gue kenal sama dia. Tapi tetap, kalau ketemu gue nggak berani ngomong langsung. Gue cuma bisa melongo, mulut gue mangap, terus ngiler. Ces, ces, ces! Iler itu jatuh ke lantai, membanjirinya, dan akhirnya merepotkan cleaning service.
Dulu lagi nge-trend banget hp esia. Seribu rupiah bisa nelepon seharian. Berkat itulah gue bisa semakin deket dengan dia. Gue nggak pernah ngobrol berdua secara langsung walaupun cuma satu-dua menit sampai dia selesai masa tugasnya. Lewat pertemuan-pertemuan singkat itulah gue jatuh cinta, benar-benar merasakan jatuh cinta. Gue pikir, dia perempuan pertama yang sepenuh hati gue cinta, karena waktu SMP dulu gue juga pernah pacaran walaupun cuma sehari, gue ditinggal ke Riau. Tapi itu mudah gue lupain.
Setelah berpisah dari perusahaan itu, gue dan dia cuma bisa berhubungan lewat telepon. Semakin hari semakin dekat. Gue pun berani-in buat mengatakan cinta pada dia meski via telepon.
“Viani, gue suka sama lo. Lo mau jadi pacar gue?”
“Nggak bisa, Sud. Gue nggak cukup baik buat lo, lebih baik lo cari cewek lain yang lebih baik dari gue.”
Terkadang begitulah cara cewek nolak cowok yang nggak dia suka. Bilang inilah, itulah, padahal dalam hatinya mungkin bilang begini: “Terpaksa gue ngomong kayak gitu biar gak nyakitin hati lo. Sebenarnya sih gue nggak suka cowok pendek, item, dekil, dan rada bego kayak lo, Sudarman BK. Lo tetap indah bagi orang yang sederajat dengan lo.”. Hmm, menyedihkan.
Meski ditolak, gue terus berhubungan. Dan gak pernah ketemuan lagi semenjak hari-hari di perusahaan Jepang itu. Tiga kali gue ditolak. Bagi gue saat itu, untuk mendapatkan perempuan yang spesial, emang harus spesial pula cara menaklukannya, sehingga hubungan gue nantinya bakal terasa istimewa dan bermakna karena mempunyai nilai sejarah yang dapat dibilang berarti. Khusus bagi gue sangat berarti.
Terbersit di hati gue sebuah kepasrahan. Di saat itu gue menemukan perempuan lain—yang badannya jauh lebih tinggi dari gue. Gue pun kembali magang di perusahaan tempat dia magang demi bisa dekat dengannya. Rencana gue berhasil, gue pun semakin hari semakin dekat dengan dia, dan gue juga udah mulai punya keberanian buat ngobrol secara langsung sama cewek gebetan gue. Tapi waktu itu gue belum benar-benar yakin kalau gue suka sungguhan sama dia atau nggak. Gue masih suka berhubungan sama Viani.
Di saat gue semakin dekat dengan Novita, gue coba mengatakan cinta pada Viani sekali lagi untuk sebuah kepastian apakah gue masih harus berhubungan dengannya atau gue harus berpaling darinya untuk sebuah nama Novita. Setelah gue katakan niat itu, gue ditolak lagi. Genap udah empat kali gue ditolak perempuan yang sama. Waktu itu pulang magang, masih di area perusahaan karena suasana lagi hujan deras. Gak lama telepon dimatiin setelah kata penolakan, dia nelepon lagi, dia bilang kalau dia mau jadi pacar gue.
Hati gue bagai terbang ke angkasa. Berbunga-bunga. Setelah telepon kembali dimatiin lagi, sekitar sepuluh menit dia nelepon gue lagi. Dan, gue diputusin. Dalam hujan yang damai itu rasanya ada petir besar yang menyambar hati gue. Baru aja gue diterima dan merasa perjuangan gue berbuah, tiba-tiba semuanya harus tumbang disambar petir besar di saat hujan yang deras.
“Maaf, gue nggak mau mengulang kesalahan yang pernah gue lakuin. Gue cuma nggak mau memacari orang yang gak gue suka lagi.” Kata dia setelah mutusin gue.
Dia emang pernah cerita kalau dia sebelumnya punya pacar yang nggak dia suka. Udah cukup lama dia pacaran, sebelum kami saling mengenal saat magang bareng. Dia juga cerita kalau dia bisa pacaran dengan kakak teman sekolahnya karena cowok itu udah baik banget sama dia. Sedangkan alasan dia mau menerima gue sebelum mutusin hubungan yang kurang dari sepuluh menit cuma karena dia kasihan sama gue. Ya ampun! Segitu buruknya kah gue? Segitu jeleknya kah gue?. Gue pun ngaca, dan ternyata benar, gue emang jelek.
Setelah hubungan gue kelar—gue nggak benar-benar yakin kalau itu sebuah hubungan yang disebut pacaran, gue pun mengatakan cinta pada perempuan yang gue minta nomernya dari teman sekolah gue. Sekolah dia sama dengan sekolah Viani, cuma lain kelas. Dengan mudah gue pacaran walau gue nggak pernah ketemuan sebelumnya. Gue jadi mudah mengatakan cinta pada perempuan. Itu semua terlatih karena cinta gue pada Viani. Sepulang magang, (waktu itu gue masuk sore dan pulang malam, sambil menunggu pagi, gue nginep di perusahaan) gue nganterin pacar yang belum gue tahu bentuk wajahnya itu sekolah. Tujuan gue nganterin dia sekolah salah satunya berharap ketemu Viani. Tapi ternyata nggak ketemu.
Sejak hari itu gue benar-benar mutusin untuk nggak menghubungi dia lagi. Gue pun lebih dekat dengan Novita. Sebaliknya, dengan pacar yang nggak gue maksud itu semakin kendor. Setiap hari gue pulang bareng naik angkot. Dengan adanya Novita, gue jadi gak terlalu galau dengan semua yang telah terjadi. Lama-lama, gue pun benar-benar merasa jatuh cinta dengan Novita. Perempuan tinggi, putih, dan agak lugu. Sangat ideal untuk ukuran siswi SMA kelas dua yang nyaris naik kelas tiga.
Kedekatan gue dengan Novita berjalan baik, gue pun pacaran dengan dia. Sebelum gue pacaran dengan Novita, gue mutusin perempuan yang gak bermaksud gue pacarin itu.
Gue lebih dominan dilihat orang sebagai adiknya cuma karena gue gak lebih tinggi dari dia. Hal itu gue katakan karena pernah ada yang nyeletuk waktu gue jalan sama dia.
“Mbak, adiknya, ya?”
Dia pura-pura nggak denger. Mungkin demi menjaga hati adiknya ini. Oh, salah, pacarnya.
Gue dibilang adiknya, dan itu menyebalkan. Meski demikian hari-hari gue dengan Novita terasa begitu menyenangkan.
Gue lupa, seinget gue sih saat usia hubungan gue sama Novita berumur sepuluh bulan, Viani tiba-tiba datang lagi dalam kehidupan gue. Gak langsung menghubungi nomor gue, melainkan menghubungi nomor teman gue via sms, namanya Boni. Dia cuma nanya kabar gue. Dari Boni lah gue minta nomer Viani yang baru. Perasaan gue sama dia rasanya masih menempel kuat.
Gue mulai berhubungan lagi dengan Viani, dan masih pacaran dengan Novita. Suara dia lebih hangat di telinga setelah sekian lama nggak pernah terdengar.
“Jujur, gue nggak tau kenapa tiba-tiba gue inget lo. Rasanya gue kangen banget sama lo. Padahal semenjak saat itu gue nggak kepikiran lo sama sekali. Gue udah benar-benar lupa sama lo. Malah, gue lagi dekat sama cowok lain.” Kata dia di telepon.
Semakin hari, kedekatan gue dengan Viani semakin erat. Sementara hubungan dia dengan cowok yang sempet deket sama dia udah semakin renggang. Dia pun bilang kalau dia mau jadi pacar gue.
Dengan perlahan waktu, Novita menjadi begitu menyebalkan meski gue tau sebab sebenarnya: ada Viani di sisi lain hati gue. Selalu ada alasan untuk berantem dengan Novita. Gue jadi gampang marah. Semua jadi masalah di mata gue dengan apa yang dilakukan Novita. Yang nggak gue tau, mengapa hati gue terpaut begitu dalam untuk seorang Viani?.
Gue pun menggunakan berbagai alasan untuk memutuskan Novita, perempuan yang udah baik banget sama gue. Novita sendiri pun ngomong dengan Viani kalau sebaiknya dia jangan mengganggu hubungan gue dengan dia meski hanya lewat telepon. Viani dihantui dengan kebimbangan, tapi gue terus meyakinkannya. Gue pun akhirnya memutuskan hubungan dengan Novita yang selama ini baik-baik aja sebelum kedatangan Viani. Ada air mata berderai.
Beberapa hari setelah gue putus dengan Novita, gue jadian dengan Viani. Hati gue merasa begitu nyaman berada di sisinya. Perempuan yang dulu gue kejar-kejar ternyata datang sendiri tanpa diharapkan ketika keputus asaan telah berlalu jauh.  Gak ada perubahan di dirinya setelah sekian lama nggak ketemu. Dia tetap Viani yang gue kenal dulu. Bibir merah jambunya selalu menawan saat dia bicara.
Banyak banget yang gue lalui selama pacaran dengan dia. Gue nggak inget berapa lama gue menjalin hubungan dengan dia. Gue bukan tipe orang yang selalu mengingat tanggal seperti itu, meskipun semasa masih pacaran gue hapal juga sedikit-sedikit. Yang benar-benar gue inget cuma tanggal lahirnya. Tapi semampu gue membongkar memori di kepala, dapat gue katakan dengan nggak pasti, sekitar dua tahun gue pacaran sama dia. Ya! Sekitar segituan lah.
Hubungan gue dengan Viani pun harus kandas begitu aja dengan sebuah alasan dia disuruh mutusin gue sama orangtuanya dan disuruh pacaran dengan laki-laki lain. Laki-laki yang lebih pandai mengambil hati orangtuanya. Dan pastinya dia berduit.
“Sud, maafin aku. Aku juga bener-bener gak suka sama cowok gila itu.” Begitu katanya.
Gue nggak nyalahin cowoknya, juga nggak mau ngajarin Viani buat jadi anak yang membangkang pada orangtua. Gue sadar dengan sepenuh kesadaran, banyak kekurangan dalam diri gue. Meski berat, gue pun melepaskan Viani pada orang lain yang dia bilang gila. Pun dengan dia—memutuskan komunikasi dengan gue. Sedang gue yang masih ABG labil, cuma bisa tahu kabar dia dari status facebook. Dari foto-foto yang diunggah di facebook, nggak ada raut sedih atau jengkel berduaan dengan cowok barunya itu. Setiap kali dia mengunggah foto dengan dia, hati gue lumer. Dan pada akhirnya gue menghapus pertemanan gue dengan dia. Rasanya, itu yang terbaik untuk menyelamatkan bonggol hati gue yang belum sempat meleleh.
Gue mencoba untuk yakin bahwasanya hubungan mereka nggak akan bertahan lama berhubung Viani nggak suka dengan dia. Se-nggaknya itulah yang gue percaya darinya. Tapi gue salah, dalam facebook-nya (meski udah gue hapus pertemanannya gue masih suka lihat profilnya karena rindu), gue lihat dia begitu bahagia dengan cowok itu meski belum lama hubungan kami udahan. Dia sering jalan-jalan. Beda waktu sama gue, yang cuma nganter obat mag ke rumahnya aja naik angkot. Lo pun (yang cewek) pasti sama kalau pacaran dengan gue, hidup lo akan menderita dan akhirnya memilih laki-laki yang lebih baik. Sekali lagi, gue nggak menyalahkan siapapun.
Hati gue hancur. Selama beberapa bulan gue tetap suka lihat facebook-nya, dan setiap kali melihatnya separuh hati yang tersisa dari tragedi panas yang memuncak sehingga membuat hati gue meleleh itu menjadi pecahan kecil, kecil, dan lebih kecil lagi sampai akhirnya sisa hati itu hanya seperti kertas yang terbakar.
Gue merasa semua alasan yang disampaikannya itu cuma pembodohan buat gue, cuma alasan buat menjauhi gue. Tapi dari situlah gue bisa cukup banyak belajar memaknai arti kehidupan. Belajar emang butuh proses, butuh kesakitan, butuh himpitan, sehingga ketika kita mengarungi dunia ini kita nggak mudah untuk menyerah dengan segala keadaan.
Gue pun jadi berpendapat bahwasanya cinta itu melek financial, kecuali buat perempuan yang—benar-benar mengenal dirinya dan Tuhan-nya sehingga dia bisa lebih bijak di mana harus meletakan atau menempatkan cintanya. Dan itu satu juta banding satu, mungkin. Gue nggak pernah bisa tau dengan pasti. Perempuan kayak gitu yang gak mempermasalahkan kaya atau miskin. Gue sendiri pun nggak terlalu berharap dapat perempuan seperti itu. Karena sebuah kewajaran kalau seorang perempuan yang menjadi pendamping laki-laki menginginkan kehidupan yang layak.
Semenjak itulah gue memutuskan buat nggak pacaran dulu. Gue mulai fokus dengan impian-impian gue yang selama pacaran mandet. Gue mau sukses. Gue nggak mau mendapat pengalaman hidup itu untuk kedua kalinya. Cukup satu kali gue harus bisa marauk pelajaran darinya.
Gue nggak berniat buat balikan sama mantan yang mana pun. Sebab, percuma kalau sekarang gue lakuin, gue cuma akan mengulang sejarah. Gue nggak menyesal dengan semua yang telah terjadi. Karena dari semua itulah gue bisa belajar: seperti, bisa mengatakan cinta, ke-egoisannya gue, lebih menghargai perasaan oranglain, banyak banget, tapi yang terpenting—yang mungkin bisa juga lo ambil dari sebuah rahasia hidup atas kisah gue: kejarlah mimpi lo, kalau bisa fokus dengan tujuan yang udah lu tentuin itu. Sebab menurut gue jodoh itu mengekor; dia akan selalu menyesuaikan diri dengan lo. Dan itu terbungkus dalam sebuah kata: takdir. Itulah sebuah keadilan Tuhan.
Gue pernah dibilang dingin sama orang karena sikap gue yang nggak kayak dulu lagi sama perempuan. Semua itu gue lakuin karena gue nggak mau jatuh dalam lubang yang sama. Kita udah semestinya peka dengan isyarat Tuhan. Kita harus bisa menerima segala hal yang terjadi pada diri kita karena sesungguhnya segala rencana yang kita susun dan beranggapan baik, tetap lebih baik dengan rencana Tuhan. Kita hanya perlu optimis, dan menemukan sebuah rahasia dalam setiap peristiwa.
Gue minta maaf dengan semua perempuan yang pernah gue sakitin. Benar-benar minta maaf. Kita semua sedang belajar untuk lebih dewasa menyikapi hidup. Lo semua yang pernah singgah di hati gue, terutama Novita dan Viani, udah menjadi bagian hidup gue dalam mengarungi proses pencarian jati diri.
Note: Seperti biasa, kalo lo mau sharing boleh tulis di kolom komentar. Lo juga bisa mengisi ceklis buat cerita gue ini ditanggapan pembaca yang ada di bawah tulisan ini. Gue bakal seneng kalau kita bisa berbagi cerita tentang hidup.
Salam dari gue, Sud.

Tidak ada komentar: