Gue
emang suka banget dengan Jepang. Bagi gue, Jepang adalah termasuk jajaran
Negara paling syariah di dunia. Kalau masalah seks, emang terlihat lebih di
umbar (bebas). Tapi di Negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim pun
nggak sedikit ditemukan bahwa seks liar udah menjadi nutrisi kehidupan. Hanya
aja, Negara-negara itu merasa kalau seks liar adalah sebuah aib yang buruk
sehingga udah sepatutnya nggak diumbar karena bagian dari moralitas. Seks liar
di Negara-negara itu pun karena kuatnya pengaruh atau daya tarik dunia barat
yang didukung tenaga super sonic bernama “Nafsu” untuk menghancurkan
kaum itu dan mengendalikan dunia.
Tapi yang mau gue bahas bukan tentang
seks, tapi karakter rakyat Indonesia yang masih hobi membangkang. Seorang
atasan gue, setelah bertugas ke Jepang untuk study pengunaan mesin X-Ray
yang digunakan untuk mengetahui bagian dalam hasil produksi apakah mengalami
kecacatan atau normal tanpa harus membongkarnya bercerita di saat briefing
pagi.
“Ada hal yang membuat saya sangat kagum
selama di sana. Saya melihat seseorang ingin mengambil suatu barang di ruang
sejenis laboratorium, jika kita melangkahkan kaki selangkah saja, maka dengan
mudah kita dapat barangnya. Tapi ternyata dia tidak melakukan hal itu,
melainkan mengganti pakaian khusus terlebih dahulu. Setelah pakaian khusus
dipakai, barulah dia masuk, beberapa detik kemudian keluar dengan membawa
barang itu, dan melepas kembali baju khususnya.”
Gue serius mendengarkan. Gue gak peduli
apakah cerita itu bohong atau nggak, yang gue pentingkan adalah hal itu baik
untuk gue. Tapi gue tahu, itu adalah cerita yang jujur. Yang diceritakan atasan
gue itu kini dapat gue mengerti lebih dalam. Bahwasanya Negara maju, adalah
cerminan dari kedewasaan rakyatnya. Ini dapat dilihat dari psikologi niat. Ketika
seseorang keluar dari busway, dan turun dari halte dengan cara yang illegal
(lompat dari pintu penungguan busway), maka dapat dikatakan bahwa orang itu
nggak dewasa. Ketika ada rambu lampu merah, setelah dilihat nggak ada polisi
kemudian dilanggar, maka dapat dikatakan orang itu nggak dewasa. Ketika
disediakan zebra cross kemudian tetap menyebrang jalan semaunya, maka
dapat dikatakan orang itu nggak dewasa. Semua melakukan karena ada niat
kepentingan pribadi. Hal tersebut terurai secara ilmiah melalui niat semenjak
masih bayi hingga udah gede.
Orang dewasa nggak mementingkan dirinya
sendiri. Dia selalu memikirkan orang lain. Ketika sandalnya hilang di masjid,
maka dia nggak mencari penggantinya. Dia akan pulang dengan kaki telanjang
tanpa berniat untuk mencari penggantinya karena sebuah kesadaran bahwa kalau
dia memakai sandal yang lain, maka orang lain yang pulang dengan telanjang
kaki.
Kepatuhan-kepatuhan kecil seperti inilah
yang akan membawa kita pada ketertiban. Tapi sayangnya, rakyat Indonesia belum
bisa itu. Mayoritas mementingkan diri sendiri. Gak mau di atur, dan ngatur pun
gak becus. Lha, kalau rata-rata rakyatnya begini, ya wajar aja kalau gak
maju-maju.
Gue teringat saat masih jaman gue demen pacaran.
Sebelum rambu hijau menyala, suara klakson dari arah belang (gue dibarisan
paling depan) menghukumi beberapa pengendara barisan depan yang mencoba
bertahan sebelum lampu hijau menyala.
“Sud, udah jalan.” Kata pacar gue saat itu.
“Lampunya belum hijau.”
“Tapi orang-orang udah mlaksonin.”
“Iya. Tapi rambunya belum hijau.”
“Isss…” Dia pasrah dengan keras
kepalanya gue.
Kayak gitulah kebanyakan dari rakyat
Indonesia. Melanggar atau menaati peraturan karena ada sebab. Bukan semata
kesadaran bahwa semuanya diberlakukan untuk kebaikan bersama yang pada dasarnya
pun demi kebaikan individu.
Bagi lo yang membaca tulisan ini, gue
mengajak agar kita semua patuh pada hal-hal kecil. Jangan merasa terpojokan
jika ada olok-olok dari teman-teman lo. Aggap aja ini adalah proses kemajuan
diri karena untuk segala kebaikan memiliki peraturan. Shalat, sembahyang,
wudlu, makan, minum, tidur, ibadah, dan segalanya.
Jika nggak dimulai dari diri sendiri,
maka selamanya Negara kita akan kayak gini. Dipenuhi anak-anak gak tau aturan yang
selalu menginginkan kebebasan menjadi hak hidup sehingga setiap hari penuh
dengan kesemrawutan.


