Senin, 23 November 2015

Tegakkan Kepalamu

Keputusan untuk berhenti bekerja udah gue pikirkan dengan matang, dan siap menerima apa pun yang akan terjadi, salah satunya kekurangan financial untuk beberapa waktu tanpa ada jaminan bahwa ke depannya akan lebih baik. Kecuali diri gue sendiri yang membesarkan hati bahwa akan ada masa depan yang lebih baik jika gue berani melangkah menuju tujuan gue sendiri.

Setelah dua tahun menjalani hidup tanpa bekerja di perusahaan, kini gue merasa sedang berada di tengah-tengah titik ketidakmampuan dalam financial. Karena gue sadar akan terjadi hal kayak gini yang harus gue lalui, maka sebelumnya gue telah persiapkan mental sebagai perisai dari segala kondisi yang akan gue hadapi di masa depan sebagai wujud dari keputusan gue yang bulat. Dalam perjalanan ini, gue anggap diri gue sedang membuat jembatan di atas sungai lebar agar bisa dilalui banyak orang nantinya. 

Gue memilih hidup dengan cara gue sendiri agar dapat merasakan kemerdekaan jiwa. Menjalaninya dengan senang hati dan tanpa tekanan, sebagai wujud terima kasih antara makhluk dengan Tuhan-nya yang telah memberikan potensi dalam diri gue.

Soal bernyanyi, gue emang suka banget dengan menyanyi sedari kecil. Gue suka loncat-loncat di atas bale bambu, teriak-teriak di mana pun, dan banyak tingkah aneh yang gue lakukan saat gue sendiri nggak mengingatnya (masa kecil, diceritakan oleh orang lain). Sampai sekarang, dalam kamar, gue suka bernyanyi dan berkhayal di depan kaca atau di baliknya seolah gue ada di atas panggung. Menyanyi, sempat menjadi bahan pertimbangan untuk dimasukan ke dalam daftar impian atau nggak. Dan pada akhirnya gue memutuskan untuk nggak memasukan-nya karena saat itu gue sendiri nggak yakin. Tapi suatu hal tetap terjadi: gue suka bikin lirik lagu dan mencoba untuk dinadakan tanpa bisa dan menggunakan alat musik. Cuma rekaman suara yang pada akhirnya empat lagu yang gue coba ciptakan, nadanya mirip-mirip dengan nada penyanyi lain, sampai pada akhirnya gue mencoba untuk membuat lirik yang bertema motivasi, dan akhirnya terciptalah lagu Tegak-kan Kepalamu. Gue baru sadar, fasion gue ada di bagian itu. Selama ini gue selalu membuat lagu tentang cinta seperti banyak yang diciptakan penyanyi-penyanyi atau band-band lain.

Menyangkut nama, dulu sebelum masuk SD nama gue Darman Syah, sama kayak penyanyi asal Malaysia yang terkenal itu. Entah mengapa orangtua gue merubahnya, dan gue pun sangat setuju nama itu dirubah. Karena gue ingin sebuah nama yang utuh atas dasar diri gue sendiri.

Beberapa waktu, gue menghabiskan-nya untuk nganter teman rekaman lagu, namanya Adan. Sementara gue, karena belum ngerti apa-apa soal musik, bahkan sekadar untuk mengatur tempo suara dengan musik, maka dari itu gue ambil kesempatan ini buat belajar. Sebelum benar-benar rekaman sungguhan, gue coba rekaman via handphone dengan iringan petikan gitar yang dimainkan teman gue, Wahyudi, melodik band Microled.

Rekaman itu masih dalam proses yang cukup panjang. Gue ingin lagu gue diiringi dengan biola, dan gue mendapat kendala di sini. Gue gak punya teman yang bisa main biola, kalau untuk alat musik lainnya ada. 
Oya, hampir lupa deh. Lagu ini gue buat untuk orang-orang yang merasa sendiri dalam mencapai tujuannya. Keseluruhan nada dalam lagu tersebut emang masih datar, soalnya gue rekaman di rumah teman dan gak mungkin buat gue teriak-teriak. Buat lo yang mau dengar dapat mengunduh dari link di bawah ini:

Sementara cuma ini yang bisa gue tulis untuk menu laguku dalam blog ini. Gue minta doa dan support dari lo semua biar lagu ini bisa dengan cepat melalui proses rekaman. Bersambung dulu sampai di sini..
Bye-bye...


Selasa, 10 November 2015

Ayah, Anak, dan Keledai

Seorang Bapak tua ingin ke desa seberang untuk menjual keledai bersama anak remajanya. Untuk sampai ke pasar yang ada di desa sebelah, mereka harus melewati beberapa kampung. Karena jarak pasar cukup jauh, maka si Bapak tua meminta anaknya untuk menaiki keledai.

"Nak, perjalanan mungkin akan terasa melelahkan. Naikilah keledai ini,"

Anak remaja itu mengangguk dan langsung menaiki keledai. Mereka melewati kampung pertama. Di tengah-tengah perjalanan dalam kampung itu, ada beberapa ibu-ibu yang sedang membeli sayur ngerumpi tentang mereka.

"Gak salah tuh.. kurang ajar sekali anaknya tega membiarkan bapaknya yang sudah tua jalan kaki sementara dia sendiri enak naik keledai."

Sang anak yang mendengar pembicaraan mereka langsung meminta Bapaknya untuk menuntun keledai.

"Sudah, Pak. Saya saja yang tuntun keledainya. Bapak yang naik, ucap si anak. Bapak itu pun menaiki keledainya."

Kampung pertama sudah dilewati, dan sekarang masuk ke kampung ke dua. Tiba-tiba terdengar lagi celetukan dari seorang lelaki dewasa yang sedang bercocok tanam,
Dasar orangtua gak tahu diri. Sudah tua juga. Masa anaknya yang disuruh menuntun keledai.

Mereka kembali berhenti. Sedikit berdiskusi apa yang harus mereka lakukan sekarang. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak menunggangi keledai itu. Pada saat memasuki kampung ke tiga, ada anak-anak yang sedang bermain menertawakan mereka.

Lihat.. lihat.. dia dan bapaknya bodoh sekali. Ada keledai tidak ditunggangi. Kan mubazir, ya kan? tanya seorang anak pada teman-teman lainnya yang disusul tawa. Semuanya menertawakan mereka.

Bapak tua dan anaknya kembali berdiskusi. Kini mereka bersepakat untuk menunggangi keledai itu bersama-sama. Ketika sampai di kampung ke-empat ternyata ada lagi orang-orang yang membicarakan mereka.

"Ih, bapak dan anak tidak mengenal rasa kasihan pada binatang sama-sekali. Masa keledainya ditunggangi bersama-sama. Sungguh keterlaluan."

Bapak tua dan anaknya kembali berdiskusi. Anaknya bertanya, Pak, kalau begini kita harus bagaimana?

Sudahlah, Nak. Kita lanjutkan saja perjalanan ini menunggangi keledai bersama sampai pasar.

                                --ooOoo--

Cerita tersebut akan selalu kita temui dalam keseharian saat bermasyarakat tanpa bisa kita hindari. Ketika kita seperti ini, ada yang berkata kita bodoh. Ketika kita seperti itu, ada yang berkata kita tidak tahu diri. Ketika kita melakukan apa yang mereka bicarakan, ada lagi yang mengatakan kita idiot. Dan akan selalu seperti itu, karena hanya itulah yang mereka bisa; bergunjing, mencari-cari kesalahan orang lain sekali pun sangat kecil, dengki, tidak suka jika ada orang lain bahagia, dan sebaginya.

Sahabat, yang perlu kita lakukan hanyalah berusaha menjadi diri sendiri. Biarkan orang lain bicara apa pun tentang kita. Kita harus berjalan, dan terus berjalan menuju apa yang kita ingin tuju. Jika sekiranya ada orang yang mengatakan untuk perbaikan kita, maka kita boleh mendengarnya. Namun jika ada orang yang bicara meskipun tidak secara langsung menjatuhkan kita, maka jangan didengar. Memang hidup dan jalan yang kita tempuh tidak selalu benar, kita harus selalu berkaca diri. Mengenai perkataan orang lain jangan dihiraukan, karena sejatinya kebenaran hanyalah milik Tuhan.

Dalam berjalan mencapai tujuan, selalu dengarlah kata hati. Ada yang mengatakan bahwa kata hati adalah suara Tuhan, karena kata hati tidak akan pernah salah. Tapi ingatlah, kata hati itu adalah yang pertama terbersit di hati, bukan yang kedua atau seterusnya. Karena biasanya setelah terbersit dalam hati, akan bermunculan hal-hal lainnya.

Sebagai contoh: Ketika lo melihat seorang nenek tua yang sedang mengais botol air minum bekas di jalan, seketika terbersit di hati lo ingin memberikan uang yang ada di saku. Tapi kemudian lo ingat, kalau diberikan uang itu lo nggak bisa pulang karena uang itu untuk naik angkot. Akhirnnya lo gak jadi memberikan uang itu.

Nah, sahabat, kita nggak pernah tahu keajaiban apa yang akan Tuhan berikan kepada lo andai saja lo mengikuti kata hati untuk memberikan uang itu pada nenek pemulung. Jika pun tidak dapat dirasakan setelah memberi, tapi Tuhan pasti akan membalas setiap kebaikan atau keburukan yang kita lakukan.

Note: Bukan murni cerita gue.

Yamashita Kenzo

Ada seorang putri raja yang sangat cantik tertidur hampir satu tahun di suatu kastil megah. Ia bernama Mizuki Ohara. Sudah banyak cara dilakukan raja untuk membangunkan putrinya, namun segala yang dilakukannya sia-sia. Tepat pada satu tahun tidurnya putri, Sang raja menyuruh utusannya untuk memberi kabar ke seluruh pemuda terbaik negeri, bahwasanya barang siapa yang dapat membangunkan putri, dia akan dijadikan menantu.

Maka dengan cepat utusan raja membagikan pamflet ke seluruh negeri yang disebarkan menggunakan  pesawat.
Pamflet itu kemudian ditemukan oleh seorang pemuda miskin dan berparas jelek yang tinggal di suatu pedesaan terpencil. Pemuda itu belum pernah melihat putri seumur hidupnya, dan dia merasa kasihan dengan putri karena sudah tertidur begitu lama.

Setelah membaca pamflet, pemuda yang bernama Yamashita Kenzo pun menghadapkan wajahnya di depan cermin. Cukup lama ia melihat-lihat wajahnya sendiri, sampai akhirnya ia berpikir tidak mungkin untuknya menjadi menantu raja dan mewariskan kerajaan. Dengan niat ingin melihat Sang putri karena kabar kecantikan Putri tidak ada yang menyaingi di seluruh negeri, maka ia memutuskan untuk berangkat ke kastil. Sebelum berangkat Kenzo berpikir bagaimana caranya agar putri dapat bangun. Karena kalau hanya dibangunkan dengan cara biasa, putri pastilah sudah bangun. Ia berpikir sangat keras. Dan, usahanya tidak sia-sia, ia mendapatkan ide yang menurutnya terbaik.

Karena tidak punya kendaraan, dan di pedesaan tesebut ia hanya tinggal bersama beberapa warga saja, maka ia pun berlari ke kastil dengan perbekalan seadanya. Lima hari ia habiskan waktu hanya untuk berlari dan terus berlari agar sampai di kastil tepat waktu. Sesampai di sana, telah berbaris pemuda terbaik negeri nan tampan ingin membangunkan putri. Hanya ia sendiri yang berwajah jelek dan berpakaian kusam. Kenzo dibanjiri cibiran dari semua pemuda yang berbaris. Ada yang mengatakan tidak tahu diri, tidak tahu malu, bahkan ada yang berkata andaikan putri bangun dari tidurnyaputri tidak akan mau dengannya. Meski begitu banyak yang mencibir dan menghinanya, ia tetap berada dalam barisan, karena niatnya adalah ingin melihat putri yang dikabarkan wanita tercantik di seluruh negeri sekaligus berusaha membangunkannya tanpa berharap lebih.

Satu-persatu pemuda memasuki ruang tempat sang putri tertidur di ranjangnya. Namun tidak ada yang berhasil. Sampai akhirnya giliran Kenzo tiba. Ia sangat bahagia dapat melihat sang Putri, namun terlihat raut wajah tidak menyenangkan dari seluruh yang ada dalam ruangan itu. Kenzo tidak menyentuh putri sedikit pun seperti yang dilakukan pemuda lain untuk membangunkannya. Secara diam-diam dan tersembunyi, ia mengeluarkan petasan dari tas kecil yang ia bawa. Diletakannya tas itu di bawah ranjang Sang putri, dan ia sendiri keluar dengan tenang agar tidak ada yang curiga padanya dan kemudian berlari sekencang-kencangnya dengan harapan sang putri akan bangun. Karena jika tidak, ia pasti akan ditangkap oleh raja. Ternyata sesuatu yang tidak pernah diduga siapa pun terjadi, Sang Putri terbangun karena kaget dengan suara petasan.

Akhirnya Sang raja memerintah utusannya untuk mencari Kenzo. Kenzo di bawa ke hadapan raja dan Sang putri yang cantik. Saat itu, sang putri pun bersedia menjadikan Kenzo yang jelek menjadi bagian hidupnya setelah mendengar alasan Kenzo bersedia membangunkannya. Kenzo pun tinggal di istana dan menjadi pangeran.

                                     ooOoo

Itulah kisah Kenzo; seorang pemuda yang memiliki wajah jelek dan miskin. Ada beberapa hal yang dapat kita petik hikmahnya dari cerita tersebut.

Pertama ialah: Tujuan. Tentukanlah tujuan hidup sehingga dalam menempuh hidup kita akan tahu ke arah mana kita akan melangkah, karena banyak sekali jalan yang ada di hadapan kita. Tanpa tujuan, kita tidak akan pernah sampai ke mana-mana. Tujuan hidup diperuntukan agar kita tidak terseok-seok dengan tujuan orang lain dan menjadi bagian kecil atau partikel dari tujuan besar mereka, agar kita mendapat kebebasan atau kemerdekaan jiwa. 

Yang kedua ialah: Pasang niat tulus. Jangan pernah berniat yang tidak baik. Tuhan telah memberikan kita hidup sebebas-bebasnya, maka mulailah dengan niat yang baik untuk segala kebaikan. Karena segalanya memiliki hukum sebab-akibat. Jauhkan segala niat untuk diri sendiri. Kita hanya akan menjadi manusia jika kita memanusiakan orang lain tanpa memandang ras, suku dan agama. Sebuah niat yang baik, akan menggerakkan kehendak Tuhan untuk menyerukan pada alam semesta dalam mewujudkan tujuan kita.

Yang ketiga ialah: Kuatkan tekad. Biarlah orang berkata apa tentang kita. Tutup telinga dan biarkan mereka bicara apa pun. Jika ada yang menghina, jangan balas dengan hinaan. Jika ada yang menyakiti, jangan balas dengan menyakitinya pula. Karena itu tidak bermanfaat untuk kita maupun dia. Ingatlah tujuan kita. Seperti tujuan Yamashita Kenzo yang ingin melihat Sang Putri. Tulus dan memiliki tekad yang kuat.

Yang keempat ialah: lakukalah hal yang memiliki nilai kemungkinan meskipun nilai keberhasilannya kecil. Biarkan orang berkata lo gila karena cara lo menurut mereka tidak masuk akal. Jika lo seorang amatir, jadilah amatir. Jangan menuntut profesionalitas. Yang perlu kita lakukan dalam mencapai tujuan adalah melakukan apa pun yang kita bisa lakukan.

Nah, sahabat, itulah hikmah yang dapat kita ambil. Segalanya butuh proses. Cara instan hanya menghasilkan hasil yang instan pula. Butuh kesabaran, dan jangan pernah membatasi kesabaran. Butuh kerja keras, kerja cerdas, dan semangat.

Bagi yang mau mendengar lagu gue, silakan klik sub menu Laguku. Kita juga bisa tukeran link biar bisa ngopi bareng. Gimana, setuju? Baiklah kalau begitu..

Jumat, 06 November 2015

Mengenal kata hati



MENGENAL KATA HATI

Mungkin banyak yang berkata pada anda untuk selalu mengikuti kata hati, karena kata hati tidak pernah salah, ya, tepat sekali, kata hati tidak pernah salah, karena itu adalah sebuah hidayah yang Allah berikan pada kita.
Kata hati dalam Bahasa Arab dinamakan dhomir. Kata hati adalah suara yang tersirat dari dalam hati, memang tidak terdengar oleh telinga, namun hati sendiri yang merasa bisikan dari relung hati yang paling dalam itu. Yang keluar dari kata hati itu selalu benar untuk ketika kita akan mengambil keputusan, kata hati tidak pernah salah dan tidak pernah berbohong. Namun sering kali setelah kata pertama itu muncul ada keraguan dalah hati kita dan seperti ada bisikan lain untuk kita memilih cara/jalan yang lain.
Ketahuilah saudaraku, kata hati itu muncul saat kali pertama terbesit pemikiran dalam hati kita, bukan yang kedua atau yang ketiga, jika itu terjadi bisa dipastikan bisikan yang kedua atau ketiga dan seterusnya bukan dari kata hati, melainkan bisikan dari syetan. Syetan akan selalu berusaha menggagalkan jalan baik yang akan kita tempuh, dia tidak pernah sudi melihat kita berjalan di tempat yang benar, baik dalam menggapai tujuan hidup yang lainnya.
Contoh:
Anda sedang proses membuka bisnis restoran, dalam proses ini anda berniat akan memberitahu Ibu anda sebagai surprise kalau restorannya sudah siap luncur,  ketika restoran sudah siap luncur dan anda ingin memberi tahu Ibu anda, di saat itu ada perasaan kalau anda ingin memberi tahunya nanti setelah bisnis restoran anda sudah membeludak pengunjung agar menjadi tambahan surprise untuk Ibu anda, itulah bisikan syetan yang ingin menggagalkan usaha anda, karena jika anda berbicara pada Ibu anda kemungkinan besar Ibu anda akan mendoakan usaha yang akan anda jalani, sekalipun anda tidak meminta doa padanya.
Itu adalah satu contoh yang dapat saya berikan. Syetan akan selalu menggagalkan niat kita dalam segala hal jika kita ingin berbuat kebaikan dan berjalan di tempat yang benar, karena tugas mereka adalah mengeluarkan kita dari jalur yang benar dan mengikuti jalan yang mereka buat sendiri, yaitu berpaling dari jalan yang Allah sediakan untuk kita menuju dermaga yang indah.
Lalu bagaimana agar kita bisa selalu tahu kalau itu adalah kata hati bukan bisikan syetan?Nah, tentunya dengan menjaga hati agar selalu bersih dan menghindari dari sifat-sifat yang tidak terpuji, sudah dijelaskan oleh sunan Bonang, beliau salah satu dari wali Sembilan yang sudah saudara ketahui.
Beliau berkata seperti ini;
Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan moco Quran lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo zikir wengi lingkang suwe

Salah sawijine sopo bisa ngelakoni
Mugi-mugi gusti Allah nyembadani
Insya Allah jika kita sudah bisa membedakan mana kata hati atau dhomir dan mana bisikan syetan, hidup kita lebih terarah.
Yuk kita terus jaga kebersihan hati dan saling menghargai pendapat orang lain..:)

Note: Kalau ada yang mau kritik, silakan sampaikan di kotak koment, dan kalau ada yang mau menambahkan juga monggo..:)

Minggu, 11 Oktober 2015

Rakyat Indonesia Masih Hobi Membangkang



Gue emang suka banget dengan Jepang. Bagi gue, Jepang adalah termasuk jajaran Negara paling syariah di dunia. Kalau masalah seks, emang terlihat lebih di umbar (bebas). Tapi di Negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim pun nggak sedikit ditemukan bahwa seks liar udah menjadi nutrisi kehidupan. Hanya aja, Negara-negara itu merasa kalau seks liar adalah sebuah aib yang buruk sehingga udah sepatutnya nggak diumbar karena bagian dari moralitas. Seks liar di Negara-negara itu pun karena kuatnya pengaruh atau daya tarik dunia barat yang didukung tenaga super sonic bernama “Nafsu” untuk menghancurkan kaum itu dan mengendalikan dunia.
Tapi yang mau gue bahas bukan tentang seks, tapi karakter rakyat Indonesia yang masih hobi membangkang. Seorang atasan gue, setelah bertugas ke Jepang untuk study pengunaan mesin X-Ray yang digunakan untuk mengetahui bagian dalam hasil produksi apakah mengalami kecacatan atau normal tanpa harus membongkarnya bercerita di saat briefing pagi.
“Ada hal yang membuat saya sangat kagum selama di sana. Saya melihat seseorang ingin mengambil suatu barang di ruang sejenis laboratorium, jika kita melangkahkan kaki selangkah saja, maka dengan mudah kita dapat barangnya. Tapi ternyata dia tidak melakukan hal itu, melainkan mengganti pakaian khusus terlebih dahulu. Setelah pakaian khusus dipakai, barulah dia masuk, beberapa detik kemudian keluar dengan membawa barang itu, dan melepas kembali baju khususnya.”
Gue serius mendengarkan. Gue gak peduli apakah cerita itu bohong atau nggak, yang gue pentingkan adalah hal itu baik untuk gue. Tapi gue tahu, itu adalah cerita yang jujur. Yang diceritakan atasan gue itu kini dapat gue mengerti lebih dalam. Bahwasanya Negara maju, adalah cerminan dari kedewasaan rakyatnya. Ini dapat dilihat dari psikologi niat. Ketika seseorang keluar dari busway, dan turun dari halte dengan cara yang illegal (lompat dari pintu penungguan busway), maka dapat dikatakan bahwa orang itu nggak dewasa. Ketika ada rambu lampu merah, setelah dilihat nggak ada polisi kemudian dilanggar, maka dapat dikatakan orang itu nggak dewasa. Ketika disediakan zebra cross kemudian tetap menyebrang jalan semaunya, maka dapat dikatakan orang itu nggak dewasa. Semua melakukan karena ada niat kepentingan pribadi. Hal tersebut terurai secara ilmiah melalui niat semenjak masih bayi hingga udah gede.
Orang dewasa nggak mementingkan dirinya sendiri. Dia selalu memikirkan orang lain. Ketika sandalnya hilang di masjid, maka dia nggak mencari penggantinya. Dia akan pulang dengan kaki telanjang tanpa berniat untuk mencari penggantinya karena sebuah kesadaran bahwa kalau dia memakai sandal yang lain, maka orang lain yang pulang dengan telanjang kaki.
Kepatuhan-kepatuhan kecil seperti inilah yang akan membawa kita pada ketertiban. Tapi sayangnya, rakyat Indonesia belum bisa itu. Mayoritas mementingkan diri sendiri. Gak mau di atur, dan ngatur pun gak becus. Lha, kalau rata-rata rakyatnya begini, ya wajar aja kalau gak maju-maju.
Gue teringat saat masih jaman gue demen pacaran. Sebelum rambu hijau menyala, suara klakson dari arah belang (gue dibarisan paling depan) menghukumi beberapa pengendara barisan depan yang mencoba bertahan sebelum lampu hijau menyala.
 “Sud, udah jalan.” Kata pacar gue saat itu.
“Lampunya belum hijau.”
“Tapi orang-orang udah mlaksonin.”
“Iya. Tapi rambunya belum hijau.”
“Isss…” Dia pasrah dengan keras kepalanya gue.
Kayak gitulah kebanyakan dari rakyat Indonesia. Melanggar atau menaati peraturan karena ada sebab. Bukan semata kesadaran bahwa semuanya diberlakukan untuk kebaikan bersama yang pada dasarnya pun demi kebaikan individu.
Bagi lo yang membaca tulisan ini, gue mengajak agar kita semua patuh pada hal-hal kecil. Jangan merasa terpojokan jika ada olok-olok dari teman-teman lo. Aggap aja ini adalah proses kemajuan diri karena untuk segala kebaikan memiliki peraturan. Shalat, sembahyang, wudlu, makan, minum, tidur, ibadah, dan segalanya.
Jika nggak dimulai dari diri sendiri, maka selamanya Negara kita akan kayak gini. Dipenuhi anak-anak gak tau aturan yang selalu menginginkan kebebasan menjadi hak hidup sehingga setiap hari penuh dengan kesemrawutan.

Takdir



Beberapa tahun lalu, dalam pencarian arti takdir yang dapat gue terima baik dari hati atau akal. Saat si Emon lagi nyantai gue tanya.
“Mon, lo tau gak sih takdir itu apa?”
“Takdir itu kayak diri lo sekarang. Apa adanya diri lo, itu takdir lo.”
Gue diam sebentar—mikir. “Udah gitu aja, Mon?”
Emon mengangguk. Lalu gue tanya lagi. “Kalau lo nyuri mangga, terus digebukin orang sampai mati, itu takdir bukan, Mon?”
Gantian, Emon yang diam. “Bukan. Eh, apa ya?” dia garuk-garuk kepala.
Kadang, sampai sekarang pun gue masih suka bertanya pada orang-orang atau teman-teman gue mengenai takdir. tapi banyak dari mereka nggak paham. Gue cuma ingin tau aja, karena sayang kalau sampai mereka nggak tau; biasanya cuma beranggapan takdir Tuhan-lah yang membuat mereka miskin, susah, dan sebagainya. Maka dari itu gue nulis ini biar nggak pada nyalahin Tuhan. Gara-gara Tuhan. Ih, extream.
Beberapa tahun lalu gue selalu memburu jawaban tentang sebuah kata takdir kepada ulama, pengusaha, teman, dan orang biasa sekalipun (mungkin aja yang terlihat sebagai orang awan malah lebih berilmu). Gue cuma ingin tau pengertian takdir menurut masing-masing dari mereka seperti apa. Dan karena mereka memiliki backround yang berbeda, maka timbulah jawaban yang berbeda-beda. Seorang ulama atau guru agama menjawab dengan pengetahuan agamanya. Mereka menjelaskan tentang takdir berdasarkan pada enam akidah, seperti: Ahlusunnah wal jamaah, Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, Jabariah, Qodariah.
Tapi gue nggak mau panjang lebar menjabarkan penjelasan yang lain, cuma mau menerangkan contoh Ahlusunnah aja yang menurut akal dan hati gue cocok, tapi kalau lo penasaran dengan penjelasan takdir yang nggak gue tulis di sini, silakan lo cari sendiri di tempat yang lain, atau tanya sama guru lo. Begini, kalau lo melempar piring ke lantai, lalu piring itu pecah, maka bersamaan dengan pecahnya piring itu adalah takdir Tuhan. Lo nggak bisa mengatakan dengan pasti kalau lo lempar piring itu bakal pecah meski secara logika demikian. Pecahnya piring itu karena takdir, bukan sebuah hal mutlak karena lemparan lo. Itu Ahlusunnah. Seperti kisah Abraham yang tidak dapat terbakar api meski sifat api itu membakar, itu karena takdir Tuhan atasnya.
Dalam pemahaman ini pun takdir terbagi menjadi dua, yaitu: takdir tetap atau pasti dan takdir yang dapat di rubah. Sebagai contoh takdir pasti yaitu kelahiran lo sebagai laki-laki atau perempuan, terlahir di keluarga miskin atau kaya, waktu yang nggak dapat mundur, matahari yang terbit dari barat ke timur. Sementara contoh takdir yang dapat dirubah ialah: lo terlahir dalam keadaan miskin, jika lo bekerja keras dan rajin belajar, maka lo akan kaya; lo bego, kalau lo malas belajar maka lo tetap bego. Atau bahasa kerennya GUOBLOK! Gue ulang G-U-O-B-L-O-K. Gimana keren, kan?
Kalau rata-rata kata pengusaha begini: Takdir itu pilihan, dan yang lo pilih itu takdir. Kalau lo mau buka usaha clothing dengan brand lo sendiri, lalu dalam perjalanan bisnis lo mengalami kegagalan yang disebabkan dengan berbagai macam hal, kemudian bisnis itu lo tinggalin dan mencoba untuk membuka bisnis baru yang lo pikir lebih menguntungkan dan mudah dalam proses marketing-nya, setelah mencoba bisnis baru ternyata bisnis itu tersendat juga, terus lo ganti usaha baru lagi, dan lagi-lagi mandet. Lo terus mencoba membuka usaha-usaha baru hingga pada akhirnya usaha lo nggak ada yang berjalan dengan baik. Sebabnya karena pantat lo lancip. Dan itu takdir lo.
Andai lo tetap bertahan di bisnis clothing meski bagaimanapun persoalan yang lo hadapi, mungkin ke depannya lo akan mendapat keberhasilan. Semuanya diperlukan konsistensi. Dan itu juga takdir lo. Logikanya gini: ketika lo memulai usaha dari nol, dan baru separuh jalan, anggap aja udah di angka 2 (angka 10 adalah kesuksesan), lo mendapat problem marketing, kemudian lu tutup usaha lo dan buka usaha baru, maka otomatis lo akan mulai dari nol lagi, dan butuh waktu lebih lama.
Kalau menurut orang biasa, rata-rata mereka beranggapan bahwa takdir mereka seperti yang mereka jalani sekarang. Tuhan telah menakdirkannya kayak gitu aja. Ada benarnya, tapi kalau ditanya lebih dalam, terjadilah seperti dialog gue dengan Emon.

Buat lebih mudah, gue bikin gambar biar lo bisa lebih mengerti. Gambar ini gue bikin sebagai kesimpulan dari yang gue pahami tentang takdir. Baik (hijau) dan Buruk (merah) adalah suatu takdir yang telah ditetapkan sebelum kita lahir ke dunia. Start adalah hari kelahiran di dunia. Garis putih adalah usia yang nggak pernah kita tau sampai di angka berapa kita berada di dunia ini. Lo boleh mengira-ngira usia lo untuk mengisi kolom usia tersebut. Garis kuning, merah, biru, dan merah muda, adalah perjalanan hidup manusia. Gue beri contoh garis yang warna kuning aja: selama Ipin lahir, dia selalu berbuat baik, hingga di usia 50 tahun, tiba-tiba segalanya berubah. Dia melakukan hal-hal buruk, dan mati di usia 51 sebelum bertaubat. Karena kita nggak pernah tahu sampai kapan kita hidup, maka disarankan untuk selalu mengingat mati agar senantiasa berbuat baik.
Contoh lain: Ketika Ipin kesusahan karena berbagai masalah, dia melihat peluang motor untuk dicuri karena kuncinya tertinggal di motor. Hatinya tau bahwa itu salah, itu nggak baik, ada resiko besar jika ada yang tahu. Tapi nafsunya mendorong dia untuk mencuri motor tersebut, dan akhirnya aksinya ketahuan sehingga ia dipukuli orang sampai hampir mati. Itulah takdir Ipin yang ia terima jika mencuri. Andai nggak mencuri, akan lain takdirnya. Tapi itu sudah menjadi ketetapan. Ada sebab akibat.
Ok, semoga bisa dengan mudah dipahami. Gue cuma ingin membuat tulisan yang sederhana agar lo yang membaca dapat lebih mudah paham. Semoga bermanfaat.