Selasa, 31 Desember 2013

Cerpen Ke-5 "Rembulan Untukmu"


“REMBULAN UNTUKMU

Dengan langkah gontai Rei menyisir malam, menemani sunyi di bawah awan yang menutupi langit dan perhiasannya. Matanya selalu menatap ke bawah meski langkah terus berjalan ke depan, terkadang mata yang cekung melihat ke sisi kanan dan kiri. Kulitnya yang putih tampak menguning terkena sinar lampu di sepanjang jalan yang dilewati. Jaket lusuh terselempang di bahu, dibiarkan tubuhnya dihempas angin malam—hingga ia terhenti pada sebuah rumah dengan lampu-lampu yang berkerlap-kerlip indah menghiasi pepohonan di taman halaman rumah. Tubuh tingginya tegak berdiri seperti tongkat yang menancap di tanah, diam tanpa ekspresi.
          Lama sudah berdiri, Rei memilih duduk pada bangku yang tersedia di bawah pohon yang sudah mati; tak berdaun dan terkikis oleh waktu.
       “Jika memang ini sudah menjadi takdir hidupku, aku akan mencoba mengikhlaskannya.” Rei bergeming pelan seraya melihat rumah yang nampak sepi dari luar. Matanya mulai berkaca-kaca, menahan kepedihan di hati, membiarkannya hanyut bersama malam yang semakin pekat. Kepedihan hati Rei semakin terasa, seperti tercabik-cabik ketika melihat teman kuliahnya empat tahun lalu datang kerumah itu.
        Keesokan harinya, Rei bersiap-siap untuk memenuhi undangan Ve. pada acara pernikahannya, dengan berat hati Rei berusaha untuk bisa menghadiri acara yang sangat membuatnya terpukul, pedih sekaligus. Sesampai di tempat acara pernikahan yang digelar dikediaman Ve, lagi-lagi Rei harus menahan gejolak amarah hatinya yang hampir membeludak, berkali-kali matanya berkaca-kaca, namun Rei berusaha sebisa mungkin untuk dapat menjaganya agar tetap terlihat tegar.
       “Selamat ya Ve, semoga langgeng.” ucap Rei lirih seraya menatap mata Ve yang juga terlihat berbayang. Ve tidak menjawab sepatahkata pun, tangan yang saling bersalaman tidak segera terlepas. Mata saling menatap, yang terlihat bukan hanya dua bola mata Rei yang nampak berair, tapi dua mata itu mampu melihat hingga menembus dinding hati yang mulai rapuh. Perlahan Rei melepas tangan halus yang masih menempel ditangannya. Rendi mulai menyadari bahwa Ve, gadis cantik dengan kebiasaan rambut yang selalu dicupel dan yang selalu terlihat anggun dengan hal yang sederhana itu saling bertemu mata cukup lama dengan Rei, teman kuliahnya empat tahun silam. Rei mulai memindahkan tangannya pada Rendi, sambil tersenyum Rei berusaha untuk dapat mengucapkan kata-kata selamat untuk Rendi atas pernikahannya dengan Ve.
        Rei duduk disalah satu bangku yang disediakan untuk tamu, matanya melihat ke segala arah. Dilihatnya Ve semakin anggun dengan gaun pengantin yang menempel di tubuhnya yang seksi, sesekali Ve pun melihat ke arahnya dengan tatapan penuh kenangan saat ia masih menjalani hari-harinya dengan Rei, yang kini hanya menjadi masalalu berikut dengan kenangan-kenangan indah yang juga akan ikut terkubur. Sebulan yang lalu, rasanya baru kemarin Ve rasakan bisa tertawa lepas dengan Rei. Namun mulai detik ini ia akan berusaha untuk melupakan semua kenangan manisnya dengan lelaki bertubuh tinggi itu.


Empat bulan berlalu, Rei selalu berusaha melupakan Ve yang sudah menjadi istri temannya. Rasa cinta tak pernah mau keluar dari relung hatinya, menyingkir dan menjauh dari hidupnya. Dua bulan Rei selalu berusaha mencari kesibukan apapun demi melupakan Ve, gadis yang kabarnya saat ini tengah ditinggal suaminya ke Jawa Timur. Rei terdiam dari balik jendela kamar klasiknya, memandang keluar, jauh menangkap cakrawala yang membentang luas berselimuti hitam yang mulai meraba hari.
          Bosan dengan suasana malam yang selalu dihabiskan di kamar berteman suara musik dari radio combo dan ikan-ikan yang asik mondar-mandir di dalam aquarium mini. Rei memutuskan untuk pergi ke toko buku terlengkap, mencari novel inspirasi agar terbebas dari jerat rindu yang sudah tak semestinya ada dalam hatinya.
      “Rei.... Reinaldy..” suara yang sudah lama tak terdengar tiba-tiba berhembus dari belakang menyentuh telinganya. Rei membalikan badan dengan bayang-bayang sosok wanita yang tengah dirindu.
        “Veve....” ucap Rei pelan, rasanya tak percaya dengan apa yang ia lihat oleh mata kepalanya. “Sedang apa kamu Ve?” sambung Rei setelah Ve mendekat kehadapannya.
          “Kemana saja kamu Rei? Kenapa tidak pernah memberi kabar? Kenapa nomor ponselmu tidak aktif?” mata Ve terlihat berair, berbayang-bayang. Pertanyaan Ve membuat hati Rei tersentak, seperti melukiskan keadaan tidak menyenangkan. Rei diam sejenak sebelum bicara, matanya terus menatap mata Ve yang semakin berkaca-kaca, hingga akhirnya tetesan air bening jatuh membasahi lantai.
          “Ada apa kamu Ve? Kenapa menangis?” ingin rasanya Rei mengusap air mata yang membasahi pipi wanita cantik dihadapannya, tapi niat itu terhalang dengan status pernikahan yang membentangkan jarak antara mereka.
          “Rei.... aku ingin banyak cerita sama kamu, bisa kan temani aku?”
       Rei tidak langsung menjawab, tapi hatinya terus bertanya-tanya mengapa wanita yang rambutnya dicupel itu menangis. “Kamu pasti ingin cerita kalau kamu sedang merindukan Rendi, yah?”
          “Bawa aku pergi yang jauh Rei, temani aku malam ini.”
          “Tapi.. tapi bagaimana kalau suamimu tahu kalau kamu pergi denganku, mantan kekasihmu?”
          “Aku tidak peduli, aku tidak peduli dia marah padaku.”
          “Tapi aku peduli Ve, aku peduli sama kamu...” cus.... kata-kata itu tak sengaja meluncur bagai roket yang tidak bisa dikendalikan, Rei terdiam setelah mengucapkan itu.
          “Kamu masih peduli dengan aku Rei? Kalau kamu peduli, kemana saja kamu? Setengah putus asa aku mencarimu. Jahat kamu Reinaldy.” Kata-kata yang keluar dari bibir merah wanita cantik itu terdengar merintih di telinga Rei, membuatnya ingin mendengarkan semua keluhan Ve.
          “Mari, ikutlah denganku!”
         Tanpa mengiyakan, Ve langsung mengikuti Rei dari belakang, hingga mobilnya terus mengikuti Rei ke puncak bogor. Dari atas puncak, mereka melihat lampu-lampu yang berkerlap-kerlip tampak menghiasi dataran bumi, melebihi bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.
Ve yang duduk di sebelah kanan Rei diam; juga tidak mengerti bagaimana harus memulainya meski berjuta pertanyaan. 
        “Apa yang buat kamu menangis Ve?” Rei mencoba mencairkan kebekuan yang sudah beberpa menit terjadi, matanya melihat wajah Ve yang masih melihat lampu yang bewarna-warni di bawah sana. 
       “Kenapa kamu dulu tidak menghamili aku saja Rei?” spontan pria yang duduk disebelahnya tersentak dengan peranyaannya.
          “Kenapa kamu bicara seperti itu?”
          “Dulu, aku hanya ingin menikah dengan kamu Rei, tentu sebelum aku menikah dengan Rendi, teman kuliahmu,” ia berhenti sejenak sebelum memulainya lagi. “maafkan aku yang tiba-tiba mengakhiri hubungan kita, sungguh tidak ada sedikitpun niatku untuk berpisah denganmu, apalagi sampai menikah dengan orang lain.” sambil terus melihat ke depan, Ve mengeluarkan air mata. Rei membiarkan air mata Ve terus menetes, tanpa berusaha untuk mengusapnya, sikapnya menahan keinginan hati; ingin mengusap bening air yang tumpah dari mata indahnya, Rei sebenarnya tidak bisa melihat wanita menangis, apalagi tangisan itu karenanya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia tidak punya hak menyapu air mata dari pipinya.
          “Kamu tahu Ve? Ketika kamu memutuskan hubungan kita dan memilih menikah dengan Rendi, hatiku hancur, hancur berantakan. Aku selalu berusaha untuk bisa melupakanmu dengan cara apapun, kamu menikah dengan pria lain dan menyisakan banyak kenangan yang tak bisa kulupakan,” Rei diam sejenak, keduanya mencoba mengingat-ingat kenangan yang dulu pernah mereka lalui. “sampai saat ini aku belum bisa mengumpulkan puing-puing hatiku dan merangkainya kembali. Kamu egois Veve…”
          “Rei….” Ve mulai menatap wajah Rei. “ terserah kamu bilang aku apa, tapi semua kulakukan untuk kebaikan kamu. Sekarang, aku lebih hina daripada binatang sekali pun.”
          “Kenapa kamu memilih menikah dengan dia kalau kamu hanya ingin menikah dengan aku???  Teramat perih hati yang kurasakan Ve.”
          “Kamu kira aku senang dengan semua ini? Aku merasakan hal yang lebih perih dari yang kamu rasakan Rei, hatiku lebih hancur daripada hatimu. Seluruh kepingan hatimu yang tercecer tidak hilang dan suatu saat nanti kamu bisa merangkainya kembali. Tapi hatiku? Aku kehilangan separuh hatiku dan aku takan bisa merangkainya lagi. Sakit Rei, sakit…..”
          “Apa alasanmu meninggalkanku? Dulu kamu tidak pernah mau jawab, kuharap sekarang kamu bisa mengatakan semuanya.” 
        “Aku meninggalkanmu karena aku sudah merasa tidak pantas bersamamu, apalagi untuk menjadi istrimu. Karena….” Ve berhenti bicara, air mata yang keluar semakin deras.
          “Karena apa Ve??”
      Tangisan wanita cantik itu semakin membuat Rei ngilu, ia benar-benar tidak sanggup membiarkan air mata wanita yang masih ia cinta semakin membasahi pipi. Pria berparas tampan itu akhirnya mengeluarkan saputangan dari saku celananya—mengeringkan pipi dengan usapan lembut.
          Ve menghirup nafas panjang sebelum mengatakannya. “Kehormatanku direnggut olehnya Rei.” Setelah memberanikan diri, akhirnya ia bisa melepaskan kata itu, kata-kata yang tidak pernah ia ingin katakan sebelumnya pada lelaki yang juga masih ia cintai. Rei langsung tersentak mendengarnya. Hatinya terasa disambar petir, luluh lantah hingga ia tak mampu untuk berkata apa-apa lagi. “ketika kubertemu dengannya, dia mengajakku berbincang, dia berikan aku sebotol minuman, dan aku meminumnya. Tapi tak lama setelah itu aku tak sadarkan diri, ketika sadar tubuhku sudah tak dilapisi benang sehelai pun. Aku dinodai temanmu yang bajingan itu Rei, hatiku hancur, bahkan hidupku hancur, aku lebih hina dari binatang apapun.”
          Rei tak kuasa menahan kepedihan hatinya, sapu tangan yang masih dipegang terjatuh. “Izinkan aku membunuh bajingan itu Ve..” dengan geram Rei mengatakannya.
        “Jangan Rei, aku sayang kamu. Aku tidak mau kalau kamu masuk penjara, aku ingin melihatmu menikah dengan wanita lain, bukan melihatmu mendekam dipenjara.” 
     “Ini tidak bisa dimaafkan Ve, hatiku semakin hancur…” Ve tidak henti menangis. Kedua tangannya meraih tangan kanan Rei. “Tolong turuti permintaan terakhirku Rei, aku akan bahagia bila melihat pernikahanmu dengan wanita lain, aku ingin kamu segera menikah. Tumbuhkan rasa cinta untuk calon istrimu sebagaimana kamu menumbuhkan cinta untukku.” Rei hanya diam, tatapannya kosong. Lalu Ve pun meneruskan bicaranya. “Aku hapal sifat kamu. Kamu laki-laki setia, penyayang dan sangat baik, maka sepantasnya kamu mendapatkan wanita yang demikian. Rei, di mana pun, aku selalu teringat padamu, Rei yang sok puitis kalau membacakan sajak atau puisi untukku, Rei yang tak pernah melontarkan kata kasar padaku, Rei yang selalu menyudahi pertikaian diantara kita walau aku yang salah sekalipun, Rei yang cepat memaafkan, Rei yang selalu menjadi pelindungku, Rei yang mengerti perasaanku dan Rei yang selalu bisa buat aku tersenyum, bahkan sering kali aku dibuat tertawa bahagia. Kamu adalah kebalikan dari bajingan itu, bahkan beberapa kali dia pernah menamparku karena aku tidak pernah mau berhubungan dengannya, aku tidak mau diraba olehnya walau hanya menyentuh kulitku, aku sangat membencinya, Rei. Kurasa, wanita yang akan menjadi istrimu akan sangat bahagia memiliki suami sepertimu, maka segera menikahlah Rei.” 
     Pria tinggi itu hanya terdiam, kontrasnya bisu. Lama Ve menatap wajah Rei yang kaku, menunggunya bicara, namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Perlahan, air matanya pun melumer. Ve mengerti apa yang ia rasakan, tangan Ve masih memegang erat tangannya. Semakin malam suasana semakin membeku, kata-kata seolah barang mahal untuk dikeluarkan. “Aku akan membunuhnya..!” tiba-tiba dalam diam yang sudah cukup lama, hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.
        “Rei, biar Tuhan yang mengadili dan mencabut nyawanya, kamu tidak berhak Rei. Jangan kamu lakukan, aku benar-benar sanyang kamu, aku takut kamu dibuih,” diam sesaat. “lebih baik kamu menikah dengan wanita lain Rei, aku akan bahagia melihatnya.” kata sayang itu seperti cambukan untuk Rei malam ini, ia tidak bisa menerima orang yang ia sayang yang juga masih menyayanginya diperlakukan seperti itu. Empat bulan menyimpan rasa rindu dan mencoba merelakan Ve kepelukan temannya, tapi setelah ia tahu kenyataan pahit ini, kenyataan yang menyebabkan Ve tiba-tiba memutuskan hubungan harmonis yang dijalankan dengan syrari’at yang benar karena Rei hanya ingin melakukan hal itu saat sudah menikah nanti. Rei selalu berusaha untuk menjaga kehormatan Ve, gadis yang ia sayang, bahkan hanya untuk mencium pipinya yang halus pun ia tidak berani.

***

Setiap hari Ve selalu menanyakan kabar Rei melalui pesan singkat—sesekali ia meneleponnya. Namun tak pernah ada jawaban dari pria yang tujuh hari lalu bersamanya di puncak Bogor. Sepanjang perjalanan pulang dari puncak, Rei hanya diam, sepertinya kata-kata seperti apapun tak sanggup untuk mewakili perasaannya. Satu minggu sudah Rei menunggu kepulangan Rendi dari Jawa Timur, ia berniat untuk membunuhnya—tak peduli jika ia harus mendekam dipenjara dalam waktu yang lama sekalipun. Keesokan harinya terdengar dari surat kabar masyarakat kalau tubuh Rendi bersama mobilnya terguling di jurang yang sangat dalam dan ketika mobilnya mendarat di dasar jurang terjadi ledakan yang membuat mobil dan seisinya hanya menjadi debu hitam, termasuk Rendi.
      Pada suatu hari, Rei mengajak Ve untuk bertemu di kafe. Mereka datang berbarengan, Ve memperhatikan wajah Rei yang sudah jauh lebih baik daripada malam lalu di puncak. Dalam perbincangan santai tiba-tiba Rei mengucapkan hal yang membuat Ve terdiam.
       “Veve.. kepergian Rendi sudah melebihi masa Iddahmu, aku ingin kamu menjadi istriku, apa kamu bersedia?” 
       Cukup lama Ve diam, ia hanya memandangi pria yang mengajaknya untuk menikah. “Aku wanita kotor Rei, lebih baik kamu menikah dengan gadis yang masih suci kehormatannya.”
         “Apa kejadian itu adalah sebuah kesengajaan? Lagi pula kamu tidak pernah mau kan disentuh dengannya?”
        “Memang tidak ada kesengajaan, dan setelah itu pun aku tidak pernah mau disentuh olehnya. Tapi aku rasa lelaki sepertimu tidak pantas mendapatkan istri sepertiku Rei..”
         “Veve.. sebelum Rendi menglami kecelakaan, aku berniat untuk membunuhnya. Tapi kenyataan berkata lain, nyawa dia lebih dahulu di cabut dengan kecelakaan yang tragis. Itu artinya Tuhan memperkenankan aku untuk menihakimu Ve.. andai dia kembali pulang dengan selamat dan aku berhasil membunuhnya, aku pun masuk buih.”
          “Tapi Rei…”
          Rei memotong kata-kata Veve. “Kamu masih sayang kan dengan aku? Kata sayang yang kamu ucapkan di puncak lalu benar adanya, kan?”
       “Iya, aku memang masih sayang dengan kamu, sayang sekali, Rei. Tapi apa sebaiknya kamu mendapatkan wanita yang tidak kotor…” tiba-tiba Rei menutup bibir Ve dengan jari telunjuknya.
         “Jangan pernah ucapkan itu lagi Ve, semua itu bukan ketersengajaan. Dimataku kamu tetap Veve yang dulu, suci seperti sedia kala. Dan kurasa dimata Tuhan pun sama.” Sebelum Ve mengucapkan kata-kata padanya, Rei mengambil kotak kecil dari saku celananya. “Apa kamu bersedia meletakan cincin ini di jari masismu?” Veve diam, lalu disusul dengan anggukan.
        Dua bulan kemudia mereka menikah, membangun keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Saat malam pertama dilakukan, sungguh diluar dugaan, ternyata Ve masih dalam keadaan perawan, rupanya Rendi hanya menelanjangi tubuh mulusnya dan tak merenggut keperawanannya. Rei sangat bahagia dan Ve bahagia hidup dengan Rei, lelaki yang sangat ia hormati dan segani. Suatu malam, mereka duduk di balkon rumah sambil memandangai langit yang cerah.
          “Ve.. coba lihat bulan purnama di atas sana!” Ve pun mengikuti arahan suaminya.
         “Malam ini, rembulan itu untukmu..” Rei tersenyum dan wajah Ve bersemu merah. Kemudian Rei mencium kening Ve, istrinya.

[***SELESAI***]

Tidak ada komentar: