Selasa, 03 Desember 2013

Cerpen ke-1 "Kisah Pemulung dan Sarjana Muda"


KISAH PEMULUNG DAN SARJANA MUDA

          Sudah dua bulan Ical selalu iri ketika melihat Romi, temannya yang juga tetangganya tiap kali ia lihat Romi pulang kuliah. Ical selalu membayangkan kalau ia bisa duduk di bangku kuliahan, namun apa daya, jangankan duduk di bangku kuliahan, merasakan mengenyam pendidikan SMP pun ia tidak pernah, ditambah ia hanya seorang pemulung yang penghasilan sehari-hari tak lebih hanya sekadar untuk makan hari ini atau besok, selalu seperti itu, belum lagi ia harus terus berjuang agar adiknya bisa terus mengenyam pendidikan sekolah SD. Ayah yang ia cintai sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu, kini hanya ia yang menjadi tulang punggung keluarga, sementara Karti seorang Ibu yang sangat dicintai Ical kesehatannya tidak stabil semenjak sepeninggalan ayahnya.
          Ical duduk di bawah rindang pohon menunggu Romi pulang kuliah dengan karung yang berisi aqua, kardus, duplex dsb. yang kata orang hanya sampah. Biasanya setiap sore jam segini Romi pulang. Ical sengaja menunggu Romi, bukan karena ada keperluan dengannya, akan tetapi hanya ingin melihat Romi pulang kuliah. Ia selalu membayangkan betapa bahagianya jika nasib ia seperti Romi, tapi takdir adalah takdir, Tuhan telah menciptakan ia dari seorang Ayah dan Ibu yang miskin, semua itu tidak bisa ia tolak dan ia mensyukuri semua itu.
          Setelah lama menunggu sambil menghayal, Romi pun pulang dengan sepeda motor yang dibelikan Ayahnya, dengan tas yang menyangkut di belakangnya. Wajahnya tampak letih sekali, seperti habis menyelesaikan setumpuk tugas yang diberikan dosen. Ical memandang Romi dengan penuh hayalan, “Andai aku bisa seperti Romi.” ucapnya pelan sambil tersenyum tipis.
          Ketika Romi ingin melangkah masuk kedalam rumahnya, ia menoleh ke arah Ical, diam memandang Ical yang juga sedang memandangnya. Ical tersenyum lebar pada Romi dari kejauhan mata yang saling pandang. Romi pun menghampiri Ical.
          “Hey, Cal! Kamu nunggu apa?” tanya Romi ketika baru duduk di samping Ical di atas Koran yang Ical gelar.
          “Ah, enggak lagi nunggu apa-apa. Kamu baru pulang kuliah, Rom?”
          “Iya, aku baru pulang.” jawab Romi dengan nada lesu.
          “Memangnya kuliah pusing banget ya, Rom? Kok muka kamu terlihat letih sekali?”
          “Iya, pusing Cal. Setiap hari dipusingkan dengan tugas-tugas, apalagi dengan tugas makalah.”
          “Wah, aku enggak ngerti Rom dengan yang namanya makalah,” Ical tersenyum lebar sebelum melanjutkan bicaranya. “Kamu kuliah berapa tahun, Rom?”
          “Empat tahun. Empat tahun aku harus bergelut dengan buku-buku yang tebal, kenapa?” kening Romi mengernyit.
          “Lama juga,” Ical mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali, diam sejenak. “Oh, ya. Kamu pasti punya buku-buku umum banyak, kan?” alis Ical terangkat.
          “Ya, lumayan, Kenapa? Kamu mau pinjam?”
          “Ya, kalau boleh aku mau pinjam, buku tentang apa aja deh, yang penting aku bisa mengisi waktuku dengan membaca buku.”
          “Boleh, tunggu sebentar, aku akan ambilkan buku yang bagus untuk kamu baca!” Romi bangun dari duduknya dan segera berjalan, memasuki rumahnya.
          Ical mengangguk sambil tersenyum dengan sangat sumringah, saat ini terasa sangat bahagia ia rasakan meski ia belum tahu buku apa yang akan Romi pinjamkan padanya.
          Sekian menit menunggu, Romi keluar dari dalam rumahnya sambil menenteng satu buku yang tidak terlalu tebal, langkahnya semakin kemari mendekat ke arah Ical dengan wajah yang masih terlihat letih.
          “Ini Cal bukunya, semoga bisa bermanfaat untuk kamu.” Romi langsung menyodorkan bukunya ketika sampai di hadapan Ical.
          “Terimakasih udah mau minjemin bukunya untukku,” Ical tersenyum ramah. “Kapan aku harus mengembalikan buku ini, Rom?”
          “Terserah kamu, setelah selesai baca semua kamu boleh langsung kembalikan!”
          “Kamu sudah membacanya?”
          “Sudah kok. Oh ya, aku istirahat dulu, ya?” Romi pamit untuk meninggalkan Ical.
          “Iya, silakan! Terima kasih untuk bukunya ya, Rom.” Ical tak henti memberi senyum untuk Romi.
          Romi pun mulai melangkahkan kaki setelah melepas senyum untuk Ical. Namun, Ical masih diam di tempat, tetap duduk sambil membaca buku yang baru saja dipinjamkan Romi. Ia sangat bersemangat membacanya, sampai mau tidur ia terus membaca, hingga terpejam dengan buku yang masih terbuka.

***
Dua tahun kemudian.
          Semenjak itu, Ical terus meminjam buku-buku Romi, termasuk buku kuliah yang sudah Romi pelajari. Ical membuka tempat belajar untuk anak-anak kecil yang juga bernasib malang seperti dirinya di lingkungan kumuh tempat ia tinggal. Ia menamakan tempat belajarnya itu Yayasan Akar Mimpi. Ia menamakan seperti itu karena ia dan anak-anak di lingkungannya diibaratkan hanya bermula dari akar yang kering di tanah yang tandus. Ia berharap, akar yang kering di tanah yang tandus itu menjadi tumbuh, besar, menghasilkan buah yang lebat untuk banyak orang. Ia terus mengajarkan anak-anak dari hal yang paling sederhana sampai dengan tingkatan ilmu yang lebih tinggi, ilmu yang ia dapatkan dari buku-buku yang dipinjamkan Romi. Tak lupa, ia selalu mengajarkan anak-anak itu tentang mimpi, mengajarkan pada mereka cara meraihnya, menanamkan semangat juang pada alam bawah sadar mereka. Setiap selesai belajar dan bersiap pulang, Ical selalu menanyakan mimpi mereka dan usaha apa yang sudah mereka lakukan untuk menggapainya.
          “Riki! Apa mimpi kamu?” tanya Ical pada salah satu anak diantara anak-anak yang berbaris rapi.
          “Riki mau jadi Pilot.” jawab Riki dengan penuh semangat.
          “Pilot mobil-mobilan apa Pilot pesawat terbang, tuh?” ledek Abud, teman yang duduk di belakangnya, semua tertawa, riuh canda anak-anak memecah suasana sunyi.
          “Kalau kamu apa, Bud?” Ical kembali mengacungkan pertanyaan pada Abud.
          “Abud mau jadi Presiden aja Bang Ical, biar bisa keliling dunia.” Abud tersenyum lebar pada Ical sebelum memberikan senyum itu pada semua teman-temannya. Teman-teman yang lain tertawa kecil mendengar mimpi yang Abud sebutkan.
          “Kamu Sadam, apa mimpi kamu?” Ical mengajukan pertanyaan pada Sadam, adik kandungnya. Kini Sadam sudah tidak sekolah di sekolah SD lagi, Ical memutuskan Sadam untuk ikut belajar di Yayasannya saja karena keuangan semakin sekarat.
          “Mimpi Sadam ingin menjadi pengusaha, Bang.”
          “Kenapa kamu mau jadi pengusaha?”
          “Karena dengan jadi pengusaha, Sadam akan banyak uang, bisa bangun rumah sakit, masjid, mmmm...” Ia berpikir sejenak sambil melirik ke atas. “Pokoknya banyak deh, Bang. Semua itu bakal Sadam gratisin buat orang-orang kaya kita.
          Ical tersenyum lebar mendengar jawaban Sadam, tujuan hidup yang sangat luar biasa. ia mengusap-usap kepala Sadam sebelum kembali melangkah.
          Ical berjalan di samping mereka yang membentuk beberapa baris. Ia berhenti disalah satu anak perempuan. “Dan, kalau kamu Rika?”
          “Kalau Rika mau jadi artis Bang.”
          “Kenapa kamu mau jadi artis?”
          “Kalau artis enak Bang, setiap hari bisa masuk TV.”
          “Eh, Rika! Kalau kamu mau masuk TV enggak muat, orang badan kamu aja segede gitu.” ledek teman yang lain. Semua tertawa lagi, termasuk Ical yang tidak bisa menahan tawanya, ia sering kali tersenyum melihat canda mereka. Rika pun tersenyum, wajahnya bersemu merah. Ia menanyakan semua anak-anak yang ada di hadapannya tentang apa mimpi mereka. Ia berharap Tuhan mendengar mimpi-mimpi yang mereka ucapkan, hingga kelak dewasa nanti, mereka bisa menjadi orang yang berguna dan turut membangun kemajuan negeri ini.
          “Lha, kalau Abang sendiri mimpinya apa?” tanya seorang anak yang duduk di ujung belakang sebelah kanan.
          “Kalau mimpi Abang, ingin menjadikan akar-akar di tanah yang tandus menjadi hidup, besar dan menghasilkan banyak buah untuk dipetik orang banyak.”
          “Maksudnya?” kening anak itu mengkerut, tidak mengerti dengan apa yang Ical katakan. Semua anak diam, mengarahkan pandangannya ke arah Ical yang bolak-balik berjalan di depan, di hadapan mereka.
          “Maksudnya, Abang ingin menjadikan kalian menjadi orang-orang yang luar biasa, Abang ingin menjadikan kalian orang-orang hebat, Abang ingin menjadikan kalian sebagai orang-orang yang bisa memberi manfaat untuk orang lain, menjadi orang-orang yang berguna bagi agama, bangsa dan semua orang di mana pun kalian berada.
          Semua anak diam, tidak bicara satu patah kata pun.
          Setiap menjual barang rongsokan yang berhasil ia kumpulkan, ia selalu menyisakan sekecil apapun untuk keperluan belajar-mengajar di Yayasan yang ia dirikan, Yayasan yang belum memiliki ijin dan tidak tercatat di Dinas Pendidikan, dan nama Yayasannya pun hanya tertulis di sebuah papan dengan cat yang ia dapat sisa orang mengecat jendela rumahnya.

***

Empat tahun kemudian.
          Romi wisuda, Ical turut bahagia melihat Romi memakai seragam dan toga wisudanya. Dari jauh, Ical tersenyum pada Romi yang berdiri di atas panggung, bersiap untuk foto bersama teman-temannya. Di bangku paling depan, Ibu dan ayahnya Romi tampak bangga melihat anaknya menjadi sarjana muda, senyum sumringah tidak pernah henti mereka berikan untuk Romi.
         Usai acara. Ical, Romi dan kedua orangtuanya pulang. Kedua Orangtua Romi sudah menyiapkan segalanya di rumah, mereka sudah menyiapkan makanan untuk para tetangga, mereka akan menggelar syukuran atas wisudanya Romi, menandakan rasa Syukur mereka kepada Allah Swt. Atas keberhasilan Romi menyelesaikan Strada satunya.
          Sesampai di rumah Romi, para tetangga memberikan ucapan selamat pada Romi dan kedua orangtuanya, mereka langsung menggelar syukuran. Setelah syukuran di gelar, ibunya Romi  menciumi anaknya, sungguh itu membuat Ical sangat iri ketika melihatnya, ia membayangkan kalau itu semua terjadi padanya, hayalan itu berseliweran di atas kepalanya.
          “Rom, selanjutnya kamu mau ngapain setelah wisuda ini?” tanya Ical.
          “Aku mau kerja, Cal. Sekolah Tinggiku menyalurkan sembilan puluh persen lulusannya langsung bekerja, lumayan aku tidak capek-capek harus mencari pekerjaan.” Romi tersenyum bangga bisa langsung mendapat pekerjaan tanpa ada kata ‘menganggur’.
          “Semuanya itu bekerja di mana, Rom?”
          “Ya, di mana aja. Dulu, aku melihat brosur di Sekolah Tinggiku kalau lulusannya sembilan puluh persen akan langsung disalurkan kerja, makanya aku tertarik kuliah di tempat itu, ternyata brosur itu benar, aku bangga sekali bisa kuliah di situ.”
          “Wah... Selamat ya, Rom.” Ical tersenyum. “Semoga kamu kerja di bagian yang enak deh.”
          “Seminggu lagi aku akan pergi ke Surabaya, aku akan tinggal di sana, soalnya aku di tempatkan di perusahaan yang ada di Surabaya.”
          “Jauh sekali Rom di tempatinnya, emangnya enggak bisa milih yang dekat?”
          “Enggak bisa, Cal. Jaringan sekolah tinggiku luas, makanya aku bisa sampai di tempatkan di Surabaya.
          “Yasudah, kudoakan semoga kamu sukses di sana.”
          “Aamiin...”
          Percakapan mereka selesai sampai di situ. Seminggu kemudian, seperti yang sudah Romi katakan sebelumnya, ia telah berangkat ke Surabaya. Sedangkan Ical masih serius mengajarkan anak-anak di Yayasannya, setelah empat tahun berjalan Yayasannya semakin membaik, bukan hanya anak-anak di sekitar tempatnya tinggal yang kumuh yang mau belajar, tapi juga dari tempat yang lain, yang juga tidak bisa melanjutkan pendidikan yang layak, ia terus tanamkan mimpi pada mereka di alam bawah sadarnya, memberikan semangat dan memberi mereka pelajaran tentang hidup ini.

***
Lima belas tahun kemudian.
          Yayasan Akar Mimpi kini telah berubah menjadi besar, perkembangannya sangat pesat ketika Yayasannya di lirik oleh seorang dari Dinas Pendidikan, kini tempat anak-anak belajar bukan lagi di tanah lapang yang setiap kali hujan mereka harus meneduh, kini anak-anak belajar di ruangan yang nyaman. Yayasan yang Ical dirikan sudah menjadi Yayasan yang memiliki gedung besar dan bagus. Yang ia terapkan dalam sistem pendidikan di Yayasannya masih sama, yaitu: Mengajarkan mereka tentang mimpi dan cara meraihnya. Ical selalu menambah tingkatan jenjang pendidikan setiap dua tahun sekali, mulai dari SD, SMP, SMA hingga sampai di tahun ini ia bisa mendirikan sebuah Sekolah Tinggi dan ia juga menjanjikan lulusannya akan menjadi Entrepreneur, Seniman, Peneliti dsb. Bukan hanya menjadi pekerja thok. Semuanya bertajuk pembentukan karakter bangsa. Ia menciptakan pemuda-pemuda yang berani bermimpi, berani menantang masa depan dan mau menjadikan citra Indonesia harum di kanca dunia.
          Lama Ical tidak mendengar kabar Romi, hingga sampai saat ini ia belum melihat wajah Romi lagi, kabarnya ia sudah menikah di sana. Ibu dan Ayahnya pun ikut bersamanya tinggal di Surabaya. Ical rindu dengan Romi yang dulu selalu meminjamkan buku padanya. “Bagaimana kabar kamu di sana, Rom? Sekarang, Yayasanku sudah menjadi besar, aku banyak belajar dari para raksasa sehingga Yayasanku bisa seperti saat ini. Aku menemukan teori BIG JUMP, sebuah teori sederhana yang menjadikan aku seperti ini, jika nanti kamu kembali, akan kuceritakan semuanya, akan kuberitahukan padamu teori yang kugunakan. Sekarang kamu sudah menjadi apa, Rom?” Ical membatin, dalam lamunannya di bawah rindang pohon saat kali pertama Romi meminjamkan buku padanya. Matanya menatap ke depan kosong, kadang nanar tak tentu arah. Rumah yang dulu menjadi tempat tinggal Romi kini di tempati oleh orang lain, keluarganya telah menjualnya.
          “Bang Ical ngapain di sini?” suara Sadam memecah lamunan Ical yang sudah tumbuh menjadi besar, ia pun sudah memiliki usaha. Mimpinya perlahan sudah dapat ia raih, begitu juga dengan teman-teman seperjuangannya dahulu, mereka sudah meraih mimpinya di usia yang muda, ada pula yang masih meraihnya, ada yang menjadi guru dan ada juga yang mengikuti jejak Ical, menebar mimpi pada anak-anak dan mengajarkan mereka cara meraihnya.
          “Eh, kamu, Dam. Sedang apa kamu di sini?”
          “Lho, kok Abang malah balik tanya ke Sadam? Kan, tadi Sadam yang tanya ke Abang.”
          Ical tertawa pelan. “Abang lagi kangen dengan Abangmu juga, Romi.”
          Sadam diam, ia sudah tahu cerita antara abangnya dan Romi, tapi Sadam tidak ingin membahasnya saat ini, ia biarkan rasa rindu itu menyelimuti hati abangnya, tapi ia yakin kalau suatu saat nanti abangnya bisa berjumpa lagi dengan Romi, yang telah berjasa meminjamkan buku pada abangnya.
          Mereka pulang bersama. Sesampai di depan rumah, Ibu bersama Istri dan tiga anak Ical yang masih kecil-kecil tercinta sudah menunggu di teras rumah, senyum mereka berseri-seri menyambut Ical dan Sadam, senyum bangga terus terukir dari bibir wanita yang memiliki kulit sudah keriput dan rambut yang sudah mulai dihiasi dengan uban. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya kalau anak-anaknya bisa seperti saat ini, padahal ia tidak menyekolahkannya seperti anak-anak lain pada umumnya yang memiliki ekonomi cukup.
          “Makan dulu yuk, Nak! Tadi Ibu sama Istrimu sudah masak masakan yang spesial untuk kamu dan Sadam.” kata Karti, Ibu dari dua anak itu setelah mereka mencium punggung tangannya.
          “Iya Mas Ical, tadi aku dan Ibu sudah masak masakan yang spesial untuk kalian berdua, suamiku dan adik iparku.” Siska tersenyum lebar, setelah mencium punggung tangan Ical.
          Mereka duduk membentuk lingkaran kecil mengikuti bentuk meja makan yang ada di hadapan mereka, dengan nasi dan lauk yang dimasak Ibu dan Istri Ical, mereka makan dengan lahap. Mereka juga kalau masak selalu lebih, untuk orang-orang di sekitar mereka, karena Ical dan keluarganya dulu tahu bagaimana rasanya kelaparan saat menjadi pemulung.

***
Kembalinya Romi.
          Satu bulan berlalu. Ical duduk di bawah pohon rindang itu lagi sambil membaca kembali buku Romi yang terakhir ia pinjam sebelum kepergiannya. Suasana terasa sejuk setiap kali ia meneduh atau sekadar beristirahat. Sepoy angin menyentuh kulit Ical dengan halus, memberinya kesegaran.
          “Ical..?!” suara itu terdengar tepat di hadapannya, membuat Ical mengangkat kepala, melihat ke depan, ke arah sumber suara itu.
          “Romi??? Kamu benar Romi, kan?” Ical segera bangun, memegang kedua bahu Romi.
          “Iya, aku Romi. Sudah lama aku tidak melihatmu, kamu sudah banyak berubah.” Romi terus melihat penampilan Ical. “Pakaianmu? Pakaianmu sudah enggak kaya dulu lagi, bekerja apa kamu sekarang, Cal?
          Ical pun menceritakan semua pada Romi tentang semua perjalanannya hingga sampai saat ini ia bisa menjadi Presiden Direktur Yayasan Akar Mimpi. Sebaliknya, Romi pun menceritakan kehidupan yang ia jalani selama di Surabaya. Di sana ia telah berhenti dari pekerjaannya karena jasanya sudah tidak dibutuhkan lagi. Sekarang niatnya ia akan mencari pekerjaan di sini. Ical mengajak Romi ke Yayasan Akar Mimpi. Ketika baru sampai, Romi tercengang melihat halaman yang begitu luas beserta gedung-gedung yang besar. Ia tidak menyangka Ical yang ia kenal dulu sebagai pemulung bisa melakukan ini, perkembangan yang sangat signifikan dengan waktu kurang dari dua puluh tahun Ical bisa melakukan ini.
          “Kamu sudah ceritakan semua padaku, kamu membutuhkan pekerjaan seperti apa, Rom?
          “Apa aja, yang penting aku bisa menafkahi keluargaku.” jawab Romi masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
          “Kalau kamu butuh pekerjaan, aku bisa memberimu pekerjaan sebagai guru, kalau kamu bisa belajar adaptasi dengan cepat, aku pun bisa dengan cepat menempatkanmu menjadi kepala sekolah di Yayasan Akar Mimpiku. Aku juga akan memberimu tempat tinggal di sini, kamu bisa bawa keluargamu tinggal di sini lagi.
          “Apa kamu serius, Cal?” kening Romi mengernyit.
          “Ya, aku serius. Aku akan sediakan rumah untukmu tinggal di sini.” jawab Ical sebelum melepas senyum.
          “Terima kasih sobat....” Romi memeluk erat Ical, matanya mulai berkaca-kaca, haru.
          “Yuk, kita duduk di sana!” Ical menunjuk bangku yang tersedia di bawah pohon beringin, diikuti anggukan Romi.
          “Aku pernah berucap sendiri kalau kamu kembali ke sini, aku akan memberi tahumu tentang teori yang kupakai, sebuah teori sederhana.”
          “Teori apa?” tanya Romi penuh heran.
          “Aku menyebutnya teori Big Jump.”
          “Big Jump? Loncatan Besar?”
          “Ya, Big Jump. Begini, jika kita ingin mencapai angka sepuluh, kita tidak harus melalui angka satu, dua, tiga, empat dst. Sampai ke angka sepuluh.
          “Lho, kan memang seperti itu! Terus bagaimana?”
          Ical mengambil secarik kertas dan pena dari saku celananya yang selalu ia kantongi kemana pun ia melangkah. Ia menulis angka-angka dari satu sampai sepuluh.

TIDAK HARUS
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
TAPI....
1, 2, 3 + 7 = 10 BIG JUMP
         
          Romi hanya bisa terdiam, mendengarkan apa yang Ical jelaskan padanya.
        “Dan, yang aku amati, kamu punya satu kesalahan besar.” ucapan Ical membuat Romi tersentak. Romi menunggu ucapan Ical selanjutnya.
          “Kamu salah niat ketika kamu kuliah dulu, kamu kuliah bertujuan hanya untuk menjadi pekerja, kan?” kening Ical mengkerut.
          Romi tidak menjawab, terdiam. Ia baru menyadari kesalahan terbesar dalam hidupnya, yaitu: hanya ingin menjadi pekerja. Dan, itu benar-benar terjadi, ia hanya menjadi pekerja thok, tidak lebih dari itu. Sementara Ical yang hanya bermula sebagai pemulung, kini bisa memberikannya pekerjaan padanya, bahkan tempat tinggal.
          “Ini ada ongkos, dan ini kartu namaku!” Ical memberi sejumlah uang dan kartu namanya untuk Romi. “Jemput keluargamu ke sini lagi, kita berkumpul. Kabari aku kalau kamu sudah sampai di Surabaya.” Romi menerima uang dan kartu nama yang diberikan Ical, ia membaca kartu nama itu.
          “Ical S.Ps? gelar apa ini, Cal? Setahuku enggak ada gelar seperti ini!” tanya Romi, heran.
          “Itu gelar yang kubuat sendiri, singkatan dari Sarjana Pemungut Sampah alias Pemulung.”

*Selesai*
   Pembaca sekalian, lewat cerpen ini saya berbagi cerita dalam menentukan tujuan hidup. Banyak anak-anak yang sekolah hanya bertujuan untuk dapat pekerjaan saja, parahnya lagi para mahasiswa di negeri ini melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi hanya untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi. Yang menjadi pertanyaan saya, kemana mimpi-mimpi yang pernah mereka ucapkan saat masih TK dan SD? Kenapa setelah lulus dari SMK/sederajat atau setelah menjadi Sarjana mereka hanya ingin menjadi pekerja saja? Kenapa mereka tidak lagi berani bermimpi?
Bayangkan kalau pribumi negeri ini hanya menjadi pekerja dan orang asing menjadi bosnya, dan sekarang pun sebagian besar sudah seperti itu. Di mana harkat martabat bangsa ini???

Kalau pembaca ingin mengkritik coretan ini, silakan. saya akan senang sekali kalau pembaca memberi kritik kepada saya.
Mari kita saling menghargai pendapat sesama, mari kita bersama majukan negeri ini. Salam SUKSES, salam BIG DREAMER.      

Tidak ada komentar: