Seorang Bapak tua ingin ke desa seberang untuk menjual keledai bersama anak remajanya. Untuk sampai ke pasar yang ada di desa sebelah, mereka harus melewati beberapa kampung. Karena jarak pasar cukup jauh, maka si Bapak tua meminta anaknya untuk menaiki keledai.
"Nak, perjalanan mungkin akan terasa melelahkan. Naikilah keledai ini,"
Anak remaja itu mengangguk dan langsung menaiki keledai. Mereka melewati kampung pertama. Di tengah-tengah perjalanan dalam kampung itu, ada beberapa ibu-ibu yang sedang membeli sayur ngerumpi tentang mereka.
"Gak salah tuh.. kurang ajar sekali anaknya tega membiarkan bapaknya yang sudah tua jalan kaki sementara dia sendiri enak naik keledai."
Sang anak yang mendengar pembicaraan mereka langsung meminta Bapaknya untuk menuntun keledai.
"Sudah, Pak. Saya saja yang tuntun keledainya. Bapak yang naik, ucap si anak. Bapak itu pun menaiki keledainya."
Kampung pertama sudah dilewati, dan sekarang masuk ke kampung ke dua. Tiba-tiba terdengar lagi celetukan dari seorang lelaki dewasa yang sedang bercocok tanam,
Dasar orangtua gak tahu diri. Sudah tua juga. Masa anaknya yang disuruh menuntun keledai.
Mereka kembali berhenti. Sedikit berdiskusi apa yang harus mereka lakukan sekarang. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak menunggangi keledai itu. Pada saat memasuki kampung ke tiga, ada anak-anak yang sedang bermain menertawakan mereka.
Lihat.. lihat.. dia dan bapaknya bodoh sekali. Ada keledai tidak ditunggangi. Kan mubazir, ya kan? tanya seorang anak pada teman-teman lainnya yang disusul tawa. Semuanya menertawakan mereka.
Bapak tua dan anaknya kembali berdiskusi. Kini mereka bersepakat untuk menunggangi keledai itu bersama-sama. Ketika sampai di kampung ke-empat ternyata ada lagi orang-orang yang membicarakan mereka.
"Ih, bapak dan anak tidak mengenal rasa kasihan pada binatang sama-sekali. Masa keledainya ditunggangi bersama-sama. Sungguh keterlaluan."
Bapak tua dan anaknya kembali berdiskusi. Anaknya bertanya, Pak, kalau begini kita harus bagaimana?
Sudahlah, Nak. Kita lanjutkan saja perjalanan ini menunggangi keledai bersama sampai pasar.
--ooOoo--
Cerita tersebut akan selalu kita temui dalam keseharian saat bermasyarakat tanpa bisa kita hindari. Ketika kita seperti ini, ada yang berkata kita bodoh. Ketika kita seperti itu, ada yang berkata kita tidak tahu diri. Ketika kita melakukan apa yang mereka bicarakan, ada lagi yang mengatakan kita idiot. Dan akan selalu seperti itu, karena hanya itulah yang mereka bisa; bergunjing, mencari-cari kesalahan orang lain sekali pun sangat kecil, dengki, tidak suka jika ada orang lain bahagia, dan sebaginya.
Sahabat, yang perlu kita lakukan hanyalah berusaha menjadi diri sendiri. Biarkan orang lain bicara apa pun tentang kita. Kita harus berjalan, dan terus berjalan menuju apa yang kita ingin tuju. Jika sekiranya ada orang yang mengatakan untuk perbaikan kita, maka kita boleh mendengarnya. Namun jika ada orang yang bicara meskipun tidak secara langsung menjatuhkan kita, maka jangan didengar. Memang hidup dan jalan yang kita tempuh tidak selalu benar, kita harus selalu berkaca diri. Mengenai perkataan orang lain jangan dihiraukan, karena sejatinya kebenaran hanyalah milik Tuhan.
Dalam berjalan mencapai tujuan, selalu dengarlah kata hati. Ada yang mengatakan bahwa kata hati adalah suara Tuhan, karena kata hati tidak akan pernah salah. Tapi ingatlah, kata hati itu adalah yang pertama terbersit di hati, bukan yang kedua atau seterusnya. Karena biasanya setelah terbersit dalam hati, akan bermunculan hal-hal lainnya.
Sebagai contoh: Ketika lo melihat seorang nenek tua yang sedang mengais botol air minum bekas di jalan, seketika terbersit di hati lo ingin memberikan uang yang ada di saku. Tapi kemudian lo ingat, kalau diberikan uang itu lo nggak bisa pulang karena uang itu untuk naik angkot. Akhirnnya lo gak jadi memberikan uang itu.
Nah, sahabat, kita nggak pernah tahu keajaiban apa yang akan Tuhan berikan kepada lo andai saja lo mengikuti kata hati untuk memberikan uang itu pada nenek pemulung. Jika pun tidak dapat dirasakan setelah memberi, tapi Tuhan pasti akan membalas setiap kebaikan atau keburukan yang kita lakukan.
Note: Bukan murni cerita gue.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar