TENTANG SAYA, BURUH DAN PENGANGGURAN
Bermula dari perjalanan hidup yang saya
jalani, dari pengalaman itulah saya dapat belajar menemukan siapa diri saya dan
menentukan kemana arah yang akan saya tempuh, kali ini saya akan berbagi
coretan pada saudara-saudara sekalian tentang cerita saya, buruh dan
pengangguran yang ada di negeri yang membesarkan kita ini, tentu anda semua
sudah tahu, apa lagi kalau bukan Indonesia yang mempunyai berbagai macam
bahasa, etnis, budaya, kesenian, kekayaan alam yang melimpah dan sumber daya
manusia yang cukup jika saja dimanfaatkan dengan baik dan diberi didikan yang
cukup untuk memajukan negeri yang elok dengan segala yang ada di dalamnya.
Mari, kita langsung saja ke pembahasan yang ingin saya sampaikan. Saya
akan memulainya dari cerita tentang saya pribadi dari kecil sampai saat ini.
Ya, pasti dengan singkat, kalau saya ceritakan panjang lebar anda pasti bosan
membaca coretan saya ini. Sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (setingkat
SD), saya sudah berjualan segala macam yang bisa menghasilkan uang, mulai dari
jualan es mambo yang setiap hari saya bawa ke sekolah, kemudian saya juga
pernah jualan permen, anak ikan lele, sampai pada goreng telor, setiap harinya
di pagi buta saya sudah harus pergi ke pasar untuk membeli barang dagangan
dengan sepeda untuk dijual di pagi hari dan sepulang sekolah (dulu sekolah saya
masuk siang dari kelas satu sampai kelas enam), anda tahu kan telor yang
dicetak dipenggorengan kecil? Bentuknya bulat-bulat, yang bulatannya ada
delapan atau sembilan, entah lah saya sudah sedikit lupa, tapi saya harap anda
mengerti dengan maksud saya. Semua itu saya lakukan untuk jajan saya pribadi,
orang tua saya bukan tidak mampu membiayai sekolah dan memberi saya uang jajan,
tapi saya ingin sedikit meringankan beban beliau yang sudah susah payah
membesarkan saya dan memberikan saya pendidikan yang layak. Sekolah yang Ibu
saya tempatkan memanglah tidak terlalu bagus, tidak seperti sekolah-sekolah
lainya, namun saya masih bersyukur masih bisa mengenyam pendidikan walau saat
itu tempat saya belajar masih sangat minim dalam segala hal. Jika dibandingkan
dengan anak-anak di luar sana, mereka banyak yang tidak sekolah dan bahkan
harus berkelahi dengan waktu untuk bertahan hidup, jadi jangankan memikirkan
sekolah, memikirkan besok bisa makan atau tidak saja sudah setengah mati.
Setelah lulus MI,
saya masuk ke tingkat yang lebih tinggi, MTs (Madrasah Tsanawiyah) yang juga
setingkat dengan SMP. Di sekolah yang sama pula, saat duduk di bangku MTs saya
aktif di bebera organisasi, namun saya tidak lagi berjualan, saya hanya sekadar
bantu-bantu Ibu membersihkan rumah dan seisinya, termasuk halaman dan
piring-piring yang kotor, perlahan sekolah yang saya cintai itupun kian lebih
baik.
Lulus di MTs saya
pergi ke pesantren, karena dulu saya berpikir sekolah tidak akan meberi manfaat
banyak, toh setelah lulus sekolah hanya bekerja, dan bekerja pun menggunakan
sitem kontrak yang sewaktu-waktu bisa saja diputus, jadi pengangguran lagi deh,
hehehe….. Dan, saya tidak mau itu terjadi pada diri saya, makanya saya memilih
pesantren, karena saya juga berpikiran saat itu kalau kita mau membela agama
Allah, kita pasti ditolong, satu tahun rencanyanya saya akan melanjutkan
sekolah SMP di Cianjur, tepatnya di Cariu, di bawah kaki
gunung gede, dan satu tahun itu saya fokuskan di pesantren karena keuangan keluarga
tidak memadai. Tapi, setelah sekitar 3-4 bulan saya tidak betah, karena alesan
tertentu. Pengalaman yang ini jangan ditiru, karena ini hanya pembelajaran
untuk saya. Keluar dari pesantren saya masuk sekolah menengah kejuruan yang masuknya
dibiayai oleh paman saya. Namun untuk biaya SPPnya yang saat itu mencapai Rp.
140 Ribu/Bulan membuat saya ngilu, betapa tidak? Ketika di MTs saja saya hanya
dipungut biaya Rp. 15 Ribu/Bulan, saat itu ada bantuan BOS dari pemerintah.
Jelas dari 15 ribu ke 140 ribu membuat saya ngilu, dari mana saya bisa membayar
SPP sebesar itu setiap bulannya? Sedangkan saya hanya dari keluarga kecil. Di
saat kesulitan pasti ada jalan keluar. Ya, tepat sekali. Kala itu ada seorang
penarik sampah yang berhenti menarik sampah dari dua puluh pintu kontrakan yang
berjarak tak jauh dari rumah saya, saya pun ditawari menggantikannya
untuk menarik sampah sisa kegiatan rumah tangga para penghuni kontrakan itu
dengan upah 10 ribu perbulan/satu pintu, kalau di kali dua puluh saya mendapat
dua ratus ribu berbulan, ditambah sang pengurus kontrakan itu mau berbaik hati
dengan di tambahnya sepuluh ribu, dihitung-hitung
penghasilan saya Rp. 210 ribu/ bulan, lumayan cukup untuk menutupi biaya SPP di
sekolah, sisanya 70 ribu di bagi dua untuk pengurus sampah dan untuk jajan saya sehari-hari, itu pun kalau
kontrakan penuh semua, hehehe.
Lulus dari SMK saya
bekerja di perusahaan yang ada di kawasan Bekasi, sampah pun masih setia saya
tarik, saya sudah terbiasa dengan baunya, termasuk terbiasa dengan binatang
yang menetap di situ, saya harap anda mengerti apa binatang itu. Beberapa
bulan saya bekerja, akhirnya saya lepas pekerjaan itu, tapi bukan ke orang
lain, melainkan ke adik saya sendiri. Wah,
anda jangan berpikir saya ini seorang kaka yang kejam, justru
sebaliknya, saya ingin adik saya merasakan bagaimana susahnya orang tua mencari
uang untuk makan dan sekolah kami, termasuk tetek
bengek lainnya. Saya pun bekerja dan adik saya menarik sampah menggantikan
posisi saya. Saat kali pertama masuk di perusahaan itu saya di training oleh
direktur utama perusahaan tersebut, saya tidak habis pikir, kok ada perusahaan
yang merekrut karyawan tapi menyuruh karyawannya untuk menjadi pengusaha atau
yang lainnya, mengajarkan saya dan teman-teman yang ada di ruangan saat itu
untuk mengejar apa yang menjadi keinginan saya, mengejar mimpi. Dari training
itu saya memetik banyak pelajaran, namun hanya saya simpan dalam memori saya,
tapi saya masih ingat jelas apa saya yang beliau sampaikan, termasuk Negara apa
yang pertama kali ingin saya kunjungi, saat itu saya jawab ingin ke Jepang,
saya ingin belajar dengan orang-orang Jepang bagaimana negaranya bisa menjadi
seperti itu. sampai saat ini pertanyaan itu terus membayangi saya, dan keinginan saya
masih sama, ingin ke Jepang.
Bekerja di
perusahaan itu, gajinya sangat minim, waktu itu setelah ada demo kenaikan gaji
1,8 juta/Bulan. Dari UMR 1,8 setiap bulannya ditambah dengan tunjangan ini itu
saya tidak pernah mendapatkan gaji lebih dari 2
juta/Bulan. Saya mulai melirik bekerja di tempat yang lain dengan gaji yang
lebih besar, dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti
bekerja di perusahaan itu 8-9 bulan saja. Singkat cerita, sampailah saya di Jakarta
pusat, tepatnya di Thamrin, Tosari. Di gedung yang menjulang tinggi, saya
bekerja di tempat yang sejuk, nyaman, kerjaanya ringan, memakai dasi pula.
Tahu tidak? Saat itu saya seperti exmud (Executif
Muda), Wah... keren kan? Coba anda bayangkan betapa bahagianya saya bekerja di
gedung yang tinggi dengan penampilan yang selalu terlihat energic setiap
harinya, pasti anda juga ingin kan? Ayo deh ngaku saja… Hehehe
Tapi, semua itu tak
berjalan lama, karena sistem penggajihannya tergantung bagaimana kita
mendapatkan nasabah, saya saat itu menjadi bisnis consultan. Saya tidak mau
uang yang saya dapat dari gaji saat saya bekerja di perusahaan pertama hanya
habis untuk ongkos pulang pergi, mengecewakan. Tapi saya dapat pelajaran dari
situ, saya berpikir tidak semua orang yang berdasi serta berpenampilan energic,
dompet atau ATMnya penuh uang, sekarang saya menganggap antara orang yang
berpenampilan biasa dan orang yang berdasi sama saja, tidak ada yang spesial,
dari situ juga saya mengambil kesimpulan jangan lihat orang hanya dari
penampilan saja, karena penampilan bisa saja menipu. Bagaimana, anda setuju
dengan saya? Mau tidak mau anda harus setuju dengan saya kalau masalah yang
satu ini, wkwkwkw….
Lebaran tinggal
sebentar lagi, sekitar 3-4 minggu, anda juga pasti merasakan banyak keperluan
menyambut hari lebaran. Saya memutuskan untuk kerja sebagai kuli
bangunan di salah satu perumahan, dan saya sebagai keneknya atau tukang ngaduk
pasir dan semen. Saat puasa, haus mendera, terik matahari menambah ujian kesabaran
saya saat berpuasa, Alhamdulillah, hari demi hari saya bisa lewati ngaduk
sambil puasa. Di situ saya berpikir beruntung orang yang bekerja di pabrik,
sebentar lagi akan dapet THR atau mungkin sudah, dia tidak kepanasan saat
bekerja, dan kerjanya tidak secapek kuli bangunan, yang saya rasakan
lebih capek kerja sebagai kuli bangunan dari pada kerja di pabrik. Kepanasan,
tidak dapat makan, tidak ada jaminan kesehatan, dan tidak ada tunjangan ini itu
seperti yang pabrik berikan. Alhamdulillah, lebaran telah tiba dan saya sudah
memiliki persiapan menyambutnya. Setelah lebaran berlalu, singkat cerita lagi.
Saya bekerja di tempat yang gajinya lumayan besar, bahkan kali pertama saya
mendapat gaji di perusahaan tersebut membuat jantung saya berdegup lebih kencang,
bagaimana tidak? Setengah
bulan saya bekerja sudah mendapat lebih dari 2,5 juta. Hari berganti minggu,
minggu berganti bulan dan bulan terus berganti. Tapi, yang saya cari tidak saya
dapatkan. Mulai dari sebagai penarik sampah, gaji saya yang tidak terlalu besar di bandingkan dengan perusahaan
kedua sewaktu bekerja di perusahaan pertama, menjadi executive muda
gadungan, sebagai kuli bangunan, sampai saya bekerja di perusahaan bonavit yang
gajinya lumayan besar, saya tidak menemukan apa yang saya cari, saya pikir
semua sama saja. Dari perjalanan itu saya terus berpikir dan belajar tentang
semua yang sudah saya jalani. Teringat lagi saya dengan mimpi-mimpi yang pernah
saya tebarkan dalam alam bawah sadar saya ketika duduk di bangku SMK, saya juga
teringat dengan direktur utama perusahaan yang menjadikan saya kali pertama
sebagai karyawannya setelah lulus SMK, dan itu pun kali pertama saya
mendapatkan training tentang mengejar mimpi. Saya memutuskan tidak mau di
perpanjang di perusahaan yang gajinya lumayan besar itu. saya pikir saya harus
segera keluar dari goa yang tidak pernah memberi kesempatan kepada saya untuk
melihat sinar mentari pagi, goa yang tidak memberi kesempatan saya untuk
melihat dunia luas, goa yang gelap dan penuh lumut yang mengurung saya dalam dimensi
kehidupan yang saya pikir sampai kapan pun saya berada dalam goa itu saya tidak akan
mendapat kesempatan melihat dunia yang luas, belum lagi saya ingin melihat Ibu
saya bangga telah melahirkan anak seperti saya, saya
ingin menciptakan senyuman di bibir beliau yang sangat saya cintai, saya ingin
berbakti pada beliau, saya ingin mengajak beliau ketanah suci mekah, keliling
dunia luas. Kini, saya mengerti dengan apa
yang direktur itu sampaikan, terlebih ketika saya membaca banyak buku-buku
motivasi, salah satunya tulisan Robert T Kiyosaki dalam bukunya “Rich Dad
Poor Dad”. Apa yang sudah saya lalui sewaktu bekerja di perusahaan yang
gajinya tidak terlalu besar dan gajinya
besar tak jauh seperti apa yang saya baca di dalam buku tersebut, saya seperti belajar
oleh Ayah kaya dan Ayah miskin, (Ayah kaya tentunya perusahaan pertama yang mengajari saya tentang mimpi dan yang
menggaji saya dengan tunjangan yang sangat minim, sedangkan Ayah saya yang miskin kebalikan dari apa yang Ayah kaya ajarkan pada saya). Saya bersyukur sekali bisa
bekerja di tempat keduanya, terlebih di perusahaan Ayah kaya, karena disitulah
saya banyak belajar tentang arti hidup ini, tentang mimpi yang saya genggam,
tentang bagaimana saya harus memilih jalan samar yang ada di hadapan saya. Dan,
saya bersyukur pernah bekerja sebagai tukang tarik sampah, executive muda
gadungan, kuli bangunan, tukang es mambo dsb di waktu saya MI.
Dari
SMK saya sudah mempunyai tujuan hidup, yaitu ingin menjadi Entrepreneur, berkat
pembelajaran dari Ayah kaya dan Ayah miskin dan tak lupa dari sedikit
pengalaman hidup saya yang sudah saya sebutkan tadi, niat saya semakin cakap untuk
mengejar mimpi. Terimakasih banyak saya ucapkan untuk Ayah kaya yang telah
memberi saya banyak ilmu secara langsung ataupun tidak langsung. Dari yang
tidak langsung, akhirnya saya mengerti dengan apa yang Ayah kaya maksudkan
kepada saya. Saya berharap, training dan pelajaran itu terus diterapkan dalam
perusahaan tersebut, mengajarkan para generasi muda agar berani bermimpi dan
berani pula meraihnya.
Kisruh
para kaum buruh huru-hara beberapa kali kita jumpai disepanjang tahun ini, dari
UMR 1.4 Jt ke 1.8 Jt, dari 1,8 Jt ke 2,4 Jt. Dan, tahun ini mintanya 3,7 Jt untuk UMR tahun 2014 (Itu semua kalau saya tidak salah ya...) Waduh.. apa itu namanya
tidak mencekik saudaranya sendiri? Kadang saya suka bingung dengan ulah para
buruh itu, mereka hanya memikirkan golongannya saja tanpa memikirkan
golongan-golongan di luarnya. Maaf sebelumnya, seperti tukang tarik sampah,
kuli bangunan seperti saya dulu, pemulung dsb. Bagaimana dengan nasib mereka?
Pasalnya ketika gajih dinaikan, pastinya harga-harga yang lain akan melambung
tinggi, jangan harap deh taraf hidup akan meningkat. Memang kalau dilihat di
luar negeri seperti Jepang, Malaysia dan negara-negara lain itu UMRnya lebih
tinggi, tapi kan kebutuhan hidup di sana
juga tinggi, lebih mahal. Kalau dihitung-hitung pun sama saja. Seolah tidak
mengenal kata syukur.
Menurut
saya kalau ingin kehidupan lebih baik bukan seperti itu caranya, nggak
rasional, demo sana-sini, segala fasilitas di rusak, seperti haus dengan
anarki, kalau seperti itu apa bedanya dengan anak STM yang suka tawuran? Kalau
ingin lebih baik ya keluar dari zona nyaman itu, kuasai bakat yang sudah Allah
berikan kepada kita semua. Allah memberi satu kelemahan di balik sepuluh
kelebihan yang ada dalam diri kita, jangan hanya karena satu kelemahan semua
kelebihan itu terkurung begitu saja dan tidak pernah dimanfaatkan, kelebihan
itulah yang mejadi nilai lebih dari kita semua, itulah yang akan menjadikan
hidup kita lebih baik, menjadi berlian di atas tumpukan jerami, kalau kata
orang banyak bilang.
November
2013 kemarin, saya melihat beita tentang sarjana Indonesia sekitar 60.000 jadi
penganggur. Waduh ini saya yang salah lihat atau pengamatnya kelebihan nulis
angka nol? Tapi kalau dilihat kenyataannya, memang banyak sarjana yang
menganggur. Belum lagi anak-anak yang baru lulus dari SMA/sederajat, ditambah
orang-orang yang habis kontrak, waaahhhh.... saya tidak bisa membayangkan
berapa banyaknya pengangguran di negeri yang katanya kaya ini.
Lantas
ini semua salah siapa dong? Saya pikir ini bukan salah pemerintah sepenuhnya,
sebab pemuda di negeri ini tidak banyak yang berani bermimpi, wajar saja kalau
hanya menjadi penganggur, ditambah pendidikan di negeri ini turut membodohkan
anak didiknya, kenapa? Saya sangat sedih ketika yayasan SMK/sederajat negeri
maupun swasta berkomitmen kalau lulusannya mendapat pekerjaan. Kenapa mereka
diajarkan untuk menjadi pekerja? Kenapa mereka tidak diajarkan tentang cara
meraih mimpi? Kenapa mereka tidak diajarkan untuk membangun negeri ini dengan
karya mereka sendiri? Kenapa negeri ini membiarkan anak didiknya menjadi
pekerja dan orang asing sebagai bosnya? Saya sangat sedih dengan sistem
pendidikan di negeri ini, hanya segelintir orang saja yang sudi mengajarkan
tentang mimpi dan cara meraihnya.
Anda
pun pasti sudah banyak melihat brosur-brosur fakultas tinggi menjanjikan
pekerjaan bagi para lulusannya, teramat sangat menyedihkan. Kenapa mereka tidak
di didik untuk menciptakan lapangan pekerjaan? Lagi-lagi di didik harus jadi
pekerja. Hanya lewat coretan ini mungkin saya hanya bisa berkeluh kesah,
bersedih menatap kedepan yang nampak tidak ada cahaya nun jauh di sana, sekali
ada, diambil negeri lain.
Orang
China, Singapur dsb datang berbondong-bondong ke Indonesia, karena mereka
melihat Indonesia ini penuh dengan potensi, penuh dengan peluang usaha,
anehnya, orang Indonesia sendiri kebingunagn tidak ada pekerjaan. Kenapa? Ya,
seperti yang sudah saya katakan, negeri ini kering dengan mimpi, hanya
diajarkan jadi pekerja, bukan pengusaha atau yang lainnya.
Mari
para pemuda bangsa, kita bermimpi yang tinggi, kita raih mimpi itu, kita
jadikan Indonesia negeri yang lebih baik, tentunya kita tidak boleh menunggu
negara berbuat sesuatu untuk kita, tapi kita harus berbuat sesuatu untuk negara
ini.
Mari
para guru, berikan ilmu pada kami, ajarkan kami tentang mimpi, ajarkan kami
bagaimana cara mencapainya. Rangkul kami, genggam tangan kami dan arahkan jika
kami salah memilih jalan.
Lewat
ini, saya mewakili komunitas DFL (Dream For Life) mengajak kepada seluruh warga
Indonesia turut serta menjadikan Indonesia menjadi negeri penuh mimpi, negeri
yang maju dengan karya anak-anak yang dilahirkan Ibu pertiwi.
Kalau
coretan saya ini menyinggung atau tidak berkenan di hati pembaca, saya minta
maaf sekali, sungguh, tidak ada maksuda saya untuk menyinggung. Silakan anda
berkomentar atau berikan kritiknya jika anda tidak senang dengan coretan ini. Mari kita saling menghargai pendapat, ide dan gagasan sesama.
Salam SUKSES, salam BIG DREAMER.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar