Minggu, 01 Desember 2013

TENTANG SAYA, BURUH DAN PENGANGGURAN.


TENTANG SAYA, BURUH DAN PENGANGGURAN
       
        Bermula dari perjalanan hidup yang saya jalani, dari pengalaman itulah saya dapat belajar menemukan siapa diri saya dan menentukan kemana arah yang akan saya tempuh, kali ini saya akan berbagi coretan pada saudara-saudara sekalian tentang cerita saya, buruh dan pengangguran yang ada di negeri yang membesarkan kita ini, tentu anda semua sudah tahu, apa lagi kalau bukan Indonesia yang mempunyai berbagai macam bahasa, etnis, budaya, kesenian, kekayaan alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang cukup jika saja dimanfaatkan dengan baik dan diberi didikan yang cukup untuk memajukan negeri yang elok dengan segala yang ada di dalamnya.
          Mari, kita langsung saja ke pembahasan yang ingin saya sampaikan. Saya akan memulainya dari cerita tentang saya pribadi dari kecil sampai saat ini. Ya, pasti dengan singkat, kalau saya ceritakan panjang lebar anda pasti bosan membaca coretan saya ini. Sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD), saya sudah berjualan segala macam yang bisa menghasilkan uang, mulai dari jualan es mambo yang setiap hari saya bawa ke sekolah, kemudian saya juga pernah jualan permen, anak ikan lele, sampai pada goreng telor, setiap harinya di pagi buta saya sudah harus pergi ke pasar untuk membeli barang dagangan dengan sepeda untuk dijual di pagi hari dan sepulang sekolah (dulu sekolah saya masuk siang dari kelas satu sampai kelas enam), anda tahu kan telor yang dicetak dipenggorengan kecil? Bentuknya bulat-bulat, yang bulatannya ada delapan atau sembilan, entah lah saya sudah sedikit lupa, tapi saya harap anda mengerti dengan maksud saya. Semua itu saya lakukan untuk jajan saya pribadi, orang tua saya bukan tidak mampu membiayai sekolah dan memberi saya uang jajan, tapi saya ingin sedikit meringankan beban beliau yang sudah susah payah membesarkan saya dan memberikan saya pendidikan yang layak. Sekolah yang Ibu saya tempatkan memanglah tidak terlalu bagus, tidak seperti sekolah-sekolah lainya, namun saya masih bersyukur masih bisa mengenyam pendidikan walau saat itu tempat saya belajar masih sangat minim dalam segala hal. Jika dibandingkan dengan anak-anak di luar sana, mereka banyak yang tidak sekolah dan bahkan harus berkelahi dengan waktu untuk bertahan hidup, jadi jangankan memikirkan sekolah, memikirkan besok bisa makan atau tidak saja sudah setengah mati.
          Setelah lulus MI, saya masuk ke tingkat yang lebih tinggi, MTs (Madrasah Tsanawiyah) yang juga setingkat dengan SMP. Di sekolah yang sama pula, saat duduk di bangku MTs saya aktif di bebera organisasi, namun saya tidak lagi berjualan, saya hanya sekadar bantu-bantu Ibu membersihkan rumah dan seisinya, termasuk halaman dan piring-piring yang kotor, perlahan sekolah yang saya cintai itupun kian lebih baik.
          Lulus di MTs saya pergi ke pesantren, karena dulu saya berpikir sekolah tidak akan meberi manfaat banyak, toh setelah lulus sekolah hanya bekerja, dan bekerja pun menggunakan sitem kontrak yang sewaktu-waktu bisa saja diputus, jadi pengangguran lagi deh, hehehe….. Dan, saya tidak mau itu terjadi pada diri saya, makanya saya memilih pesantren, karena saya juga berpikiran saat itu kalau kita mau membela agama Allah, kita pasti ditolong, satu tahun rencanyanya saya akan melanjutkan sekolah SMP di Cianjur, tepatnya di Cariu, di bawah kaki gunung gede, dan satu tahun itu saya fokuskan di pesantren karena keuangan keluarga tidak memadai. Tapi, setelah sekitar 3-4 bulan saya tidak betah, karena alesan tertentu. Pengalaman yang ini jangan ditiru, karena ini hanya pembelajaran untuk saya. Keluar dari pesantren saya masuk sekolah menengah kejuruan yang masuknya dibiayai oleh paman saya. Namun untuk biaya SPPnya yang saat itu mencapai Rp. 140 Ribu/Bulan membuat saya ngilu, betapa tidak? Ketika di MTs saja saya hanya dipungut biaya Rp. 15 Ribu/Bulan, saat itu ada bantuan BOS dari pemerintah. Jelas dari 15 ribu ke 140 ribu membuat saya ngilu, dari mana saya bisa membayar SPP sebesar itu setiap bulannya? Sedangkan saya hanya dari keluarga kecil. Di saat kesulitan pasti ada jalan keluar. Ya, tepat sekali. Kala itu ada seorang penarik sampah yang berhenti menarik sampah dari dua puluh pintu kontrakan yang berjarak tak jauh dari rumah saya, saya pun ditawari menggantikannya untuk menarik sampah sisa kegiatan rumah tangga para penghuni kontrakan itu dengan upah 10 ribu perbulan/satu pintu, kalau di kali dua puluh saya mendapat dua ratus ribu berbulan, ditambah sang pengurus kontrakan itu mau berbaik hati dengan di tambahnya sepuluh ribu, dihitung-hitung penghasilan saya Rp. 210 ribu/ bulan, lumayan cukup untuk menutupi biaya SPP di sekolah, sisanya 70 ribu di bagi dua untuk pengurus sampah dan untuk jajan saya sehari-hari, itu pun kalau kontrakan penuh semua, hehehe.
          Lulus dari SMK saya bekerja di perusahaan yang ada di kawasan Bekasi, sampah pun masih setia saya tarik, saya sudah terbiasa dengan baunya, termasuk terbiasa dengan binatang yang menetap di situ, saya harap anda mengerti apa binatang itu. Beberapa bulan saya bekerja, akhirnya saya lepas pekerjaan itu, tapi bukan ke orang lain, melainkan ke adik saya sendiri. Wah,  anda jangan berpikir saya ini seorang kaka yang kejam, justru sebaliknya, saya ingin adik saya merasakan bagaimana susahnya orang tua mencari uang untuk makan dan sekolah kami, termasuk tetek bengek lainnya. Saya pun bekerja dan adik saya menarik sampah menggantikan posisi saya. Saat kali pertama masuk di perusahaan itu saya di training oleh direktur utama perusahaan tersebut, saya tidak habis pikir, kok ada perusahaan yang merekrut karyawan tapi menyuruh karyawannya untuk menjadi pengusaha atau yang lainnya, mengajarkan saya dan teman-teman yang ada di ruangan saat itu untuk mengejar apa yang menjadi keinginan saya, mengejar mimpi. Dari training itu saya memetik banyak pelajaran, namun hanya saya simpan dalam memori saya, tapi saya masih ingat jelas apa saya yang beliau sampaikan, termasuk Negara apa yang pertama kali ingin saya kunjungi, saat itu saya jawab ingin ke Jepang, saya ingin belajar dengan orang-orang Jepang bagaimana negaranya bisa menjadi seperti itu. sampai saat ini pertanyaan itu terus membayangi saya, dan keinginan saya masih sama, ingin ke Jepang.
          Bekerja di perusahaan itu, gajinya sangat minim, waktu itu setelah ada demo kenaikan gaji 1,8 juta/Bulan. Dari UMR 1,8 setiap bulannya ditambah dengan tunjangan ini itu saya tidak pernah mendapatkan gaji lebih dari 2 juta/Bulan. Saya mulai melirik bekerja di tempat yang lain dengan gaji yang lebih besar, dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan itu 8-9 bulan saja. Singkat cerita, sampailah saya di Jakarta pusat, tepatnya di Thamrin, Tosari. Di gedung yang menjulang tinggi, saya bekerja di tempat yang sejuk, nyaman, kerjaanya ringan, memakai dasi pula. Tahu tidak? Saat itu saya seperti exmud (Executif Muda), Wah... keren kan? Coba anda bayangkan betapa bahagianya saya bekerja di gedung yang tinggi dengan penampilan yang selalu terlihat energic setiap harinya, pasti anda juga ingin kan? Ayo deh ngaku saja… Hehehe 
          Tapi, semua itu tak berjalan lama, karena sistem penggajihannya tergantung bagaimana kita mendapatkan nasabah, saya saat itu menjadi bisnis consultan. Saya tidak mau uang yang saya dapat dari gaji saat saya bekerja di perusahaan pertama hanya habis untuk ongkos pulang pergi, mengecewakan. Tapi saya dapat pelajaran dari situ, saya berpikir tidak semua orang yang berdasi serta berpenampilan energic, dompet atau ATMnya penuh uang, sekarang saya menganggap antara orang yang berpenampilan biasa dan orang yang berdasi sama saja, tidak ada yang spesial, dari situ juga saya mengambil kesimpulan jangan lihat orang hanya dari penampilan saja, karena penampilan bisa saja menipu. Bagaimana, anda setuju dengan saya? Mau tidak mau anda harus setuju dengan saya kalau masalah yang satu ini, wkwkwkw….
          Lebaran tinggal sebentar lagi, sekitar 3-4 minggu, anda juga pasti merasakan banyak keperluan menyambut hari lebaran. Saya memutuskan untuk kerja sebagai kuli bangunan di salah satu perumahan, dan saya sebagai keneknya atau tukang ngaduk pasir dan semen. Saat puasa, haus mendera, terik matahari menambah ujian kesabaran saya saat berpuasa, Alhamdulillah, hari demi hari saya bisa lewati ngaduk sambil puasa. Di situ saya berpikir beruntung orang yang bekerja di pabrik, sebentar lagi akan dapet THR atau mungkin sudah, dia tidak kepanasan saat bekerja, dan kerjanya tidak secapek kuli bangunan, yang saya rasakan lebih capek kerja sebagai kuli bangunan dari pada kerja di pabrik. Kepanasan, tidak dapat makan, tidak ada jaminan kesehatan, dan tidak ada tunjangan ini itu seperti yang pabrik berikan. Alhamdulillah, lebaran telah tiba dan saya sudah memiliki persiapan menyambutnya. Setelah lebaran berlalu, singkat cerita lagi. Saya bekerja di tempat yang gajinya lumayan besar, bahkan kali pertama saya mendapat gaji di perusahaan tersebut membuat jantung saya berdegup lebih kencang, bagaimana tidak? Setengah bulan saya bekerja sudah mendapat lebih dari 2,5 juta. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan terus berganti. Tapi, yang saya cari tidak saya dapatkan. Mulai dari sebagai penarik sampah, gaji saya yang tidak terlalu besar di bandingkan dengan perusahaan kedua sewaktu bekerja di perusahaan pertama, menjadi executive muda gadungan, sebagai kuli bangunan, sampai saya bekerja di perusahaan bonavit yang gajinya lumayan besar, saya tidak menemukan apa yang saya cari, saya pikir semua sama saja. Dari perjalanan itu saya terus berpikir dan belajar tentang semua yang sudah saya jalani. Teringat lagi saya dengan mimpi-mimpi yang pernah saya tebarkan dalam alam bawah sadar saya ketika duduk di bangku SMK, saya juga teringat dengan direktur utama perusahaan yang menjadikan saya kali pertama sebagai karyawannya setelah lulus SMK, dan itu pun kali pertama saya mendapatkan training tentang mengejar mimpi. Saya memutuskan tidak mau di perpanjang di perusahaan yang gajinya lumayan besar itu. saya pikir saya harus segera keluar dari goa yang tidak pernah memberi kesempatan kepada saya untuk melihat sinar mentari pagi, goa yang tidak memberi kesempatan saya untuk melihat dunia luas, goa yang gelap dan penuh lumut yang mengurung saya dalam dimensi kehidupan yang saya pikir sampai kapan pun saya berada dalam goa itu saya tidak akan mendapat kesempatan melihat dunia yang luas, belum lagi saya ingin melihat Ibu saya bangga telah melahirkan anak seperti saya, saya ingin menciptakan senyuman di bibir beliau yang sangat saya cintai, saya ingin berbakti pada beliau, saya ingin mengajak beliau ketanah suci mekah, keliling dunia luas.  Kini, saya mengerti dengan apa yang direktur itu sampaikan, terlebih ketika saya membaca banyak buku-buku motivasi, salah satunya tulisan Robert T Kiyosaki dalam bukunya “Rich Dad Poor Dad”. Apa yang sudah saya lalui sewaktu bekerja di perusahaan yang gajinya tidak terlalu besar dan gajinya besar tak jauh seperti apa yang saya baca di dalam buku tersebut, saya seperti belajar oleh Ayah kaya dan Ayah miskin, (Ayah kaya tentunya perusahaan pertama yang mengajari saya tentang mimpi dan yang menggaji saya dengan tunjangan yang sangat minim, sedangkan Ayah saya yang miskin kebalikan dari apa yang Ayah kaya ajarkan pada saya). Saya bersyukur sekali bisa bekerja di tempat keduanya, terlebih di perusahaan Ayah kaya, karena disitulah saya banyak belajar tentang arti hidup ini, tentang mimpi yang saya genggam, tentang bagaimana saya harus memilih jalan samar yang ada di hadapan saya. Dan, saya bersyukur pernah bekerja sebagai tukang tarik sampah, executive muda gadungan, kuli bangunan, tukang es mambo dsb di waktu saya MI.
          Dari SMK saya sudah mempunyai tujuan hidup, yaitu ingin menjadi Entrepreneur, berkat pembelajaran dari Ayah kaya dan Ayah miskin dan tak lupa dari sedikit pengalaman hidup saya yang sudah saya sebutkan tadi, niat saya semakin cakap untuk mengejar mimpi. Terimakasih banyak saya ucapkan untuk Ayah kaya yang telah memberi saya banyak ilmu secara langsung ataupun tidak langsung. Dari yang tidak langsung, akhirnya saya mengerti dengan apa yang Ayah kaya maksudkan kepada saya. Saya berharap, training dan pelajaran itu terus diterapkan dalam perusahaan tersebut, mengajarkan para generasi muda agar berani bermimpi dan berani pula meraihnya.
          Kisruh para kaum buruh huru-hara beberapa kali kita jumpai disepanjang tahun ini, dari UMR 1.4 Jt ke 1.8 Jt, dari 1,8 Jt ke 2,4 Jt. Dan, tahun ini mintanya 3,7 Jt untuk UMR tahun 2014 (Itu semua kalau saya tidak salah ya...) Waduh.. apa itu namanya tidak mencekik saudaranya sendiri? Kadang saya suka bingung dengan ulah para buruh itu, mereka hanya memikirkan golongannya saja tanpa memikirkan golongan-golongan di luarnya. Maaf sebelumnya, seperti tukang tarik sampah, kuli bangunan seperti saya dulu, pemulung dsb. Bagaimana dengan nasib mereka? Pasalnya ketika gajih dinaikan, pastinya harga-harga yang lain akan melambung tinggi, jangan harap deh taraf hidup akan meningkat. Memang kalau dilihat di luar negeri seperti Jepang, Malaysia dan negara-negara lain itu UMRnya lebih tinggi, tapi kan  kebutuhan hidup di sana juga tinggi, lebih mahal. Kalau dihitung-hitung pun sama saja. Seolah tidak mengenal kata syukur.
          Menurut saya kalau ingin kehidupan lebih baik bukan seperti itu caranya, nggak rasional, demo sana-sini, segala fasilitas di rusak, seperti haus dengan anarki, kalau seperti itu apa bedanya dengan anak STM yang suka tawuran? Kalau ingin lebih baik ya keluar dari zona nyaman itu, kuasai bakat yang sudah Allah berikan kepada kita semua. Allah memberi satu kelemahan di balik sepuluh kelebihan yang ada dalam diri kita, jangan hanya karena satu kelemahan semua kelebihan itu terkurung begitu saja dan tidak pernah dimanfaatkan, kelebihan itulah yang mejadi nilai lebih dari kita semua, itulah yang akan menjadikan hidup kita lebih baik, menjadi berlian di atas tumpukan jerami, kalau kata orang banyak bilang.
          November 2013 kemarin, saya melihat beita tentang sarjana Indonesia sekitar 60.000 jadi penganggur. Waduh ini saya yang salah lihat atau pengamatnya kelebihan nulis angka nol? Tapi kalau dilihat kenyataannya, memang banyak sarjana yang menganggur. Belum lagi anak-anak yang baru lulus dari SMA/sederajat, ditambah orang-orang yang habis kontrak, waaahhhh.... saya tidak bisa membayangkan berapa banyaknya pengangguran di negeri yang katanya kaya ini.
          Lantas ini semua salah siapa dong? Saya pikir ini bukan salah pemerintah sepenuhnya, sebab pemuda di negeri ini tidak banyak yang berani bermimpi, wajar saja kalau hanya menjadi penganggur, ditambah pendidikan di negeri ini turut membodohkan anak didiknya, kenapa? Saya sangat sedih ketika yayasan SMK/sederajat negeri maupun swasta berkomitmen kalau lulusannya mendapat pekerjaan. Kenapa mereka diajarkan untuk menjadi pekerja? Kenapa mereka tidak diajarkan tentang cara meraih mimpi? Kenapa mereka tidak diajarkan untuk membangun negeri ini dengan karya mereka sendiri? Kenapa negeri ini membiarkan anak didiknya menjadi pekerja dan orang asing sebagai bosnya? Saya sangat sedih dengan sistem pendidikan di negeri ini, hanya segelintir orang saja yang sudi mengajarkan tentang mimpi dan cara meraihnya.
          Anda pun pasti sudah banyak melihat brosur-brosur fakultas tinggi menjanjikan pekerjaan bagi para lulusannya, teramat sangat menyedihkan. Kenapa mereka tidak di didik untuk menciptakan lapangan pekerjaan? Lagi-lagi di didik harus jadi pekerja. Hanya lewat coretan ini mungkin saya hanya bisa berkeluh kesah, bersedih menatap kedepan yang nampak tidak ada cahaya nun jauh di sana, sekali ada, diambil negeri lain.
          Orang China, Singapur dsb datang berbondong-bondong ke Indonesia, karena mereka melihat Indonesia ini penuh dengan potensi, penuh dengan peluang usaha, anehnya, orang Indonesia sendiri kebingunagn tidak ada pekerjaan. Kenapa? Ya, seperti yang sudah saya katakan, negeri ini kering dengan mimpi, hanya diajarkan jadi pekerja, bukan pengusaha atau yang lainnya.
          Mari para pemuda bangsa, kita bermimpi yang tinggi, kita raih mimpi itu, kita jadikan Indonesia negeri yang lebih baik, tentunya kita tidak boleh menunggu negara berbuat sesuatu untuk kita, tapi kita harus berbuat sesuatu untuk negara ini.
          Mari para guru, berikan ilmu pada kami, ajarkan kami tentang mimpi, ajarkan kami bagaimana cara mencapainya. Rangkul kami, genggam tangan kami dan arahkan jika kami salah memilih jalan.
          Lewat ini, saya mewakili komunitas DFL (Dream For Life) mengajak kepada seluruh warga Indonesia turut serta menjadikan Indonesia menjadi negeri penuh mimpi, negeri yang maju dengan karya anak-anak yang dilahirkan Ibu pertiwi.
          Kalau coretan saya ini menyinggung atau tidak berkenan di hati pembaca, saya minta maaf sekali, sungguh, tidak ada maksuda saya untuk menyinggung. Silakan anda berkomentar atau berikan kritiknya jika anda tidak senang dengan coretan ini. Mari kita saling menghargai pendapat, ide dan gagasan sesama. Salam SUKSES, salam BIG DREAMER.

Tidak ada komentar: