Sabtu, 21 Desember 2013

Cerpen Ke-4 "Badut di Negeri Antah Berantah"


“BADUT DI NEGERI ANTAH BERANTAH”

          Saat pekat malam mulai mendekap waktu yang terus berjalan, seorang bocah laki-laki berjalan seorang diri sambil menangis dari desa Silabung hendak pergi ke desa Mataram untuk melihat jasad bapaknya yang kata para tetangganya tewas terbunuh oleh Mak Lampir. Kabarnya, setelah bertapa selama satu bulan Mak lampir kelaparan dan mencari manusia untuk dimakan, hingga terbunuhlah Sujiwo bapak dari bocah laki-laki itu yang bernama Randu. Setelah Sujiwo dengan mudahnya dibunuh oleh Mak Lampir untuk di makan, Mak lampir melihat seorang bocah laki-laki yang sedang didekap ibunya, ketakutan. Mak lampir langsung merebut bocah laki-laki itu dari dekapan ibunya dan meninggalkan Sujiwo yang sudah berlumuran darah. Mak lampir pun pergi dengan terus tertawa terkekeh yang membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengarnya.
          Randu terus berjalan sambil menangis tanpa ditemani siapapun. Tangisan Randu didengar oleh cecunguk Mak lampir, Gerandong, anak dari Mardian, siluman harimau yang juga bawahan Mak lampir. Tiba-tiba gerandong sudah ada di hadapan Randu, menghadang perjalanannya. Randu takut bukan kepalang, ia lari kembali menyusuri jalan yang sudah ia lalui, tapi Gerandong tiba-tiba ada di depannya lagi. Randu berlari ke segala penjuru arah, Gerandong tiba-tiba selalu ada dihadapan Randu, ia sengaja mempermainkannya --tidak langsung memakannya, hingga Gerandong bosan mempermainkan Randu, tak sabar ingin meminum darah dan memakan dagingnya, Gerandong menangkap dan membawanya pergi ke Goa tempat ia dan Mak lampir bersemayam. Tapi, di tengah-tengah perjalanan Sembara menghadang Gerandong dan langsung menyerangnya dengan ajian Cambuk Silat. Gerandong jatuh terkapar, dan Randu lari sembunyi ke balik pohon melihat pertarungan antara Sembara dan Gerandong, ia membalas serangan Sembara, namun kesaktiannya tak cukup menandingi Sembara. Tak lama terasa angin aneh yang membuat bulu kuduk merinding.
          “Mak Lampir, ya ini pasti tanda kedatangan Mak Lampir.” gumam Sembara. setelah berlalunya angin aneh terdengar suara tawa yang terkekeh. Mak Lampir telah tegak berdiri dengan tongkatnya di samping Gerandong yang tergeletak.
          “He-he-he................. Sembara! Lagi-lagi kau mengganggu cecungukku.”
          “Aku tidak akan membiarkan kau dan cecungukmu terus memakan korban. Akan kubinasakan kau!”
          Mak lampir tertawa lagi mendengar ucapan Sembara. “Sekarang waktunya aku balas dendam atas kekalahanku waktu lalu, he-he-he-he-he...”
          Terjadilah pertarungan yang sangat sengit antara Sembara dan Mak Lampir. Segala ajian yang Sembara miliki telah dikeluarkan, berupa: Cambuk Kilat, Selimut Kabut, Cryistal Kaca. Namun Mak Lampir sudah semakin kuat setelah pertapaannya. Mak Lampir berhasil membuat Sembara tersungkur dan mengalami luka dalam yang cukup serius. Saat Mak lampir hendak memukul Sembara dengan tongkatnya datanglah Mantili si pemilik Pedang Perak dan Pedang Setan. Pertarungan antara Mak lampir dan Mantili juga berjalan sangat sengit. Tubuh Mak Lampir hancur berkeping-keping setelah Mantili mengeluarkan pedang perak dan pedang setan andalannya. Tapi, Mak Lampir dengan ajian Rawaronteknya kembali mengembalikan tubuhnya seperti semula. Pertarungan terjadi kembali dengan sengit hingga Mantili terpukul Mak Lampir dengan ajian Pancasona yang membuat Mantili mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Melihat Mantili kalah, Sembara pun memanggil gurunya dengan suara batin, ia adalah Ki Jabat, penghuni hutan larangan yang mewariskan ilmunya pada Sembara. Ki Jabat merupakan musuh bebuyutan Mak Lampir hingga terjadi perebutan yang mengakibatkan hutan larangan direbut Mak Lampir, akan tetapi kemudian bisa direbut kembali oleh Ki Jabat.
          Tak lama Ki Jabat pun datang memenuhi panggilan muridnya, Sembara yang sudah kewalahan dengan kesaktian Mak lampir yang semakin bertambah besar dengan cepat. Terjadi lagi lah pertarungan antara Mak Lampir dengan Ki Jabat, namun tak sampai berjalan lama tiba-tiba datang beberapa Badut di hadapan mereka sehingga mereka berhenti bertarung. Semua mata tertuju pada lima makhluk aneh yang baru mereka lihat; makhluk yang perutnya gendut dan kepalanya mirip dengan kepala tikus, mukanya putih seperti diolesi batu kapur. Mereka terheran-heran dan mencoba menebak-nebak makhluk apa yang mereka lihat. Sebagian dari mereka mengira badut itu adalah jelmaan dari siluman. Kelima Badut itu diam, Nampak sedih dari raut wajah mereka yang aneh itu.
          “Siapa dia Jabat?” tanya Mak Lampir pada Ki Jabat.
          “Aku tidak tahu, sepertinya dia jelmaan dari siluman.”
          “Tapi tidak ada yang aku kenali dari bau mereka.”
          “Ya, aku juga,” Ki Jabat melihat ke Sembara, Mantili, Gerandong dan Randu yang masih bersembunyi di balik pohon. “Apa kalian kenal dengan mereka?”
          “Aku tidak mengenalnya.” Jawab mereka dengan serempak.
          Ki Jabat menghampiri mereka, memperhatikannya dari dekat dan mengendus bau badan kelima Badut itu. “Siapa kalian kisanak? Dan sedang apa di sini?”
          Kelima badut tidak menjawab, sampai kedua kalinya  Ki Jabat bertanya masih tidak menjawab.
          “Kami lapar…” kata salah satu badut yang perutnya paling gendut.
          “Baiklah, mari ikutlah dengan kami.” kata Sembara.
          “Ke mana?”
      “Ke padepokan kami, di sana kalian boleh makan sepuasnya, setelah kenyang kalian boleh membawa bekal untuk perjalanan kalian mengembara.”
          “Baiklah, kami akan ikut dengan kalian.”
          “Ikutlah denganku, aku akan memberi kalian makan daging lezat dan kesaktian, tapi dengan syarat, kalian harus tunduk dan patuh padaku.” kata Mak Lampir, ia bermaksud untuk memanfaatkan badut-badut itu agar membantunya dalam mengalahkan Ki Jabat. Akhirnya dua orang ikut dengan Sembara dan tiga orang tergiur dengan kesaktian yang Mak Lampir janjikan.


***
          Setelah diberi makan pada hari di mana para Badut kelaparan. Badut-badut itu tidak mau pergi, mereka meminta izin pada Sembara untuk tinggal di padepokan, Sembara pun mengizininya. Namun, seiring terus berjalannya waktu, Badut-badut itu membuat mereka angkara murka. Para Badut itu teramat serakah, selalu makan jatah mereka sehingga mereka tidak segan untuk memerangi para Badut. Bukan hanya jatah mereka yang dimakan, tapi upeti rakya dimakan juga.
       Pun demikian dengan Mak lampir yang dibuat angkara murka dengan ketiga badut yang ikut dengannya. Ia dan Gerandong sudah mencoba membunuh para Badut, tapi ternyata Badut-badut membunyai pusaka seribu tombak dan mereka belum memiliki ajian untuk menagkis pusaka yang super cepat, pusaka yang sangat mematikan, lebih sakti dari pada keris Ciwanara milik Prabu Siliwangi. “Tar di sini..” “Ter di sana..” “Tar-ter-tor.. di mana-mana.”
         Begitu pun dengan Sembara, baru sebulan dua badut itu tinggal di padepokan, mereka merebut sebagian wilayah dan memakan jatah upeti yang harusnya mereka terima sehingga Sembara, Ki Jabat, Mantili dan Farida anak dari Raisman murid dari Nyai Bidara yang juga tinggal di padepokan bersama Sembara memerangi para Badut yang perutnya semakin hari semakin besar dan semakin serakah. Ditambah jumlah para Badut setiap tiga hari sekali bertambah, entah dari mana para Badut itu berdatangan.
    Mak lampir dan cecunguknya mengadakan pertemuan dengan Sembara dan Ki Jabat, membicarakan bagaimana cara mengusir Badut-badut super serakah.
          “Bagaimana ini Sembara?” kata Mak Lampir dengan kesal, ia tidak lagi tertawa terkekeh. Dan baru kali ini ia dibuat berhenti tertawa.
       “Aku belum tahu caranya, yang sedang kupikirkan dari mana datangnya badut itu.”  jawab Sembara, sementara yang lain diam; memikirkan bagaimana cara mengalahkan Badut-badut yang terus bertambah.
          Mak lampir kemudian melihat apa yang Badut-badut kerjakan dengan kaca benggalanya. Dari kaca benggala terlihat mereka mendirikan kerajaan yang megah, hasil dari harta rampasan yang mereka dapatkan. Sembara meminta Mak Lampir untuk melihat dari mana datangnya Badut-badut serakah itu. dengan gerakan tangan di atas kaca benggala dan mantra-mantra, terlihatlah dari mana mereka berdatangan. Ternyata Badut-badut berdatangan dari tempat yang kala itu mereka bertarung.
         “Kurangajar……!!!” kata Mak Lampir, kekesalannya semakin memuncak. “Aku tidak dapat lagi melihat lebih jauh tentang asal muasal para badut itu.”
       “Heh! Jabat. Bantu aku agar Kaca Benggalaku bisa memberikan keterangan lebih jauh.” sambung Mak Lampir.
        Ki Jabat pun membantu Mak Lampir mengalirkan tenaga dalam pada Kaca Benggala, dan terlihatlah sumber Badut-badut itu berasal. Ternyata ada dukun yang mengirim mereka ke Negeri Antah Berantah. Badut-badut itu berasal dari abad ke-21.
          “Dari kerajaan apa mereka?” tanya Gerandong.
          “Mereka dari kerajaan Endonesiah, sebuah Negara yang berevolusi dari Nosantara yang terdiri dari kerajaan-kerajaan di jaman kita saat ini.” jawab Ki Jabat.
          “Apa itu artinya mereka adalah masa depan Nosantara?” Sembara penasaran.
          “Ya, benar sekali. Mereka masa depan dari Nosantara.”
          “Dar… Der… Dor…” tiba-tiba pusaka seribu tombak terdengar keras sekali di dalam goa. Dan seketika para Badut berkepala tikus sudah ada di hadapan mereka, terus mengarahkan pusaka seribu tombak ke arah mereka. Mak Lampir dan semua yang berkumpul pergi kalang kabut, membiarkan persemayamannya dikuasai para Badut, sebab jika mereka tidak kabur hanya membuang nyawa sia-sia, mereka berpikir lebih baik mencari cara mengalahkan mereka daripada mereka mati sia-sia, dan persemayamannya tetap dirampas oleh Badut-badut itu.
          Mereka bersepakat ke Padepokan untuk meneruskan pembicaraan, tapi ternyata ketika sudah sampai di Padepokan, para Badut tikus sudah menguasai Padepokan. Lalu mereka mencari tempat lain dengan sangat-sangat kesal karena semuanya telah dikuasai para Badut. Kini, tibalah mereka di tengah hutan larangan tempat persemayaman Ki Jabat.
          “Kenapa masa depan Nosantara seperti itu, penuh dengan Badut serakah.” gumam Mantili.
     “Entahlah, di sana mereka tinggal di sebuah kerajaan megah. Jauh lebih modern daripada Padepokan.” ujar Ki Jabat.
       “Aku akan menghubungi dukun yang mengirim para Badut ke sini. Sial dangkalan!” Mak Lampir kesal. Ia langsung menghubungi sang Dukun dengan mata batinnya dan bicara antar batin.
          “Heh! Kurangajar….!!!!!!!! Kenapa kau mengirim para Badut ke Negeri Antah Berantah?”
          “Aku minta maaf pada kalian di Negeri Antah Berantah. Ini atas permintaan rakyat Endonesiah yang sudah sangat diresahkan oleh para Badut-badut itu. mereka selalu berdoa agar para badut itu mendapat kutukan dari sang dewa dan di hilangkan dari muka bumi ini, tapi sang Dewa rupanya hanya mengutuknya saja jadi badut tikus, tidak melenyapkannya. Mereka meminta aku untuk mengirim mereka ke Negeri Antah Berantah, berharap kalian yang sakti mandra guna bisa melenyapkan mereka.” jawab sang Dukun.
          “Tapi di sini pun kami kewalahan dengan mereka, mereka terlalu serakah.”
         “Cobalah kalian hubungi orang-orang sakti mandraguna lainnya, seperti Prabu Angling Dharma dari Temanggung, Prabu Siliwangi dari Padjajaran, Si Buta dari Gua Hantu, Arya Kamandanu, putra Mpu Hanggareksa, seorang ahli pembuat senjata kepercayaan Prabu Kertanagara, raja kerajaan Singhasari, Brama Kumbara dan Wiro Sableng si pemilik kapak 2-1-2.”
         Mak lampir dan yang lainnya menyetujui usulan sang Dukun. Mereka langsung memanggil para pendekar sakti mandra guna lainnya dengan batin. Dan esok mereka semua akan menghadiri panggilan Mak Lampir dan kawan-kawan, mereka akan mengadakan pertemuan khusus.

***

        Ketika hari sudah hampir gelap, mereka semua pergi, hanya tinggal Mak Lmpir dan musuh bebuyutannya yang kini menjadi teman, Ki Jabat, demi menumbangkan Badut-badut tikus super serakah dan yang mempunyai pusaka Seribu Tombak. Dalam perbincangannya, mereka melihat tiga Badut sedang berjalan ke arah mereka dengan pusaka Seribu Tombak. Mak lampir dan Ki Jabat pun mengumpat di balik pohon besar untuk menyelidiki apa yang akan mereka lakukan. Satu Badut dari tiga badut yang mereka lihat mengeluarkan pusaka aneh; sebuah pusaka yang berbentuk kotak dan mempunyai gambar di layarnya, gambar di layar itu terlihat Badut lain, Badut itu saling bicara dengan pusaka kotak itu yang belum mereka ketahui namanya.
          “Pusaka apa lagi itu Nenek Peot?” tanya Ki Jabat pada Mak Lampir.
        “Aku juga tidak tahu, sepertinya itu revolusi dari Kaca benggalaku kalau mereka berasal dari masa depan; abad ke-21.”
          “Kenapa mereka tidak dihukum mati saja di sana?”
     “Entahlah, tapi aku menemukan sebuah kertas bergambar di jalan kemarin.” Mak lampir mengeluarkan sebuah gambar dari kantong menyannya.


          “Itu berarti mereka dibiarkan berkembang biak dan dengan dengan seenaknya diberi kebebasan serta tidak diberi hukuman di kerajaan Endonesiah?”
         “Ya, sepertinya begitu. Aku juga menemukan gambar ini.” Mak lampir mengeluarkan gambar satunya lagi.


          “Oh, berarti yang salah Raja Endonesiah, apa dia tidak punya kesaktian apa-apa sehingga para Badut tikus itu sampai berkembang biak?”
          “Sepertinya tidak ada hukuman yang memberatkan mereka.”
       “Asemmmm… Masa depan Nosantara dikuasai para Badut bajingan itu. Kalau saja ada Raja Endonesiah di sini, sudah kucabik-cabik tubuhnya dan kuserahkan pada cecungukku untuk dimakan bersama sebagai hidangan spesial, daging Raja Endonesiah.”

***
        Keesokan harinya, sesuai dengan kesepakatan, para pendekar sakti mandra guna datang. Mereka berkumpul di hutang larangan yang dikuasai Ki Jabat. Mereka mencari solusi bagaimana melenyapkan Badut-badut sialan itu.
       Prabu Siliwangi bercerita, ia pernah diberi sebuah gambar oleh putranya raden Kian Santang tentang masa depan Nosantara. Dan ia juga pernah diceritakan oleh putranya kalau di masa depan akan ada Badut-badut rakus yang selalu menindas Rakyat kecil dan melahap harta kerajaan Endonesiah dengan rakus dan tidak tahu malu. Keterangan itu di dapat Kian Santang setelah ia masuk Islam, dan Kian Santang sendiri mendapat keterangan itu dari gurunya, ia juga mendapat sebuah gambaran dari gurunya tentang perbedaan hukum Islam dan hukum yang berlaku di kerajaan Endonesiah untuk para Badut itu.
          “Apa Prabu membawa gambar yang pernah diberikan putramu, Kian Santang?” tanya Sembara.       “Ya, gambar itu selalu aku bawa-bawa kemana pun aku pergi, gambar itu seperti wasiat terlarang.” Prabu Siliwangi mengeluarkan gambar itu dari dalam tubuhnya, seperti ia menyimpan keris Ciwanara. Ia memperlihatkan gambar itu pada semua yang ada di tempat; Gerandong, Mak Lampir, Ki Jabat, Brama Kumbara, Mantili, Prabu Angling Dharma, Wiro Sableng, Arya Kamandanu, Si Buta dari Gua Hantu juga Sembara. Mereka melihanya dengan sangat serius dan dengan sangat menyimpan kekesalan pada raja Endonesiah yang tidak tegas menghukum para Badut sang penghancur Nosantara.
          “Sial dangkalan..” teriak Mak Lampir seraya memukul tongkatnya ke tanah.


      Tiba-tiba, saat mereka sedang serius melihat gambar yang masih dipegang Prabu Siliwangi, datanglah segerombolan Badut tikus yang ingin berniat menguasai hutan larangan. Terjadilah pertempuran yang sangat sengit. Segala ajian dan benda pusaka dikeluarkan oleh mereka, akhirnya jumlah para Badut tikus sedikit berkurang, tapi tenaga mereka terkuras habis. Salah satu badut mengeluarkan benda yang waktu itu dilihat oleh Mak Lampir dan Kijabat, mereka meletakannya di telinga, lalu berbicara sendiri.
          “Pusaka apa itu Ki Jabat?” tanya Prabu Angling Dharma dan Wiro Sableng berbarengan.
         “Itu pusaka revolusi dari kaca benggala Mak Lampir, tapi aku juga baru tahu kalau pusaka itu juga revolusi dari ajian Sukma Reksa. Rupanya di abad ke-21 perkataan yang biasa kita sampaikan lewat batin di rubah dengan pusaka itu.” Ki Jabat mencoba mengira-ngira.
          “Apa itu yang disebut teknologi?” Prabu Siliwangi mengkerutkan dahi.
          “Ya, bisa jadi. Mungkin itu yang dinamakan teknologi.” jawab Sembara.
        “Apa itu teknologi?” Mak Lampir tidak mengerti dengan teknologi, kata yang asing di telinganya dan asing juga di Negeri Antah Berantah.
          “Teknologi adalah hasil perkembangan jaman.” Mantili menjawab sebisanya. Mereka semua saling bertatap wajah. tak Lama berakhirnya Badut itu bicara lewat benda aneh tersebut, datanglah puluhan Badut serupa dengan mereka. Rupanya sang Dukun masih terus mengirim Para Badut ke Negeri Antah Berantah, sebagian yang lainnya karena Badut itu lari di kejara Raja KPK yang bertempat di Embatavia, kerajaan KPK punya senjata ampuh untuk menangkap Badut-badut itu dan berniat menghancurkan mereka, maka larilah para Badut ke Negeri Antah Berantah demi menghindari serangan dari Raja KPK dan prajuritnya.

          “Huh.. Hah.. Huh.. Hah...” Sorak-sorai para Badut semakin bergema. Dan di saat itulah datang seorang bocah yang lari telanjang kaki, bocah yang kala itu pernah ditolong Sembara karena Gerandong membawanya untuk dimakan, bocah itu adalah Randu. Semua mata tertuju pada Randu yang kini telah berhenti di tengah-tengah antara Para badut tikus dan Mak Lampir, Ki jabat, Prabu Angling Dharma dan yang lainnya. Suara teriakan para badut pun berhenti, semua yang ada di tempat diam.
          “Botol apa itu Randu? Apa itu pusaka?” tanya Sembara.
          Tanpa menjawab, Randu membuka tutup botol yang terbuat dari kayu, dan keluarlah gumpalan asap tebal dari dalam botol, perlahan membentuk makhluk Jin.
          “Terima kasih sudah membebaskanku, aku akan beri satu permintaan, sebutkanlah!”
          “Aku mau Badut-badut serakah dan kejam itu hilang dari muka bumi ini..!”
          “Baiklah, aku akan mengabulkannya.”
          Dengan sekejap para Badut-badut berwajah tikus pun lenyap dari bumi ini.              
        “Ente ajaib... Ente Ajaib........” mereka semua memuji Randu dan sang Jin pergi kembali ke Timur tengah.

*[---SELESAI---]*


Note    : Gambar saya copas dari internet.

Buat para penerus kerajaan Endonesiah, mari kita sama-sama belajar untuk tidak korupsi, dalam hal sekecil apapun, meski bukan menyangkut uang. Sesuatu yang besar, terjadi karena dimulai dari hal yang kecil.
Di jepang, mereka yang terbukti melakukan perbuatan tidak terpuji, lebih memilih haragiri atau bisa diartikan bunuh diri sendiri karena harga diri. Lha, kalau di kerajaan Endonesiah? Jangankan melakukan haragiri/bunuh diri, ini malah bunuh orang lain demi harga diri. Sungguh kejam dan gak tahu diri Badut-badut tikus Endonesiah. Maka dari itu.........................................


Menjelang pemilu 2014 saya pilih capres yang berani menghukum mati koruptor
 
 



Atau kalau tidak di hukum mati, ya setidaknya potong tangan.
KALAU TIDAK, SAYA MEMILIH GOLPUT SAJALAH..!!!
 

Tidak ada komentar: