Minggu, 11 Oktober 2015

Rakyat Indonesia Masih Hobi Membangkang



Gue emang suka banget dengan Jepang. Bagi gue, Jepang adalah termasuk jajaran Negara paling syariah di dunia. Kalau masalah seks, emang terlihat lebih di umbar (bebas). Tapi di Negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim pun nggak sedikit ditemukan bahwa seks liar udah menjadi nutrisi kehidupan. Hanya aja, Negara-negara itu merasa kalau seks liar adalah sebuah aib yang buruk sehingga udah sepatutnya nggak diumbar karena bagian dari moralitas. Seks liar di Negara-negara itu pun karena kuatnya pengaruh atau daya tarik dunia barat yang didukung tenaga super sonic bernama “Nafsu” untuk menghancurkan kaum itu dan mengendalikan dunia.
Tapi yang mau gue bahas bukan tentang seks, tapi karakter rakyat Indonesia yang masih hobi membangkang. Seorang atasan gue, setelah bertugas ke Jepang untuk study pengunaan mesin X-Ray yang digunakan untuk mengetahui bagian dalam hasil produksi apakah mengalami kecacatan atau normal tanpa harus membongkarnya bercerita di saat briefing pagi.
“Ada hal yang membuat saya sangat kagum selama di sana. Saya melihat seseorang ingin mengambil suatu barang di ruang sejenis laboratorium, jika kita melangkahkan kaki selangkah saja, maka dengan mudah kita dapat barangnya. Tapi ternyata dia tidak melakukan hal itu, melainkan mengganti pakaian khusus terlebih dahulu. Setelah pakaian khusus dipakai, barulah dia masuk, beberapa detik kemudian keluar dengan membawa barang itu, dan melepas kembali baju khususnya.”
Gue serius mendengarkan. Gue gak peduli apakah cerita itu bohong atau nggak, yang gue pentingkan adalah hal itu baik untuk gue. Tapi gue tahu, itu adalah cerita yang jujur. Yang diceritakan atasan gue itu kini dapat gue mengerti lebih dalam. Bahwasanya Negara maju, adalah cerminan dari kedewasaan rakyatnya. Ini dapat dilihat dari psikologi niat. Ketika seseorang keluar dari busway, dan turun dari halte dengan cara yang illegal (lompat dari pintu penungguan busway), maka dapat dikatakan bahwa orang itu nggak dewasa. Ketika ada rambu lampu merah, setelah dilihat nggak ada polisi kemudian dilanggar, maka dapat dikatakan orang itu nggak dewasa. Ketika disediakan zebra cross kemudian tetap menyebrang jalan semaunya, maka dapat dikatakan orang itu nggak dewasa. Semua melakukan karena ada niat kepentingan pribadi. Hal tersebut terurai secara ilmiah melalui niat semenjak masih bayi hingga udah gede.
Orang dewasa nggak mementingkan dirinya sendiri. Dia selalu memikirkan orang lain. Ketika sandalnya hilang di masjid, maka dia nggak mencari penggantinya. Dia akan pulang dengan kaki telanjang tanpa berniat untuk mencari penggantinya karena sebuah kesadaran bahwa kalau dia memakai sandal yang lain, maka orang lain yang pulang dengan telanjang kaki.
Kepatuhan-kepatuhan kecil seperti inilah yang akan membawa kita pada ketertiban. Tapi sayangnya, rakyat Indonesia belum bisa itu. Mayoritas mementingkan diri sendiri. Gak mau di atur, dan ngatur pun gak becus. Lha, kalau rata-rata rakyatnya begini, ya wajar aja kalau gak maju-maju.
Gue teringat saat masih jaman gue demen pacaran. Sebelum rambu hijau menyala, suara klakson dari arah belang (gue dibarisan paling depan) menghukumi beberapa pengendara barisan depan yang mencoba bertahan sebelum lampu hijau menyala.
 “Sud, udah jalan.” Kata pacar gue saat itu.
“Lampunya belum hijau.”
“Tapi orang-orang udah mlaksonin.”
“Iya. Tapi rambunya belum hijau.”
“Isss…” Dia pasrah dengan keras kepalanya gue.
Kayak gitulah kebanyakan dari rakyat Indonesia. Melanggar atau menaati peraturan karena ada sebab. Bukan semata kesadaran bahwa semuanya diberlakukan untuk kebaikan bersama yang pada dasarnya pun demi kebaikan individu.
Bagi lo yang membaca tulisan ini, gue mengajak agar kita semua patuh pada hal-hal kecil. Jangan merasa terpojokan jika ada olok-olok dari teman-teman lo. Aggap aja ini adalah proses kemajuan diri karena untuk segala kebaikan memiliki peraturan. Shalat, sembahyang, wudlu, makan, minum, tidur, ibadah, dan segalanya.
Jika nggak dimulai dari diri sendiri, maka selamanya Negara kita akan kayak gini. Dipenuhi anak-anak gak tau aturan yang selalu menginginkan kebebasan menjadi hak hidup sehingga setiap hari penuh dengan kesemrawutan.

Takdir



Beberapa tahun lalu, dalam pencarian arti takdir yang dapat gue terima baik dari hati atau akal. Saat si Emon lagi nyantai gue tanya.
“Mon, lo tau gak sih takdir itu apa?”
“Takdir itu kayak diri lo sekarang. Apa adanya diri lo, itu takdir lo.”
Gue diam sebentar—mikir. “Udah gitu aja, Mon?”
Emon mengangguk. Lalu gue tanya lagi. “Kalau lo nyuri mangga, terus digebukin orang sampai mati, itu takdir bukan, Mon?”
Gantian, Emon yang diam. “Bukan. Eh, apa ya?” dia garuk-garuk kepala.
Kadang, sampai sekarang pun gue masih suka bertanya pada orang-orang atau teman-teman gue mengenai takdir. tapi banyak dari mereka nggak paham. Gue cuma ingin tau aja, karena sayang kalau sampai mereka nggak tau; biasanya cuma beranggapan takdir Tuhan-lah yang membuat mereka miskin, susah, dan sebagainya. Maka dari itu gue nulis ini biar nggak pada nyalahin Tuhan. Gara-gara Tuhan. Ih, extream.
Beberapa tahun lalu gue selalu memburu jawaban tentang sebuah kata takdir kepada ulama, pengusaha, teman, dan orang biasa sekalipun (mungkin aja yang terlihat sebagai orang awan malah lebih berilmu). Gue cuma ingin tau pengertian takdir menurut masing-masing dari mereka seperti apa. Dan karena mereka memiliki backround yang berbeda, maka timbulah jawaban yang berbeda-beda. Seorang ulama atau guru agama menjawab dengan pengetahuan agamanya. Mereka menjelaskan tentang takdir berdasarkan pada enam akidah, seperti: Ahlusunnah wal jamaah, Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, Jabariah, Qodariah.
Tapi gue nggak mau panjang lebar menjabarkan penjelasan yang lain, cuma mau menerangkan contoh Ahlusunnah aja yang menurut akal dan hati gue cocok, tapi kalau lo penasaran dengan penjelasan takdir yang nggak gue tulis di sini, silakan lo cari sendiri di tempat yang lain, atau tanya sama guru lo. Begini, kalau lo melempar piring ke lantai, lalu piring itu pecah, maka bersamaan dengan pecahnya piring itu adalah takdir Tuhan. Lo nggak bisa mengatakan dengan pasti kalau lo lempar piring itu bakal pecah meski secara logika demikian. Pecahnya piring itu karena takdir, bukan sebuah hal mutlak karena lemparan lo. Itu Ahlusunnah. Seperti kisah Abraham yang tidak dapat terbakar api meski sifat api itu membakar, itu karena takdir Tuhan atasnya.
Dalam pemahaman ini pun takdir terbagi menjadi dua, yaitu: takdir tetap atau pasti dan takdir yang dapat di rubah. Sebagai contoh takdir pasti yaitu kelahiran lo sebagai laki-laki atau perempuan, terlahir di keluarga miskin atau kaya, waktu yang nggak dapat mundur, matahari yang terbit dari barat ke timur. Sementara contoh takdir yang dapat dirubah ialah: lo terlahir dalam keadaan miskin, jika lo bekerja keras dan rajin belajar, maka lo akan kaya; lo bego, kalau lo malas belajar maka lo tetap bego. Atau bahasa kerennya GUOBLOK! Gue ulang G-U-O-B-L-O-K. Gimana keren, kan?
Kalau rata-rata kata pengusaha begini: Takdir itu pilihan, dan yang lo pilih itu takdir. Kalau lo mau buka usaha clothing dengan brand lo sendiri, lalu dalam perjalanan bisnis lo mengalami kegagalan yang disebabkan dengan berbagai macam hal, kemudian bisnis itu lo tinggalin dan mencoba untuk membuka bisnis baru yang lo pikir lebih menguntungkan dan mudah dalam proses marketing-nya, setelah mencoba bisnis baru ternyata bisnis itu tersendat juga, terus lo ganti usaha baru lagi, dan lagi-lagi mandet. Lo terus mencoba membuka usaha-usaha baru hingga pada akhirnya usaha lo nggak ada yang berjalan dengan baik. Sebabnya karena pantat lo lancip. Dan itu takdir lo.
Andai lo tetap bertahan di bisnis clothing meski bagaimanapun persoalan yang lo hadapi, mungkin ke depannya lo akan mendapat keberhasilan. Semuanya diperlukan konsistensi. Dan itu juga takdir lo. Logikanya gini: ketika lo memulai usaha dari nol, dan baru separuh jalan, anggap aja udah di angka 2 (angka 10 adalah kesuksesan), lo mendapat problem marketing, kemudian lu tutup usaha lo dan buka usaha baru, maka otomatis lo akan mulai dari nol lagi, dan butuh waktu lebih lama.
Kalau menurut orang biasa, rata-rata mereka beranggapan bahwa takdir mereka seperti yang mereka jalani sekarang. Tuhan telah menakdirkannya kayak gitu aja. Ada benarnya, tapi kalau ditanya lebih dalam, terjadilah seperti dialog gue dengan Emon.

Buat lebih mudah, gue bikin gambar biar lo bisa lebih mengerti. Gambar ini gue bikin sebagai kesimpulan dari yang gue pahami tentang takdir. Baik (hijau) dan Buruk (merah) adalah suatu takdir yang telah ditetapkan sebelum kita lahir ke dunia. Start adalah hari kelahiran di dunia. Garis putih adalah usia yang nggak pernah kita tau sampai di angka berapa kita berada di dunia ini. Lo boleh mengira-ngira usia lo untuk mengisi kolom usia tersebut. Garis kuning, merah, biru, dan merah muda, adalah perjalanan hidup manusia. Gue beri contoh garis yang warna kuning aja: selama Ipin lahir, dia selalu berbuat baik, hingga di usia 50 tahun, tiba-tiba segalanya berubah. Dia melakukan hal-hal buruk, dan mati di usia 51 sebelum bertaubat. Karena kita nggak pernah tahu sampai kapan kita hidup, maka disarankan untuk selalu mengingat mati agar senantiasa berbuat baik.
Contoh lain: Ketika Ipin kesusahan karena berbagai masalah, dia melihat peluang motor untuk dicuri karena kuncinya tertinggal di motor. Hatinya tau bahwa itu salah, itu nggak baik, ada resiko besar jika ada yang tahu. Tapi nafsunya mendorong dia untuk mencuri motor tersebut, dan akhirnya aksinya ketahuan sehingga ia dipukuli orang sampai hampir mati. Itulah takdir Ipin yang ia terima jika mencuri. Andai nggak mencuri, akan lain takdirnya. Tapi itu sudah menjadi ketetapan. Ada sebab akibat.
Ok, semoga bisa dengan mudah dipahami. Gue cuma ingin membuat tulisan yang sederhana agar lo yang membaca dapat lebih mudah paham. Semoga bermanfaat.




Kali Pertama Gue Nangis di Depan Orangtua



Suatu hari, di usia gue masih menginjak 22 tahun, jauh dari hari lebaran gue sengaja pulang ke rumah. Alasan satu-satunya bukan karena ingin bertemu orangtua, tetapi ingin mengambil uang yang gue simpan di rumah—kebetulan masih punya simpanan saat itu. Ibu gue selalu bertanya setiap kali nelepon atau saat gue di rumah.
“Sud, punya uang nggak?”
Gue selalu jawab dengan kata “banyak”, meski terkadang gue gak punya uang samasekali, itu cara agar Ibu gue gak maksa gue untuk nerima uang yang diberikannya. Karena gue tau, keperluan adik-adik gue masih banyak. Siapa pun yang bertanya seperti itu, pasti gue jawab dengan jawaban yang sama biar gak dikasihani orang. Karena gue merasa gak perlu dikasihani sehingga orang lain bergetar hatinya untuk melemparkan koin ke arah gue atau selembar uang yang dilemparkan ke wajah; gue orang muda, punya impian, hidup gue bahagia. Gue mensyukuri hidup ini. Yang gue butuhkan adalah dikasihani oleh Tuhan. Itu segalanya. Gue gak pernah berniat menjadi pengemis atau peminta meski pada keluarga sendiri: Nenek, Bibi, atau siapa pun. Mungkin bisa diartikan bentuk kasih sayang Tuhan melalui pemberian mereka selama gue belum bekerja atau saat dagang menghadapi kesulitan. Tapi rasanya kalau seperti itu gue hidup malah menjadi beban bagi mereka. Gue gak mau, seharunya gue yang memberikan sesuatu pada mereka.
Pagi-pagi, sebelum Ibu gue berangkat kerja, gue memasak air secukupnya. Setelah air mendidih, gue masukan ke dalam bak kecil, kemudian gue campur dengan air biasa. Gue meminta kedua orangtua gue duduk di tempat yang gue inginkan. Kemudian gue letakan bak di bawah kaki Bapak gue terlebih dahulu. Saat itulah rasanya pertama kali air mata gue mengalir di depan Bapak gue setelah gue dewasa. Sekiranya cukup mengusap kakinya, membersihkan jari-jarinya, gue cium kakinya sebagai bakti gue sebagai seorang anak. Pun demikian dengan Ibu gue, air mata gue nggak bisa terbendung. Gue mengingat saat-saat lebaran setiap tahun, gak pernah gue nangis di depan mereka meski keadaannya bagaimana pun. Kalau di belakang mereka, air mata gue emang suka tumpah ketika memikirkan kapan gue bisa memberikan hal terbaik yang mampu gue lakuin untuk wujud bakti gue sebagai seorang anak. Tapi nggak pernah bisa tumpah saat hari lebaran. Gue bukan orang yang suka bersandiwara; menangis sesaat seolah menyesali perbuatan yang dilakukan, kemudian gak memakan banyak hari, menggunjing, menuduh, atau sebagainya terulang kembali. Drama mengharukan itu terjadi setiap tahun di hari yang disebut fitri oleh kebanyakan orang.
Hari itu juga, pertama kalinya gue melihat mata Bapak gue berlinang air mata. Gue tau, sebisa munkin dia menahan air matanya untuk nggak tumpah. Ya, emang nggak tumpah, tapi mata yang merah dan genangan air yang memenuhi kelopak matanya terlihat jelas. Sedangkan Ibu gue, air matanya mengalir dengan mudah melewati pipi.
Hari yang begitu melegakan setelah gue berusaha keras untuk berani melakukannya. Gue mengharapkan keridhoan kepada mereka atas doanya agar gue bisa dengan cepat meraih impian. Gue yakin betul bahwa ridho orangtua adalah ridho Tuhan. Karena yang dapat mengabulkan segala harapan adalah Tuhan, maka jalannya adalah membuat orangtua ridho. Setelah hari itu, Bapak gue yang sebelumnya bersikap seperti canggung kepada gue, pun demikian dengan gue, kini bisa lebih hangat, gue dapat rasakannya.
Buat lo yang merasa punya kerenggangan pada orangtua, cobalah lakukan kayak yang udah gue lakukan. Lo pasti akan merasakan suatu perbedaan yang begitu kuat. Jika orangtua lo keras, maka dengan sekejap mereka menjadi lebih lembut pada lo. Meski lo hanya melakukannya sekali, itu sangat berkesan dan menjadi sebuah pengingat baik pada diri lo, jika ingin durhaka pada mereka, atau pun bagi mereka ketika hendak mengomeli atau menghukum lo. Itu akan menjadi pengingat yang ampuh untuk kelangsungan hidup yang lebih baik.
Emang, hal ini akan terasa sangat berat untuk dilakukan meski terlihat sederhana. Justru yang terlihat sederhana dan berat untuk dilakukan biasanya menyimpan sebuah  secrets, atau bisa juga dikatakan hikmah yang luarbiasa besar. Sekeras apa pun hati orangtua lo, atau sikap lo kepada mereka, ketika lo memberanikan diri untuk melakukan itu, maka keajaiban Tuhan akan datang bersamaan dengan usaha yang terlaksana.
Sorry, gue sebenarnya bukan ahli agama, tapi gue ingin sedikit menyinggung yang menyangkut tentang agama. Kalam Tuhan dalam lembaran kitab-Nya dikatakan pada surat Yaasin, ayat 82: Sesungguhnya, urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. Gue memegang teguh firman itu. Makanya, untuk mencapai impian, hal pertama (jika lo percaya Tuhan), membuat bagaimana caranya agar Tuhan memberikan perhatian-Nya yang lebih terhadap kita agar apa yang kita ingin capai mendapat ridho dari-Nya sehingga akan terasa bermanfaat untuk oranglain; salah satunya mencuci dan mencium kaki orangtua. Karena di bawah telapak kaki salah satu dari mereka, Ibu, tersimpan surga yang telah dijanjikan oleh-Nya.
Bay the way sebagai makhluk biasa, emang rasanya nggak pantas kita mengharapkan surga-Nya karena untuk melakukan ibadah pun jarang kita lakukan. Cuma sesekali dalam sehari, selebihnya dosa. Pun kalau dimasukan ke neraka kita nggak bakal sanggup karena begitu pedihnya gambaran yang telah dicerminkan oleh kitab-Nya. Mungin yang terbaik adalah mendapat ridho dari-Nya. Setelah itu, terserah kepada-Nya mau menempatkan kita di surga atau neraka, asal Dia ridho. Sebab, dengan ridhonya, malaikat Malik, sang penjaga neraka, dan Nabi Ibrahim pun nggak kepanasan tubuhnya diselimuti api. Itu terjadi karena ridho-Nya. Dan sebaliknya, Adam dan Hawa yang tinggal di surga, bisa hidup menderita karena melakukan hal yang nggak diridhoi-Nya.
Ehm, gue kok tiba-tiba jadi kaya ustadz ya? Apa kata ustadz yang asli kalau gue salah. Udah ah, gue rasa cukup sampai di sini gue cerita. Sampai jumpa lagi, tetap semangat jalani hidup, dan jangan pernah merasa sendirian, Your not walk alone, someone care you. Setidaknya ada Tuhan. Pesan terakhir dari gue: Berharaplah, karena Tuhan akan memberi keajaiban pada orang-orang yang berharap pada-Nya.
Salam cinta dari gue, Sudarman BK.

Rabu, 07 Oktober 2015

KACAMATA LEGENDA YANG TETAP EKSIS



Hidup itu mudah, bagi orang yang mempermudah, dan sebaliknya.
Gue punya kacamata sakti yang memiliki ilmu Rawarontek seperti dalam kisah-kisah serial Misteri Gunung Merapi yang ditokoh utamakan Mak Lampir. Ya, gue pikir kacamata gue pantas untuk disamakan oleh Mak Lampir yang memiliki ilmu tersebut.
Gue bersyukur kacamata gue sakti mandraguna, dia sangat membantu gue untuk membaca. Sebab, saat ini yang terpenting bagi gue salah satunya adalah kacamata selain buku dan laptop. Tanpanya gue nggak nyaman dalam membaca atau makan nutrisi untuk tetap hidup dalam berkarya—mencapai sebuah tujuan, karena mata gue min, sejak kelas 3 SMP. Itulah yang gue sadari.
O-ya, mungkin ada di antara lo yang gak ngerti ilmu Rawarontek. Untuk lebih jelas, nih gue kasih lihat gambarnya aja:
Bingkai kacamata gue patah. Dan selalu patah kalau terbentur sesuatu yang keras atau terjatuh. Dan ilmu Rawarontek, nggak dengan sendirinya dia dapati dengan mudah, selalu ada gue Sang majikannya yang selalu bersedia membantunya agar kembali utuh. Kayak gini:


Dengan bermodal lem Power Glue dan silet bagi gue dan dia untuk dapat menggunakan ilmu Rawarontek. Silet digunakan untuk mengerik bekas lem sebelumnya jika kembali patah. Sementara lem, ya, lo pasti udah tau sendiri: yang sangat berfungsi untuk penerapan ilmu Rawarontek supaya berhasil.
Bagi gue, kacamata ini udah begitu melegenda. Dia-lah yang setia menemani gue dalam keadaan susah dan senang sampai sekarang. Untuk saat ini, jika ada uang, gue nggak berniat untuk menggantinya dengan yang baru, karena masih banyak keperluan yang harus diutamakan. Kacamata ini masih tetap layak pakai dan selalu memberi peran penting dalam hidup gue. Entah udah berapa kali gue bekerjasama dengan dia menggunakan ilmu Rawarontek, rasanya udah sering banget.
Apa menurut lo cerita kacamata gue menyedihkan? Bagi gue nggak. Perjalanan bukan untuk dibuat-buat seolah kisah yang menyedihkan dan membuat orang terharu dengan cerita kita. Gue selalu berpikir, bahwa gue termasuk dalam jajaran orang yang masih sangat-sangat beruntung, sebab gue sangat yakin terlalu banyak orang yang lebih pahit merasakan hidup, bahkan sampai mereka mati.
Gue nggak mau bercerita kisah yang seolah-olah gue mengalami perjalanan hidup yang pahit. Hidup gue selalu manis. Itu semua gue rasakan karena gue selalu dapat mengecap makna dari yang tersimpan dalam setiap perjalanan. Itulah manisnya, sehingga kita dapat terus belajar untuk memperbaiki dan mendewasakan diri. Tuhan udah begitu baik dengan telah memberikan kita makan, minum, bernafas, dan sebagainya, sehingga kita mampu melewati semua yang sering dianggap orang perjalanan terjal. Jika kita nggak diberikan hidup seperti itu (pahit), mungkin kita nggak akan menjadi seperti sekarang: manusia yang bernilai. Jadi apa yang pahit? Semuanya manis, bukan? Cobalah lebih dipahami agar kita lebih mensyukuri hidup.
Jangan pernah membuat susah hidup lo yang mungkin emang udah susah. Jadikan lebih simpel dan sederhana sehingga mudah untuk dimengerti dan dijalani. Kita cuma perlu melakukan apa yang kita bisa lakukan untuk suatu pencapaian yang besar. Sebuah langkah kecil yang konsisten dilakukan akan jauh lebih berarti daripada langkah besar yang hanya beberapa kali dilakukan. Seperti kacamata sakti gue yang selalu menemani perjalanan majikannya dalam mencapai impian: dia melakukan sesuatu yang dia bisa untuk terus tetap bersama gue, karena cuma dengan cara itulah dia bisa tetap bertahan, berusaha sebisa mungkin untuk dapat memberikan manfaatnya untuk gue. Gue bangga dengan dia.
Kacamata itu nggak berusaha untuk menjadi sesuatu yang baru untuk gue. Dia tau keadaan gue. Jadi, bagaimana pun keadaanya, dia akan selalu ada untuk memberikan manfaatnya tanpa berpikir yang tidak mungkin bisa dilakukannya.
Jangan pernah meremehkan hal kecil yang terjadi dalam hidup atau yang ada di sekeliling kita. Cobalah untuk cari dan pahami jawaban dari yang tersirat. Karena dengan itulah kita akan menemukan sesuatu yang teramat sangat berarti ketika orang lain meremehkannya.