SIGIT WIDODO
/1/
pertama kali
jumpa
kikuk aku di
hadapanmu
sejumlah
pertanyaan kau sodorkan
bersama dua
rekanmu kala itu
setelah tahap
pertama kulalui
“orenoyume”
itulah yang kau
sampaikan
saat kita
bertemu kedua kali
tentu bersama teman
yang lain
duduk rileks di
balik meja
ore: aku atau
saya atau gue
yume: mimpi
no: penghubung
antara keduanya
begitu ucapmu
kala itu
mimpiku—menjadi
tema disela pekerjaan
/2/
hanya batu
loncatan
niat kupaku
dalam hati
sebelum
kuterjun ke bumi
bersama mereka
para pengikutmu
yang takut tak
dikasihani
otakku dibumbui
kedengkian
seluruhnya;
seisi bis setiap pagi dan sore
mereka tak
henti berbisik
pamrih
berceloteh jauh dari mejamu
juga dengan
sebongkah harapan
delapan bulan
aku lalui
kesal dengan
aturan yang ada
aku pergi
dengan sebuntal harapan
bersama gerutu
di hati, aku berlalu
sepertinya sama
dengan yang lain
bahkan ada yang
berdiam diri
padahal setiap
hari tak lepas dari keluh kesah
namun tak
berani melangkah sedikit pun
“sulit cari
kerjaan”
katanya suatu
ketika
sampai kini
mereka ada
dan terus ada
bersama gerutunya;
tak berani
melangkah
hanya gerutu
rapat tersimpan
pagi-sore,
kembali berdongeng
/3/
samudra luas
kuselami
sampai ayah
miskin menemukanku
terlunta-lunta
diduduki matahari
semen dan pasir
selimuti tubuh
ah, aku jadi
kuli bangunan
setiap bulan
dijejali uang
duh, terbuai
aku bagai anak emas
beli ini-itu
dengan segera
cepat-cepat
kusadari sembari melihat ke atas
mimpiku masih
terpampang dilangit
tak seperti
didikanmu dulu
dimanja aku
olehnya
cita-cita pun
semakin jauh
terbang
melayang tak suka denganku
kusadari
setelah kutelaah
/4/
kini kumengerti
kau demikian
setumpuk
kata-katamu kembali melekat
dalam jiwa—juga
raga ini
temani langkah,
temani impianku
kupetik jua
maksudmu
kembali
kulangkahkan kaki
bersama cinta
yang Tuhan beri
juga dengan
satu titik hitam
diantara
lembaran kertas putih
yang dimiliki
setiap manusia
terimakasih
ayah kaya
sebungkus
katamu tak terlupa
rapi tersimpan
dalam hati
terbungkus
permata terindah di dunia
tak kudapat
selain darimu;
setelah ibu
yang sabar menasehati
kelak, kan
kubawa kehadapanmu
buah dari mimpi
besarku
juga mereka di
bantar gebang
doaku
menyertaimu
Bekasi, 22
Januari 2014