Rabu, 05 Februari 2014

Puisi - DEAR DEARY


DEAR DEARY

/1/
entah bagaimana memulainya
aku tak tahu lagi cara merangkai kata
bukan karena tak mampu
namun kata-kata entah ke mana;
menghilang dari pandanganku

dalam buku kecil kutumpahkan isi hati
namun tak semua dapat dituangkan
ada rasa yang tak dapat dilukiskan
ataupun di bentuk menjadi tumpukan kata:
adalah tentang cinta yang kurasakan

cinta tak lebih seperti alunan melodi
kadang terdengar merdu—hingga hati tak jemu
kadang juga terdengar hambar—tak tentu arah
ada hal yang dapat dipetik dari dua melodi itu
yaitu: pelajaran akan makna hidup

“lumpuhkanlah ingatanku”
begitu banyak orang berkata tentang itu
rupanya mereka tak dapat meraih hikmah
tak sadar bahwa itu adalah sarana pendewasaan
yang kan mengantar pada pemikiran lebih matang

/2/
dalam buku kecil kutumpahkan isi hati
tentang kehidupan yang menyangkut cinta
ada banyak makna hidup di sana
jika saja mau melihat mundur dan belajar
tentu akan menemukan ketenangan

cinta ibarat lembaran kosong dalam diary
pena adalah alat tulis yang setia; penuh warna
diary dan pena berserah diri pada tuannya
lembaran kosong pun mulai terisi dengan kata
itulah cinta, bagaimana manusia mengaturnya

cinta itu bagai embun di pagi buta
yang akan kering bila mentari datang
embun dan mentari berserah diri pada tuannya
banyak hal tersembunyi di sana
itulah cinta, bagaimana manusia memaknainya

pun demikian dengan daun dan ranting
yang terpisah karena kedatangan kemarau
namun daun tak pernah marah pada kemarau
karena daun tahu, semuanya adalah sistem
hingga merasa tak patut ia membenci kemarau


lembaran kosong, embun dan daun dan ranting
mereka kembali berserah diri pada tuannya

sejatinya cinta juga milik-Nya
jika tak mampu serahkan pada-Nya

Bekasi, 03 Februari 2014

Tidak ada komentar: