Rabu, 05 Februari 2014

Puisi - BOCAH


BOCAH

menari-nari bersama bayang
telanjang badan diguyur hujan
tertawa riang ke sana ke mari
bahkan saat banjir datang sekali pun
mereka bahagia bermain dengan alam

pagi bertengkar ketika bermain
siang kembali bersama, tertawa menikmati hari
ah, dasar bocah; seperti itulah kodratnya
selalu menari serta tertawa di mana saja
harinya selalu indah tanpa himpitan dunia

malam gelap hadir
rembulan duduk di kepala
mereka tertidur lelap membuang letih
bersiap untuk esok kembali menari
bersama hujan, bersama alam

sementara kita duduk di balik senja
          juga di balik meja
berdiskusi tiada henti—tanpa arah
sering kali bertikai sesama
bisa memaafkan, ketika idul fitri datang
ah, itu pun hanya sehari saja
esok, lusa dan seterusnya kembali mengumpat

Bekasi, 25 Januari 2014

Puisi - SIGIT WIDODO


SIGIT WIDODO

/1/
pertama kali jumpa
kikuk aku di hadapanmu
sejumlah pertanyaan kau sodorkan
bersama dua rekanmu kala itu
setelah tahap pertama kulalui

“orenoyume”
itulah yang kau sampaikan
saat kita bertemu kedua kali
tentu bersama teman yang lain
duduk rileks di balik meja

ore: aku atau saya atau gue
yume: mimpi
no: penghubung antara keduanya
begitu ucapmu kala itu
mimpiku—menjadi tema disela pekerjaan


/2/
hanya batu loncatan
niat kupaku dalam hati
sebelum kuterjun ke bumi
bersama mereka para pengikutmu
yang takut tak dikasihani

otakku dibumbui kedengkian
seluruhnya; seisi bis setiap pagi dan sore
mereka tak henti berbisik
pamrih berceloteh jauh dari mejamu
juga dengan sebongkah harapan

delapan bulan aku lalui
kesal dengan aturan yang ada
aku pergi dengan sebuntal harapan
bersama gerutu di hati, aku berlalu
sepertinya sama dengan yang lain
bahkan ada yang berdiam diri
padahal setiap hari tak lepas dari keluh kesah
namun tak berani melangkah sedikit pun
“sulit cari kerjaan”
katanya suatu ketika

sampai kini mereka ada
dan terus ada bersama gerutunya;
tak berani melangkah
hanya gerutu rapat tersimpan
pagi-sore, kembali berdongeng

/3/
samudra luas kuselami
sampai ayah miskin menemukanku
terlunta-lunta diduduki matahari
semen dan pasir selimuti tubuh
ah, aku jadi kuli bangunan

setiap bulan dijejali uang
duh, terbuai aku bagai anak emas
beli ini-itu dengan segera
cepat-cepat kusadari sembari melihat ke atas
mimpiku masih terpampang dilangit

tak seperti didikanmu dulu
dimanja aku olehnya
cita-cita pun semakin jauh
terbang melayang tak suka denganku
kusadari setelah kutelaah

/4/
kini kumengerti kau demikian
setumpuk kata-katamu kembali melekat
dalam jiwa—juga raga ini
temani langkah, temani impianku
kupetik jua maksudmu

kembali kulangkahkan kaki
bersama cinta yang Tuhan beri
juga dengan satu titik hitam
diantara lembaran kertas putih
yang dimiliki setiap manusia
           
terimakasih ayah kaya
sebungkus katamu tak terlupa
rapi tersimpan dalam hati
terbungkus permata terindah di dunia
tak kudapat selain darimu;
setelah ibu yang sabar menasehati

kelak, kan kubawa kehadapanmu
buah dari mimpi besarku
juga mereka di bantar gebang
doaku menyertaimu

Bekasi, 22 Januari 2014

Puisi - TEDUH LANGIT SORE


TEDUH LANGIT SORE

hening, dalam sunyi kumeringkuk
menahan kesedihan jiwa, entah apa kutak tahu
semut-semut merah ramah tersenyum
saling menyapa, bercengkerama

kutermenung dalam dimensi waktu
terdiam tanpa pesona
hanya ada aku dan semut-semut di sini
di kamar ini, di teduhnya lagit sore.

Puisi - TIVI


TIVI

tiap jam terus berganti tayangan
tak memberi pendidikan
anak-anak banyak menonton
jadinya ikut-ikutan

aduh malang generasi negeri
dijejali hal tak wajar

Bekasi, 25 Januari 2014