Aku hanya ingin bercerita kepadamu, dia, mereka, dan siapa saja yang mau mendengarkan ceritaku.
Selasa, 31 Desember 2013
Cerpen Ke-5 "Rembulan Untukmu"
“REMBULAN UNTUKMU”
Dengan
langkah gontai Rei
menyisir malam, menemani sunyi di bawah awan yang menutupi langit dan
perhiasannya. Matanya selalu menatap ke bawah meski langkah terus berjalan ke
depan, terkadang mata yang cekung melihat ke sisi kanan dan kiri. Kulitnya yang
putih tampak menguning terkena sinar lampu di sepanjang jalan yang dilewati.
Jaket lusuh terselempang di bahu, dibiarkan tubuhnya dihempas angin malam—hingga
ia terhenti pada sebuah rumah dengan lampu-lampu yang berkerlap-kerlip indah
menghiasi pepohonan di taman halaman rumah. Tubuh tingginya tegak
berdiri seperti tongkat yang menancap di tanah, diam tanpa ekspresi.
Lama sudah
berdiri, Rei memilih duduk pada bangku yang tersedia di bawah pohon yang sudah
mati; tak berdaun dan terkikis oleh waktu.
“Jika
memang ini sudah menjadi takdir hidupku, aku akan mencoba mengikhlaskannya.” Rei
bergeming pelan seraya melihat rumah yang nampak sepi dari luar. Matanya mulai
berkaca-kaca, menahan kepedihan di hati, membiarkannya hanyut bersama malam
yang semakin pekat. Kepedihan hati Rei
semakin terasa, seperti tercabik-cabik ketika melihat teman kuliahnya empat tahun lalu
datang kerumah itu.
Keesokan harinya, Rei bersiap-siap untuk memenuhi
undangan Ve. pada acara pernikahannya, dengan
berat hati Rei
berusaha untuk bisa menghadiri acara yang sangat membuatnya terpukul, pedih
sekaligus. Sesampai di tempat acara pernikahan yang digelar dikediaman Ve, lagi-lagi Rei harus menahan gejolak amarah
hatinya yang hampir membeludak, berkali-kali matanya berkaca-kaca, namun Rei
berusaha sebisa mungkin untuk dapat menjaganya agar tetap terlihat tegar.
“Selamat ya Ve, semoga langgeng.” ucap Rei
lirih seraya menatap mata Ve yang juga terlihat berbayang. Ve tidak menjawab
sepatahkata pun, tangan yang saling bersalaman tidak segera terlepas. Mata
saling menatap, yang terlihat bukan hanya dua bola mata Rei yang nampak berair,
tapi dua mata itu mampu melihat hingga menembus dinding hati yang mulai rapuh.
Perlahan Rei melepas tangan halus yang masih menempel ditangannya. Rendi mulai
menyadari bahwa Ve, gadis cantik dengan kebiasaan rambut yang selalu dicupel
dan yang selalu terlihat anggun dengan hal yang sederhana itu saling bertemu
mata cukup lama dengan Rei, teman kuliahnya empat tahun silam. Rei mulai
memindahkan tangannya pada Rendi, sambil tersenyum Rei berusaha untuk dapat
mengucapkan kata-kata selamat untuk Rendi atas pernikahannya dengan Ve.
Rei duduk
disalah satu bangku yang disediakan untuk tamu, matanya melihat ke segala arah.
Dilihatnya Ve semakin anggun dengan gaun pengantin yang menempel di tubuhnya yang
seksi, sesekali Ve pun melihat ke arahnya dengan tatapan penuh kenangan saat ia
masih menjalani hari-harinya dengan Rei, yang kini hanya menjadi masalalu
berikut dengan kenangan-kenangan indah yang juga akan ikut terkubur. Sebulan yang
lalu, rasanya baru kemarin Ve rasakan bisa tertawa lepas dengan Rei. Namun
mulai detik ini ia akan berusaha untuk melupakan semua kenangan manisnya dengan
lelaki bertubuh tinggi itu.
Empat bulan berlalu, Rei selalu berusaha melupakan Ve yang sudah menjadi istri
temannya. Rasa cinta tak pernah mau keluar dari relung hatinya, menyingkir dan
menjauh dari hidupnya. Dua bulan Rei selalu berusaha mencari kesibukan apapun
demi melupakan Ve, gadis yang kabarnya saat ini tengah ditinggal suaminya ke Jawa
Timur. Rei terdiam dari balik jendela kamar klasiknya, memandang keluar, jauh
menangkap cakrawala yang membentang luas berselimuti hitam yang mulai meraba
hari.
Bosan
dengan suasana malam yang selalu dihabiskan di kamar berteman suara musik dari
radio combo dan ikan-ikan yang asik mondar-mandir di dalam aquarium mini. Rei
memutuskan untuk pergi ke toko buku terlengkap, mencari novel inspirasi agar
terbebas dari jerat rindu yang sudah tak semestinya ada dalam hatinya.
“Rei....
Reinaldy..” suara yang sudah lama tak terdengar tiba-tiba berhembus dari
belakang menyentuh telinganya. Rei membalikan badan dengan bayang-bayang sosok
wanita yang tengah dirindu.
“Veve....”
ucap Rei pelan, rasanya tak percaya dengan apa yang ia lihat oleh mata
kepalanya. “Sedang apa kamu Ve?” sambung Rei setelah Ve mendekat kehadapannya.
“Kemana
saja kamu Rei? Kenapa tidak pernah memberi kabar? Kenapa nomor ponselmu tidak
aktif?” mata Ve terlihat berair, berbayang-bayang. Pertanyaan Ve membuat hati
Rei tersentak, seperti melukiskan keadaan tidak menyenangkan. Rei diam sejenak
sebelum bicara, matanya terus menatap mata Ve yang semakin berkaca-kaca, hingga
akhirnya tetesan air bening jatuh membasahi lantai.
“Ada apa
kamu Ve? Kenapa menangis?” ingin rasanya Rei mengusap air mata yang membasahi
pipi wanita cantik dihadapannya, tapi niat itu terhalang dengan status
pernikahan yang membentangkan jarak antara mereka.
“Rei....
aku ingin banyak cerita sama kamu, bisa kan temani aku?”
Rei tidak langsung
menjawab, tapi hatinya terus bertanya-tanya mengapa wanita yang rambutnya
dicupel itu menangis. “Kamu pasti ingin cerita kalau kamu sedang merindukan
Rendi, yah?”
“Bawa aku
pergi yang jauh Rei, temani aku malam ini.”
“Tapi..
tapi bagaimana kalau suamimu tahu kalau kamu pergi denganku, mantan kekasihmu?”
“Aku tidak
peduli, aku tidak peduli dia marah padaku.”
“Tapi aku
peduli Ve, aku peduli sama kamu...” cus.... kata-kata itu tak sengaja meluncur
bagai roket yang tidak bisa dikendalikan, Rei terdiam setelah mengucapkan itu.
“Kamu
masih peduli dengan aku Rei? Kalau kamu peduli, kemana saja kamu? Setengah
putus asa aku mencarimu. Jahat kamu Reinaldy.” Kata-kata yang keluar dari bibir
merah wanita cantik itu terdengar merintih di telinga Rei, membuatnya ingin
mendengarkan semua keluhan
Ve.
“Mari,
ikutlah denganku!”
Tanpa
mengiyakan, Ve langsung mengikuti Rei dari belakang, hingga mobilnya terus
mengikuti Rei ke puncak bogor. Dari atas puncak, mereka melihat lampu-lampu
yang berkerlap-kerlip tampak menghiasi dataran bumi, melebihi bintang-bintang
yang bertaburan di angkasa.
Ve yang duduk di sebelah kanan Rei diam; juga tidak
mengerti bagaimana harus memulainya meski berjuta pertanyaan.
“Apa yang buat kamu menangis Ve?” Rei mencoba mencairkan kebekuan yang sudah beberpa menit terjadi, matanya melihat wajah Ve yang masih melihat lampu yang bewarna-warni di bawah sana.
“Kenapa kamu dulu tidak menghamili aku saja Rei?” spontan pria yang duduk disebelahnya tersentak dengan peranyaannya.
“Apa yang buat kamu menangis Ve?” Rei mencoba mencairkan kebekuan yang sudah beberpa menit terjadi, matanya melihat wajah Ve yang masih melihat lampu yang bewarna-warni di bawah sana.
“Kenapa kamu dulu tidak menghamili aku saja Rei?” spontan pria yang duduk disebelahnya tersentak dengan peranyaannya.
“Kenapa
kamu bicara seperti itu?”
“Dulu, aku
hanya ingin menikah dengan kamu Rei, tentu sebelum aku menikah dengan Rendi,
teman kuliahmu,” ia berhenti sejenak sebelum memulainya lagi. “maafkan aku yang
tiba-tiba mengakhiri hubungan kita, sungguh tidak ada sedikitpun niatku untuk
berpisah denganmu, apalagi sampai menikah dengan orang lain.” sambil terus
melihat ke depan, Ve mengeluarkan air mata. Rei membiarkan air mata Ve terus
menetes, tanpa berusaha untuk mengusapnya, sikapnya menahan keinginan hati;
ingin mengusap bening air yang tumpah dari mata indahnya, Rei sebenarnya tidak
bisa melihat wanita menangis, apalagi tangisan itu karenanya. Namun ia tidak bisa berbuat
apa-apa, ia tidak punya hak menyapu air mata dari pipinya.
“Kamu tahu Ve? Ketika kamu memutuskan
hubungan kita dan memilih menikah dengan Rendi, hatiku hancur, hancur
berantakan. Aku selalu berusaha untuk bisa melupakanmu dengan cara apapun, kamu
menikah dengan pria lain dan menyisakan banyak kenangan yang tak bisa
kulupakan,” Rei diam sejenak, keduanya mencoba mengingat-ingat kenangan yang
dulu pernah mereka lalui. “sampai saat ini aku belum bisa mengumpulkan
puing-puing hatiku dan merangkainya kembali. Kamu egois Veve…”
“Rei….” Ve mulai menatap wajah Rei. “
terserah kamu bilang aku apa, tapi semua kulakukan untuk kebaikan kamu.
Sekarang, aku lebih hina daripada binatang sekali pun.”
“Kenapa kamu memilih menikah dengan
dia kalau kamu hanya ingin menikah dengan aku??? Teramat perih hati yang kurasakan Ve.”
“Kamu kira aku senang dengan semua
ini? Aku merasakan hal yang lebih perih dari yang kamu rasakan Rei, hatiku
lebih hancur daripada hatimu. Seluruh kepingan hatimu yang tercecer tidak
hilang dan suatu saat nanti kamu bisa merangkainya kembali. Tapi hatiku? Aku
kehilangan separuh hatiku dan aku takan bisa merangkainya lagi. Sakit Rei,
sakit…..”
“Apa alasanmu meninggalkanku? Dulu
kamu tidak pernah mau jawab, kuharap sekarang kamu bisa mengatakan semuanya.”
“Aku meninggalkanmu karena aku sudah merasa tidak pantas bersamamu, apalagi untuk menjadi istrimu. Karena….” Ve berhenti bicara, air mata yang keluar semakin deras.
“Aku meninggalkanmu karena aku sudah merasa tidak pantas bersamamu, apalagi untuk menjadi istrimu. Karena….” Ve berhenti bicara, air mata yang keluar semakin deras.
“Karena apa Ve??”
Tangisan wanita cantik itu semakin
membuat Rei ngilu, ia benar-benar tidak sanggup membiarkan air mata wanita yang
masih ia cinta semakin membasahi pipi. Pria berparas tampan itu akhirnya mengeluarkan
saputangan dari saku celananya—mengeringkan pipi dengan usapan lembut.
Ve menghirup nafas panjang sebelum
mengatakannya. “Kehormatanku direnggut olehnya Rei.” Setelah memberanikan diri,
akhirnya ia bisa melepaskan kata itu, kata-kata yang tidak pernah ia ingin
katakan sebelumnya pada lelaki yang juga masih ia cintai. Rei langsung
tersentak mendengarnya. Hatinya terasa disambar petir, luluh lantah hingga ia
tak mampu untuk berkata apa-apa lagi. “ketika kubertemu dengannya, dia
mengajakku berbincang, dia berikan aku sebotol minuman, dan aku meminumnya.
Tapi tak lama setelah itu aku tak sadarkan diri, ketika sadar tubuhku sudah tak
dilapisi benang sehelai pun. Aku dinodai temanmu yang bajingan itu Rei, hatiku
hancur, bahkan hidupku hancur, aku lebih hina dari binatang apapun.”
Rei tak kuasa menahan kepedihan
hatinya, sapu tangan yang masih dipegang terjatuh. “Izinkan aku membunuh
bajingan itu Ve..” dengan geram Rei mengatakannya.
“Jangan Rei, aku sayang kamu. Aku
tidak mau kalau kamu masuk penjara, aku ingin melihatmu menikah dengan wanita
lain, bukan melihatmu mendekam dipenjara.”
“Ini tidak bisa dimaafkan Ve, hatiku semakin hancur…” Ve tidak henti menangis. Kedua tangannya meraih tangan kanan Rei. “Tolong turuti permintaan terakhirku Rei, aku akan bahagia bila melihat pernikahanmu dengan wanita lain, aku ingin kamu segera menikah. Tumbuhkan rasa cinta untuk calon istrimu sebagaimana kamu menumbuhkan cinta untukku.” Rei hanya diam, tatapannya kosong. Lalu Ve pun meneruskan bicaranya. “Aku hapal sifat kamu. Kamu laki-laki setia, penyayang dan sangat baik, maka sepantasnya kamu mendapatkan wanita yang demikian. Rei, di mana pun, aku selalu teringat padamu, Rei yang sok puitis kalau membacakan sajak atau puisi untukku, Rei yang tak pernah melontarkan kata kasar padaku, Rei yang selalu menyudahi pertikaian diantara kita walau aku yang salah sekalipun, Rei yang cepat memaafkan, Rei yang selalu menjadi pelindungku, Rei yang mengerti perasaanku dan Rei yang selalu bisa buat aku tersenyum, bahkan sering kali aku dibuat tertawa bahagia. Kamu adalah kebalikan dari bajingan itu, bahkan beberapa kali dia pernah menamparku karena aku tidak pernah mau berhubungan dengannya, aku tidak mau diraba olehnya walau hanya menyentuh kulitku, aku sangat membencinya, Rei. Kurasa, wanita yang akan menjadi istrimu akan sangat bahagia memiliki suami sepertimu, maka segera menikahlah Rei.”
Pria tinggi itu hanya terdiam, kontrasnya bisu. Lama Ve menatap wajah Rei yang kaku, menunggunya bicara, namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Perlahan, air matanya pun melumer. Ve mengerti apa yang ia rasakan, tangan Ve masih memegang erat tangannya. Semakin malam suasana semakin membeku, kata-kata seolah barang mahal untuk dikeluarkan. “Aku akan membunuhnya..!” tiba-tiba dalam diam yang sudah cukup lama, hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.
“Ini tidak bisa dimaafkan Ve, hatiku semakin hancur…” Ve tidak henti menangis. Kedua tangannya meraih tangan kanan Rei. “Tolong turuti permintaan terakhirku Rei, aku akan bahagia bila melihat pernikahanmu dengan wanita lain, aku ingin kamu segera menikah. Tumbuhkan rasa cinta untuk calon istrimu sebagaimana kamu menumbuhkan cinta untukku.” Rei hanya diam, tatapannya kosong. Lalu Ve pun meneruskan bicaranya. “Aku hapal sifat kamu. Kamu laki-laki setia, penyayang dan sangat baik, maka sepantasnya kamu mendapatkan wanita yang demikian. Rei, di mana pun, aku selalu teringat padamu, Rei yang sok puitis kalau membacakan sajak atau puisi untukku, Rei yang tak pernah melontarkan kata kasar padaku, Rei yang selalu menyudahi pertikaian diantara kita walau aku yang salah sekalipun, Rei yang cepat memaafkan, Rei yang selalu menjadi pelindungku, Rei yang mengerti perasaanku dan Rei yang selalu bisa buat aku tersenyum, bahkan sering kali aku dibuat tertawa bahagia. Kamu adalah kebalikan dari bajingan itu, bahkan beberapa kali dia pernah menamparku karena aku tidak pernah mau berhubungan dengannya, aku tidak mau diraba olehnya walau hanya menyentuh kulitku, aku sangat membencinya, Rei. Kurasa, wanita yang akan menjadi istrimu akan sangat bahagia memiliki suami sepertimu, maka segera menikahlah Rei.”
Pria tinggi itu hanya terdiam, kontrasnya bisu. Lama Ve menatap wajah Rei yang kaku, menunggunya bicara, namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Perlahan, air matanya pun melumer. Ve mengerti apa yang ia rasakan, tangan Ve masih memegang erat tangannya. Semakin malam suasana semakin membeku, kata-kata seolah barang mahal untuk dikeluarkan. “Aku akan membunuhnya..!” tiba-tiba dalam diam yang sudah cukup lama, hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.
“Rei, biar Tuhan yang mengadili dan
mencabut nyawanya, kamu tidak berhak Rei. Jangan kamu lakukan, aku benar-benar
sanyang kamu, aku takut kamu dibuih,” diam sesaat. “lebih baik kamu menikah
dengan wanita lain Rei, aku akan bahagia melihatnya.” kata sayang itu seperti
cambukan untuk Rei malam ini, ia tidak bisa menerima orang yang ia sayang yang
juga masih menyayanginya diperlakukan seperti itu. Empat bulan menyimpan rasa
rindu dan mencoba merelakan Ve kepelukan temannya, tapi setelah ia tahu
kenyataan pahit ini, kenyataan yang menyebabkan Ve tiba-tiba memutuskan
hubungan harmonis yang dijalankan dengan syrari’at yang benar karena Rei
hanya ingin melakukan hal itu saat sudah menikah nanti. Rei selalu
berusaha untuk menjaga kehormatan Ve, gadis yang ia sayang, bahkan hanya untuk
mencium pipinya yang halus pun ia tidak berani.
***
Setiap
hari Ve selalu menanyakan kabar Rei melalui pesan singkat—sesekali ia
meneleponnya. Namun tak pernah ada jawaban dari pria yang tujuh hari lalu
bersamanya di puncak Bogor. Sepanjang perjalanan pulang dari puncak, Rei hanya
diam, sepertinya kata-kata seperti apapun tak sanggup untuk mewakili
perasaannya. Satu minggu sudah Rei menunggu kepulangan Rendi dari Jawa Timur,
ia berniat untuk membunuhnya—tak peduli jika ia harus mendekam dipenjara dalam
waktu yang lama sekalipun. Keesokan harinya terdengar dari surat kabar
masyarakat kalau tubuh Rendi bersama mobilnya terguling di jurang yang sangat
dalam dan ketika mobilnya mendarat di dasar jurang terjadi ledakan yang membuat
mobil dan seisinya hanya menjadi debu hitam, termasuk Rendi.
Pada suatu hari, Rei mengajak Ve untuk
bertemu di kafe. Mereka datang berbarengan, Ve memperhatikan wajah Rei yang
sudah jauh lebih baik daripada malam lalu di puncak. Dalam perbincangan santai
tiba-tiba Rei mengucapkan hal yang membuat Ve terdiam.
“Veve.. kepergian Rendi sudah melebihi
masa Iddahmu, aku ingin kamu menjadi istriku, apa kamu bersedia?”
Cukup lama Ve diam, ia hanya memandangi pria yang mengajaknya untuk menikah. “Aku wanita kotor Rei, lebih baik kamu menikah dengan gadis yang masih suci kehormatannya.”
Cukup lama Ve diam, ia hanya memandangi pria yang mengajaknya untuk menikah. “Aku wanita kotor Rei, lebih baik kamu menikah dengan gadis yang masih suci kehormatannya.”
“Apa kejadian itu adalah sebuah
kesengajaan? Lagi pula kamu tidak pernah mau kan disentuh dengannya?”
“Memang tidak ada kesengajaan, dan
setelah itu pun aku tidak pernah mau disentuh olehnya. Tapi aku rasa lelaki
sepertimu tidak pantas mendapatkan istri sepertiku Rei..”
“Veve.. sebelum Rendi menglami
kecelakaan, aku berniat untuk membunuhnya. Tapi kenyataan berkata lain, nyawa
dia lebih dahulu di cabut dengan kecelakaan yang tragis. Itu artinya Tuhan
memperkenankan aku untuk menihakimu Ve.. andai dia kembali pulang dengan
selamat dan aku berhasil membunuhnya, aku pun masuk buih.”
“Tapi Rei…”
Rei memotong kata-kata Veve. “Kamu
masih sayang kan dengan aku? Kata sayang yang kamu ucapkan di puncak lalu benar
adanya, kan?”
“Iya, aku memang masih sayang dengan
kamu, sayang sekali, Rei. Tapi apa sebaiknya kamu mendapatkan wanita yang tidak
kotor…” tiba-tiba Rei menutup bibir Ve dengan jari telunjuknya.
“Jangan pernah ucapkan itu lagi Ve,
semua itu bukan ketersengajaan. Dimataku kamu tetap Veve yang dulu, suci
seperti sedia kala. Dan kurasa dimata Tuhan pun sama.” Sebelum Ve mengucapkan
kata-kata padanya, Rei mengambil kotak kecil dari saku celananya. “Apa kamu
bersedia meletakan cincin ini di jari masismu?” Veve diam, lalu disusul dengan
anggukan.
Dua bulan kemudia mereka menikah,
membangun keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Saat malam pertama
dilakukan, sungguh diluar dugaan, ternyata Ve masih dalam keadaan perawan,
rupanya Rendi hanya menelanjangi tubuh mulusnya dan tak merenggut keperawanannya.
Rei sangat bahagia dan Ve bahagia hidup dengan Rei, lelaki yang sangat ia
hormati dan segani. Suatu malam, mereka duduk di balkon rumah sambil
memandangai langit yang cerah.
“Ve.. coba lihat bulan purnama di atas
sana!” Ve pun mengikuti arahan suaminya.
“Malam ini, rembulan itu untukmu..”
Rei tersenyum dan wajah Ve bersemu merah. Kemudian Rei mencium kening Ve,
istrinya.
[***SELESAI***]
Sabtu, 21 Desember 2013
Cerpen Ke-4 "Badut di Negeri Antah Berantah"
“BADUT
DI NEGERI ANTAH BERANTAH”
Saat
pekat malam mulai mendekap waktu yang terus berjalan, seorang bocah laki-laki
berjalan seorang diri sambil menangis dari desa Silabung hendak pergi ke desa
Mataram untuk melihat jasad bapaknya yang kata para tetangganya tewas terbunuh
oleh Mak Lampir. Kabarnya, setelah bertapa selama
satu bulan Mak lampir kelaparan dan mencari manusia untuk dimakan, hingga
terbunuhlah Sujiwo bapak dari bocah laki-laki itu yang bernama Randu. Setelah
Sujiwo dengan mudahnya dibunuh oleh Mak Lampir untuk di
makan, Mak lampir melihat seorang bocah laki-laki yang sedang didekap ibunya,
ketakutan. Mak lampir langsung merebut bocah laki-laki itu dari dekapan ibunya
dan meninggalkan Sujiwo yang sudah berlumuran darah. Mak lampir pun pergi dengan
terus tertawa terkekeh yang membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang
mendengarnya.
Randu terus berjalan sambil menangis
tanpa ditemani siapapun. Tangisan Randu didengar oleh cecunguk Mak lampir, Gerandong, anak dari
Mardian, siluman harimau yang juga bawahan Mak lampir. Tiba-tiba gerandong
sudah ada di hadapan Randu, menghadang perjalanannya. Randu takut bukan
kepalang, ia lari kembali menyusuri jalan yang sudah ia lalui, tapi Gerandong
tiba-tiba ada di depannya lagi. Randu berlari ke segala penjuru arah, Gerandong
tiba-tiba selalu ada dihadapan Randu, ia sengaja mempermainkannya --tidak langsung
memakannya, hingga Gerandong bosan mempermainkan Randu, tak sabar ingin meminum
darah dan memakan dagingnya, Gerandong menangkap dan membawanya pergi ke Goa
tempat ia dan Mak lampir bersemayam. Tapi, di tengah-tengah perjalanan Sembara
menghadang Gerandong dan langsung menyerangnya dengan ajian Cambuk Silat.
Gerandong jatuh terkapar, dan Randu lari sembunyi ke balik pohon melihat
pertarungan antara Sembara dan Gerandong, ia membalas serangan Sembara, namun
kesaktiannya tak cukup menandingi Sembara. Tak lama terasa angin aneh yang
membuat bulu kuduk merinding.
“Mak Lampir, ya ini pasti
tanda kedatangan Mak Lampir.” gumam Sembara. setelah berlalunya angin aneh
terdengar suara tawa yang terkekeh. Mak Lampir telah tegak berdiri dengan
tongkatnya di samping Gerandong yang tergeletak.
“He-he-he.................
Sembara! Lagi-lagi kau mengganggu cecungukku.”
“Aku tidak akan membiarkan
kau dan cecungukmu terus memakan korban. Akan kubinasakan kau!”
Mak lampir tertawa lagi
mendengar ucapan Sembara. “Sekarang waktunya aku balas dendam atas kekalahanku
waktu lalu, he-he-he-he-he...”
Terjadilah pertarungan yang sangat sengit
antara Sembara dan Mak Lampir. Segala ajian yang Sembara miliki telah
dikeluarkan, berupa: Cambuk
Kilat, Selimut Kabut, Cryistal Kaca. Namun Mak Lampir sudah semakin kuat setelah
pertapaannya. Mak Lampir berhasil membuat Sembara tersungkur dan mengalami luka
dalam yang cukup serius. Saat Mak lampir hendak memukul Sembara dengan
tongkatnya datanglah Mantili si pemilik Pedang Perak dan Pedang Setan. Pertarungan antara Mak lampir dan Mantili juga berjalan sangat
sengit. Tubuh Mak Lampir
hancur berkeping-keping setelah Mantili mengeluarkan pedang perak dan pedang
setan andalannya. Tapi, Mak Lampir dengan ajian Rawaronteknya kembali mengembalikan tubuhnya
seperti semula. Pertarungan terjadi kembali dengan sengit hingga Mantili terpukul
Mak Lampir dengan
ajian Pancasona yang membuat Mantili mengeluarkan darah segar
dari mulutnya. Melihat Mantili kalah, Sembara pun memanggil
gurunya dengan suara batin, ia adalah Ki
Jabat, penghuni hutan larangan yang mewariskan ilmunya pada Sembara. Ki Jabat merupakan musuh bebuyutan Mak Lampir hingga
terjadi perebutan yang mengakibatkan hutan larangan direbut Mak Lampir, akan
tetapi kemudian bisa direbut kembali oleh Ki Jabat.
Tak lama Ki Jabat pun datang memenuhi panggilan muridnya, Sembara yang
sudah kewalahan dengan kesaktian Mak lampir yang semakin bertambah besar dengan
cepat. Terjadi lagi lah pertarungan antara Mak Lampir dengan Ki Jabat,
namun tak sampai berjalan lama tiba-tiba datang beberapa Badut di hadapan
mereka sehingga mereka berhenti bertarung. Semua mata tertuju pada lima makhluk
aneh yang baru mereka lihat; makhluk yang perutnya gendut dan kepalanya mirip
dengan kepala tikus, mukanya putih seperti diolesi batu kapur. Mereka
terheran-heran dan mencoba menebak-nebak makhluk apa yang mereka lihat.
Sebagian dari mereka mengira badut itu adalah jelmaan dari siluman. Kelima Badut itu diam,
Nampak sedih dari raut wajah mereka yang aneh itu.
“Siapa dia Jabat?” tanya Mak Lampir
pada Ki Jabat.
“Aku tidak tahu, sepertinya dia
jelmaan dari siluman.”
“Tapi tidak ada yang aku kenali dari
bau mereka.”
“Ya, aku juga,” Ki Jabat melihat ke
Sembara, Mantili, Gerandong dan Randu yang masih bersembunyi di balik pohon.
“Apa kalian kenal dengan mereka?”
“Aku tidak mengenalnya.” Jawab mereka
dengan serempak.
Ki Jabat menghampiri mereka,
memperhatikannya dari dekat dan mengendus bau badan kelima Badut itu.
“Siapa kalian kisanak? Dan sedang apa di sini?”
Kelima badut tidak menjawab, sampai kedua
kalinya Ki Jabat bertanya masih tidak menjawab.
“Kami lapar…” kata salah satu badut
yang perutnya paling gendut.
“Baiklah, mari ikutlah dengan kami.” kata Sembara.
“Ke mana?”
“Ke padepokan kami, di sana kalian
boleh makan sepuasnya, setelah kenyang kalian boleh membawa bekal untuk
perjalanan kalian mengembara.”
“Baiklah, kami akan ikut dengan
kalian.”
“Ikutlah denganku, aku akan memberi
kalian makan daging lezat dan kesaktian, tapi dengan syarat, kalian harus
tunduk dan patuh padaku.” kata Mak Lampir, ia bermaksud untuk memanfaatkan
badut-badut itu agar membantunya dalam mengalahkan Ki Jabat. Akhirnya dua orang
ikut dengan Sembara dan tiga orang tergiur dengan kesaktian yang Mak Lampir
janjikan.
***
Setelah diberi makan pada hari di mana
para Badut kelaparan. Badut-badut itu tidak mau pergi, mereka meminta izin pada
Sembara untuk tinggal di padepokan, Sembara pun mengizininya. Namun, seiring
terus berjalannya waktu, Badut-badut itu membuat mereka angkara murka. Para
Badut itu teramat serakah, selalu makan jatah mereka sehingga mereka tidak segan
untuk memerangi para Badut. Bukan hanya
jatah mereka yang dimakan, tapi upeti rakya dimakan juga.
Pun demikian dengan Mak lampir yang
dibuat angkara murka dengan ketiga badut yang ikut dengannya. Ia dan Gerandong
sudah mencoba membunuh para Badut, tapi ternyata Badut-badut membunyai pusaka
seribu tombak dan mereka belum memiliki ajian untuk menagkis pusaka yang super
cepat, pusaka yang sangat mematikan, lebih sakti dari pada keris Ciwanara milik
Prabu Siliwangi. “Tar di sini..” “Ter di sana..” “Tar-ter-tor.. di mana-mana.”
Begitu pun dengan Sembara, baru
sebulan dua badut itu tinggal di padepokan, mereka merebut sebagian wilayah dan
memakan jatah upeti yang harusnya mereka terima sehingga Sembara, Ki Jabat,
Mantili dan Farida anak dari Raisman murid dari Nyai Bidara yang juga tinggal
di padepokan bersama Sembara memerangi para Badut yang perutnya semakin hari semakin besar dan semakin serakah.
Ditambah jumlah para Badut
setiap tiga hari sekali bertambah, entah dari mana para Badut itu berdatangan.
Mak lampir dan cecunguknya mengadakan
pertemuan dengan Sembara dan Ki Jabat, membicarakan bagaimana cara mengusir
Badut-badut super serakah.
“Bagaimana ini Sembara?” kata Mak
Lampir dengan kesal, ia tidak lagi tertawa terkekeh. Dan baru kali ini ia
dibuat berhenti tertawa.
“Aku belum tahu caranya, yang sedang
kupikirkan dari mana datangnya
badut itu.” jawab Sembara, sementara yang lain diam;
memikirkan bagaimana cara mengalahkan Badut-badut yang terus bertambah.
Mak lampir kemudian melihat apa yang
Badut-badut kerjakan dengan kaca benggalanya. Dari kaca benggala terlihat
mereka mendirikan kerajaan yang megah, hasil dari harta rampasan yang mereka dapatkan. Sembara meminta
Mak Lampir untuk melihat dari mana datangnya Badut-badut serakah itu. dengan
gerakan tangan di atas kaca benggala dan mantra-mantra, terlihatlah dari mana
mereka berdatangan. Ternyata Badut-badut berdatangan dari tempat yang kala itu
mereka bertarung.
“Kurangajar……!!!” kata Mak Lampir,
kekesalannya semakin memuncak. “Aku tidak dapat lagi melihat lebih jauh tentang
asal muasal para badut itu.”
“Heh! Jabat. Bantu aku agar Kaca Benggalaku bisa
memberikan keterangan lebih jauh.” sambung Mak Lampir.
Ki Jabat pun membantu Mak Lampir
mengalirkan tenaga dalam pada
Kaca Benggala, dan
terlihatlah sumber Badut-badut itu berasal. Ternyata ada dukun yang mengirim
mereka ke Negeri Antah Berantah. Badut-badut itu berasal dari abad ke-21.
“Dari kerajaan apa mereka?” tanya
Gerandong.
“Mereka dari kerajaan Endonesiah, sebuah Negara yang
berevolusi dari Nosantara yang terdiri dari kerajaan-kerajaan di jaman kita
saat ini.” jawab Ki Jabat.
“Apa itu artinya mereka adalah masa
depan Nosantara?” Sembara penasaran.
“Ya, benar sekali. Mereka masa depan
dari Nosantara.”
“Dar… Der… Dor…” tiba-tiba pusaka
seribu tombak terdengar keras sekali di dalam goa. Dan seketika para Badut berkepala tikus sudah
ada di hadapan mereka, terus mengarahkan pusaka seribu tombak ke arah mereka.
Mak Lampir dan semua yang berkumpul pergi kalang kabut, membiarkan
persemayamannya dikuasai para Badut, sebab jika mereka tidak kabur hanya
membuang nyawa sia-sia, mereka berpikir lebih baik mencari cara mengalahkan
mereka daripada mereka mati sia-sia, dan persemayamannya tetap dirampas oleh
Badut-badut itu.
Mereka bersepakat ke Padepokan untuk
meneruskan pembicaraan, tapi ternyata ketika sudah sampai di Padepokan, para
Badut tikus sudah menguasai Padepokan. Lalu mereka mencari tempat lain dengan
sangat-sangat kesal karena semuanya telah dikuasai para Badut. Kini, tibalah
mereka di tengah hutan larangan tempat persemayaman Ki Jabat.
“Kenapa masa depan Nosantara seperti
itu, penuh dengan Badut serakah.” gumam Mantili.
“Entahlah, di sana mereka tinggal di sebuah kerajaan megah. Jauh lebih modern
daripada Padepokan.” ujar Ki Jabat.
“Aku akan menghubungi dukun yang
mengirim para Badut ke sini. Sial dangkalan!” Mak Lampir kesal. Ia langsung
menghubungi sang Dukun dengan
mata batinnya dan bicara antar batin.
“Heh! Kurangajar….!!!!!!!! Kenapa kau
mengirim para Badut ke Negeri Antah Berantah?”
“Aku minta maaf pada kalian di Negeri
Antah Berantah. Ini atas permintaan rakyat Endonesiah yang sudah sangat
diresahkan oleh para Badut-badut itu. mereka selalu berdoa agar para badut itu
mendapat kutukan dari sang dewa dan di hilangkan dari muka bumi ini, tapi sang Dewa rupanya hanya mengutuknya saja
jadi badut tikus, tidak melenyapkannya. Mereka
meminta aku untuk mengirim mereka ke Negeri Antah Berantah, berharap kalian
yang sakti mandra guna bisa
melenyapkan mereka.” jawab sang Dukun.
“Tapi di sini pun kami kewalahan
dengan mereka, mereka terlalu serakah.”
“Cobalah kalian hubungi orang-orang
sakti mandraguna lainnya, seperti Prabu Angling Dharma dari Temanggung, Prabu
Siliwangi dari Padjajaran, Si Buta dari Gua Hantu, Arya Kamandanu, putra Mpu Hanggareksa,
seorang ahli pembuat senjata kepercayaan Prabu Kertanagara, raja kerajaan
Singhasari, Brama Kumbara dan Wiro Sableng si pemilik kapak 2-1-2.”
Mak lampir dan yang lainnya menyetujui
usulan sang Dukun. Mereka langsung memanggil para pendekar sakti mandra guna
lainnya dengan batin. Dan esok mereka semua akan menghadiri panggilan Mak
Lampir dan kawan-kawan, mereka akan mengadakan pertemuan khusus.
***
Ketika hari sudah hampir gelap, mereka
semua pergi, hanya tinggal Mak Lmpir dan musuh bebuyutannya yang kini menjadi
teman, Ki Jabat, demi menumbangkan Badut-badut tikus super serakah dan yang
mempunyai pusaka Seribu Tombak. Dalam perbincangannya, mereka melihat tiga
Badut sedang berjalan ke arah mereka
dengan pusaka Seribu Tombak. Mak
lampir dan Ki Jabat pun mengumpat di balik pohon besar untuk menyelidiki apa yang akan mereka lakukan.
Satu Badut dari tiga badut yang mereka lihat mengeluarkan pusaka aneh; sebuah
pusaka yang berbentuk kotak dan mempunyai gambar di layarnya, gambar di layar
itu terlihat Badut lain, Badut itu saling bicara dengan pusaka kotak itu yang
belum mereka ketahui namanya.
“Pusaka apa lagi itu Nenek Peot?”
tanya Ki Jabat pada Mak Lampir.
“Aku juga tidak tahu, sepertinya itu
revolusi dari Kaca benggalaku kalau mereka berasal dari masa depan; abad
ke-21.”
“Kenapa mereka tidak dihukum mati saja
di sana?”
“Entahlah, tapi aku menemukan sebuah
kertas bergambar di jalan kemarin.” Mak lampir mengeluarkan sebuah gambar dari
kantong menyannya.
“Itu berarti mereka dibiarkan
berkembang biak dan dengan dengan seenaknya diberi kebebasan serta tidak diberi hukuman di kerajaan Endonesiah?”
“Ya, sepertinya begitu. Aku juga
menemukan gambar ini.” Mak lampir mengeluarkan gambar satunya lagi.
“Oh, berarti yang salah Raja Endonesiah,
apa dia tidak punya kesaktian apa-apa sehingga para Badut tikus itu sampai
berkembang biak?”
“Sepertinya tidak ada hukuman yang
memberatkan mereka.”
“Asemmmm… Masa depan Nosantara dikuasai
para Badut bajingan itu. Kalau saja ada Raja Endonesiah di
sini, sudah kucabik-cabik tubuhnya dan kuserahkan pada cecungukku untuk dimakan
bersama sebagai hidangan spesial, daging Raja Endonesiah.”
***
Keesokan harinya, sesuai dengan
kesepakatan, para pendekar sakti mandra guna datang. Mereka berkumpul di hutang
larangan yang dikuasai Ki Jabat. Mereka mencari solusi bagaimana melenyapkan Badut-badut
sialan itu.
Prabu Siliwangi bercerita, ia pernah
diberi sebuah gambar oleh putranya raden Kian Santang tentang masa depan Nosantara.
Dan ia juga pernah diceritakan oleh putranya kalau di masa depan akan ada
Badut-badut rakus yang selalu menindas Rakyat kecil dan melahap harta kerajaan
Endonesiah dengan rakus dan tidak tahu malu.
Keterangan itu di dapat Kian Santang setelah ia masuk Islam, dan Kian Santang sendiri mendapat keterangan itu dari
gurunya, ia juga mendapat sebuah gambaran dari gurunya tentang perbedaan hukum
Islam dan hukum yang berlaku
di kerajaan Endonesiah untuk para Badut itu.
“Apa Prabu membawa gambar
yang pernah diberikan putramu, Kian Santang?” tanya Sembara. “Ya, gambar itu selalu aku
bawa-bawa kemana pun aku pergi, gambar itu seperti wasiat terlarang.” Prabu
Siliwangi mengeluarkan gambar itu dari dalam tubuhnya, seperti ia menyimpan
keris Ciwanara. Ia memperlihatkan gambar itu pada semua yang ada di tempat;
Gerandong, Mak Lampir, Ki Jabat, Brama Kumbara, Mantili, Prabu Angling Dharma,
Wiro Sableng, Arya Kamandanu, Si Buta dari Gua Hantu juga Sembara. Mereka
melihanya dengan sangat serius dan dengan sangat menyimpan kekesalan pada raja
Endonesiah yang tidak tegas menghukum para Badut sang penghancur Nosantara.
“Sial dangkalan..” teriak
Mak Lampir seraya memukul tongkatnya ke tanah.
Tiba-tiba, saat mereka sedang serius melihat gambar yang masih dipegang
Prabu Siliwangi, datanglah segerombolan Badut tikus yang ingin berniat
menguasai hutan larangan. Terjadilah pertempuran yang sangat sengit. Segala
ajian dan benda pusaka dikeluarkan oleh mereka, akhirnya jumlah para Badut
tikus sedikit berkurang, tapi tenaga mereka terkuras habis. Salah satu badut
mengeluarkan benda yang waktu itu dilihat oleh Mak Lampir dan Kijabat, mereka
meletakannya di telinga, lalu berbicara sendiri.
“Pusaka apa itu Ki Jabat?”
tanya Prabu Angling Dharma dan Wiro Sableng berbarengan.
“Itu pusaka revolusi dari
kaca benggala Mak Lampir, tapi aku juga baru tahu kalau pusaka itu juga
revolusi dari ajian Sukma Reksa. Rupanya di abad ke-21 perkataan yang biasa
kita sampaikan lewat batin di rubah dengan pusaka itu.” Ki Jabat mencoba
mengira-ngira.
“Apa itu yang disebut
teknologi?” Prabu Siliwangi mengkerutkan dahi.
“Ya, bisa jadi. Mungkin itu
yang dinamakan teknologi.” jawab Sembara.
“Apa itu teknologi?” Mak
Lampir tidak mengerti dengan teknologi, kata yang asing di telinganya dan asing
juga di Negeri Antah Berantah.
“Teknologi adalah hasil
perkembangan jaman.” Mantili menjawab sebisanya. Mereka semua saling bertatap
wajah. tak Lama berakhirnya Badut itu bicara lewat benda aneh tersebut,
datanglah puluhan Badut serupa dengan mereka. Rupanya sang Dukun masih terus
mengirim Para Badut ke Negeri Antah Berantah, sebagian yang lainnya karena
Badut itu lari di kejara Raja KPK yang bertempat di Embatavia, kerajaan KPK
punya senjata ampuh untuk menangkap Badut-badut itu dan berniat menghancurkan
mereka, maka larilah para Badut ke Negeri Antah Berantah demi menghindari
serangan dari Raja KPK dan prajuritnya.
“Huh.. Hah.. Huh.. Hah...”
Sorak-sorai para Badut semakin bergema. Dan di saat itulah datang seorang bocah
yang lari telanjang kaki, bocah yang kala itu pernah ditolong Sembara karena
Gerandong membawanya untuk dimakan, bocah itu adalah Randu. Semua mata tertuju
pada Randu yang kini telah berhenti di tengah-tengah antara Para badut tikus
dan Mak Lampir, Ki jabat, Prabu Angling Dharma dan yang lainnya. Suara teriakan
para badut pun berhenti, semua yang ada di tempat diam.
“Botol apa itu Randu? Apa itu
pusaka?” tanya Sembara.
Tanpa menjawab, Randu
membuka tutup botol yang terbuat dari kayu, dan keluarlah gumpalan asap tebal
dari dalam botol, perlahan membentuk makhluk Jin.
“Terima kasih sudah
membebaskanku, aku akan beri satu permintaan, sebutkanlah!”
“Aku mau Badut-badut serakah
dan kejam itu hilang dari muka bumi ini..!”
“Baiklah, aku akan
mengabulkannya.”
Dengan sekejap para
Badut-badut berwajah tikus pun lenyap dari bumi ini.
“Ente ajaib... Ente Ajaib........” mereka semua memuji Randu dan sang Jin pergi kembali ke Timur tengah.
“Ente ajaib... Ente Ajaib........” mereka semua memuji Randu dan sang Jin pergi kembali ke Timur tengah.
*[---SELESAI---]*
Note :
Gambar saya copas dari internet.
Buat para penerus kerajaan Endonesiah, mari kita
sama-sama belajar untuk tidak korupsi, dalam hal sekecil apapun, meski bukan
menyangkut uang. Sesuatu yang besar, terjadi karena dimulai dari hal yang kecil.
Di jepang, mereka yang terbukti melakukan
perbuatan tidak terpuji, lebih memilih haragiri atau bisa diartikan bunuh diri
sendiri karena harga diri. Lha, kalau di kerajaan Endonesiah? Jangankan
melakukan haragiri/bunuh diri, ini malah bunuh orang lain demi harga diri. Sungguh
kejam dan gak tahu diri Badut-badut tikus Endonesiah. Maka dari
itu.........................................
|
|
Langganan:
Komentar (Atom)





