Rabu, 09 September 2015

NINE DREAMS



Bismillahirrahmanniraahiim.
Semoga Allah meridhai apa yang gue tulis ini.

NINE DREAMS Up to 2020
One Big My Dream Entrepreneur
Kuantar Kau Menyelami Masa Laluku

Semua berawal ketika gue mempunyai sebuah mimpi untuk menjadi seorang pengusaha. Gue nggak tau pasti kapan gue memutuskan untuk menjadi pengusaha, karena sejak kecil gue senang berdagang; anak ikan lele, permen, es mambo, kocek telor. Itu semua yang pernah gue dagangkan, tepatnya saat gue duduk dibangku sekolah dasar.Saat itu guenggak banyak berpikir, guecuma senang melakukan apa yang gue inginkan tanpa tau mengapa gue menyukainya.
Tapi semua ini cuma sekedar ucapan selamat membaca bagi lo. Ini pengalaman yang nggakbisa gue lupain sama sekali. Bagi yang merasa bosan membacanya atau merasa tulisan gue terlalu basi, bisa langsung lompat ke tulisan pokok. Atau lo juga boleh berhenti membacanya cukup sampai di sini.
Masa kecil emang lucu, kita nggak pernah berpikir tentang apa yang kita lakuin. Saat berdagang gue mulai berkenalan dengan uang, namun itu semua nggak membuat gue buta dengan masa depan. Cuma sekedar melakukan apa yang gue inginkan. Itu aja!
Runtutan kejadiannya gue lupa.Namun bayang-bayangnya masih jelas mondar-mandir di kepala gue ketika merenung. Gue akan ceritakan secara singkat mengenai perniagaan-perniagaan yang pernah gue lakukan saat memakai seragam merah-putih.

Kocek Telor
Lo tau kocek telor, kan? Yap, telor yang digoreng dalam wadah bulat-bulat kecil dalam satu loyang khusus. Saat matahari belum datang, gue udah berada di pasar untuk membeli telor puyuh ataupun telor ayam negeri beserta sayuran kol, daun bawang, dan sebagainya. Setiap kali belanja di pasar selalu gue lakuin sendiri dengan mengendarai sepeda karena memang jaraknya lumayan jauh untuk anak seumuran gue saat itu.
Pagi hari gue berdagang, dan siang hari mulai sekolah. Siang? Yap, enam tahun gue sekolah masuk jam siang. Sampai sekarang gue masih merasakan rasa semangat yang dulu pernah gue rasakan. Demi ingin berdagang karena teman-teman di sekolah ingin membeli kocek telor gue sepulang sekolah, maka gue pulang dengan berlari karena ingin menyiapkan dagangan sebelum mereka sampai ke rumah gue.
Gue ingat benget waktu itu gue dikelilingi teman-teman yang sedang menggoreng sendiri kocek telurnya. Yang gue lakuin saat itu memberi mereka telur, garam, kol, minyak ke dalam loyang, terigu bagi yang mau. Dan membiarkan mereka menggoreng sendiri karena mereka lebih suka melayani diri sendiri.
Beneran, itu sangat menyenangkan. Gue dikelilingi teman-teman setiap hari dan mendapat uang pula.Itulah proses hidup!

Anak Ikan Lele
Penjualan kocek telor pun makin hari kian menyusut sampai akhirnya saya menutup usaha itu dan menggantikannya dengan menjual ikan lele.Saat itu modal yang saya keluarkan tidak besar, sekitar seribu-dua ribuan lah.Tapi sekali lagi saya hanya menjalankan kesenangan saya untuk berdagang yang tidak saya sadari kala itu.
Dengan belanja minim seperti itu, gue memiliki cara untuk memasarkannya agar jumlah yang sedikit itu bisa tetap terjual. Oh iya, jumlah lele perseribu rupiahnya sekitar dua puluh sampai tiga puluh. Untuk dapat menjualnya maka gue berikan kesegaran berupa teknik pemasaran cabut tali. Lo pasti nggak tau teknik apa itu. Tapi itulah yang gue gunakan dulu tanpa mengenal benar dan salah, atau boleh atau nggak dalam perniagaan. Triknya sangat sederhana dalam teknik ini, guecuma memasukan anak ikan lele ke dalam kantong plastik minyak atau gula dengan jumlah tidak merata, setelah plastik itu sudah berisi ikan dan air tentunya, maka gue ikat ujungnya dengan tali yang disengaja dipanjangkan sekitar 40 cm. Bagi mereka yang berminat hanya tinggal membayar sejumlah uang lalu mencabut tali itu, dan ketahuanlah ikan dalam plastik mana yang ia cabut, banyak atau sedikit jumlahnya itulah yang akan menjadi miliknya. Tapi dengan trik seperti itu gue dapat merasakan itu jauh lebih menguntungkan kerena lebih diminati. Itu dapat gue rasakan karena gue juga menjual anak ikan lele secara biasa.
Sekarang guesadar bahwa apa yang pernah gue lakuin saat kecil itu nggak benar. Yap, itu merupakan pengundian nasib. Ya.. ya.. biarlah pengalaman menjadi guru yang menyenangkan. Hal yang dapat gue petik ialah bahwa sungguh dalam penjualan butuh trik agar lebih segar dan lebih diminati orang. Caranya aja yang mesti benar.
Semua itu nggak berlangsung lama. Dengan waktu yang sesingkat-singkatnya gue alih objek dagangan. Ngeri! Itulah proses hidup!

Permen
Melepas ikan lele sebagai objek penjualan, maka gue menyambut objek dagangan baru, yaitu permen. Ya, permen!.Dengan jumlah penjualan yang sangat sedikit dan pesaing-pesaing di warung-warung besar yang merajalela membuat penjualan gue tersendat setengah mati.Kala itu guecuma tau berdagang tanpa bisa melihat peluang usaha.Hasilnya itu pun berakhir dengan sangat singkat lebih dari ketika gue menjual ikan lele.Nggak banyak yang dapat gue ceritain pada menjualan permen ini, karena memang nggak ada poin penting yang mesti gue ceritain. Tapi, itulah proses hidup!

Es Mambo
Lo ngerti es mambo? Bagi lo yang terlahir di atas pengki bambu pasti tahu itu. Iya bukan?. Baiklah, gue akan jelaskan bagi lo yang nggak ngerti. Es mambo adalah es yang dibekukan, persis seperti ice cream, bedanya adalah kalau es mambo hanya campuran air, gula, dan perasa, atau bisa juga memakai tape, susu, kacang hijau, dll. Kemudian dari komposisi tersebut dimasukan ke dalam plastik panjang dan selanjutnya dibekukan. Itulah ice cream bagi anak yang terlahir di atas pengki bambu, bukan emas.
Bisa berjualan es mambo awalnya karena dapat tawaran dari Paman. Gue langsung menerimanya. Setiap kali mau berangkat sekolah, gue harus ke rumah Paman terlebih dahulu untuk mengambil termos yang penuh berisi es mambo. Jumlahnya udah ditentukan oleh Paman, gue cuma tinggal membawa dan menjajakinya di sekolah. Dengan perawakan kecil, setiap hari gue harus mengerahkan tenaga gue untuk membawa es mambo itu ke sekolah. Kadang terasa berat sekali kalau termos itu penuh.
Untunglah sekolah gue dekat—bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun itu nggak berarti gue bisa terus berjalan tanpa istirahat disetiap beberapa langkah. Kalau gue kenang masa-masa itu gue seperti melihat diri gue sendiri dengan seragam merah putih sedang meringkik keberatan membawa beban.
Kalau sedang belajar, termos es gue bawa masuk ke dalam kelas. Dan ketika sedang istirahat gue harus keliling sudut sekolah agar dagangan gue lekas habis. Semua itu gue lakukin dengan penuh kesadaran cuma untuk bisa mempunyai uang jajan sendiri tanpa minta pada orangtua. Gue akui, orangtua gue adalah orang yang ekonominya rendah, tapi bukan berarti mereka nggak bisa memberi gue uang jajan. Gue cuma ingin meringankan sedikit aja beban mereka. Lagi pula, seperti yang udah gue katakan, bahwa berdagang itu menyenangkan.Itulah proses hidup!
***

Masa SMA
Sedikit membahas masa kecil gue di jenjang SMP. Nggak ada kegiatan perdagangan yang gue lakuin di masa-masa itu selama tiga tahun. Setiap hari gue cuma bisa membantu Ibu gue membersihkan rumah, piring, dan sebagainya. Sehari diberi uang dua ribu rupiah untuk jajan di sekolah dan di rumah.
Gue masuk dalam dunia organisasi OSIS, dan kebetulan menjadi ketua. Di situlah gue mulai belajar memimpin, khususnya memimpin diri gue sendiri. Jika lulus nanti, gue ingin masuk ke pesantren. Keinginan gue saat itu. Gue mempunyai keinginan seperti itu karena berpikir untuk apa sekolah kalau ujung-ujungnya kerja? Diperintah orang lain semaunya? Menjalani waktu yang pastinya membosankan?. Dengan masuk pesantren gue mempelajari ilmu agama dan kelak nanti akan diperlukan oleh masyarakat. Uang akan datang sendiri tanpa gue cari dengan meluangkan banyak waktu—pergi gelap pulang gelap.
Keinginan itu terwujud. Kedua orangtua gue mendukungnya. Tapi cuma bertahan kurang lebih dua bulan, kemudian gue kabur dari pesantren. Kelabilan mengguncang batin gue ketika itu. Mungkin itu karena godaan setan pada gue, tapi gue nggak mau menyalahkan siapa-siapa. Itu jelas salah gue. Ketika itu gue merasa bodoh sekali saat dipesantren, bagaimana mungkin teman-teman gue bisa menghafal dengan cepat sementara gue—meskipun telah berusaha sebisa mungkin dan mengulang-ulang hafalan itu masih aja sulit untuk mengendapkanya di kepala. Merasa tertekan, meskipun pihak pesantren nggak menekan. Gue berpikir orang-orang di rumah. Gue takut mengecewakan mereka karena kebodohan gue. Jadi lo tau sekarang, gue orangnya bego dan labil. Hal pertama yang perlu lo tau dari gue.
Malam-malam gue berkemas dan setelah subuh gue pergi tanpa bicara pada siapapun. Gue jadikan keadaan lingkungan sebagai alasan kabur dari pesantren. Tapi dari keputusan itu gue jadi merasa semakin mengecewakan banyak orang.
Nggak banyak yang dapat gue ceritain dalam masa-masa itu. Mungkin pengalaman lo lebih berharga untuk lo pelajari.
Kita alih topik. SMA, lebih tepatnya STM. Keluar dari pesantren gue masuk sekolah tingkat atas. Karena keluar dari pesantren, maka gue harus mempertanggungjawabkan apa yang telah gue lakuin. Agar terus dapat bersekolah gue harus menarik sampah.Sampah-sampah bekas keperluan rumah tangga.Selama tiga tahun gue melakukannya untuk membayar SPP sebesar 140 ribu dari gaji yang gue terima perbulan sebanyak 200 ribu.
Rasa malu gue tepiskan sejauh mungkin.Kenapa malu?Gue masih muda, gue masih punya masa depan yang panjang. Guecuma peduli dengan masa depan gue. Masa di mana gue menjadikan semua itu sebagai kenangan indah, sebagai bukti perjalanan bahwague bisa melewati itu hingga menginjak posisi yang gue inginkan.
Selama tiga tahun guecuma merauk penghasilan dari menarik sampah.Nggak berdagang atau bekerja lainnya. Tapi dari situlah gue menemukan gelar.Suatu gelar yang cumaguepemiliknya, yaitu S.Ps—Sarjana Penarik Sampah.Sampai kini, guenggakmau ada gelar lain yang menempel di nama gue meskipun gue telah menjadi sarjana. Guecuma ingin gelar itu. Nggak peduli apa kata orang.
Gue sadari nggak mudah untuk mendapat gelar itu meski gue sendiri yang menciptakan. Gue perlu sekolah, bergaul dengan benar, bekerja keras ditambah dengan kerja cerdas, menyusun strategi agar dapat meraih gelar yang membuat gue merasa bergairah jika menggunakannya. Kenapa?Karena gue ingin bercerita pada banyak orang tentang hidup gue, tentang impian, tentang masa depan, tentang waktu, tentang kegigihan, dan masih banyak tentang-tentang lainnya—agar mereka yang merasa hidupnya nggak berarti, penuh dengan kelemahan, nggak bisa berbuat banyak dalam hidup ini,mau mendengarkan cerita gue dan mempunyai harapan untuk terus memperbaiki kualitas diri, meraih apa yang mereka inginkan tanpa menganal kata putus asa.

Ayah Kaya dan Ayah Miskin
Ini kayak cerita Robert T Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad.Tentang ayah kaya dan ayah miskin.Bedanya, gue menganggap ayah kaya dan miskin gue adalah sebuah perusahaan.
Setelah lulus sekolah gue bekerja disebuah perusahaan yang nggak begitu bonavit. UMR-nya sama dengan perusahaan lain. Saat itu 1,4 juta perbulan. Selama delapan bulangue banyak mengeluh.Di bus jemputan, kantin, ruang produksi, sampai di warung seorang teman.Gue mengeluh karena minimnya tunjangan untuk karyawan dari perusahaan itu. Hal lain karena hari sabtu juga masuk kerja tanpa dihitung lembur; itu karena jam kerja dari hari senin sampai jumat dikurangi. Tapi bagi gue tetap aja gue rugi, karena lebih baik gue meluangkan waktu beberapa puluh menit setiap hari kerja daripada menukarkannya dengan hari sabtu gue.Itu hari libur yang jika digunakan untuk kerja maka upahnya ditambah.Menjengkelkan.Bukan cumague yang mengeluh, tapi banyak dari mereka juga. Lo juga bertambah tahu tentang gue. Tukang ngeluh.
Baru delapan bulan gue bekerja.Kemudian memutuskan untuk keluar.Nggak lama dari itu, gue diterima oleh perusahaan yang bergerak dibidang investasi kliring berjangka. Perusahaan itu bermain pada nilai sebuah emas.Lo pasti udah bisa menebak posisi gue diperusahaan itu.Marketing.Yap, guejadi marketing di perusahaan yang bertempat di Thamrin itu.Sebagai marketernggak ada yang menggaji selain diri sendiri. Lebih jelasnya gue menggaji diri gue sendiri jika gue mendapatkan nasabah yang investasi diperusahaan itu dengan nominal minimal seratus juta.
Selama beberapa hari gue merasacuma menghabiskan uang untuk pulang pergi ke kantor (Kab. Bekasi-Jakarta). Belum lagi nggak dapat makan. Uang yang gue dapatkan dari hasil kerja di perusahaan sebelumnya habis begitu aja. Habis cuma untuk membayar rasa lelah. Akhirnya gue menyerah, gue nggak mau melanjutkan lebih jauh lagi mengingat banyak teman gue yang udah berbulan-bulan bekerja di sana belum juga mendapat nasabah. Gue tau, banyak diantara mereka yang berpakaian rapi lengkap dengan dasi itu sebenarnya dompetnya tipis. Bahkan mungkin kosong. Tapi di situ gue mendapat pelajaran yang berharga: bahwa gue nggak perlu berpenampilan energic seperti itu supaya enak dipandang orang. Gue cuma ingin dengan gaya gue. Yang penting dompet gue nggak kosong. Nggak peduli apa kata orang ketika kali pertama mereka melihat gue dengan memandang cara berpakaian gue. Gaya gue mencerminkan diri gue. Gue nggak mau melukiskan kepalsuan diri gue dari pakaian ketika oranglain melihat gue. Gue ingin mereka melihat gue apa adanya.
Gue menjadi kenek bangunan selepas dari perusahaan itu. Tapi gue pikir itu lebih baik daripada gue tetap bertahan diperusahaan itu.Apalagi bulan depan udah lebaran. Guenggak mau ketika lebaran nggak memiliki uang samasekali.
Setelah lebaran, gue bekerja di perusahaan bonavit. Ini yang gue inginkan. Gue bisa mengumpulkan uang lebih cepat untuk usaha.Pikir gue waktu itu. Di perusahaan baru gue nggak menemukan apa yang gue rasakan di perusahaan pertama. Semua begitu kontras; Lemburan gue banyak, tunjangan gue besar, hari sabtu dihitung lembur kalau masuk kerja, pekerjaannya lebih ringan karena saya di posisi quality control.
Gue terlena dengan gaji besar untuk ukuran orang seperti gue. Sekarang gue paham mengapa direktur utama diperusahaan pertama gue bekerja memberi kami para karyawan baru training tentang masa depan, tentang sebuah impian. Gue masih mengingat beberapa kalimat dan pertanyaan dirut itu. Bahkan kalau gue kenang, gue masih ingat posisi gue duduk mendengarkan training yang ia berikan.
Dulu gue menyangka perusahaan itu pelit karena nggak mau merekrut lulusan sekolah tinggi. Tapi kini gue mengerti. Seorang sarjana nggak diterima masuk dalam perusahaannya. Kenapa? Ia memberi asalan bahwa seharusnya mereka yang sekolah lebih tinggi bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang yang pendidikannya lebih rendah. Ia sangat mengandalkan para pegawainya yang semuanya lulusan SMA. Ia berpikir seorang lulusan SMA pun bisa jika diajarkan untuk mengerjakan tugas-tugas yang biasa dikerjakan orang-orang lulusan sarjana. Mengapa harus mengambil sarjana? Buat saja lapangan pekerjaan sendiri dengan ilmu yang mereka miliki.
Gue diajukan sebuah pertanyaan seperti yang pernah ia alami dalam hidupnya ketika belum menjadi apa-apa. Kali pertama kamu ingin pergi ke negara mana?. Begitu inti pertanyaannya. Maka gue jawab Jepang. Ternyata jawaban gue sama seperti apa yang pernah ia jawab pada penanya-nya. Ya, Jepang. Sampai kini gue masih menginginkan terbang dan menginjakkan kaki di negara itu. Gue kagum dengannya. Negara paling syariah di dunia jika aja nggak terkenal dengan seksnya.
Dari cara-cara yang ia terapkan dalam perusahaannya. Gue banyak belajar. Gue ingin ucapkan ungkapan terima kasih kepadanya di sini karena gue belum sempat berterima kasih saat lalu. Terima kasih, terima kasih atas ilmu yang telah diberikan pada saya baik secara langsung maupun tidak, Sensei.
Saat itu, kontrak satu tahun di “perusahaan ayah kaya” gue pikir cukup. Gue nggak mau menandatangani kontrak kedua. Nggak banyak yang gue simpan saat memutuskan untuk keluar. Gue memilih pergi ke Jakarta. Gue coba menghindar dan lari dari zona nyaman, gue nggak mau tua menjadi seorang karyawan.
Gue menganggap perusahaan tempat kali pertama gue bekerja itu adalah Ayah kaya gue, dan perusahaan yang menggaji gue lebih besar adalah ayah miskin gue. Perusahaan itu nggakbanyak memberi pelajaran bagi gue. Gue jadi paham, tempat terbaik untuk kita bekerja bukanlah perusahaan yang mampu menggaji kita dengan upah yang besar dengan waktu yang singkat dan pekerjaan yang ringan, melainkan perusahaan yang mampu memberi kita ilmu lebih banyak tanpa peduli berapa waktu yang dibebankan untuk kita bekerja dengan gaji yang nggak seimbang. Karena dengan ilmu itu, kita bisa membuat perusahaan sendiri. Uang kita akan jauh lebih banyak ketimbang terus menjadi karyawan.

Jakarta
Dengan pembekalan yang sedikit gue ke Jakarta sambil kuliah. Awalnya gue dagang buku disaat jam kuliah kosong. Tapi dengan tempat dan buku yang gue jual sangat terbatas, maka itu semua nggak berlangsung lama. Buku-buku itu kemudian gue letakan diperpustakaan. Sayang, daripada gue simpan sendiri nggak bermanfaat, lebih baik dibaca orang.
Kemudian gue usaha es yang dijual seribuan, pop ice, dan kopi yang dapat diblender seperti pop ice dengan modal pinjam oleh teman, dan peralatannya pinjam juga tentunya untuk biaya hidup gue di Jakarta. Nggak lama juga, tapi jauh lebih lama dari usaha-usaha sebelumnya. Gue berpikir, diusia gue yang udah mencapai 22 tahun, ditambah gue seorang mahasiswa, gue nggak mungkin terus usaha seperti itu. Gue harus usaha yang lain, usaha yang dapat menunjang masa depan gue.
Sudah cukup rasanya. Gue terlalu terburu-buru. Ingin usaha tapi nggak menyiapkan diri mau usaha apa. Rasanya bodoh sekali. Seharusnya saat gue masih bekerja gue bisa memikirkan lebih matang mau berpijak di mana. Akhirnya gue ke Jakarta hanya menghabiskan uang yang memang nggak seberapa.
Di sinilah gue baru paham, bahwa cepat dan terburu-buru itu bedanya sangat tipis. Gue banyaksalah mengambil keputusan, nggak cermat.Bahkan gue melihat diri gue adalah sosok yang ceroboh, pantat lancip. Maka dari itu, gue perlu pergaulan yang baik untuk menunjang impian gue. Mungkin terlambat bagi gue untuk menyadari karena terlalu lama gue terjerembab dalam kesalahan. Lamban dalam berproses. Inilah yang membuat gue malu dengan usia gue sendiri.
Dan dari semua yang terjadi dalam hidup gue itu pun akhirnya gue paham, bahwa apa yang gue lakuin itu semua adalah proses mengenal jati diri. Kita harus mengenal dulu siapa diri kita, apa kemampuan kita, apa kelemahan kita, dan apa yang ingin kita capai dengan segala kapasitas yang melekat dalam diri kita. Untuk dapat mengetahui semua itu, kita bisa mencoba segala hal. Jangan pernah membatasi diri dengan apapun, termasuk yang disebut bakat. Karena kesuksesan itu nggak melulu ditunjang oleh bakat. Menurut gue, nggak ada orang yang lahir dengan bakat sebagai petinju, nggak ada yang lahir sebagai seorang pembalap, tentu semua harus melalui proses latihan yang keras. Kita bisa mulai semuanya dari kesalahan-kesalahan, tanpa kesalahan kita nggak tahu kebenaran. Jangan takut salah. Jangat takut gagal. Karena semua itulah yang akan mengantarkan kita lebih banyak tau dan mampu mengantarkan kita pada level yang lebih tinggi. Semua itu yang diajarkan oleh nenek moyang kita, Adam dan Hawa. Tanpa kesalahan yang mereka buat, tentu nggak ada kita seperti saat ini meskipun sesuatu telah dijanjikan bahwa nur Muhammad telah ada sebelum semuanya tercipta untuk menempati bumi.
01 Januari 2015
Di hari itulah gue mulai merinci semua mimpi gue. Memanage segalanya. Ada sembilan yang kemudian akan gue sebutkan satu-persatu beserta rekaman perjalanan gue dalam meraihnya.
Gue menjadikan kesembilan mimpi itu menjadi sebuah gambar. Bukan dijadikan satu. Bukan!. Tetapi sembilan gambar yang terpisah. Gambar-gambar itu gue laminating, kemudian gue gantungkan di bawah lemari buku yang menempel di tembok ruang kamar, di atas meja belajar gue. Gue menyebutnya “mimpi yang menggantung di bawah lemari”. Terserah lo mau menafsirkan bagaimana.
Baiklah, gue nggak mau mengoceh lama-lama di bagian ini. Sekarang gue akan antar lo melihat-lihat perjalanan gue menggapai mimpi. Rileks-lah sejenak, pastikan posisi lo senyaman mungkin. Kalau perlu sediakan kopi sebagai teman, itu akan menambah kenikmatan yang luar biasa. Gue akan mulai dengan kata, Itulah proses hidup!



MISI PERTAMA
SENJA MENUAI PAGI
Pada awalnya gue bukanlah orang yang suka dengan membaca. Guelebih sering menghindar ketika orangtua gue memberi perintah untuk belajar, menyiapkan hari esok untuk sekolah. Ketika gue benar-benar membaca buku pelajaran itu karena nggak mau melihat mereka ngamuk, itu pun gue hanya membaca beberapa paragraf aja, atau pura-pura membaca, sampai akhirnya gue tertidur di hadapan buku yang masih terbuka.Gue emang pemalas, rada bego, pelupa, dan juga... pendek.
Suatu waktugue menerawang kehidupan gue dari seminggu yang lalu, satu bulan, satu tahun, dan sampai gue masih kecil yang dapat guejangkau di masa lalu. Gue menyebutnya penyelaman jati diri. Semua terjadi karena guenggak tahu hobi gue sendiri, bahkan sampai usiague menginjak 20 tahun. Guenggaksuka dengan futsal, game, membaca, atau apapun yang kebanyakan orang menyukainya dan menjadikannya sebagai hobi.Guesempat berpikir bahwa gue termasuk orang yang aneh.
     Ketika ditanya oleh orang lain atau saat interview kerja,Apa hobimu?”
     Mampus!Guenggak tahu jawabannya. Karena gueharus menjawab pertanyaan itu demi mendapat pekerjaan, jadilah gue berbohong, gue menjawab sekenanya aja yang terlintas di kepala gue saat itu.
     “Membaca, Pak.” Jawab gue penuh gairah biar meyakinkan.
     Hal yang membuat gue lebih kayak orang idiot saat ditanya balik, “Buku apa yang sering kamu baca?”.
     Otak gue berpikir keras mencari jawaban itu. Akhirnya setelah mengacak-acak semua ruang otak ketemu juga jawabanya. Gue jawab, “Buku apa saja, Pak.”
     “Contohnya?” Kejar dia.
     “Contohnya seperti novel.”
     “Novel apa saja yang pernah kamu baca?”
     .Mampus! Gue bingung. Gue baru sekali baca novel. Akhirnya dengan suara tetap meyakinkan, gue sebutkan beberapa judul novel yang gue tau. Hati gue menjerit: udah dong jangan tanya gue lagi tentang membaca! Gue bisa kejang-kejang di sini. Akhirnya pertanyaan tentang membaca cukup sampai di situ. Sepertinya kami punya chemistry. Gue pun diterima kerja. Haha. Tunggu, tunggu.. tapi kok muka lo kayaknya gak percaya banget sama gue?
     Oke, kita lanjut tentang hobi. Itu emang kedengarannya sepele. Sangat sepele. Tapi gue benar-benar nggaktau apa hobi gue sebelum menyadariberdagang jawabannya. Itu pun hasil yang lain dari penyelaman jati diri yang gue lakukan. Itu karena gue gak suka kerja (secara umum).
     Hal Pertama yang membuat gue percaya bahwa gue punya kemampuan di bidang menulis bermulasaat STM.Gue senang dengan menulis puisi,tapi pastinya bukan saja tentang cinta. Banyak puisigue tulis untuk seorang pacar.Gue senang menjalaninya, di situlah gue mulai berkenalan dengan yang bernama KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kemana-mana membawa kamus layaknya penyair kondang, Kahlil Gibran, atau yang dalam bahasa arabnya, Kholil Jibron. Bahkangue PD membacakan puisi gue di depan guru walaupun itu tentang cinta yang gue tujukan untuk pacar. Gue senang melakukannya. Mungkin saat itu guru perempuan gue membatin: Dasar ABG, puisi cinta monyet kamu bikin merinding kayak sedang ketemu hantu, lebih menyeramkan dari itu. Buruk sekali!Ibu rasanya ingin kabur sekarang daripada ketularan begonya kamu. Dia pun beneran pergi.
Kedua,saat SMP. Bukan puisi yang gue senang, tapi menulis cerita pendek. Kebanyakan tentang horor meskipun gue nggak pernah melihat hantu. Hanya mengandalkan imajinasi. Melihat hanya sebatas di dalam mimpi. Begini ceritanya: Gue melihat setan, dan gue dikejar-kejar. Begitu takutnya sampai membuat gue nggak bisa berlari, bahkan nggak bisa banyak bergerak, dan gue.. ngompol.
Mimpi kayak gitu terjadi berkali-kali. Gue yakin lo pun pasti pernah mengalaminya, kan? Coba aja kalau nggak percaya diingat-ingat lagi. Setiap anak kecil pasti pernah bermimpi dikejar-kejar setan atau monster. Kalau mengambil pelajaran darinya seperti itulah kita, sering takut untuk melakukan atau menghadapi sesuatu sehingga hanya diam di tempat. Nggak ada kemajuan. Pada akhirnya cuma menjadi pecundang. Kalau di dalam mimpi, kita akan dimakan oleh setan. Untuk itulah kita perlu keberanian. Berani! Berani! Berani! Sehingga kita bisa keluar dari kesulitan atau dapat mencapai apa yang kita inginkan. Apalagi kalau lo laki-laki, buat apa jadi laki-laki kalau penakut. Lo harus malu dengan kelamin lo sendiri. Coba pikirin, lo punya atau akan mempunyai istri dan anak, siapa yang akan memberi kehidupan yang layak kalau lo penakut?. Tunggu dulu, jangan bilang kalau lo mau bilang akan membiarkan orang lain yang melakukannya? OMG. Lo sama penakutnya sama gue!
Kembali pada cerpen horor. Emang jumlahnya nggak terlalu banyak yang gue tulis,tapi itu cukup mewakili bahwa gue senang melakukannya. Karena gue melakukannya dengan hati, tanpa paksaan dan perintah.
     Ketiga. Saat masih kecil, entah udah sekolah atau belum, gue nggak mampu mengingatnya. Di atas kasur yang diberikan kelambu sebagai pelindung dari gangguan nyamuk-nyamuk nakal yang suka mencumbu, guemenyebut mereka nyamuk ganjen, lo setuju kan? Sudahlah bilang aja iya biar kita nggak berantem di sini.Katakanlah: Baiklah kalau begitu.
     Jika hendak tidur, Ibu gue selalu memasangkan kelambu agar gue nggak dicumbu para nyamuk ganjen, meskipun gue nggak menyukainya. Alasannya karena kalau pakai kelambu nggak bebas, kayak disekap dalam ruang kecil, pandangan jadi terbatas. Ketika gue berada di dalam kelambu berwarna biru itu gue selalu melihat tebing dan jurang-jurang. Gue seolah berada di tempat itu, dan itu benar-benar gue rasakan. Setiap malam gue merasa berada di tempat lain sampai Ibu gue mengganti kelambu tua itu.
Dari semua yang dapat gue selami tentang masa lalu, gue merasa mungkin itulah kelebihan gue. Gue bisa berimajinasi, menulis cerita dan bermain-main dengan kata walaupun nggaksepandai Sapardi Djoko Damono atau Kahlil Gibran. Jika digabungkan sangat cocok jika gue menulis sebuah novel. Maka dari semua itulah gue mulai menulis novel.
***
Novel yang pertama gue baca itu telah membuat gue senang dengan membaca, walau pun cuma sekedar membaca novel. Judulnya dua hati, penerbitnya Bukune, tapi gue nggak inget pengarangnya. Novel itu boleh pinjam ke temannya teman gue. Dari situlah ketika gue punya duit, gue sisihkan untuk membeli novel sendiri. Gua pikir-pikir, itu kali pertama gue beli buku. Segitu ancurnya gue! Udah bego, malas membaca.Jujur, awalnya gue beli novel bajakan di pasar senen. Tapi setelah itu gue sadar, kalau gue harus menghargai karya mereka dengan membeli buku yang asli. Buku bajakan yang gue beli itu 5cm. Kasihan penulisnya karena gue membeli bukunya yang bajakan, gue minta maaf ya, Doni Dirgantoro.
Tanpa mengenal aturan menulis, tanpa banyak membaca buku karena memang gue nggak hobi, gue mulai menulis di papan keyboard. Awalnya ingin menjadikan kisah cinta gue dengan kekasih menjadi novel. Tapi akhirnya semua harus gue akhiri dan gue revisi seiring kandasnya kisah cinta. Gue alihkan cerita itu, masih dengan kisah gue, namun dengan kekasih khayalan gue sendiri.
Sewaktu di tempat kerja, gue cerita ke teman setempat kerja kalau gue lagi nulis novel. Gue bilang kalau sepulang kerja gue nulis sampai larut, dalam sehari gue bisa dapat empat lembar, jam tidur gue semakin berkurang.
“Wih, keren banget, lo. Gila!. Gue aja nulis selembar lama banget.” Kata dia yang kebetulan lagi nulis juga, tapi bukan novel.
“Iya.” Jawab gue bangga.
Gue berkata dalam hati, ternyata gue nulis cepet juga ya, semalam bisa dapat empat lembar, sedangkan dia satu lembar aja nggak.
Setelah tulisan gue selesai, dan saat ingin mengirim ke penerbit ternyata ada aturannya. Dan.. pantesan gue bisa nulis empat lembar dan dia nggak. Gue membatin: “Font-nya kegedean Sudarman bego!. Kalau nggak pakai aturan kayak lo, dia juga bisa nulis dengan hanya satu huruf bisa memenuhi satu lembar kertas ukuran A4.” Itulah saking begonya gue.
Maka gue perbaiki lagi dan gue kirim ke penerbit. Lama menunggu, sekitar enam bulan baru ada jawaban bahwa novel gue ditolak. Bahkan ada yang lebih lama, gue dapat kabar setelah satu tahun novel itu dikirim. Meski ditolak, gue tetap senang karena se-nggaknya novel gue ada kabar dan jelas statusnya. Novel itu guebuat saat masih bekerja dan gue akhiri di semester dua. Gue merenung. Gue lihat dan baca-baca lagi. Ceritanya menjadi tidak menarik.
Dari itu guemulai banyak belajar tentang tata cara menulis. Bukan Cuma belajar dari novel-novel orang lain, tapi juga dari buku tentang tata cara menulis fiksi.Gue pun jadi banyak membaca buku-buku umum untuk menambah pengetahuan untuk menulis novel, hingga membuat gue sadar suatu hal: Gue atau kita semua mungkin nggak hobi dengan membaca, tapi membaca adalah sebuah kebutuhan. Nggak jauh berbeda dengan makan. Mungkin kita nggak hobi makan, tapi makan adalah sebuah kebutuhan agar kita bisa tetap hidup. Maka gue kembali merevisi novel itu lagi.
Selesai merevisi gue kirim kembali. Empat bulan kemudian gue mendapat kabar dari penerbit bahwa novel saya ditolak. Oh, nggak.. nggak.. bukan ditolak, akan tetapi tidak diterima karena penerbit tidak menerima genre penulisan gue. Novel gue berbau inspiratif. Ada juga penerbit yang nggak menerima kiriman lewat softcopy, gue disarankan mengirimnya lewat hardcopy. Kiriman lewat softcopy itu gue lakukan karena gue nggak punya cukup uang buat nge-print. Kebayang gak, lo, seberapa kerenya gue? Maka dari itu gak ada cewek yang mau sama gue. Sekarang gue cuma joke, jomblo kere. Meski demikian, gue selalu pegang teguh pesan Bapak gue: semiskin apapun kita, sesusah apapun kita, jangan sampai mengambil hak orang lain sedikit pun!
Gue merevisi lagi novel yang hampir ditolak itu. Dan tanggal 6, bulan 8, 2015 novel itu gue kirim kembali ke salah satu penerbit yang sempat menolak naskah gue sebelumnya. Cuma ke penerbit itu.
Untuk cerita lebih lanjutnya tentang mimpi gue ini, gue harus nunggu kabar dari penerbit dulu, baru bisa melanjutkan tulisan ini. Salama menunggu, setiap mau tidur, gue jadi sering meluk naskah hard copy yang master sampai kebawa tidur. Rasanya itu adalah harta berharga gue, selain laptop yang selalu menjadi teman setia gue, kadang jadi pacar kalau malam minggu.Selama hari-hari penantian itu pun gue coba menulis novel lain yang berbau fantasi dengan judul Binor Row. Dari novel yang sedang gue garap inilah gue ingin menciptakan sebuah tokoh, seperti: Donal Duck, Frozen, Harry Potter, Spongebob Squarepants dll.
Gue ingin mengatakan buat kita semua agar nggak mudah menyerah dalam mencapai apa yang kita inginkan apapun jalan yang kita tempuh. Ingatlah kata ini ketika lo mengalami kesulitan: itulah proses hidup!
Oya, hampir lupa. Gue juga sekarang tau tentang hobi gue yang lain. Ya, sekarang hobi gue bertambah, yaitu menulis. Hahaha.. gak nyangka gue. Sekarang gue nggak harus berbohong mengenai hobi. Kalau membaca gue nggak katagorikan sebagai hobi, sebab membaca adalah sebuah kebutuhan pokok setiap manusia kayak makan. Masa makan dibilang hobi, itu mah rakus.
To be continue
  
Saat gue ke toko foto copy buat nge-print cerpen, seorang penjaganya, yang udah jadi langganan gue—dia emang orangnya asik, bertanya mengenai naskah Senja Menuai Pagi yang pernah gue print di toko tempat dia jaga.
“Gimana novelnya udah terbit belum?”
“Belum. Kurang lebih tiga bulan baru dikonfirmasi. Bisa juga lebih. Kayak pengiriman sebelumnya aja ada yang baru dikonfirmasi setelah enam bulan, bahkan ada yang satu tahun.”
“Lama juga, ya.”
“Iya. Biasa penulis baru. Tapi ngomong-ngomong udah dibaca belum novel gue?”
“Udah. Udah. Sampe selesai.”
Puji Tuhan, respon dari dia baik. Dia suka dengan naskah yang gue tulis. Dia adalah orang pertama yang baca novel gue. Tinggal tunggu hasilnya. Meski dia bilang bagus, itu nggak bisa mastiin kalau penerbit bilang seperti yang dia katakana juga. Kalau novel yang gue kirim sebelumnya (yang ditolak) gue bagi-bagiin sama teman untuk dibaca agar gue tau respon pembaca bagaimana. Tapi untuk yang sekarang nggak gue bagiin, cuma yang mau aja baru gue kasih, tapi nggak ada yang mau.
Tadi pagi, hari di manague nulis sambungan tulisan ini, 22 September 2015, selesai subuh-an gue tidur lagi. Ngantuk banget. Dilanjutan tidur itu gue mimpi kalau naskah gue ditolak. Mimpinya terasa jelas banget. Begini ceritanya:
Gue menghitung-hitung hari, dan perhitungan gue menunjukan kalau udah jatuh tiga bulan sejak novel gue dikirim, itu artinya kalau nggak ada kabar dari penerbit gue harus menghubungi pihak penerbit untuk menanyakan nasib naskah gue. Dalam mimpi itu gue langsung datang ke kantornya (lebih mirip rumah yang di depannya ada gerbang toko), dan bertemu dengan seorang perempuan berjilbab.
“Mbak, bagaimana ya naskah novel saya, judulnya Senja Menuai Pagi? Udah tiga bulan nggak ada kabar.
Mbak itu pun masuk ke dalam ruangan lain. Gue nunggu agak lama. Dalam mimpi itu gue pikir naskah gue baru di cek, jadi gue pergi jalan-jalan dulu ke sekitar kantor. Gak lama, nama gue dipanggil beserta nama pengirim lain—rambutnya cepak, jauh lebih tinggi dari gue, pakai jas hitam. Dia lari kencang memenuhi suara itu, sementara gue jalan seperti biasa—mencoba untuk tenang.
Si Mbak keluar menjelaskan tentang naskah lelaki tinggi yang lebih dulu sampai, tapi ternyata naskahnya hilang. Nah tinggal gue, saat gue mau tanya dia malah pergi beli sesuatu (kayaknya sih es). Gue terus ikutin sembari bertanya.
“Mbak, gimana naskah saya?”
“Naskah kamu dingin.”
“Dingin?” tanya gue nggak ngerti. Masa naskah dingin, emangnya es batu.
“Boring!” Jelasnya.
Kemudian dia memberikan sebuah novel yang setiap lembarnya penuh dengan gambar seperti stiker yang ada di aplikasi Line. “Nih baca! Novel tuh kayak gini.”
Gue diam—mikir. Gue tau yang membuat novel itu nggak terasa ngebosenin bagi si Mbak karena banyak gambarnya, jadi kayak komik. Setelah itu gue bangun dengan berbagai macam pertanyaan.
Tentang mimpi itu nggak gue ceritain ke siapapun. Gue lebih milih bungkam dan melihat hasilnya nanti. Tapi keduanya (antara gue dan lelaki jangkung) bisa terjadi kepada gue mengingat saat pengiriman naskah itu gue kirim langsung ditujukan untuk pemrednya dengan catatan “PENTING UNTUK DISAMPAIKAN”, agar naskah gue cepat di eksekusi. Mungkin benar naskah itu nyasar entah ke mana. Dan yang gue alami sendiri (dalam mimpi) juga sangat mungkin terjadi (naskah gue di tolak).
Dari mimpi itu, gue mempersiapkan mental dari sekarang kalau-kalau semua itu (yang gue dan lelaki jangkung alami) menjadi kenyataan. Segalanya mungkin terjadi. Tapi gue terus berdoa yang terbaik. Sebab, udah sejak jauh-jauh hari gue bernazar kepada Tuhan atas novel itu: Jika Senja Menuai Pagiterbit, apapun yang menyangkut dengannya, baik royalti atau yang lain nggak akan gue pakai melainkan untuk dikumpulkan agar orangtua gue bisa pergi ke Mekah. Gue nggak peduli kalau di sana orangtua gue malah foto-foto atau cuma sekadar berlibur, yang terpenting bagi gue menjadikan diri gue menjadi anak yang dapat diandalkan oleh orangtua.
Sabtu, 26 September gue mimpi tentang naskah Senja Menuai Pagi lagi. Dalam mimpi itu ada seorang lelaki sedang mempertimbangkan apakah naskah gue diterbitkan atau nggak. Dalam mimpi itu gue nggak ada keterangan bahwa naskah gue ditolak atau diterima. Masih dalam pertimbangan.
Mungkin, mimpi-mimpi gue itu terjadi karena begitu sering gue memikirkan naskah itu. Ya, gue selalu mengingatnya sebagai motivasi gue untuk terus hidup dengan menghasilkan sebuah karya agar orang lain, atau setidaknya cucu-cicit gue merasakan bahwa gue pernah hidup di dunia. Gue bisa memberikan pelajaran bagi mereka meskipun gue telah tiada.

Tidak ada komentar: