DEAR DEARY
/1/
entah
bagaimana memulainya
aku tak tahu
lagi cara merangkai kata
bukan karena
tak mampu
namun
kata-kata entah ke mana;
menghilang
dari pandanganku
dalam buku
kecil kutumpahkan isi hati
namun tak
semua dapat dituangkan
ada rasa
yang tak dapat dilukiskan
ataupun di
bentuk menjadi tumpukan kata:
adalah
tentang cinta yang kurasakan
cinta tak
lebih seperti alunan melodi
kadang
terdengar merdu—hingga hati tak jemu
kadang juga
terdengar hambar—tak tentu arah
ada hal yang
dapat dipetik dari dua melodi itu
yaitu:
pelajaran akan makna hidup
“lumpuhkanlah
ingatanku”
begitu
banyak orang berkata tentang itu
rupanya
mereka tak dapat meraih hikmah
tak sadar
bahwa itu adalah sarana pendewasaan
yang kan
mengantar pada pemikiran lebih matang
/2/
dalam buku
kecil kutumpahkan isi hati
tentang
kehidupan yang menyangkut cinta
ada banyak
makna hidup di sana
jika saja
mau melihat mundur dan belajar
tentu akan
menemukan ketenangan
cinta ibarat
lembaran kosong dalam diary
pena adalah
alat tulis yang setia; penuh warna
diary dan
pena berserah diri pada tuannya
lembaran
kosong pun mulai terisi dengan kata
itulah cinta,
bagaimana manusia mengaturnya
cinta itu
bagai embun di pagi buta
yang akan
kering bila mentari datang
embun dan
mentari berserah diri pada tuannya
banyak hal
tersembunyi di sana
itulah
cinta, bagaimana manusia memaknainya
pun demikian dengan daun dan ranting
yang terpisah karena kedatangan kemarau
namun daun tak pernah marah pada kemarau
karena daun tahu, semuanya adalah sistem
hingga merasa tak patut ia membenci
kemarau
lembaran kosong, embun dan daun dan
ranting
mereka kembali berserah diri pada tuannya
sejatinya cinta juga milik-Nya
jika tak mampu serahkan pada-Nya
Bekasi, 03 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar