KISAH PEMULUNG DAN SARJANA MUDA
Sudah
dua bulan Ical selalu iri ketika melihat Romi, temannya
yang juga tetangganya tiap kali ia lihat Romi pulang kuliah. Ical selalu membayangkan kalau ia bisa duduk
di bangku kuliahan, namun apa daya, jangankan duduk di bangku kuliahan, merasakan
mengenyam pendidikan SMP pun ia tidak pernah, ditambah ia hanya seorang
pemulung yang penghasilan sehari-hari tak lebih hanya sekadar untuk makan hari
ini atau besok, selalu seperti itu, belum lagi ia harus terus berjuang agar
adiknya bisa terus mengenyam pendidikan sekolah SD. Ayah yang ia cintai sudah
meninggal dunia dua tahun yang lalu, kini hanya ia yang menjadi tulang punggung
keluarga, sementara Karti seorang Ibu yang sangat dicintai Ical kesehatannya
tidak stabil semenjak sepeninggalan ayahnya.
Ical duduk di bawah rindang pohon
menunggu Romi pulang kuliah dengan karung yang berisi aqua, kardus, duplex dsb.
yang kata orang hanya sampah. Biasanya setiap sore jam segini Romi
pulang. Ical sengaja menunggu Romi, bukan karena ada keperluan dengannya, akan
tetapi hanya ingin melihat Romi pulang kuliah. Ia selalu membayangkan betapa
bahagianya jika nasib ia seperti Romi, tapi takdir adalah takdir, Tuhan telah
menciptakan ia dari seorang Ayah dan Ibu yang miskin, semua itu tidak bisa ia
tolak dan ia mensyukuri semua itu.
Setelah lama menunggu sambil
menghayal, Romi pun pulang dengan sepeda motor yang dibelikan Ayahnya, dengan
tas yang menyangkut di belakangnya. Wajahnya tampak letih sekali, seperti habis
menyelesaikan setumpuk tugas yang diberikan dosen. Ical memandang Romi dengan
penuh hayalan, “Andai aku bisa seperti Romi.” ucapnya pelan sambil
tersenyum tipis.
Ketika Romi ingin melangkah masuk
kedalam rumahnya, ia menoleh ke arah Ical, diam memandang Ical yang juga sedang
memandangnya. Ical tersenyum lebar pada Romi dari kejauhan mata yang saling
pandang. Romi pun menghampiri Ical.
“Hey, Cal! Kamu nunggu apa?” tanya
Romi ketika baru duduk di samping Ical di
atas Koran yang Ical gelar.
“Ah, enggak lagi nunggu apa-apa. Kamu
baru pulang kuliah,
Rom?”
“Iya, aku baru pulang.” jawab Romi
dengan nada lesu.
“Memangnya kuliah pusing banget ya,
Rom? Kok muka kamu terlihat letih sekali?”
“Iya, pusing Cal. Setiap hari
dipusingkan dengan tugas-tugas, apalagi dengan tugas makalah.”
“Wah, aku enggak ngerti Rom dengan
yang namanya makalah,” Ical tersenyum lebar sebelum melanjutkan bicaranya. “Kamu
kuliah berapa tahun, Rom?”
“Empat tahun. Empat tahun aku harus
bergelut dengan buku-buku yang tebal, kenapa?” kening Romi mengernyit.
“Lama juga,” Ical mengangguk-anggukan
kepalanya beberapa kali, diam sejenak. “Oh, ya. Kamu pasti punya buku-buku umum
banyak, kan?” alis Ical terangkat.
“Ya, lumayan, Kenapa? Kamu mau
pinjam?”
“Ya, kalau boleh aku mau pinjam, buku
tentang apa aja deh, yang penting aku bisa mengisi waktuku dengan membaca
buku.”
“Boleh, tunggu sebentar, aku akan
ambilkan buku yang bagus untuk kamu baca!” Romi bangun dari duduknya dan segera
berjalan, memasuki rumahnya.
Ical mengangguk sambil tersenyum
dengan sangat sumringah, saat ini terasa sangat bahagia ia rasakan meski ia
belum tahu buku apa yang akan Romi pinjamkan padanya.
Sekian menit menunggu, Romi keluar
dari dalam rumahnya sambil menenteng satu buku yang tidak terlalu tebal,
langkahnya semakin kemari mendekat ke arah Ical dengan wajah yang masih terlihat letih.
“Ini
Cal bukunya, semoga bisa bermanfaat untuk kamu.” Romi langsung menyodorkan
bukunya ketika sampai di hadapan Ical.
“Terimakasih
udah mau minjemin bukunya untukku,” Ical tersenyum ramah. “Kapan aku harus
mengembalikan buku ini, Rom?”
“Terserah
kamu, setelah selesai baca semua kamu boleh langsung kembalikan!”
“Kamu
sudah membacanya?”
“Sudah
kok. Oh ya, aku istirahat dulu, ya?” Romi pamit untuk meninggalkan Ical.
“Iya,
silakan! Terima kasih untuk bukunya ya, Rom.” Ical tak henti memberi senyum
untuk Romi.
Romi
pun mulai melangkahkan kaki setelah melepas senyum untuk Ical. Namun, Ical
masih diam di tempat, tetap duduk sambil membaca buku yang baru saja
dipinjamkan Romi. Ia sangat bersemangat membacanya, sampai mau tidur ia terus
membaca, hingga terpejam dengan buku yang masih terbuka.
***
Dua tahun kemudian.
Semenjak
itu, Ical terus meminjam buku-buku Romi, termasuk buku kuliah yang sudah Romi
pelajari. Ical membuka tempat belajar untuk anak-anak kecil yang juga bernasib
malang seperti dirinya di lingkungan kumuh tempat ia tinggal. Ia menamakan
tempat belajarnya itu Yayasan Akar Mimpi. Ia menamakan seperti itu
karena ia dan anak-anak di lingkungannya diibaratkan hanya bermula dari akar
yang kering di tanah yang tandus. Ia berharap, akar yang kering di tanah yang
tandus itu menjadi tumbuh, besar, menghasilkan buah yang lebat untuk banyak
orang. Ia terus mengajarkan anak-anak dari hal yang paling sederhana sampai
dengan tingkatan ilmu yang lebih tinggi, ilmu yang ia dapatkan dari buku-buku
yang dipinjamkan Romi. Tak lupa, ia selalu mengajarkan anak-anak itu tentang
mimpi, mengajarkan pada mereka cara meraihnya, menanamkan semangat juang pada
alam bawah sadar mereka. Setiap selesai belajar dan bersiap pulang, Ical selalu
menanyakan mimpi mereka dan usaha apa yang sudah mereka lakukan untuk
menggapainya.
“Riki!
Apa mimpi kamu?” tanya Ical pada salah satu anak diantara anak-anak yang berbaris
rapi.
“Riki
mau jadi Pilot.” jawab Riki dengan penuh semangat.
“Pilot
mobil-mobilan apa Pilot pesawat terbang, tuh?” ledek Abud, teman yang duduk di
belakangnya, semua tertawa, riuh canda anak-anak memecah suasana sunyi.
“Kalau
kamu apa, Bud?” Ical kembali mengacungkan pertanyaan pada Abud.
“Abud
mau jadi Presiden aja Bang Ical, biar bisa keliling dunia.” Abud tersenyum
lebar pada Ical sebelum memberikan senyum itu pada semua teman-temannya.
Teman-teman yang lain tertawa kecil mendengar mimpi yang Abud sebutkan.
“Kamu
Sadam, apa mimpi kamu?” Ical mengajukan pertanyaan pada Sadam, adik kandungnya. Kini Sadam
sudah tidak sekolah di sekolah SD lagi, Ical memutuskan Sadam untuk ikut
belajar di Yayasannya saja karena keuangan semakin sekarat.
“Mimpi
Sadam ingin menjadi pengusaha, Bang.”
“Kenapa
kamu mau jadi pengusaha?”
“Karena
dengan jadi pengusaha, Sadam akan banyak uang, bisa bangun rumah sakit, masjid,
mmmm...” Ia berpikir sejenak sambil melirik ke atas. “Pokoknya banyak deh, Bang.
Semua itu bakal Sadam gratisin buat orang-orang kaya kita.
Ical
tersenyum lebar mendengar jawaban Sadam, tujuan hidup yang sangat luar biasa.
ia mengusap-usap kepala Sadam sebelum kembali melangkah.
Ical
berjalan di samping mereka yang membentuk beberapa baris. Ia berhenti disalah
satu anak perempuan. “Dan, kalau kamu Rika?”
“Kalau
Rika mau jadi artis Bang.”
“Kenapa
kamu mau jadi artis?”
“Kalau
artis enak Bang, setiap hari bisa masuk TV.”
“Eh,
Rika! Kalau kamu mau masuk TV enggak muat, orang badan kamu aja segede gitu.” ledek
teman yang lain. Semua tertawa lagi, termasuk Ical yang tidak bisa menahan tawanya, ia sering kali tersenyum
melihat canda mereka. Rika pun tersenyum, wajahnya bersemu merah. Ia menanyakan
semua anak-anak yang ada di hadapannya tentang apa mimpi mereka. Ia berharap
Tuhan mendengar mimpi-mimpi yang mereka ucapkan, hingga kelak dewasa nanti,
mereka bisa menjadi orang yang berguna dan turut membangun kemajuan negeri ini.
“Lha,
kalau Abang sendiri mimpinya apa?” tanya seorang anak yang duduk di ujung
belakang sebelah kanan.
“Kalau
mimpi Abang, ingin menjadikan akar-akar di tanah yang tandus menjadi hidup,
besar dan menghasilkan banyak buah untuk dipetik orang banyak.”
“Maksudnya?”
kening anak itu mengkerut, tidak mengerti dengan apa yang Ical katakan. Semua
anak diam, mengarahkan pandangannya ke arah Ical yang bolak-balik berjalan di
depan, di hadapan mereka.
“Maksudnya,
Abang ingin menjadikan kalian menjadi orang-orang yang luar biasa, Abang ingin
menjadikan kalian orang-orang hebat, Abang ingin menjadikan kalian sebagai
orang-orang yang bisa memberi manfaat untuk orang lain, menjadi orang-orang
yang berguna bagi agama, bangsa dan semua orang di mana pun kalian berada.
Semua
anak diam, tidak bicara satu patah kata pun.
Setiap
menjual barang rongsokan yang berhasil ia kumpulkan, ia selalu menyisakan
sekecil apapun untuk keperluan belajar-mengajar di Yayasan yang ia dirikan,
Yayasan yang belum memiliki ijin dan tidak tercatat di Dinas Pendidikan, dan
nama Yayasannya pun hanya tertulis di sebuah papan dengan cat yang ia dapat
sisa orang mengecat jendela rumahnya.
***
Empat tahun kemudian.
Romi
wisuda, Ical turut bahagia melihat Romi memakai seragam dan toga wisudanya.
Dari jauh, Ical tersenyum pada Romi yang berdiri di atas panggung, bersiap
untuk foto bersama teman-temannya. Di bangku paling depan, Ibu dan ayahnya Romi
tampak bangga melihat anaknya menjadi sarjana muda, senyum sumringah tidak pernah
henti mereka berikan untuk Romi.
Usai acara. Ical, Romi dan kedua orangtuanya pulang. Kedua Orangtua Romi sudah menyiapkan segalanya di rumah, mereka sudah menyiapkan makanan untuk para tetangga, mereka akan menggelar syukuran atas wisudanya Romi, menandakan rasa Syukur mereka kepada Allah Swt. Atas keberhasilan Romi menyelesaikan Strada satunya.
Usai acara. Ical, Romi dan kedua orangtuanya pulang. Kedua Orangtua Romi sudah menyiapkan segalanya di rumah, mereka sudah menyiapkan makanan untuk para tetangga, mereka akan menggelar syukuran atas wisudanya Romi, menandakan rasa Syukur mereka kepada Allah Swt. Atas keberhasilan Romi menyelesaikan Strada satunya.
Sesampai
di rumah Romi, para tetangga memberikan ucapan selamat pada Romi dan kedua
orangtuanya, mereka langsung menggelar syukuran. Setelah syukuran di gelar,
ibunya Romi menciumi anaknya, sungguh
itu membuat Ical sangat iri ketika melihatnya, ia membayangkan kalau itu semua
terjadi padanya, hayalan itu berseliweran di atas kepalanya.
“Rom,
selanjutnya kamu mau ngapain setelah wisuda ini?” tanya Ical.
“Aku
mau kerja, Cal. Sekolah Tinggiku menyalurkan sembilan puluh persen lulusannya
langsung bekerja, lumayan aku tidak capek-capek harus mencari pekerjaan.” Romi
tersenyum bangga bisa langsung mendapat pekerjaan tanpa ada kata ‘menganggur’.
“Semuanya
itu bekerja di mana, Rom?”
“Ya,
di mana aja. Dulu, aku melihat brosur di Sekolah Tinggiku kalau lulusannya
sembilan puluh persen akan langsung disalurkan kerja, makanya aku tertarik
kuliah di tempat itu, ternyata brosur itu benar, aku bangga sekali bisa kuliah
di situ.”
“Wah...
Selamat ya, Rom.” Ical tersenyum. “Semoga kamu kerja di bagian yang enak deh.”
“Seminggu
lagi aku akan pergi ke Surabaya, aku akan tinggal di sana, soalnya aku di
tempatkan di perusahaan yang ada di Surabaya.”
“Jauh
sekali Rom di tempatinnya, emangnya enggak bisa milih yang dekat?”
“Enggak
bisa, Cal. Jaringan sekolah tinggiku luas, makanya aku bisa sampai di tempatkan
di Surabaya.
“Yasudah,
kudoakan semoga kamu sukses di sana.”
“Aamiin...”
Percakapan
mereka selesai sampai di situ. Seminggu kemudian, seperti yang sudah Romi
katakan sebelumnya, ia telah berangkat ke Surabaya. Sedangkan Ical masih serius
mengajarkan anak-anak di Yayasannya, setelah empat tahun berjalan Yayasannya
semakin membaik, bukan hanya anak-anak di sekitar tempatnya tinggal yang kumuh
yang mau belajar, tapi juga dari tempat yang lain, yang juga tidak bisa
melanjutkan pendidikan yang layak, ia terus tanamkan mimpi pada mereka di alam
bawah sadarnya, memberikan semangat dan memberi mereka pelajaran tentang hidup
ini.
***
Lima belas tahun kemudian.
Yayasan
Akar Mimpi kini telah berubah menjadi besar, perkembangannya sangat pesat
ketika Yayasannya di lirik oleh seorang dari Dinas Pendidikan, kini tempat
anak-anak belajar bukan lagi di tanah lapang yang setiap kali hujan mereka
harus meneduh, kini anak-anak belajar di ruangan yang nyaman. Yayasan yang Ical
dirikan sudah menjadi Yayasan yang memiliki gedung besar dan bagus. Yang ia
terapkan dalam sistem pendidikan di Yayasannya masih sama, yaitu: Mengajarkan
mereka tentang mimpi dan cara meraihnya. Ical selalu menambah tingkatan jenjang
pendidikan setiap dua tahun sekali, mulai dari SD, SMP, SMA hingga sampai di
tahun ini ia bisa mendirikan sebuah Sekolah Tinggi dan ia juga menjanjikan
lulusannya akan menjadi Entrepreneur, Seniman, Peneliti dsb. Bukan hanya menjadi pekerja thok. Semuanya bertajuk
pembentukan karakter bangsa. Ia menciptakan
pemuda-pemuda yang berani bermimpi, berani menantang masa depan dan mau
menjadikan citra Indonesia harum di kanca dunia.
Lama
Ical tidak mendengar kabar Romi, hingga sampai saat ini ia belum melihat wajah
Romi lagi, kabarnya ia sudah menikah di sana. Ibu dan Ayahnya pun ikut
bersamanya tinggal di Surabaya. Ical rindu dengan Romi yang dulu selalu
meminjamkan buku padanya. “Bagaimana kabar kamu di sana, Rom? Sekarang,
Yayasanku sudah menjadi besar, aku banyak belajar dari para raksasa sehingga
Yayasanku bisa seperti saat ini. Aku menemukan teori BIG JUMP, sebuah teori
sederhana yang menjadikan aku seperti ini, jika nanti kamu kembali, akan
kuceritakan semuanya, akan kuberitahukan padamu teori yang kugunakan. Sekarang
kamu sudah menjadi apa, Rom?” Ical membatin, dalam lamunannya di bawah
rindang pohon saat kali pertama Romi meminjamkan buku padanya. Matanya menatap
ke depan kosong, kadang nanar tak tentu arah. Rumah yang dulu menjadi tempat
tinggal Romi kini di tempati oleh orang lain, keluarganya telah menjualnya.
“Bang
Ical ngapain di sini?” suara Sadam memecah lamunan Ical yang sudah tumbuh
menjadi besar, ia pun sudah memiliki usaha. Mimpinya perlahan sudah dapat ia
raih, begitu juga dengan teman-teman seperjuangannya dahulu, mereka sudah
meraih mimpinya di usia yang muda, ada pula yang masih meraihnya, ada yang
menjadi guru dan ada juga yang mengikuti jejak Ical, menebar mimpi pada
anak-anak dan mengajarkan mereka cara meraihnya.
“Eh,
kamu, Dam. Sedang apa kamu di sini?”
“Lho,
kok Abang malah balik tanya ke Sadam? Kan, tadi Sadam yang tanya ke Abang.”
Ical
tertawa pelan. “Abang lagi kangen dengan Abangmu juga, Romi.”
Sadam
diam, ia sudah tahu cerita antara abangnya dan Romi, tapi Sadam tidak ingin
membahasnya saat ini, ia biarkan rasa rindu itu menyelimuti hati abangnya, tapi
ia yakin kalau suatu saat nanti abangnya bisa berjumpa lagi dengan Romi, yang
telah berjasa meminjamkan buku pada abangnya.
Mereka
pulang bersama. Sesampai di depan rumah, Ibu bersama Istri dan tiga anak Ical
yang masih kecil-kecil tercinta sudah menunggu di teras rumah, senyum mereka
berseri-seri menyambut Ical dan Sadam, senyum bangga terus terukir dari bibir
wanita yang memiliki kulit sudah keriput dan rambut yang sudah mulai dihiasi
dengan uban. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya kalau anak-anaknya bisa
seperti saat ini, padahal ia tidak menyekolahkannya seperti anak-anak lain pada
umumnya yang memiliki ekonomi cukup.
“Makan
dulu yuk, Nak! Tadi Ibu sama Istrimu sudah masak masakan yang spesial untuk
kamu dan Sadam.” kata Karti, Ibu dari dua anak itu setelah mereka mencium
punggung tangannya.
“Iya
Mas Ical, tadi aku dan Ibu sudah masak masakan yang spesial untuk kalian
berdua, suamiku dan adik iparku.” Siska tersenyum lebar, setelah mencium
punggung tangan Ical.
Mereka
duduk membentuk lingkaran kecil mengikuti bentuk meja makan yang ada di hadapan
mereka, dengan nasi dan lauk yang dimasak Ibu dan Istri Ical, mereka makan
dengan lahap. Mereka juga kalau masak selalu lebih, untuk orang-orang di
sekitar mereka, karena Ical dan keluarganya dulu tahu bagaimana rasanya
kelaparan saat menjadi pemulung.
***
Kembalinya Romi.
Satu
bulan berlalu. Ical duduk di bawah pohon rindang itu lagi sambil membaca
kembali buku Romi yang terakhir ia pinjam sebelum kepergiannya. Suasana terasa
sejuk setiap kali ia meneduh atau sekadar beristirahat. Sepoy angin menyentuh
kulit Ical dengan halus, memberinya kesegaran.
“Ical..?!” suara itu terdengar tepat di hadapannya, membuat Ical mengangkat kepala,
melihat ke depan, ke arah sumber suara itu.
“Romi???
Kamu benar Romi, kan?” Ical segera bangun, memegang kedua bahu Romi.
“Iya,
aku Romi. Sudah lama aku tidak melihatmu, kamu sudah banyak berubah.” Romi terus
melihat penampilan Ical. “Pakaianmu? Pakaianmu sudah enggak kaya dulu lagi,
bekerja apa kamu sekarang, Cal?
Ical
pun menceritakan semua pada Romi tentang semua perjalanannya hingga sampai saat
ini ia bisa menjadi Presiden Direktur Yayasan Akar Mimpi. Sebaliknya, Romi pun
menceritakan kehidupan yang ia jalani selama di Surabaya. Di sana ia telah
berhenti dari pekerjaannya karena jasanya sudah tidak dibutuhkan lagi. Sekarang
niatnya ia akan mencari pekerjaan di sini. Ical mengajak Romi ke Yayasan Akar
Mimpi. Ketika baru sampai, Romi tercengang melihat halaman yang begitu luas
beserta gedung-gedung yang besar. Ia tidak menyangka Ical yang ia kenal dulu
sebagai pemulung bisa melakukan ini, perkembangan yang sangat signifikan dengan
waktu kurang dari dua puluh tahun Ical bisa melakukan ini.
“Kamu
sudah ceritakan semua padaku, kamu membutuhkan pekerjaan seperti apa, Rom?
“Apa aja, yang penting aku bisa menafkahi keluargaku.” jawab Romi masih tidak
percaya dengan apa yang ia lihat.
“Kalau
kamu butuh pekerjaan, aku bisa memberimu pekerjaan sebagai guru, kalau kamu
bisa belajar adaptasi dengan cepat, aku pun bisa dengan cepat menempatkanmu
menjadi kepala sekolah di Yayasan Akar Mimpiku. Aku juga akan memberimu tempat
tinggal di sini, kamu bisa bawa keluargamu tinggal di sini lagi.
“Apa
kamu serius, Cal?” kening Romi mengernyit.
“Ya,
aku serius. Aku akan sediakan rumah untukmu tinggal di sini.” jawab Ical
sebelum melepas senyum.
“Terima
kasih sobat....” Romi memeluk erat Ical, matanya mulai berkaca-kaca, haru.
“Yuk,
kita duduk di sana!” Ical menunjuk bangku yang tersedia di bawah pohon
beringin, diikuti anggukan Romi.
“Aku
pernah berucap sendiri kalau kamu kembali ke sini, aku akan memberi tahumu
tentang teori yang kupakai, sebuah teori sederhana.”
“Teori
apa?” tanya Romi penuh heran.
“Aku
menyebutnya teori Big Jump.”
“Big
Jump? Loncatan Besar?”
“Ya,
Big Jump. Begini, jika kita ingin mencapai angka sepuluh, kita tidak harus
melalui angka satu, dua, tiga, empat dst. Sampai ke angka sepuluh.
“Lho,
kan memang seperti itu! Terus bagaimana?”
Ical
mengambil secarik kertas dan pena dari saku celananya yang selalu ia kantongi
kemana pun ia melangkah. Ia menulis angka-angka dari satu sampai sepuluh.
TIDAK HARUS
TAPI....
1, 2, 3 + 7 = 10 BIG JUMP
Romi
hanya bisa terdiam, mendengarkan apa yang Ical jelaskan padanya.
“Dan,
yang aku amati, kamu punya satu kesalahan besar.” ucapan Ical membuat Romi
tersentak. Romi menunggu ucapan Ical selanjutnya.
“Kamu
salah niat ketika kamu kuliah dulu, kamu kuliah bertujuan hanya untuk menjadi
pekerja, kan?” kening Ical mengkerut.
Romi
tidak menjawab, terdiam. Ia baru menyadari kesalahan terbesar dalam hidupnya,
yaitu: hanya ingin menjadi pekerja. Dan, itu benar-benar terjadi, ia hanya
menjadi pekerja thok, tidak lebih dari itu. Sementara Ical yang hanya bermula
sebagai pemulung, kini bisa memberikannya pekerjaan padanya, bahkan tempat tinggal.
“Ini
ada ongkos, dan ini kartu namaku!” Ical memberi sejumlah uang dan kartu namanya
untuk Romi. “Jemput keluargamu ke sini lagi, kita berkumpul. Kabari aku kalau
kamu sudah sampai di Surabaya.” Romi menerima uang dan kartu nama yang
diberikan Ical, ia membaca kartu nama itu.
“Ical
S.Ps? gelar apa ini, Cal? Setahuku enggak ada gelar seperti ini!” tanya Romi,
heran.
“Itu
gelar yang kubuat sendiri, singkatan dari Sarjana Pemungut Sampah alias Pemulung.”
*Selesai*
Pembaca sekalian, lewat cerpen ini saya berbagi cerita dalam menentukan tujuan hidup. Banyak anak-anak yang sekolah hanya bertujuan untuk dapat pekerjaan saja, parahnya lagi para mahasiswa di negeri ini melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi hanya untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi. Yang menjadi pertanyaan saya, kemana mimpi-mimpi yang pernah mereka ucapkan saat masih TK dan SD? Kenapa setelah lulus dari SMK/sederajat atau setelah menjadi Sarjana mereka hanya ingin menjadi pekerja saja? Kenapa mereka tidak lagi berani bermimpi?
Bayangkan kalau pribumi negeri ini hanya menjadi pekerja dan orang asing menjadi bosnya, dan sekarang pun sebagian besar sudah seperti itu. Di mana harkat martabat bangsa ini???
Kalau pembaca ingin mengkritik coretan ini, silakan. saya akan senang sekali kalau pembaca memberi kritik kepada saya.
Mari kita saling menghargai pendapat sesama, mari kita bersama majukan negeri ini. Salam SUKSES, salam BIG DREAMER.
Bayangkan kalau pribumi negeri ini hanya menjadi pekerja dan orang asing menjadi bosnya, dan sekarang pun sebagian besar sudah seperti itu. Di mana harkat martabat bangsa ini???
Kalau pembaca ingin mengkritik coretan ini, silakan. saya akan senang sekali kalau pembaca memberi kritik kepada saya.
Mari kita saling menghargai pendapat sesama, mari kita bersama majukan negeri ini. Salam SUKSES, salam BIG DREAMER.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar