SURAT TERAKHIR UNTUK ANAKKU
Namaku
Kardi, Aku tinggal di pedalaman desa yang jarang tersentuh oleh uluran tangan
pemerintah. Rumah yang aku tempati berisikan tiga orang; Aku, Ibu dan Kakak. Sementara Bapak
sudah tiada sejak aku masih merah, ketika aku masih belum mengerti apa-apa dan
masih asing dengan dunia ini. Usia aku dan Mas Gempur selisih beberapa menit,
dengan kata lain kami saudara kembar. Sejak kecil kami sering bermain bersama,
berlari menembus lebatnya hutan, mandi di sungai dan melakukan banyak hal
lainnya. Kini usiaku dan Mas Gempur delapan
belas tahun. Mas Gempur pernah mengatakan keinginannya padaku, ia ingin sekali
pergi ke Jakarta untuk mencari
kerja, untuk membahagiakan Ibu dengan apa yang ia dapat dari hasil keringatnya.
Tahun ini Aku dan Mas Gempur lulus belajar di sekolah, sekolah kami bisa
disebut sekolah rakyat. Dan, sore ini ia mengajak aku ke sungai untuk membicarakan
niat kepergiannya ke Jakarta—aku
pun mengikutinya. Aku dan Mas Gempur saling diam sesampai di sungai, kami
memilih batu yang paling besar yang berada di tengah derasnya air yang
memberikan satu kedamaian di hati.
Aku
menundukan kepala. Aku tahu apa yang ada dipikiran Mas Gempur, ia pasti
membutuhkan uang. Aku pun enggak tahu harus bagaimana, jangan kan untuk ongkos ke
Jakarta, ke sekolah
pun kami tidak pernah megang uang, sebab, sepanjang perjalanan ke sekolah tidak
ada angkot seperti di kota, kami harus berjalan dua kolometer untuk sampai ke
sekolah, ditambah di sekolah kami tidak ada yang berjualan. Kalau pun ada, ya
dapat dipastikan dagangannya tidak akan laku. Sekitar tujuh menit, Mas Gempur
mulai bersuara menemani gemuruh air yang mengelilingi kami seraya mendongak ke
atas; langit yang biru.
“Di, Mas bingung, enggak tahu gimana
caranya supaya Mas bisa ke Jakarta.”
Aku tak segera menjawab, kulihat wajah Mas Gempur penuh harap,
masih menatap langit. “Kapan Mas berencana akan berangkat kalau sudah ada
ongkosnya?”
“Mas akan segera
pergi kalau uang sudah ada.”
“Memangnya
berapa uang yang dibutuhkan untuk sampai ke kota Mas?”
Mas Gempur
menolehkan wajahnya ke arahku. “Mas enggak tahu, mungkin banyak sekali
mengingat sekarang kita berada di pedalaman.”
Aku
terdiam lagi, mendongakkan pandanganku ke atas seraya berdoa agar apa yang
diharapkan Mas Gempur dapat terwujud. Kulihat Mas Gembur, wajahnya semakin
menyimpan sebuah harapan, tangan kanannya memainkan air. Sungguh, andaipun ada
yang bisa kulakukan, apapun pasti kulakukan untuk Mas Gempur.
Matahari
mulai meninggalkan kami, hingga tak terlihat. Kami pun pulang membawa sebuah
harapan besar. Malam ini Mas Gempur tidur lebih cepat. Aku teringat, beberapa
hari lalu kudengar dari Ganto, teman sekolah aku dan kakakku. Di rumahnya malam ini akan ada pekerjaan, entahlah apa pekerjaan itu. Aku pun
memutuskan untuk kerumah Ganto dengan petromaks menembus pekatnya malam
melewati hutan. Satu kilometer aku harus berjalan agar sampai ke rumahnya. Benar
saja di sini aku temui satu orang sedang bekerja mengangkut ubi dan singkong ke
atas mobil, rupanya di kampung ini sedang panen dua umbian ini. Aku tak ingin
kehabisan pekerjaan, aku pun langsung bicara pada ayahnya Ganto untuk ambil
bagian dalam pekerjaan ini. Keringatku terasa habis malam ini, punggungku
terasa hampir patah, lemas. Tapi lumayan aku dibayar lima ribu. Kutanya pada
ayahnya Ganto—mau dibawa ke mana umbi-umbian ini, ia jawab akan dibawa ke
pinggir kota pulau ini, kukira akan dibawa ke Jakarta.
Aku pun kembali pulang melawan angin jahat yang
menghadang perjalananku. Suara binatang malam terdengar nyaring, menemani
langkahku di pekatnya malam yang semakin mengarah dini. Sesampai di rumah,
kulihat posisi tidur kakakku masih seperti semula, aku bahagia melihat Mas
Gempur tertidur pulas. Kutengok ke kamar, ada Ibu berbaring, juga tertidur
pulas. Dan, aku pun mengambil posisi di samping Mas Gempur, memejamkan mata,
membuang rasa letih yang menderaku malam ini, karena selama tujuh hari kedepan aku
harus ke rumah Ganto untuk mengerjakan hal yang sama, tapi selanjutnya aku
sendiri, aku tidak tahu kenapa orang itu tidak mau bekerja lagi, tapi bagiku
ini rezeki lebih, aku patut bersyukur.
“Di, kenapa baju kamu pada kotor begitu?” tanya Mas
Gempur yang baru bangun dengan mata kuyunya.
“Enggak apa-apa Mas, semalam aku terpeleset di samping,
terus jatuh.”
“Oh... Tapi beneran enggak apa-apa, kan?” alis Mas Gempur
terangkat.
“Iya enggak apa-apa, percaya deh sama aku.” Kuberikan
senyuman terbaikku untuk Mas Gempur.
Keesokan harinya aku mulai lagi bekerja sampai siang dan
malam selama tujuh hari tanpa sepengetahuan Mas Gempur. Aku ingin memberi
kejutan untuknya.
Ketika Mas Gempur sedang membelah kayu untuk dijadikan
kayu bakar, aku menghampirinya, menarik tangannya untuk ikut bersamaku; pergi
ke sungai. Kuberikan daun yang kubuat seperti amplop pada Mas Gempur dengan
penuh gembira. Semoga apa yang selama ini aku lakukan bisa mengantarkan Mas
Gempur ke Jakarta, harapku.
“Kardi...” Mas Gempur heran melihatku setelah melihat isi
daun itu. “Darimana kamu dapat uang sebanyak ini, Di?”
“Satu minggu aku bekerja untuk ayahnya Ganto, teman
kita.”
“Kerja apa, kenapa enggak kasih tahu aku?”
“Aku angkat umbi-umbian dari kebunnya ke bak mobil, di
sana lagi musimnya. Oya, besok ayahnya Ganto akan mengangkut umbi-umbiannya
keluar dari desa ini. Mas boleh ikut, aku sudah bilang dengannya. Dan, setelah
hitung-hitung, uang itu cukup untuk Mas melanjutkan perjalanan, mengantarkan
Mas sampai ke Jakarta, asalkan Mas mau berpuasa selama beberapa hari sampai
tiba di Jakarta.”
Mata Mas Gempur mulai berkaca-kaca, ia memelukku erat
sekali, sampai-sampai aku sesak napas dibuatnya.
“Kalau Mas sudah benar-benar siap, besok jam enam Mas
harus sudah di rumah Ganto. Sekarang Mas harus izin dulu ke Ibu biar di sana
dapat keberkahan.”
Mas Gempur melepas pelukannya, kedua tangannya memegang pundakku.
“Aku tidak akan melupakan ini.”
Mata Mas Gempur menatap mataku, dalam.
“Yasudah,
sekarang Mas kembalilah ke rumah, minta izin dengan Ibu!”
“Baiklah.” Mas Gempur
dengan cepat berlari meninggalkanku.”
***
Ke-esokan
harinya aku mengantar Mas Gempur ke rumah Ganto bersama Ibu. Kulihat sebuah
kegelisahan diraut Ibu,
entah apa yang beliau pikirkan. Kami
melambaikan tangan ke arah Mas Gempur
yang semakin menjauh dari kami sebelum benar-benar menghilang, pergi.
“Suatu
saat apa kamu mau pergi seperti Mas-mu, Di?”
“Kardi
belum tahu, Bu. Tapi yang pasti Kardi akan selalu bersama Ibu, menemani Ibu,
menjaga Ibu dan berbakti pada Ibu. Kardi enggak akan meningkalkan Ibu sendiri.
Kepergian Mas Gempur pun sama, ia ingin berbakti pada Ibu, ia ingin
membahagiakan Ibu.”
Ibu
menangis, air matanya
beberapa tetes jatuh ke tanah.
“Ibu
akan selalu mendoakan kalian, di mana pun, kapan pun. Ibu sangat mengerti, kalian adalah laki-laki, kalian
memang harus merantau agar kalian bisa belajar lebih banyak, melihat suasana
yang berbeda dan untuk mencari pengalaman hidup sebanyak-banyaknya –agar kelak
kalian berumah tangga, kalian bisa menjadi pemimpin yang berwawasan luas,
pemimpin yang bisa mengajari anak dan istri kalian.”
“Ya, Bu. Tapi Kardi sekarang hanya ingin menemani Ibu,
sampai akhir hayat!”
Beberapa
bulan berlalu, tak ada sepucuk surat pun yang datang dari Mas
Gempur. Aku sangat merasa kehilangan Mas Gempur, saudara kembarku. Aku bisa
merasakan bagaimana perasaan Ibu, beliau pasti teramat sangat merindukan Mas
Gempur. Sering kali aku lihat Ibu di sepertiga malam menangis seraya
menengadahkan kedua tangannya, bermunajat pada Allah untuk kebaikan Mas Gempur
di sana. Aku tak henti bertanya-tanya dalam hati, bagaimana keadaan Mas Gempur?
Sudah dapat pekerjaan atau belum? Bagaimana kalau uang yang kuberikan waktu itu
tidak cukup untuk mengantarkan Mas Gempur ke Jakarta? Selalu ada pertanyaan
setiap harinya di benakku. Jika aku saja seperti ini, apalagi dengan Ibu.
Tiga tahun sudah Mas Gempur
meninggalkan kami, tak pernah memberi kabar, tak pernah pula kembali pulang, sekalipun
saat hari Raya Idul fitri. Sepintas Aku berpikir, mungkin surat yang dikirim
Mas Gempur tidak sampai ke sini berhubung rumah kami terletak di pedalaman. Aku
pun berlari sekencang-kencangnya ke rumah Ganto untuk menanyakan keterangan tentang
surat masuk ke kampungku.
“To, kalau ada orang yang
kirim surat dari kota ke rumahku sampai enggak?” tanyaku tergesa-gesa.
“Sampai kok, tapi sampainya
ke rumah Kepala Desa, enggak langsung kerumah kamu, soalnya rumah kamu sulit
untuk dijangkau orang.”
“Beranti kemungkinan surat
Mas Gempur ada di rumah Pak Kepala Desa?”
“Ya mungkin, tapi kalau
sudah sampai di rumah Kepada Desa, biasanya akan segera disampaikan ke rumah
yang dituju. Pak Kepala Desa akan mengutus orang untuk menyampaikannya.”
“Yasudah, terimakasih ya
buat infonya, To.”
Ganto mengangguk. Aku
kembali berlari dengan kencang ke rumah Kepada Desa yang juga cukup jauh
jaraknya, mungkin sekitar setengah kilometer dari rumah Ganto. Sesampai di sana
aku langsung menanyakan, tapi hasilnya nihil. Tidak ada sepucuk suratpun yang
datang dari Mas Gempur semenjak kepergiannya. Aku pun kembali pulang dengan
langkah gontai.
Hari telah berganti malam.
Kulihat Ibu dikamarnya, sudah tertidur. Tapi, kudapati air mata masih tersisa
di ujung matanya. Kutahu, Ibu habis menangis merindukan Mas Gempur. Ibu pernah
bicara padaku, “Tak mengapa Mas-mu pulang tidak membawa apa-apa,” Dengan arti
lain Mas Gempur belum sukses di sana. “Yang terpenting buat Ibu kehadiran
Mas-mu, bukan apa yang dia bawa.” Pun demikian denganku.
Ke-esokan harinya. Pak Jarwo
dari kampung sebelah datang kerumahku membawa kabar gembira, kabar tentang Mas
Gempur. Ia memberi tahu, kemarin ia dari Jakarta, pertama kalinya.
“Di sana aku melihat si
Gempur naik mobil mewah dengan pakaian dan sepatu yang mentereng. Waaahhh...
pokonya kalau kalian berdua lihat pasti pangling deh, aku saja hampir-hampir
tidak mengenalinya kalau aku enggak nanya salah satu orang yang ada di sana.”
ungkap Pak Jarwo. Seketika itu wajah Ibu berbinar-binar penuh dengan
kebahagiaan.
“Pak Jarwo bilang apa sama
Gempur?” tanya Ibu dengan semangat.
“Ya aku enggak bilang
apa-apa, orang aku cuma lihat aja dari jauh. Sementara si Gempur masuk mobil
mewahnya, dengan cepat dia tancep blass. Tapi aku bawa sesuatu buat
kalian.”
“Apa Pak?” tanya kami
berbarengan.
Pak Jarwo mengeluarkan
selembar kertas dari saku bajunya.
“Aku dapat alamat rumah
Gempur.” Pak Jarwo langsung memberi surat itu pada Ibu. Wajah Ibu semakin
berbinar-binar. Ibu menatapku sambil tersenyum, Subhanallah, kulihat
bola matanya seperti menyimpan bintang barat. Setelah Pak Jarwo pulang aku
langsung menulis surat kali pertama untuk Mas gempur atas dasar ucapan Ibu.
Tanganku bergetar, rasanya ingin segera mendapat balasan dari surat yang baru
aku tulis, tentu Ibu pun sama.
Dua minggu berlalu. Tak ada
kabar ada surat balasan dari Mas Gempur, Aku memutuskan untuk ke rumah Pak
Kepala Desa, mungkin saja sudah ada di sana –cuma belum di antar. Sesampai di
sana, hasil yang kudapatkan nihil. Selama sebulan aku empat kali ke
rumah Pak Kepala Desa untuk menanyakan surat balasan dari Mas Gempur, tapi lagi-lagi
hasilnya nihil.
“Bagaimana, Bu? Apa kita
harus kirim surat lagi ke Mas Gempur?”
“Iya, Di. Mungkin yang kita
kirim tidak sampai ke tangan Mas-mu.”
Aku pun menulis surat yang
kedua, juga berdasarkan perkataan Ibu. Tapi, kali ini aku akan pastikan ke Pak
Jarwo bahwa alamat yang ia berikan benar. Setelah yakin, aku mengirimnya lagi.
Dan, satu bulan aku tunggu tak juga ada surat balasan yang datang. Ibu mulai
sakit-sakitan, kini ketika siang aku pun harus lebih meluangkan waktuku untuk
merawat Ibu, dan malam barulah aku mengerjakan pekerjaanku setelah kupastikan
kalau Ibu benar-benar sudah tertidur.
Satu bulan berlalu. Keadaan
Ibu sudah membaik. Balasan dari surat kedua belum kunjung kuterima. Keadaan Ibu
semakin memperihatinkan. Aku kembali menulis surat yang ketiga, juga dengan
perkataan Ibu yang isinya tak jauh berbeda dengan yang kutulis disurat
sebelumnya.
Gempur.. Ibu kangen kamu, Nak..
Pulanglah Nak, tak mengapa kamu pulang tak
membawa apa-apa walau Ibu dengar kamu sudah sukses di sana. Bukan suksesmu yang
Ibu nantikan sekarang Nak... Saat ini, Ibu hanya ingin melihat kamu, Ibu hanya
ingin membelai pipi dan kepala kamu. Pulanglah Nak, Ibu kangen...
Begitulah isi
suratnya. Tapi kali ini aku menulis perkataan ku dibagian belakangnya.
Mas Gempur.. Pulanglah Mas, Ibu sekarang
sedang sakit, mungkin sakitnya karena merindukanmu. Pulanglah...
Temui Ibu Mas walau hanya beberapa hari, atau
kalau Mas benar-benar sedang sibuk, sehari juga enggak apa-apa. Aku dan Ibu
sangat merindukanmu Mas..
Dari adikmu
Kardi.
Satu bulan
berlalu, akhirnya surat balasan dari Mas Gempur datang, aku dan Ibu sangat
senang sekali. Buru-buru aku membacanya dengan suara sedikit keras agar Ibu
yang tidak bisa membaca bisa mendengar.
Kardi, Mas sedang sibuk banget.
Kamu jaga Ibu dulu, kalau pekerjaan ini Mas
tinggal, maka bisnis Mas akan hancur.
Hanya itu, ya, hanya itu balasan dari Mas
Gempur. Aku sangat kecewa dengan Mas Gempur. Tapi Ibu sangat terlihat sabar
sekali, aku tidak bisa membayangkan kalau aku jadi Ibu, mungkin sudah ku-kutuk
anak seperti Mas Gempur. Betapa tidak? Suratku yang ketiga baru ia balas, dan
balasannya sangat mengecewakan. Tapi Ibu selalu berkata sabar padaku, di saat
seperti ini aku benar-benar merasakan kasih sayang seorang Ibu tidak terbatas,
termasuk sabarnya yang tak pernah dibatasi.
Empat
tahun sudah Mas Gempur meninggalkan kami
Aku
dan Ibu masih setia menunggu Mas Gempur pulang, tapi ia tak kunjung datang.
Sementara di usia Ibu yang semakin merapuh, kesehatannyapun semakin merapuh;
Ibu mulai sakit-sakitan lagi. Ibu menyuruhku menulis surat lagi untuk Mas
Gempur, ini surat yang kelima setelah surat yang keempat sudah kukirim delapan
bulan yang lalu. Tapi hanya surat yang ketiga yang mendapat jawaban. Kali ini Ibu
ingin menulis surat sendiri, karena Ibu tidak bisa menulis, aku tuntun
tangannya dengan tanganku. Pelan-pelan aku menuntun tangan Ibu menuliskan apa
yang ia ingin sampaikan. Tangan Ibu sangat kaku, sehingga aku kesulitan
menuntun tangannya menggerakan pena, alhasil tulisan itu seperti ceker ayam.
Tapi Ibu sangat bahagia karena bisa menulis surat sendiri untuk Mas Gempur,
meski tangannya harus aku gerakan.
Gempur sayang.....
Kapan kamu pulang, Nak? Ibu ingin ketemu kamu.
Kalau bisa secepatnya pulang yah...
Hanya
itu yang Ibu tulis. Sangat simpel, tapi menyimpan rasa rindu yang teramat.
Tiga
bulan sudah kami menunggu Mas Gempur pulang, keadaan Ibu pun kian memburuk.
Malam ini adalah malam jumat, aku menuntun Ibu ke belakang rumah untuk
berwudhu, kami ingin membaca surat Yasin bersama. Ketika kami membaca surat
Yasin Ibu terbatuk keras. Aku langsung berhenti membacanya dan menghampiri Ibu,
mendekapnya. Dan, seketika itu Ibu menghembuskan napas terakhirnya. Sedih
teramat sedih kurasakan hingga air mataku terus berlinang, tapi sekuat hati aku
berusaha agar tidak kabut, tidak lepas kontrol. Aku tahu, segala sesuatu
pasti akan kembali. Aku tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata ataupun dengan
pahatan seperti yang ada di candi borobudur, meski aku belum pernah kesana.
Dua
minggu setelah pulangnya Ibu ke sisi Allah, Mas Gempur pulang, tak membawa
apa-apa. Aku diam tanpa ekspresi melihat kedatangannya, buatku kedatangannya
bukan hal yang istimewa, bukan hal yang spesial. Tak ada gunanya lagi
menurutku.
“Bagaimana
keadaan Ibu, Di?’ tanya Mas Gempur ketika sampai dihadapanku yang sedang duduk
di bangku panjang depan rumah.
“Kabar
Ibu baik.” jawabku cuek.
“Ibu
ada di dalam, kan? Aku ingin bertemu dengannya!” Mas Gempur mengernyikan
keningnya.
“Ibu
enggak ada di dalam rumah Mas.”
“Di
mana?”
“Mas
yakin ingin melihat Ibu?”
“Ya
iya, aku datang memang ingin melihat keadaan Ibu.”
“Kemarin-kemarin
Mas ke mana saja Mas?”
“Mas
minta maaf, kemarin-kemarin Mas sibuk dengan pekerjaan Mas.”
“Lantas
sekarang sudah enggak sibuk?”
Mas Gempur terdiam, menunduk. Aku menunggu
jawaban dari Mas Gempur yang masih terdiam.
“Bisnis
Mas Hancur, Mas sudah bangkrut, Di.”
Aku
tertawa terpingkal mendengar kata Mas Gempur. Kata itu sungguh lucu terdengar
di telingaku.
“Kamu
kenapa tertawa, Di?”
“Aku
senang kalau Mas bangkrut, mungkin kalau Mas enggak bangkrut, Mas enggak akan
pulang, kan? Mas enggak akan berniat buat melihat keadaan Ibu, kan? Mas terus
lupa dengan perkataan Mas yang pernah Mas ucapkan sebelum berangkat ke Jakarta,
kan? Lebih baik sekarang Mas kembali lagi saja ke Jakarta, Mas enggak ada
gunanya, Mas sekarang cuma SAMPAH....”
ungkapku penuh kekesalan, kecewa. Kepala Mas Gempur semakin tertunduk. Tak lama
ia mulai melangkahkan kaki untuk masuk kedalam, tapi aku segera mencegahnya.
“Mas
yakin ingin ketemu Ibu?”
“Ya.....”
“Tunggu
di sini, berani melangkah masuk kuhajar kau Mas.”
Aku
pun masuk ke dalam dan kembali membawa tambang dari dalam rumah dengan ujung
yang sudah kulingkarkan. Aku naik pohon lalu kuikat ujung yang satunya di dahan
pohon yang tidak terlalu tinggi di depan rumah. Selesai mengikatnya aku turun
dan bertanya lagi pada Mas Gempur.
“Mungkin
Itu adalah salah satu cara agar Mas bisa bertemu Ibu.”
“Maksudnya?”
“Mas
harus mati dulu, karena Ibu sudah kembali ke sisi-Nya.”
“Apa??????”
Ekspesi Mas Gempur langsung berubah, ia langsung masuk kedalam rumah,
mencari-cari Ibu sambil memanggilnya.
“Di
mana Ibu, Di??” Mas Gempur bertanya setelah putus asa mencarinya.
Aku
menarik kerah baju Mas Gempur dan menariknya ke belakang rumah, menunjukan
gundukan tanah yang masih terlihat baru.
“Itu
apa?” tanya Mas Gempur.
“Itu
Rumah Ibu sekarang, Ibu meninggal dua minggu yang lalu.”
Mas
Gempur mulai meneteskan air mata dan mendekap kuburan Ibu, siang malam ia hanya
menangis menyesali kesalahannya. Ketika Ibu telah kembali ke sisi Tuhan-nya ia
baru kembali pulang. Kini semuanya sudah terlambat.
[---SELESAI--- ]
Semoga
pembaca bisa memetik hikmah dari cerita ini. Silakan kalian simpulkan sendiri
kesimpulan dari cerita ini. Pesan saya, jangan sia-siakan Ibu yang telah
membesarkan kita sampai detik ini. Beri beliau kebahagiaan, dalam hal apapun,
karena kebahagiaan yang Ibu kita harapkan bukan semata-mata menyangkut materi,
bukan semata-mata kita bisa memberi beliau dengan apa yang sudah kita hasilkan.
Tapi beliau juga butuh perhatian dan kasih sayang anaknya. Selebihnya silakan
anda pikirkan sendiri....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar