Rabu, 05 Februari 2014

Puisi - KUPU-KUPU HITAM


KUPU-KUPU HITAM

seekor ulat terbungkus kepompong
tergantung di daun hijau pohon bunga
dengan saksama lelaki muda mengamati
hingga kepompong bergerak-gerak; siap menetas
sedang angin diam berdayuh, tak bersiul lagi

kupu-kupu mulai keluar dari kepompong
warna hitam pekat terlihat dari tubuhnya
ya, memang belum sempurna terlihat
sebab ia masih berusaha keras untuk keluar
kadang terlihat beberapa kali berhenti—lalu berusaha lagi

lelaki muda diam mengamati kejadian alam
tanpa banyak berkedip ia terus melihat
kupu-kupu hitam terlihat tak kuat lagi
tampaknya sudah sekuat tenaga ia kerahkan
supaya keluar dari kepompong—lalu terbang tinggi

lelaki muda pergi ke dalam rumah
mengambil pisau dapur yang tampak tajam
lalu disobek kepompong kupu-kupu itu
kupu-kupu hitam pun bisa keluar dengan bebas;
tanpa hambatan yang dialami

diletakan kupu-kupu itu di tanah yang kering
lelaki muda berharap kupu-kupu lekas terbang
setelah lama menunggu, keinginan hati tak bersua
sayap kupu-kupu tetap mengkerut;
tak kunjung mekar dan terbang ke sana ke mari

lelaki muda masih terus mengamati dan berharap
tapi tak terjadi apa-apa pada kupu-kupu hitam
ia menghabiskan waktu hanya dengan merangkak
dan juga dengan sayap yang tetap mengkerut
terkulai lemah ia dihadapan lelaki muda

lelaki muda merenung—memikirkan semua ini
sampai ia bangun dari renungannya dan menyadari
bahwa perjuangan yang dilakukan kupu-kupu hitam
adalah cara Allah mendorong cairan tubuh ke sayapnya
agar dapat terbang setelah terbebas dari kepompong

akhirnya lelaki muda bisa mengambil pelajaran dari ini
bahwa kesuksesan butuh perjuangan keras
Allah selipkan hambatan dalam perjalanan hidup
agar diri menjadi kuat dan siap menempuh dunia ini
dunia yang akan selalu berusaha menggilas diri

Bekasi, 03 Februari 2014

Tidak ada komentar: