Minggu, 08 Desember 2013

Cerpen ke-2 "Kisah Galau Riko"


KISAH GALAU RIKO

          Tujuh bulan Riko harus menahan perih di hatinya karena harus merelakan Siska, pacarnya direbut orang. Kini antara mereka hanya berstatus mantan pacar, padahal Riko sayang banget dengan Siska. Kedatangan Rama di hati Siska, pacar Siska saat ini, membuat hari-hari Riko menjadi tak bermakna, semua terasa hambar, hampa, dunia yang tadinya penuh dengan pelangi saat ia lalui bersama Siska kini telah berubah, harinya kelabu. Apalagi kalau melihat Siska berboncengan bersama Rama di motor Ninja yang dia kendarai, semakin membuat hati Riko hancur berkeping-keping. Dan yang membuat Riko merasa sangat terpukul karena Rama adalah temannya, meski bukan teman dekat.
          Rama datang dengan segala janji untuk Siska yang tidak bisa diberikan oleh Riko. Tanpa sepengetahuan Riko, Siska sering jalan bersama Rama hingga membuat Riko merasa ada yang beda dengan sikap Siska padanya beberapa minggu terakhir, ia tidak menanyakan mengapa sekarang sikapnya berubah, Riko selalu berpikir positif, “Mungkin Siska lagi dapet, biasanya kan cewek kalau lagi dapet agak sedikit sensitif” pikirnya. Namun, tiga hari setelah berlangsungnya hari itu, ketika Riko baru memejamkan mata untuk tidur, hand phone Riko berdering, pertanda SMS masuk.
           Riko sangat bersemangat membukanya. Seharian Riko memang menunggu-nunggu balasan dari Siska, ia beberapa kali SMS, tapi enggak kunjung dibalas, di telepon pun enggak di angkat, sampai ia samperin kerumahnya, kata ibunya ia sudah pergi bersama temannya. Ketika ia tanya temannya itu siapa pada ibunya Siska, dia hanya jawab "Ibu enggak tahu Nak Riko, Siska pergi bersama teman barunya, dia laki-laki, Ibu lupa namanya siapa. Bilangnya sih mau nonton bioskop." Mendengar kabar itu, hati Riko bergemuruh, namun Riko coba untuk selalu berpikir positif pada Siska yang sudah pacaran dua bulan bersamanya.
          Setelah membuka isi SMS itu, spontan jantung Riko berdebug lebih kencang. Berkali-kali ia baca tulisan yang ada di layar hand phone-nya karena masih tidak percaya.
          Riko, aku mau malam ini juga kita putus. Aku bukan cewek yang pantes buat kamu, semoga kamu cepet dapet cewek yang lebih baik dari aku.
    Diam Riko tidak sanggup bergeming, bibirnya seolah terkunci rapat, matanya terus menatap layar hand phone, hatinya masih terus meyakinkan kebenaran SMS itu. Setelah yakin dengan apa yang ia baca, ia segera menghubungi Siska, tapi nomornya tidak diaktifkan. Pedih teramat pedih perasaan Riko, sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tak tumpah.
***
          Ke-esokan paginya, Riko tancap gas menuju rumah Siska dengan motor butut yang ia punya, motor yang sudah ia pakai selama tujuh tahun dari semenjak barunya. Matanya celong, memerah. Semalaman ia tidak tidur kepikiran SMS Siska, semalaman pula ia coba menghubunginya namun hasilnya tetap sama, nomornya tak kunjung aktif.
          “Assalamu’alaikum..” ucap Riko sambil mengetuk pintu rumah Siska. Suara jawaban salam terdengar dari dalam rumah, Riko berdiri tegak menunggu pintu terbuka.
          “Eh, Nak Riko, silakan duduk, Nak.” kata Dewi, ibunya Siska, seraya mempersilakan Riko untuk duduk di bangku depan yang disediakan untuk tamu.
          “Oh iya Bu, terima kasih. Riko enggak lama kok, Siskanya ada enggak, Bu?”
          “Ada di dalam, sebentar yah, Ibu panggilkan dulu.” Dewi tersenyum ramah. Riko pun balas senyuman Dewi seraya menganggukan kepalanya.
          Tak lama menunggu, Siska pun keluar dengan pakaian yang rapi seperti mau jalan, tanpa memberikan sedikit pun senyuman untuk Riko, seolah tidak pernah melalui hari bersama Riko. Namun, Riko dengan segala kepedihan di hatinya berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan Siska.
          “Ada apa lagi kamu ke rumahku, Rik?”
          “Aku ingin menanyakan pesan singkatmu semalam. Kamu bercanda, kan?”
          “Enggak, aku merasa enggak pantes buat kamu, kamu terlalu baik buat cewek kaya aku.”
          “Lho, kok begitu? Emangnya salah kalau aku baik buat kamu?” kening Riko mengkerut.
          Siska tidak menjawab, ia hanya menunduk.
          “Kalau aku punya salah, katakan aja Sis. Salahku apa?”
          “Siska!” tiba-tiba suara laki-laki terdengar dari belakang Riko memanggil nama Siska, suara yang tidak asing lagi di telinganya, spontan Riko langsung membalikan badan. Tak ia sangka, Rama telah tegak di hadapannya, dan Siska yang berada di belakangnya menghampiri Rama.
          “Rik, maaf yah, sekarang aku harus pergi dengan Rama.” Kata Siska.
          “Sorry ya Rik, gue mau langsung jalan sama Siska,” Rama diam sesaat. “Dan, sorry, Siskanya gue ambil. Kami sama-sama jatuh cinta.” mereka berdua pergi meninggalkan Riko sendiri di depan rumah Siska sendiri. Kepedihan hati Riko tak terbendung lagi, hancur sudah, cintanya sudah tidak bertuan.
          “Ya Allah, lumpuhkanlah ingatanku tentang dia jika dia memang bukan jodohku. Dan, jika dia jodohku, maka kembalikan hatinya untukku ya Allah. Berikan aku jodoh yang shaleha, Aamiin.” Riko  berdoa sepanjang perjalanan pulang dengan hati yang hancur berkeping-keping, dan kembali menahan air mata agar tak tumpah.
***
          “Tentu kamu masih ingat kan Sis tentang itu semua?” Riko mengangkat kedua alisnya.
          “Iya, aku ingat. Aku minta maaf padamu, aku janji tidak akan seperti itu lagi.” Siska mengacungkan dua jarinya yang menandakan swer.
          “Saat aku hanya punya motor butut, kamu malah pergi dengan yang lain. Sekarang, saat aku udah punya apa pun yang aku mau, kamu malah deketin aku lagi.”
          “Rik, aku minta maaf banget, waktu itu emang cintaku beralih ke Rama, tapi setelah lama pacaran dengan dia, perasaan cinta yang dulu pernah ada untukmu datang lagi. Aku menyesal Rik, aku menyesal udah buat hati kamu terluka.” Siska mencoba meyakinkan Riko.
          “Sis....” Siska menunggu kata-kata Riko selanjutnya. “Enggak ada yang harus kamu sesali, enggak ada gunanya menyesali yang telah terjadi, kan?”
          “Jadi? Jadi kamu mau menerima aku lagi?” alis Siska terangkat.
          Riko menggeleng, bersamaan dengan itu, Rasti datang dengan riang gembira, ia adalah teman Siska.
          “Hey! Sis, aku punya undangan untukmu.” Rasti memberikan undangannya pada Siska. Siska pun membacanya, dan ia tak percaya dengan apa yang ia baca, lalu ia menghadapkan wajahnya ke Riko.
          “Ya, aku dan Rasti minggu depan akan menikah.” Riko dan Rasti tersenyum. Siska tercengang; terdiam sambil memegang undangan di tangannya. Riko dan Rasti berlalu pergi


Tidak ada komentar: