Selasa, 31 Desember 2013


Cerpen Ke-5 "Rembulan Untukmu"


“REMBULAN UNTUKMU

Dengan langkah gontai Rei menyisir malam, menemani sunyi di bawah awan yang menutupi langit dan perhiasannya. Matanya selalu menatap ke bawah meski langkah terus berjalan ke depan, terkadang mata yang cekung melihat ke sisi kanan dan kiri. Kulitnya yang putih tampak menguning terkena sinar lampu di sepanjang jalan yang dilewati. Jaket lusuh terselempang di bahu, dibiarkan tubuhnya dihempas angin malam—hingga ia terhenti pada sebuah rumah dengan lampu-lampu yang berkerlap-kerlip indah menghiasi pepohonan di taman halaman rumah. Tubuh tingginya tegak berdiri seperti tongkat yang menancap di tanah, diam tanpa ekspresi.
          Lama sudah berdiri, Rei memilih duduk pada bangku yang tersedia di bawah pohon yang sudah mati; tak berdaun dan terkikis oleh waktu.
       “Jika memang ini sudah menjadi takdir hidupku, aku akan mencoba mengikhlaskannya.” Rei bergeming pelan seraya melihat rumah yang nampak sepi dari luar. Matanya mulai berkaca-kaca, menahan kepedihan di hati, membiarkannya hanyut bersama malam yang semakin pekat. Kepedihan hati Rei semakin terasa, seperti tercabik-cabik ketika melihat teman kuliahnya empat tahun lalu datang kerumah itu.
        Keesokan harinya, Rei bersiap-siap untuk memenuhi undangan Ve. pada acara pernikahannya, dengan berat hati Rei berusaha untuk bisa menghadiri acara yang sangat membuatnya terpukul, pedih sekaligus. Sesampai di tempat acara pernikahan yang digelar dikediaman Ve, lagi-lagi Rei harus menahan gejolak amarah hatinya yang hampir membeludak, berkali-kali matanya berkaca-kaca, namun Rei berusaha sebisa mungkin untuk dapat menjaganya agar tetap terlihat tegar.
       “Selamat ya Ve, semoga langgeng.” ucap Rei lirih seraya menatap mata Ve yang juga terlihat berbayang. Ve tidak menjawab sepatahkata pun, tangan yang saling bersalaman tidak segera terlepas. Mata saling menatap, yang terlihat bukan hanya dua bola mata Rei yang nampak berair, tapi dua mata itu mampu melihat hingga menembus dinding hati yang mulai rapuh. Perlahan Rei melepas tangan halus yang masih menempel ditangannya. Rendi mulai menyadari bahwa Ve, gadis cantik dengan kebiasaan rambut yang selalu dicupel dan yang selalu terlihat anggun dengan hal yang sederhana itu saling bertemu mata cukup lama dengan Rei, teman kuliahnya empat tahun silam. Rei mulai memindahkan tangannya pada Rendi, sambil tersenyum Rei berusaha untuk dapat mengucapkan kata-kata selamat untuk Rendi atas pernikahannya dengan Ve.
        Rei duduk disalah satu bangku yang disediakan untuk tamu, matanya melihat ke segala arah. Dilihatnya Ve semakin anggun dengan gaun pengantin yang menempel di tubuhnya yang seksi, sesekali Ve pun melihat ke arahnya dengan tatapan penuh kenangan saat ia masih menjalani hari-harinya dengan Rei, yang kini hanya menjadi masalalu berikut dengan kenangan-kenangan indah yang juga akan ikut terkubur. Sebulan yang lalu, rasanya baru kemarin Ve rasakan bisa tertawa lepas dengan Rei. Namun mulai detik ini ia akan berusaha untuk melupakan semua kenangan manisnya dengan lelaki bertubuh tinggi itu.


Empat bulan berlalu, Rei selalu berusaha melupakan Ve yang sudah menjadi istri temannya. Rasa cinta tak pernah mau keluar dari relung hatinya, menyingkir dan menjauh dari hidupnya. Dua bulan Rei selalu berusaha mencari kesibukan apapun demi melupakan Ve, gadis yang kabarnya saat ini tengah ditinggal suaminya ke Jawa Timur. Rei terdiam dari balik jendela kamar klasiknya, memandang keluar, jauh menangkap cakrawala yang membentang luas berselimuti hitam yang mulai meraba hari.
          Bosan dengan suasana malam yang selalu dihabiskan di kamar berteman suara musik dari radio combo dan ikan-ikan yang asik mondar-mandir di dalam aquarium mini. Rei memutuskan untuk pergi ke toko buku terlengkap, mencari novel inspirasi agar terbebas dari jerat rindu yang sudah tak semestinya ada dalam hatinya.
      “Rei.... Reinaldy..” suara yang sudah lama tak terdengar tiba-tiba berhembus dari belakang menyentuh telinganya. Rei membalikan badan dengan bayang-bayang sosok wanita yang tengah dirindu.
        “Veve....” ucap Rei pelan, rasanya tak percaya dengan apa yang ia lihat oleh mata kepalanya. “Sedang apa kamu Ve?” sambung Rei setelah Ve mendekat kehadapannya.
          “Kemana saja kamu Rei? Kenapa tidak pernah memberi kabar? Kenapa nomor ponselmu tidak aktif?” mata Ve terlihat berair, berbayang-bayang. Pertanyaan Ve membuat hati Rei tersentak, seperti melukiskan keadaan tidak menyenangkan. Rei diam sejenak sebelum bicara, matanya terus menatap mata Ve yang semakin berkaca-kaca, hingga akhirnya tetesan air bening jatuh membasahi lantai.
          “Ada apa kamu Ve? Kenapa menangis?” ingin rasanya Rei mengusap air mata yang membasahi pipi wanita cantik dihadapannya, tapi niat itu terhalang dengan status pernikahan yang membentangkan jarak antara mereka.
          “Rei.... aku ingin banyak cerita sama kamu, bisa kan temani aku?”
       Rei tidak langsung menjawab, tapi hatinya terus bertanya-tanya mengapa wanita yang rambutnya dicupel itu menangis. “Kamu pasti ingin cerita kalau kamu sedang merindukan Rendi, yah?”
          “Bawa aku pergi yang jauh Rei, temani aku malam ini.”
          “Tapi.. tapi bagaimana kalau suamimu tahu kalau kamu pergi denganku, mantan kekasihmu?”
          “Aku tidak peduli, aku tidak peduli dia marah padaku.”
          “Tapi aku peduli Ve, aku peduli sama kamu...” cus.... kata-kata itu tak sengaja meluncur bagai roket yang tidak bisa dikendalikan, Rei terdiam setelah mengucapkan itu.
          “Kamu masih peduli dengan aku Rei? Kalau kamu peduli, kemana saja kamu? Setengah putus asa aku mencarimu. Jahat kamu Reinaldy.” Kata-kata yang keluar dari bibir merah wanita cantik itu terdengar merintih di telinga Rei, membuatnya ingin mendengarkan semua keluhan Ve.
          “Mari, ikutlah denganku!”
         Tanpa mengiyakan, Ve langsung mengikuti Rei dari belakang, hingga mobilnya terus mengikuti Rei ke puncak bogor. Dari atas puncak, mereka melihat lampu-lampu yang berkerlap-kerlip tampak menghiasi dataran bumi, melebihi bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.
Ve yang duduk di sebelah kanan Rei diam; juga tidak mengerti bagaimana harus memulainya meski berjuta pertanyaan. 
        “Apa yang buat kamu menangis Ve?” Rei mencoba mencairkan kebekuan yang sudah beberpa menit terjadi, matanya melihat wajah Ve yang masih melihat lampu yang bewarna-warni di bawah sana. 
       “Kenapa kamu dulu tidak menghamili aku saja Rei?” spontan pria yang duduk disebelahnya tersentak dengan peranyaannya.
          “Kenapa kamu bicara seperti itu?”
          “Dulu, aku hanya ingin menikah dengan kamu Rei, tentu sebelum aku menikah dengan Rendi, teman kuliahmu,” ia berhenti sejenak sebelum memulainya lagi. “maafkan aku yang tiba-tiba mengakhiri hubungan kita, sungguh tidak ada sedikitpun niatku untuk berpisah denganmu, apalagi sampai menikah dengan orang lain.” sambil terus melihat ke depan, Ve mengeluarkan air mata. Rei membiarkan air mata Ve terus menetes, tanpa berusaha untuk mengusapnya, sikapnya menahan keinginan hati; ingin mengusap bening air yang tumpah dari mata indahnya, Rei sebenarnya tidak bisa melihat wanita menangis, apalagi tangisan itu karenanya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia tidak punya hak menyapu air mata dari pipinya.
          “Kamu tahu Ve? Ketika kamu memutuskan hubungan kita dan memilih menikah dengan Rendi, hatiku hancur, hancur berantakan. Aku selalu berusaha untuk bisa melupakanmu dengan cara apapun, kamu menikah dengan pria lain dan menyisakan banyak kenangan yang tak bisa kulupakan,” Rei diam sejenak, keduanya mencoba mengingat-ingat kenangan yang dulu pernah mereka lalui. “sampai saat ini aku belum bisa mengumpulkan puing-puing hatiku dan merangkainya kembali. Kamu egois Veve…”
          “Rei….” Ve mulai menatap wajah Rei. “ terserah kamu bilang aku apa, tapi semua kulakukan untuk kebaikan kamu. Sekarang, aku lebih hina daripada binatang sekali pun.”
          “Kenapa kamu memilih menikah dengan dia kalau kamu hanya ingin menikah dengan aku???  Teramat perih hati yang kurasakan Ve.”
          “Kamu kira aku senang dengan semua ini? Aku merasakan hal yang lebih perih dari yang kamu rasakan Rei, hatiku lebih hancur daripada hatimu. Seluruh kepingan hatimu yang tercecer tidak hilang dan suatu saat nanti kamu bisa merangkainya kembali. Tapi hatiku? Aku kehilangan separuh hatiku dan aku takan bisa merangkainya lagi. Sakit Rei, sakit…..”
          “Apa alasanmu meninggalkanku? Dulu kamu tidak pernah mau jawab, kuharap sekarang kamu bisa mengatakan semuanya.” 
        “Aku meninggalkanmu karena aku sudah merasa tidak pantas bersamamu, apalagi untuk menjadi istrimu. Karena….” Ve berhenti bicara, air mata yang keluar semakin deras.
          “Karena apa Ve??”
      Tangisan wanita cantik itu semakin membuat Rei ngilu, ia benar-benar tidak sanggup membiarkan air mata wanita yang masih ia cinta semakin membasahi pipi. Pria berparas tampan itu akhirnya mengeluarkan saputangan dari saku celananya—mengeringkan pipi dengan usapan lembut.
          Ve menghirup nafas panjang sebelum mengatakannya. “Kehormatanku direnggut olehnya Rei.” Setelah memberanikan diri, akhirnya ia bisa melepaskan kata itu, kata-kata yang tidak pernah ia ingin katakan sebelumnya pada lelaki yang juga masih ia cintai. Rei langsung tersentak mendengarnya. Hatinya terasa disambar petir, luluh lantah hingga ia tak mampu untuk berkata apa-apa lagi. “ketika kubertemu dengannya, dia mengajakku berbincang, dia berikan aku sebotol minuman, dan aku meminumnya. Tapi tak lama setelah itu aku tak sadarkan diri, ketika sadar tubuhku sudah tak dilapisi benang sehelai pun. Aku dinodai temanmu yang bajingan itu Rei, hatiku hancur, bahkan hidupku hancur, aku lebih hina dari binatang apapun.”
          Rei tak kuasa menahan kepedihan hatinya, sapu tangan yang masih dipegang terjatuh. “Izinkan aku membunuh bajingan itu Ve..” dengan geram Rei mengatakannya.
        “Jangan Rei, aku sayang kamu. Aku tidak mau kalau kamu masuk penjara, aku ingin melihatmu menikah dengan wanita lain, bukan melihatmu mendekam dipenjara.” 
     “Ini tidak bisa dimaafkan Ve, hatiku semakin hancur…” Ve tidak henti menangis. Kedua tangannya meraih tangan kanan Rei. “Tolong turuti permintaan terakhirku Rei, aku akan bahagia bila melihat pernikahanmu dengan wanita lain, aku ingin kamu segera menikah. Tumbuhkan rasa cinta untuk calon istrimu sebagaimana kamu menumbuhkan cinta untukku.” Rei hanya diam, tatapannya kosong. Lalu Ve pun meneruskan bicaranya. “Aku hapal sifat kamu. Kamu laki-laki setia, penyayang dan sangat baik, maka sepantasnya kamu mendapatkan wanita yang demikian. Rei, di mana pun, aku selalu teringat padamu, Rei yang sok puitis kalau membacakan sajak atau puisi untukku, Rei yang tak pernah melontarkan kata kasar padaku, Rei yang selalu menyudahi pertikaian diantara kita walau aku yang salah sekalipun, Rei yang cepat memaafkan, Rei yang selalu menjadi pelindungku, Rei yang mengerti perasaanku dan Rei yang selalu bisa buat aku tersenyum, bahkan sering kali aku dibuat tertawa bahagia. Kamu adalah kebalikan dari bajingan itu, bahkan beberapa kali dia pernah menamparku karena aku tidak pernah mau berhubungan dengannya, aku tidak mau diraba olehnya walau hanya menyentuh kulitku, aku sangat membencinya, Rei. Kurasa, wanita yang akan menjadi istrimu akan sangat bahagia memiliki suami sepertimu, maka segera menikahlah Rei.” 
     Pria tinggi itu hanya terdiam, kontrasnya bisu. Lama Ve menatap wajah Rei yang kaku, menunggunya bicara, namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Perlahan, air matanya pun melumer. Ve mengerti apa yang ia rasakan, tangan Ve masih memegang erat tangannya. Semakin malam suasana semakin membeku, kata-kata seolah barang mahal untuk dikeluarkan. “Aku akan membunuhnya..!” tiba-tiba dalam diam yang sudah cukup lama, hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.
        “Rei, biar Tuhan yang mengadili dan mencabut nyawanya, kamu tidak berhak Rei. Jangan kamu lakukan, aku benar-benar sanyang kamu, aku takut kamu dibuih,” diam sesaat. “lebih baik kamu menikah dengan wanita lain Rei, aku akan bahagia melihatnya.” kata sayang itu seperti cambukan untuk Rei malam ini, ia tidak bisa menerima orang yang ia sayang yang juga masih menyayanginya diperlakukan seperti itu. Empat bulan menyimpan rasa rindu dan mencoba merelakan Ve kepelukan temannya, tapi setelah ia tahu kenyataan pahit ini, kenyataan yang menyebabkan Ve tiba-tiba memutuskan hubungan harmonis yang dijalankan dengan syrari’at yang benar karena Rei hanya ingin melakukan hal itu saat sudah menikah nanti. Rei selalu berusaha untuk menjaga kehormatan Ve, gadis yang ia sayang, bahkan hanya untuk mencium pipinya yang halus pun ia tidak berani.

***

Setiap hari Ve selalu menanyakan kabar Rei melalui pesan singkat—sesekali ia meneleponnya. Namun tak pernah ada jawaban dari pria yang tujuh hari lalu bersamanya di puncak Bogor. Sepanjang perjalanan pulang dari puncak, Rei hanya diam, sepertinya kata-kata seperti apapun tak sanggup untuk mewakili perasaannya. Satu minggu sudah Rei menunggu kepulangan Rendi dari Jawa Timur, ia berniat untuk membunuhnya—tak peduli jika ia harus mendekam dipenjara dalam waktu yang lama sekalipun. Keesokan harinya terdengar dari surat kabar masyarakat kalau tubuh Rendi bersama mobilnya terguling di jurang yang sangat dalam dan ketika mobilnya mendarat di dasar jurang terjadi ledakan yang membuat mobil dan seisinya hanya menjadi debu hitam, termasuk Rendi.
      Pada suatu hari, Rei mengajak Ve untuk bertemu di kafe. Mereka datang berbarengan, Ve memperhatikan wajah Rei yang sudah jauh lebih baik daripada malam lalu di puncak. Dalam perbincangan santai tiba-tiba Rei mengucapkan hal yang membuat Ve terdiam.
       “Veve.. kepergian Rendi sudah melebihi masa Iddahmu, aku ingin kamu menjadi istriku, apa kamu bersedia?” 
       Cukup lama Ve diam, ia hanya memandangi pria yang mengajaknya untuk menikah. “Aku wanita kotor Rei, lebih baik kamu menikah dengan gadis yang masih suci kehormatannya.”
         “Apa kejadian itu adalah sebuah kesengajaan? Lagi pula kamu tidak pernah mau kan disentuh dengannya?”
        “Memang tidak ada kesengajaan, dan setelah itu pun aku tidak pernah mau disentuh olehnya. Tapi aku rasa lelaki sepertimu tidak pantas mendapatkan istri sepertiku Rei..”
         “Veve.. sebelum Rendi menglami kecelakaan, aku berniat untuk membunuhnya. Tapi kenyataan berkata lain, nyawa dia lebih dahulu di cabut dengan kecelakaan yang tragis. Itu artinya Tuhan memperkenankan aku untuk menihakimu Ve.. andai dia kembali pulang dengan selamat dan aku berhasil membunuhnya, aku pun masuk buih.”
          “Tapi Rei…”
          Rei memotong kata-kata Veve. “Kamu masih sayang kan dengan aku? Kata sayang yang kamu ucapkan di puncak lalu benar adanya, kan?”
       “Iya, aku memang masih sayang dengan kamu, sayang sekali, Rei. Tapi apa sebaiknya kamu mendapatkan wanita yang tidak kotor…” tiba-tiba Rei menutup bibir Ve dengan jari telunjuknya.
         “Jangan pernah ucapkan itu lagi Ve, semua itu bukan ketersengajaan. Dimataku kamu tetap Veve yang dulu, suci seperti sedia kala. Dan kurasa dimata Tuhan pun sama.” Sebelum Ve mengucapkan kata-kata padanya, Rei mengambil kotak kecil dari saku celananya. “Apa kamu bersedia meletakan cincin ini di jari masismu?” Veve diam, lalu disusul dengan anggukan.
        Dua bulan kemudia mereka menikah, membangun keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Saat malam pertama dilakukan, sungguh diluar dugaan, ternyata Ve masih dalam keadaan perawan, rupanya Rendi hanya menelanjangi tubuh mulusnya dan tak merenggut keperawanannya. Rei sangat bahagia dan Ve bahagia hidup dengan Rei, lelaki yang sangat ia hormati dan segani. Suatu malam, mereka duduk di balkon rumah sambil memandangai langit yang cerah.
          “Ve.. coba lihat bulan purnama di atas sana!” Ve pun mengikuti arahan suaminya.
         “Malam ini, rembulan itu untukmu..” Rei tersenyum dan wajah Ve bersemu merah. Kemudian Rei mencium kening Ve, istrinya.

[***SELESAI***]

Sabtu, 21 Desember 2013

Cerpen Ke-4 "Badut di Negeri Antah Berantah"


“BADUT DI NEGERI ANTAH BERANTAH”

          Saat pekat malam mulai mendekap waktu yang terus berjalan, seorang bocah laki-laki berjalan seorang diri sambil menangis dari desa Silabung hendak pergi ke desa Mataram untuk melihat jasad bapaknya yang kata para tetangganya tewas terbunuh oleh Mak Lampir. Kabarnya, setelah bertapa selama satu bulan Mak lampir kelaparan dan mencari manusia untuk dimakan, hingga terbunuhlah Sujiwo bapak dari bocah laki-laki itu yang bernama Randu. Setelah Sujiwo dengan mudahnya dibunuh oleh Mak Lampir untuk di makan, Mak lampir melihat seorang bocah laki-laki yang sedang didekap ibunya, ketakutan. Mak lampir langsung merebut bocah laki-laki itu dari dekapan ibunya dan meninggalkan Sujiwo yang sudah berlumuran darah. Mak lampir pun pergi dengan terus tertawa terkekeh yang membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengarnya.
          Randu terus berjalan sambil menangis tanpa ditemani siapapun. Tangisan Randu didengar oleh cecunguk Mak lampir, Gerandong, anak dari Mardian, siluman harimau yang juga bawahan Mak lampir. Tiba-tiba gerandong sudah ada di hadapan Randu, menghadang perjalanannya. Randu takut bukan kepalang, ia lari kembali menyusuri jalan yang sudah ia lalui, tapi Gerandong tiba-tiba ada di depannya lagi. Randu berlari ke segala penjuru arah, Gerandong tiba-tiba selalu ada dihadapan Randu, ia sengaja mempermainkannya --tidak langsung memakannya, hingga Gerandong bosan mempermainkan Randu, tak sabar ingin meminum darah dan memakan dagingnya, Gerandong menangkap dan membawanya pergi ke Goa tempat ia dan Mak lampir bersemayam. Tapi, di tengah-tengah perjalanan Sembara menghadang Gerandong dan langsung menyerangnya dengan ajian Cambuk Silat. Gerandong jatuh terkapar, dan Randu lari sembunyi ke balik pohon melihat pertarungan antara Sembara dan Gerandong, ia membalas serangan Sembara, namun kesaktiannya tak cukup menandingi Sembara. Tak lama terasa angin aneh yang membuat bulu kuduk merinding.
          “Mak Lampir, ya ini pasti tanda kedatangan Mak Lampir.” gumam Sembara. setelah berlalunya angin aneh terdengar suara tawa yang terkekeh. Mak Lampir telah tegak berdiri dengan tongkatnya di samping Gerandong yang tergeletak.
          “He-he-he................. Sembara! Lagi-lagi kau mengganggu cecungukku.”
          “Aku tidak akan membiarkan kau dan cecungukmu terus memakan korban. Akan kubinasakan kau!”
          Mak lampir tertawa lagi mendengar ucapan Sembara. “Sekarang waktunya aku balas dendam atas kekalahanku waktu lalu, he-he-he-he-he...”
          Terjadilah pertarungan yang sangat sengit antara Sembara dan Mak Lampir. Segala ajian yang Sembara miliki telah dikeluarkan, berupa: Cambuk Kilat, Selimut Kabut, Cryistal Kaca. Namun Mak Lampir sudah semakin kuat setelah pertapaannya. Mak Lampir berhasil membuat Sembara tersungkur dan mengalami luka dalam yang cukup serius. Saat Mak lampir hendak memukul Sembara dengan tongkatnya datanglah Mantili si pemilik Pedang Perak dan Pedang Setan. Pertarungan antara Mak lampir dan Mantili juga berjalan sangat sengit. Tubuh Mak Lampir hancur berkeping-keping setelah Mantili mengeluarkan pedang perak dan pedang setan andalannya. Tapi, Mak Lampir dengan ajian Rawaronteknya kembali mengembalikan tubuhnya seperti semula. Pertarungan terjadi kembali dengan sengit hingga Mantili terpukul Mak Lampir dengan ajian Pancasona yang membuat Mantili mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Melihat Mantili kalah, Sembara pun memanggil gurunya dengan suara batin, ia adalah Ki Jabat, penghuni hutan larangan yang mewariskan ilmunya pada Sembara. Ki Jabat merupakan musuh bebuyutan Mak Lampir hingga terjadi perebutan yang mengakibatkan hutan larangan direbut Mak Lampir, akan tetapi kemudian bisa direbut kembali oleh Ki Jabat.
          Tak lama Ki Jabat pun datang memenuhi panggilan muridnya, Sembara yang sudah kewalahan dengan kesaktian Mak lampir yang semakin bertambah besar dengan cepat. Terjadi lagi lah pertarungan antara Mak Lampir dengan Ki Jabat, namun tak sampai berjalan lama tiba-tiba datang beberapa Badut di hadapan mereka sehingga mereka berhenti bertarung. Semua mata tertuju pada lima makhluk aneh yang baru mereka lihat; makhluk yang perutnya gendut dan kepalanya mirip dengan kepala tikus, mukanya putih seperti diolesi batu kapur. Mereka terheran-heran dan mencoba menebak-nebak makhluk apa yang mereka lihat. Sebagian dari mereka mengira badut itu adalah jelmaan dari siluman. Kelima Badut itu diam, Nampak sedih dari raut wajah mereka yang aneh itu.
          “Siapa dia Jabat?” tanya Mak Lampir pada Ki Jabat.
          “Aku tidak tahu, sepertinya dia jelmaan dari siluman.”
          “Tapi tidak ada yang aku kenali dari bau mereka.”
          “Ya, aku juga,” Ki Jabat melihat ke Sembara, Mantili, Gerandong dan Randu yang masih bersembunyi di balik pohon. “Apa kalian kenal dengan mereka?”
          “Aku tidak mengenalnya.” Jawab mereka dengan serempak.
          Ki Jabat menghampiri mereka, memperhatikannya dari dekat dan mengendus bau badan kelima Badut itu. “Siapa kalian kisanak? Dan sedang apa di sini?”
          Kelima badut tidak menjawab, sampai kedua kalinya  Ki Jabat bertanya masih tidak menjawab.
          “Kami lapar…” kata salah satu badut yang perutnya paling gendut.
          “Baiklah, mari ikutlah dengan kami.” kata Sembara.
          “Ke mana?”
      “Ke padepokan kami, di sana kalian boleh makan sepuasnya, setelah kenyang kalian boleh membawa bekal untuk perjalanan kalian mengembara.”
          “Baiklah, kami akan ikut dengan kalian.”
          “Ikutlah denganku, aku akan memberi kalian makan daging lezat dan kesaktian, tapi dengan syarat, kalian harus tunduk dan patuh padaku.” kata Mak Lampir, ia bermaksud untuk memanfaatkan badut-badut itu agar membantunya dalam mengalahkan Ki Jabat. Akhirnya dua orang ikut dengan Sembara dan tiga orang tergiur dengan kesaktian yang Mak Lampir janjikan.


***
          Setelah diberi makan pada hari di mana para Badut kelaparan. Badut-badut itu tidak mau pergi, mereka meminta izin pada Sembara untuk tinggal di padepokan, Sembara pun mengizininya. Namun, seiring terus berjalannya waktu, Badut-badut itu membuat mereka angkara murka. Para Badut itu teramat serakah, selalu makan jatah mereka sehingga mereka tidak segan untuk memerangi para Badut. Bukan hanya jatah mereka yang dimakan, tapi upeti rakya dimakan juga.
       Pun demikian dengan Mak lampir yang dibuat angkara murka dengan ketiga badut yang ikut dengannya. Ia dan Gerandong sudah mencoba membunuh para Badut, tapi ternyata Badut-badut membunyai pusaka seribu tombak dan mereka belum memiliki ajian untuk menagkis pusaka yang super cepat, pusaka yang sangat mematikan, lebih sakti dari pada keris Ciwanara milik Prabu Siliwangi. “Tar di sini..” “Ter di sana..” “Tar-ter-tor.. di mana-mana.”
         Begitu pun dengan Sembara, baru sebulan dua badut itu tinggal di padepokan, mereka merebut sebagian wilayah dan memakan jatah upeti yang harusnya mereka terima sehingga Sembara, Ki Jabat, Mantili dan Farida anak dari Raisman murid dari Nyai Bidara yang juga tinggal di padepokan bersama Sembara memerangi para Badut yang perutnya semakin hari semakin besar dan semakin serakah. Ditambah jumlah para Badut setiap tiga hari sekali bertambah, entah dari mana para Badut itu berdatangan.
    Mak lampir dan cecunguknya mengadakan pertemuan dengan Sembara dan Ki Jabat, membicarakan bagaimana cara mengusir Badut-badut super serakah.
          “Bagaimana ini Sembara?” kata Mak Lampir dengan kesal, ia tidak lagi tertawa terkekeh. Dan baru kali ini ia dibuat berhenti tertawa.
       “Aku belum tahu caranya, yang sedang kupikirkan dari mana datangnya badut itu.”  jawab Sembara, sementara yang lain diam; memikirkan bagaimana cara mengalahkan Badut-badut yang terus bertambah.
          Mak lampir kemudian melihat apa yang Badut-badut kerjakan dengan kaca benggalanya. Dari kaca benggala terlihat mereka mendirikan kerajaan yang megah, hasil dari harta rampasan yang mereka dapatkan. Sembara meminta Mak Lampir untuk melihat dari mana datangnya Badut-badut serakah itu. dengan gerakan tangan di atas kaca benggala dan mantra-mantra, terlihatlah dari mana mereka berdatangan. Ternyata Badut-badut berdatangan dari tempat yang kala itu mereka bertarung.
         “Kurangajar……!!!” kata Mak Lampir, kekesalannya semakin memuncak. “Aku tidak dapat lagi melihat lebih jauh tentang asal muasal para badut itu.”
       “Heh! Jabat. Bantu aku agar Kaca Benggalaku bisa memberikan keterangan lebih jauh.” sambung Mak Lampir.
        Ki Jabat pun membantu Mak Lampir mengalirkan tenaga dalam pada Kaca Benggala, dan terlihatlah sumber Badut-badut itu berasal. Ternyata ada dukun yang mengirim mereka ke Negeri Antah Berantah. Badut-badut itu berasal dari abad ke-21.
          “Dari kerajaan apa mereka?” tanya Gerandong.
          “Mereka dari kerajaan Endonesiah, sebuah Negara yang berevolusi dari Nosantara yang terdiri dari kerajaan-kerajaan di jaman kita saat ini.” jawab Ki Jabat.
          “Apa itu artinya mereka adalah masa depan Nosantara?” Sembara penasaran.
          “Ya, benar sekali. Mereka masa depan dari Nosantara.”
          “Dar… Der… Dor…” tiba-tiba pusaka seribu tombak terdengar keras sekali di dalam goa. Dan seketika para Badut berkepala tikus sudah ada di hadapan mereka, terus mengarahkan pusaka seribu tombak ke arah mereka. Mak Lampir dan semua yang berkumpul pergi kalang kabut, membiarkan persemayamannya dikuasai para Badut, sebab jika mereka tidak kabur hanya membuang nyawa sia-sia, mereka berpikir lebih baik mencari cara mengalahkan mereka daripada mereka mati sia-sia, dan persemayamannya tetap dirampas oleh Badut-badut itu.
          Mereka bersepakat ke Padepokan untuk meneruskan pembicaraan, tapi ternyata ketika sudah sampai di Padepokan, para Badut tikus sudah menguasai Padepokan. Lalu mereka mencari tempat lain dengan sangat-sangat kesal karena semuanya telah dikuasai para Badut. Kini, tibalah mereka di tengah hutan larangan tempat persemayaman Ki Jabat.
          “Kenapa masa depan Nosantara seperti itu, penuh dengan Badut serakah.” gumam Mantili.
     “Entahlah, di sana mereka tinggal di sebuah kerajaan megah. Jauh lebih modern daripada Padepokan.” ujar Ki Jabat.
       “Aku akan menghubungi dukun yang mengirim para Badut ke sini. Sial dangkalan!” Mak Lampir kesal. Ia langsung menghubungi sang Dukun dengan mata batinnya dan bicara antar batin.
          “Heh! Kurangajar….!!!!!!!! Kenapa kau mengirim para Badut ke Negeri Antah Berantah?”
          “Aku minta maaf pada kalian di Negeri Antah Berantah. Ini atas permintaan rakyat Endonesiah yang sudah sangat diresahkan oleh para Badut-badut itu. mereka selalu berdoa agar para badut itu mendapat kutukan dari sang dewa dan di hilangkan dari muka bumi ini, tapi sang Dewa rupanya hanya mengutuknya saja jadi badut tikus, tidak melenyapkannya. Mereka meminta aku untuk mengirim mereka ke Negeri Antah Berantah, berharap kalian yang sakti mandra guna bisa melenyapkan mereka.” jawab sang Dukun.
          “Tapi di sini pun kami kewalahan dengan mereka, mereka terlalu serakah.”
         “Cobalah kalian hubungi orang-orang sakti mandraguna lainnya, seperti Prabu Angling Dharma dari Temanggung, Prabu Siliwangi dari Padjajaran, Si Buta dari Gua Hantu, Arya Kamandanu, putra Mpu Hanggareksa, seorang ahli pembuat senjata kepercayaan Prabu Kertanagara, raja kerajaan Singhasari, Brama Kumbara dan Wiro Sableng si pemilik kapak 2-1-2.”
         Mak lampir dan yang lainnya menyetujui usulan sang Dukun. Mereka langsung memanggil para pendekar sakti mandra guna lainnya dengan batin. Dan esok mereka semua akan menghadiri panggilan Mak Lampir dan kawan-kawan, mereka akan mengadakan pertemuan khusus.

***

        Ketika hari sudah hampir gelap, mereka semua pergi, hanya tinggal Mak Lmpir dan musuh bebuyutannya yang kini menjadi teman, Ki Jabat, demi menumbangkan Badut-badut tikus super serakah dan yang mempunyai pusaka Seribu Tombak. Dalam perbincangannya, mereka melihat tiga Badut sedang berjalan ke arah mereka dengan pusaka Seribu Tombak. Mak lampir dan Ki Jabat pun mengumpat di balik pohon besar untuk menyelidiki apa yang akan mereka lakukan. Satu Badut dari tiga badut yang mereka lihat mengeluarkan pusaka aneh; sebuah pusaka yang berbentuk kotak dan mempunyai gambar di layarnya, gambar di layar itu terlihat Badut lain, Badut itu saling bicara dengan pusaka kotak itu yang belum mereka ketahui namanya.
          “Pusaka apa lagi itu Nenek Peot?” tanya Ki Jabat pada Mak Lampir.
        “Aku juga tidak tahu, sepertinya itu revolusi dari Kaca benggalaku kalau mereka berasal dari masa depan; abad ke-21.”
          “Kenapa mereka tidak dihukum mati saja di sana?”
     “Entahlah, tapi aku menemukan sebuah kertas bergambar di jalan kemarin.” Mak lampir mengeluarkan sebuah gambar dari kantong menyannya.


          “Itu berarti mereka dibiarkan berkembang biak dan dengan dengan seenaknya diberi kebebasan serta tidak diberi hukuman di kerajaan Endonesiah?”
         “Ya, sepertinya begitu. Aku juga menemukan gambar ini.” Mak lampir mengeluarkan gambar satunya lagi.


          “Oh, berarti yang salah Raja Endonesiah, apa dia tidak punya kesaktian apa-apa sehingga para Badut tikus itu sampai berkembang biak?”
          “Sepertinya tidak ada hukuman yang memberatkan mereka.”
       “Asemmmm… Masa depan Nosantara dikuasai para Badut bajingan itu. Kalau saja ada Raja Endonesiah di sini, sudah kucabik-cabik tubuhnya dan kuserahkan pada cecungukku untuk dimakan bersama sebagai hidangan spesial, daging Raja Endonesiah.”

***
        Keesokan harinya, sesuai dengan kesepakatan, para pendekar sakti mandra guna datang. Mereka berkumpul di hutang larangan yang dikuasai Ki Jabat. Mereka mencari solusi bagaimana melenyapkan Badut-badut sialan itu.
       Prabu Siliwangi bercerita, ia pernah diberi sebuah gambar oleh putranya raden Kian Santang tentang masa depan Nosantara. Dan ia juga pernah diceritakan oleh putranya kalau di masa depan akan ada Badut-badut rakus yang selalu menindas Rakyat kecil dan melahap harta kerajaan Endonesiah dengan rakus dan tidak tahu malu. Keterangan itu di dapat Kian Santang setelah ia masuk Islam, dan Kian Santang sendiri mendapat keterangan itu dari gurunya, ia juga mendapat sebuah gambaran dari gurunya tentang perbedaan hukum Islam dan hukum yang berlaku di kerajaan Endonesiah untuk para Badut itu.
          “Apa Prabu membawa gambar yang pernah diberikan putramu, Kian Santang?” tanya Sembara.       “Ya, gambar itu selalu aku bawa-bawa kemana pun aku pergi, gambar itu seperti wasiat terlarang.” Prabu Siliwangi mengeluarkan gambar itu dari dalam tubuhnya, seperti ia menyimpan keris Ciwanara. Ia memperlihatkan gambar itu pada semua yang ada di tempat; Gerandong, Mak Lampir, Ki Jabat, Brama Kumbara, Mantili, Prabu Angling Dharma, Wiro Sableng, Arya Kamandanu, Si Buta dari Gua Hantu juga Sembara. Mereka melihanya dengan sangat serius dan dengan sangat menyimpan kekesalan pada raja Endonesiah yang tidak tegas menghukum para Badut sang penghancur Nosantara.
          “Sial dangkalan..” teriak Mak Lampir seraya memukul tongkatnya ke tanah.


      Tiba-tiba, saat mereka sedang serius melihat gambar yang masih dipegang Prabu Siliwangi, datanglah segerombolan Badut tikus yang ingin berniat menguasai hutan larangan. Terjadilah pertempuran yang sangat sengit. Segala ajian dan benda pusaka dikeluarkan oleh mereka, akhirnya jumlah para Badut tikus sedikit berkurang, tapi tenaga mereka terkuras habis. Salah satu badut mengeluarkan benda yang waktu itu dilihat oleh Mak Lampir dan Kijabat, mereka meletakannya di telinga, lalu berbicara sendiri.
          “Pusaka apa itu Ki Jabat?” tanya Prabu Angling Dharma dan Wiro Sableng berbarengan.
         “Itu pusaka revolusi dari kaca benggala Mak Lampir, tapi aku juga baru tahu kalau pusaka itu juga revolusi dari ajian Sukma Reksa. Rupanya di abad ke-21 perkataan yang biasa kita sampaikan lewat batin di rubah dengan pusaka itu.” Ki Jabat mencoba mengira-ngira.
          “Apa itu yang disebut teknologi?” Prabu Siliwangi mengkerutkan dahi.
          “Ya, bisa jadi. Mungkin itu yang dinamakan teknologi.” jawab Sembara.
        “Apa itu teknologi?” Mak Lampir tidak mengerti dengan teknologi, kata yang asing di telinganya dan asing juga di Negeri Antah Berantah.
          “Teknologi adalah hasil perkembangan jaman.” Mantili menjawab sebisanya. Mereka semua saling bertatap wajah. tak Lama berakhirnya Badut itu bicara lewat benda aneh tersebut, datanglah puluhan Badut serupa dengan mereka. Rupanya sang Dukun masih terus mengirim Para Badut ke Negeri Antah Berantah, sebagian yang lainnya karena Badut itu lari di kejara Raja KPK yang bertempat di Embatavia, kerajaan KPK punya senjata ampuh untuk menangkap Badut-badut itu dan berniat menghancurkan mereka, maka larilah para Badut ke Negeri Antah Berantah demi menghindari serangan dari Raja KPK dan prajuritnya.

          “Huh.. Hah.. Huh.. Hah...” Sorak-sorai para Badut semakin bergema. Dan di saat itulah datang seorang bocah yang lari telanjang kaki, bocah yang kala itu pernah ditolong Sembara karena Gerandong membawanya untuk dimakan, bocah itu adalah Randu. Semua mata tertuju pada Randu yang kini telah berhenti di tengah-tengah antara Para badut tikus dan Mak Lampir, Ki jabat, Prabu Angling Dharma dan yang lainnya. Suara teriakan para badut pun berhenti, semua yang ada di tempat diam.
          “Botol apa itu Randu? Apa itu pusaka?” tanya Sembara.
          Tanpa menjawab, Randu membuka tutup botol yang terbuat dari kayu, dan keluarlah gumpalan asap tebal dari dalam botol, perlahan membentuk makhluk Jin.
          “Terima kasih sudah membebaskanku, aku akan beri satu permintaan, sebutkanlah!”
          “Aku mau Badut-badut serakah dan kejam itu hilang dari muka bumi ini..!”
          “Baiklah, aku akan mengabulkannya.”
          Dengan sekejap para Badut-badut berwajah tikus pun lenyap dari bumi ini.              
        “Ente ajaib... Ente Ajaib........” mereka semua memuji Randu dan sang Jin pergi kembali ke Timur tengah.

*[---SELESAI---]*


Note    : Gambar saya copas dari internet.

Buat para penerus kerajaan Endonesiah, mari kita sama-sama belajar untuk tidak korupsi, dalam hal sekecil apapun, meski bukan menyangkut uang. Sesuatu yang besar, terjadi karena dimulai dari hal yang kecil.
Di jepang, mereka yang terbukti melakukan perbuatan tidak terpuji, lebih memilih haragiri atau bisa diartikan bunuh diri sendiri karena harga diri. Lha, kalau di kerajaan Endonesiah? Jangankan melakukan haragiri/bunuh diri, ini malah bunuh orang lain demi harga diri. Sungguh kejam dan gak tahu diri Badut-badut tikus Endonesiah. Maka dari itu.........................................


Menjelang pemilu 2014 saya pilih capres yang berani menghukum mati koruptor
 
 



Atau kalau tidak di hukum mati, ya setidaknya potong tangan.
KALAU TIDAK, SAYA MEMILIH GOLPUT SAJALAH..!!!