Keputusan untuk berhenti bekerja udah gue pikirkan dengan matang, dan siap menerima apa pun yang akan terjadi, salah satunya kekurangan financial untuk beberapa waktu tanpa ada jaminan bahwa ke depannya akan lebih baik. Kecuali diri gue sendiri yang membesarkan hati bahwa akan ada masa depan yang lebih baik jika gue berani melangkah menuju tujuan gue sendiri.
Setelah dua tahun menjalani hidup tanpa bekerja di perusahaan, kini gue merasa sedang berada di tengah-tengah titik ketidakmampuan dalam financial. Karena gue sadar akan terjadi hal kayak gini yang harus gue lalui, maka sebelumnya gue telah persiapkan mental sebagai perisai dari segala kondisi yang akan gue hadapi di masa depan sebagai wujud dari keputusan gue yang bulat. Dalam perjalanan ini, gue anggap diri gue sedang membuat jembatan di atas sungai lebar agar bisa dilalui banyak orang nantinya.
Gue memilih hidup dengan cara gue sendiri agar dapat merasakan kemerdekaan jiwa. Menjalaninya dengan senang hati dan tanpa tekanan, sebagai wujud terima kasih antara makhluk dengan Tuhan-nya yang telah memberikan potensi dalam diri gue.
Soal bernyanyi, gue emang suka banget dengan menyanyi sedari kecil. Gue suka loncat-loncat di atas bale bambu, teriak-teriak di mana pun, dan banyak tingkah aneh yang gue lakukan saat gue sendiri nggak mengingatnya (masa kecil, diceritakan oleh orang lain). Sampai sekarang, dalam kamar, gue suka bernyanyi dan berkhayal di depan kaca atau di baliknya seolah gue ada di atas panggung. Menyanyi, sempat menjadi bahan pertimbangan untuk dimasukan ke dalam daftar impian atau nggak. Dan pada akhirnya gue memutuskan untuk nggak memasukan-nya karena saat itu gue sendiri nggak yakin. Tapi suatu hal tetap terjadi: gue suka bikin lirik lagu dan mencoba untuk dinadakan tanpa bisa dan menggunakan alat musik. Cuma rekaman suara yang pada akhirnya empat lagu yang gue coba ciptakan, nadanya mirip-mirip dengan nada penyanyi lain, sampai pada akhirnya gue mencoba untuk membuat lirik yang bertema motivasi, dan akhirnya terciptalah lagu Tegak-kan Kepalamu. Gue baru sadar, fasion gue ada di bagian itu. Selama ini gue selalu membuat lagu tentang cinta seperti banyak yang diciptakan penyanyi-penyanyi atau band-band lain.
Menyangkut nama, dulu sebelum masuk SD nama gue Darman Syah, sama kayak penyanyi asal Malaysia yang terkenal itu. Entah mengapa orangtua gue merubahnya, dan gue pun sangat setuju nama itu dirubah. Karena gue ingin sebuah nama yang utuh atas dasar diri gue sendiri.
Beberapa waktu, gue menghabiskan-nya untuk nganter teman rekaman lagu, namanya Adan. Sementara gue, karena belum ngerti apa-apa soal musik, bahkan sekadar untuk mengatur tempo suara dengan musik, maka dari itu gue ambil kesempatan ini buat belajar. Sebelum benar-benar rekaman sungguhan, gue coba rekaman via handphone dengan iringan petikan gitar yang dimainkan teman gue, Wahyudi, melodik band Microled.
Rekaman itu masih dalam proses yang cukup panjang. Gue ingin lagu gue diiringi dengan biola, dan gue mendapat kendala di sini. Gue gak punya teman yang bisa main biola, kalau untuk alat musik lainnya ada.
Oya, hampir lupa deh. Lagu ini gue buat untuk orang-orang yang merasa sendiri dalam mencapai tujuannya. Keseluruhan nada dalam lagu tersebut emang masih datar, soalnya gue rekaman di rumah teman dan gak mungkin buat gue teriak-teriak. Buat lo yang mau dengar dapat mengunduh dari link di bawah ini:
Sementara cuma ini yang bisa gue tulis untuk menu laguku dalam blog ini. Gue minta doa dan support dari lo semua biar lagu ini bisa dengan cepat melalui proses rekaman. Bersambung dulu sampai di sini..
Bye-bye...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar