Sebulan sudah waktu berlalu terasa begitu
lambat bagi Rena, suasana kampus pun tak lagi seperti hari-hari sebelumnya,
karena Rangga, pria berpostur tinggi dan berkulit putih yang Rena kagumi selama
ini ia ketahui sudah menjadi pacar Hellen, teman sekampusnya. Sejak dari
semester lima Rena memendam perasaan cintanya dengan sangat rapi—hingga kini
telah menginjak semester tujuh. Nyanyian burung terkadang seperti mengejek ketika mereka bertiga
duduk bersama menikmati jajanan di kantin. Saat ini,
seperti biasa di dekat kolam ikan di tengah taman kampus
Rena duduk termangu, sendirian.
“Kamu kenapa duduk sendiri di sini?” tegur Rangga ketika
menghampiri Rena. Ia pun duduk di sebelahnya.
“Mmm..” Rena gugup melihat Rangga datang menegurnya, “tidak
apa-apa, kamu sendiri ada perlu apa ke sini?”
“Aku lagi kepingin lihat-lihat ikan di kolam ini
aja.” Rangga melirik ke arah kolam dengan
ikan-ikannya yang bewarna-warni. “Sering aku lihat kamu duduk sendiri di sini,
kalau ada masalah, mungkin aku bisa bantu.” lanjutnya.
“Oh, terimakasih.
Nggak ada apa-apa kok, aku cuma senang aja bisa duduk di sini sambil lihat
ikan.” hati Rena berdesir, juga tak mampu menatap mata Rangga.
Diam sejenak,
angin berhembus lembut menyentuh kulit mereka; berikan rasa sejuk sesaat.
“Oya,
Ren..” Rangga menghentikan perkataannya. Kedua alis Rena terangkat. “Ada salam
dari temanku.”
“Siapa?”
Rena hanya berharap salam itu dari orang yang ada di hadapannya saat ini.
“Dari
sahabatku, Gio namanya.” Ia menunjuk Gio, jauh di lapangan basket sana. Rena hanya
tersenyum tipis. Pupuslah harapannya.
“Kemarin,
sahabatmu sudah mengajakku kenalan, jadi kami sudah saling kenal. Kemarin juga
dia mengajakku nonton, tapi aku ada kesibukan lain, jadinya aku tolak
ajakannya.”
“Oya?
Kok dia nggak bilang-bilang sama aku?”
Rena
hanya mengangkat kedua bahunya lalu tersenyum tipis. Jauh mata memandang, Hellen
mendekat dengan senyum merona.
“Hey,
Ren!” sapa Hellen.
“Hey..
silakan duduk, Hel.”
“Enggak
usah, aku mau langsung pulang. Yuk!” Hellen melirik dan menggaet tangan Rangga.
“Kami
duluan ya, Ren.” ujar Rangga.
“Iya..”
jawab Rena lirih, hatinya mulai bercampur dengan rasa cemburu.
Langkah
Helen dan Rangga semakin menjauh, dan Rena pun bangun dari duduknya, mulai
berjalan untuk pulang. Angin berhembus tak beraturan, awan hitam mulai menutupi
langit biru. Sampai di depan rumah, terlihat surat di kotak surat yang tak
sampai masuk ke dalam. Rena mengambilnya. Lalu masuk ke dalam rumah, dan
seketika itu hujan turun dengan sangat lebat.
Dibukanya surat yang terbungkus sangat rapi
itu, dan perlahan dibacanya.
Teruntuk Rena..
Lukisan senja gambarkan senyummu
saat itu, dalam dekapan layung
terpancar puspa pesona
nun jauh mata memandang
Kau senandung rindu
elok bagaikan kizib
temani embun pagi bersahaja
sejuk, membelai kalbu
Degup hati terasa berdebar
saat mata beradu pandang
tak ingin cepat berlalu, sementara
jam mendetik bertalu begitu cepat
Tak bisa kupungkiri, aku jatuh cinta
Padamu; pemadu hari, penabur mimpi
Dariku, No name.
Usai coretan dalam
surat itu dibaca, Rena menyimpannya dalam kotak khusus dan mencoba mengira
siapa pengirim tanpa nama itu. Hujan belum kunjung reda, mengingatkan Rena pada
kejadian tiga hari lalu ketika hujan lebat turun tanpa permisi. Rena berjalan
seorang diri dengan sepeda yang di tuntun hendak
pulang ke rumah dari kampus. Dan, malamnya yang membuatnya terasa berada
dalam dimensi lain.
“Mau pulang ya, Ren?”
Rangga datang sebelum hujan membasahi pakaian Rena.
Rena kaget,
laki-laki yang dicintainya tiba-tiba datang dari belakang memberinya
perlindungan dari rintikan hujan. Hati pun berdegup kencang.“Oh iya, kamu mau
ke mana?”
“Aku hendak
mengantarmu pulang, boleh?”
“Nggak usah, aku
takut Hellen lihat dan dia jadi marah sama aku.” Rena menghentikan langkah, dan
juga sepeda yang dituntunnya.
“Dia enggak akan
marah, lagian kita kan hanya teman. Sekalian aku ingin menyampaikan salam
dari Gio untukmu, dia sering cerita sama aku kalau dia jatuh cinta sama kamu,
tapi belum bisa menyampaikannya.”
Rena berpikir
sebentar dan mengira surat yang kemarin datang itu dari Gio, “Sudah lama kamu
menjalin sahabat dengan Gio?”
“Sambil jalan aja
Yuk!” ajak Rangga. Mereka melanjutkan perjalanan diiringi dengan lantunan
rintik hujan yang berdecik menghantam
aspal. “Lumayan, sejak kelas satu SMA. Apa kamu mau aku ceritakan
tentang Gio? Yah, kalau kamu mau mengenal dia lebih jauh lagi, lagian dia
anaknya baik kok.” Rangga tersenyum, membuat hati Rena semakin berdebar.
“Boleh..” ia
membalas senyum Rangga dan mencoba membuka hatinya untuk laki-laki lain.
“Perasaan hati memang tidak bisa dibohongi, tapi aku juga tidak ingin merusak
hubungan kamu dengan Hellen yang sudah saling mencinta.” ia
membatin.
“Gio adalah perangai
yang baik, dia sangat pandai dalam menjaga hati wanita. Semenjak dua bulan lalu dia mengamati kamu dari jauh
dan mulai menyukai kamu, tapi belum berani untuk mengungkapkan perasaannya
pada kamu. Kamu nggak perlu heran, karena dia memang tak biasa singgah di hati
wanita.”
“Apa dia suka
merangkai kata?”
“Ya, dia sangat
senang merangkai kata, dia juga punya banyak karya tulis.”
“Seperti apa?”
“Dia pandai dalam
merangkai syair, puisi, sajak, cerpen.”
“Oya?”
“Ya, apa kamu pernah
diberinya salah satu dari yang aku sebutkan tadi?”
“Kemungkinan iya,
ada orang yang mengirim coretan kerumahku, tapi tanpa nama.”
“Wah selamat yah..
oya, nanti malam dia mau main ke rumahmu.”
“Main?” kening Rena
mengernyit.
“Iya, main ke rumahmu,
boleh?”
“Mmm… Boleh.”
Tak terasa
perjalanan kaki sudah mengantarkan mereka di rumah Rena yang tak terlalu jauh
dari kampus. Rumah yang dipenuhi dengan tanaman hias dan gemercik air dari
kolam ikan di setiap sudut pagar halaman rumah.
“Terimakasih yah..
sampaikan salamku pada Hellen.”
Geo mengangguk dan
tersenyum. “Baiklah, akan aku sampaikan kepadanya. Bersiaplah untuk nanti
malam, mungkin dia akan memberimu kejutan yang tak terkira.”
Rena mempersiapkan
diri untuk nanti malam, mulai dari pakaian sampai hati yang tak jua bertuan
seperti yang diinginkannya. Ia akan mencoba menghilangkan cintanya pada Rangga
dengan mencoba mencintai Gio. Hari mulai merambat gelap, hujan pun sudah
berhenti dua jam yang lalu. Seperti yang sudah diketahui, Gio datang seorang
diri.
“Malam Rena..” sapa
Gio.
“Malam, silakan
duduk.” Rena mempersilakan Gio untuk duduk di sofa, luar rumah. “Tunggu sebentar yah, aku ambil air minum dulu.” Rena masuk, meyiapkan
minuman hangat untuk Gio. Setelah dipersilakannya minuman, suasana membeku,
tak ada yang memulai percakapan, dingin angin terasa membius kulit menambah kebekuan suasana. Wajah Gio terlihat kaku di mata Rena,
sangat menggambarkan kalau ia memang belum terbiasa dengan wanita, dan dari
sinilah Rena mulai meyakinkan hatinya kalau Gio memang lelaki yang baik
untuknya. Karena yang ia tahu dari ibunya, lelaki yang tidak biasa bermain-main
dengan cinta terlihat kaku saat di depan
wanita yang ia cinta, tidak pandai merangkai kata rayuan atau gombalan. Dan itu
terlihat dalam diri Gio, meski kata Rangga ia pandai dalam merangkai kata, namun
ketika di hadapannya, kata-kata itu sama sekali tak terlihat.
“Silakan
diminum kopi jahenya, Gio!”
“Iya,
terimakasih..” Gio menyeruput kopi jahe itu, cukup membuat tenggorokannya
hangat.
Seiring
dengan hangatnya tenggorokan, suasana pun mulai mencair, mereka banyak
membiacarakan tentang aktivitas di kampus. Tawa kecil kadang keluar dari kedua
insan malam ini, di malam yang dingin dengan kopi jahe sebagai penghangatnya.
***
Sore ini, Rena tengah duduk di taman kampus dekat kolam ikan seperti biasa seraya membaca ketika dosen
tidak hadir, jauh mata memandang menangkap Rangga sedang bermain basket, di luar
lapangan ada Hellen yang menyemangatinya, tampak bahagia mereka. Pikiran Rena
mulai menerawang jauh menembus dinding waktu memasuki ruang dimensi lain, di
mana ia akan menghabiskan banyak waktu dengan Gio, lelaki yang belum membumbui
hatinya dengan cinta.
“Ren, sendiri aja..” kata
Gio.
“Eh, kamu. Silakan duduk,
Gio!”
Gio pun duduk di sebelah
Rena, matanya menyusuri lembutnya kulit wajah gadis di hadapannya; putih tanpa
jerawat yang menempel.
“Ren, apa Rangga sudah
pernah cerita tentang aku padamu?”
“Sedikit-banyak sudah,
kenapa?”
“Eeee.. aku.. aku.. aku mau
ajak kamu keluar nanti malam, bisa?”
“Bisa, emangnya mau ke
mana?”
“Ke suatu tempat, nanti
malam aku akan jemput kamu jam tujuh, gimana?”
Rena mengangguk seraya
memberikan senyumnya yang manis.
Gio pun menyudahi
pembicaraannya dengan suka cita, lalu pergi ke lapangan; bermain basket bersama
sahabatnya, Rangga. Ia pulang sambil mengira-ngira apa maksud Rio mengajaknya
jalan nanti malam. Sampai di depan rumah terlihat surat yang lagi-lagi tak
sampai masuk ke dalam kotak surat.
Teruntuk Rena..
Rembulan mungkin saja
mengumpat
sembunyi di balik dinding
dusta
jauh di relung hati
tersirat rindu tiada batas
Aku hanyalah lelaki yang
sedang jatuh cinta
namun bibir tak mampu
mengatakannya
bukan karena cintaku tak
kuat
namun cinta, tak mungkin
berbentur
hingga kuharus mengumpat
jauh;
berteman senyap, bersandar
kenestapaan
Cinta, Sejujurnya sering
berkata;
Antar aku pada tuanku? Aku
ingin temani kekosongan hatinya.
Kujawab; aku tak bisa,
hanya waktu yang mampu.
pilu terasa sering melanda
hanya rindu yang terbalut
rapi kujaga tanpa jemu
Nun jauh di sana
telaga biru telah menanti
kau akan bahagia, kau akan
tersenyum indah
kini, kuberusaha tuk
selalu terjaga
bahwa cinta, tak
semestinya untukku
Dariku, No name.
Rena
mencoba memahami apa yang baru ia baca, dan mulai menyangka bahwa surat itu
bukanlah dari Gio. Ia kembali berpikir, mengarahkan ingatannya untuk berjalan
mundur. Tepat lima hari yang lalu, juga ada lelaki yang mengajaknya kenalan,
namanya Rendi. Ia pernah membuntuti Rena sampai rumah, hal itu diketahui Rena.
Jarum jam terus berganti hingga waktu yang ditentukan sudah tiba, Gio dengan
pakaian rapi telah menunggu di depan rumah. Rena yang sudah mempersiapkan diri
sebelumnya langsung berlalu pergi bersama Gio, menyusuri jalan di bawah terang
lampu yang mewarnai aspal, hingga terhenti di sebuah danau dengan taman yang
dihiasi lampu-lampu yang menerangi sisinya.
Gio
meyakinkan hati kalau malam ini ia mampu mengatakan cintanya pada Rena, ia
mulai menyusun kata-kata seindah mungkin selayaknya kata-kata yang selalu ia
tuangkan dalam secarik kertas. Detik terus merayap, obrolan pun sudah terasa
cukup sebagai pembukaan. Ia menarik napas—lalu membuangnya dengan perlahan.
Hatinya berdegup kencang bertalu-talu.
“Ren..
apa.. apa kamu bisa temani aku?” Gio gugup, tangannya mulai mengepal-ngepal
kosong.
“Lho,
bukannya sekarang aku sedang menemani kamu?”
“Mmmm..
maksudku, apa kamu mau jadi.. jadi.. jadi pacar aku?”
Rena
diam tak segera menjawab, ia mengingat Rangga yang jauh dari jangkauan hatinya
dan dua surat yang ia terima tanpa nama, ia coba mengira-ngira, “Apa surat itu
dari Rendi atau Rangga? Tapi kalau Rangga tak mungkin, dia sudah jadi pacar
Hellen, bahkan mereka terlihat sangat mesra sekali, bahkan kemesraan mereka
sudah terlihat semenjak Hellen masuk sebagai mahasiswa baru di kampus. Mungkin
sebelumnya mereka sudah berpacaran lama. Sementara Rendi, sampai sekarang aku
tidak pernah lihat dia lagi di kampus. Mungkinkah Rendi pengirim tanpa nama
itu?” batin Rena selalu mengira-ngira siapa pengirim surat itu.
“Ren....”
Gio membuyarkan lamunan Rena.
“Sebelum
aku jawab, aku ingin bertanya satu hal padamu. Kenapa kamu mau aku jadi pacar
kamu? di luar sana banyak wanita cantik dan baik.”
Sejenak
Gio berpikir, Di bawah lampu yang menerangi tubuh mereka, pandangannya
menyusuri danau yang membentang luas, tenang dan memberikan kedamaian. Ia
menarik nafas dalam, menyusun kata-kata yang akan dikatakan dan menyiapkan hati
akan kalau-kalau segala keinginan hati tak terpenuhi. Dengan ragu, ia berkata:
“Kamu
perhatikan danau itu, indah bukan?” Rena tersenyum, kemudian Gio meneruskan
pembicaraannya “Ia memberi kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya, termsuk
kita malam ini. Coba kamu lihat sekeliling taman ini, indah juga, kan?” Rena
kembali tersenyum seraya menganggukan kepala. “di tengah taman dan di hadapan
danau yang indah ini aku merasa nyaman, bahkan setiap aku kesini membawa
masalah yang sering memberatkan pikiranku pun—masalah itu terasa berkurang dan
aku dapat solusi untuk menyelesaikannya. Seperti itulah mungkin yang dapat aku
gambarkan, semua itu dapat kutemukan pada dirimu. Jadi, untuk apa aku mencari
wanita lain yang tidak kuketahui dapat memberi aku kenyamanan atau tidak? Sementara
ada wanita yang selama ini bisa memberiku rasa nyaman.”
Rena
meyakinkan hati dan tak memperdulikan dua surat tanpa nama itu, ia berharap
cinta bisa hadir secara perlahan dan Rangga pun segera terlupakan, serta
Rendi—mungkin hanya angin lewat baginya. Ia menggigit bibir bagian atas dan
meyakinkan hati kalau Rangga memang bukanlah tercipta untuknya.
“Bagaimana,
Ren?” tanya Gio.
Rena
mengangguk mengiyakan kalau ia menerima cinta Gio. Malam ini adalah malam
terindah bagi Gio, tak sabar ia ingin mengatakan pada Rangga kalau malam ini
Rena telah resmi menjadi teman hatinya.
***
Kesokan harinya, sesuai dengan apa yang Gio niatkan sejak semalam
setelah cintanya tersampaikan. Ia akan mengajak Rena ke rumah sahabatnya,
Rangga. Dengan laju motor yang berjalan santai, Rena menghirup nafas panjang mencoba
menebak mau di bawa kemana ia dengan Gio. Lima belas menit berlalu, sampailah
mereka di halaman rumah yang belum pernah ia kunjungi. Rangga terlihat duduk di
bangku tamu sambil menulis di atas selembar kertas. Saat melihat kedatangan
mereka, Rangga langsung meremas kertas itu dan membuangnya.
“Ehm… habis nulis
apa tuh langsung dibuang ke tempat sampah?” Ledek Gio, ia dan Rena menghampiri Rangga
yang sempat tersentak dengan kedatangan mereka.
“Biasa…, lagi
iseng-iseng bikin coretan. Wiihh.. udah bawa yang dimimpiin nih sekarang.”
Rena tersenyum, dan
Gio bangga sudah bisa mengajak Rena main ke rumah Rangga dengan status sebagai
pacarnya.
“Selamat ya, Ren..”
Rangga tersenyum mekar. “Kapan nih ada traktiran buat gue atas terjalinnya
hubungan kalian.”
“Sore ini rencananya
gue mau ajak lo sama Hellen ke tepi danau sambil menikmati martabak hangat..”
Gio menunjukan martabak yang ia beli sewaktu di perjalanan.
“Waaahhh.. enak
nih.” Rangga melirik martabak yang masih dipegang Gio. “Bentar ya, gue panggil
Hellen dulu di dalam, sekalian mau ambil cemilan juga buat di sana.”
Rena mengernyitkan
kening. “Hellen di dalam?” hatinya berkata.
“Sekalian gue ikut
ke dalam, pengen kencing.” kata Gio.
Mereka masuk. Rena
penasaran dengan kertas yang tadi dibuang oleh Rangga. Ia pun mengambil kertas yang sudah terbuang itu—kemudian
membacanya.
Teruntuk Rena..
Ketika cinta tak lagi berkata
pasrah
dengan keadaan
aku pun diam membisu
mungkin, esok mentari kan bersinar cerah
beriku kecerian baru tuk jalani hari
Seribu kata menjelma
Coretan
yang baru dibuat sepotong itu cukup meyakinkan Rena bahwa dua surat yang ia
terima tanpa nama itu pengirimnya Rangga. Ia mengambil satu surat yang ada di
tasnya, memastikan bahwa tulisan yang ia ambil dari tempat sampah sama dengan
dua surat yang ia terima. Dan tercenganglah ia ketika tulisan dan tinta yang
tertuang di antara dua surat itu sama jenisnya. Dan ketika itu pun Hellen
keluar.
“Rena...”
“Hey,
Hellen.. Wah.. sudah akrab banget ya kamu dengan keluarga Rangga, semoga
langgeng yah..”
Hellen
tertawa kecil, kemudian melirik surat yang masih dipegang Rena.
“Kertas
apa itu, Ren?”
“Ah,
nggak. Bukan apa-apa kok.” Rena langsung menyimpan kedua kertas itu dalam
tasnya.
“Tanpa
kamu beri tahu, sepertinya aku sudah tahu apa kertas itu.”
“Sudah
tahu?” kening Rena mengkerut.
Tak
sempat menjawab, Rangga dan Gio sudah keburu keluar. Mereka langsung menuju
danau yang semalam menjadi saksi bisu pernyataan cinta Gio pada Rena. Sesampai
di sana, mereka makan makanan yang di bawa, sesekali mata Rangga menatap Rena
lekat, dan itu dapat tertangkap dengan kedua matanya. Penasaran dengan apa yang
Hellen tahu tentang kertas-kertas yang ia sembunyikan. Ia pun meminta sedikit
waktu untuk berbincang empat mata dengan Hellen.
“Apa
yang kamu tahu dengan kertas-kertas tadi Hellen?”
“Rangga
adalah kakakku, mungkin kamu sama seperti yang lain mengira kalau aku dan
kakaku adalah pacaran. Usia kami memang tak jauh berbeda, hanya selisih dua
tahun. Kak Rangga mencintaimu, namun ia selalu memendam perasaannya lantaran
kak Gio, sahabatnya, mencintaimu juga. Ia lebih memilih mengalah dan
mengorbankan perasaannya demi sahabatnya.”
“Dan
surat itu?”
“Ya,
benar. No name itu adalah kak Rangga. Jika kalian memang benar-benar
saling mencintai, kuharap kamu bisa menjaga perasaan kakakku sampai dia
benar-benar menemukan cinta yang lain.”
“Hellen....”
belum sempat menjelaskan, Hellen sudah memotong.
“Lihatlah
di sana, yang satu tengah bahagia karena cintanya tersampaikan, sementara yang
satunya lagi sedang menahan kepedihan di hati karena harus mengorbankan
perasaannya untuk sahabatnya. Kakakku tidak tahu kalau kamu mencintainya,
sementara kak Gio selalu curhat tantng kamu ke dia. Dan itu pilihan sulit bagi
dia untuk bisa mendekati kamu, hanya lewat surat ia bisa menyampaikan segenap
perasaannya padamu.”
Rena
terdiam, tak bisa membayangkan bagaimana kedepannya menjalani hubungan dengan
Gio, sementara cintanya terpaut pada satu lelaki, Rangga.
Sore ini berjalan dengan senyum palsu yang bisa Rena
keluarkan di hadapan mereka, namun hati tak bisa berbohong, setiap kali menatap
matanya selalu ada getar di dada.
***
Rangga sedang duduk di taman kampus seorang
diri, Rena pun menghampirinya.
“Rangga..”
panggil Rena dari belakang, dan Rangga menoleh.
“Eh,
ada Rena. Silakan duduk.”
“Nggak
usah, aku cuma mau kasih ini, surat yang kamu buang di tempat sampah kemarin.”
Rena meletakan surat itu ke tangan Rangga. Rangga hanya terdiam, matanya beradu
pandang dengan Rena yang mulai berkaca-kaca. “Aku sudah mengakhiri hubunganku
dengan Gio, karena aku mencintai kamu Rangga, aku hanya ingin menjadi bagian
hidupmu, bukan hidupnya. Aku memilih menerima dia karena aku tak tahu kalau
kamu juga mencintaiku, dan dengan menerima dia kuharap aku bisa belajar
mencintainya dan bisa melupakanmu.”
Hening
sesaat menyusup di antara mereka. “Putus???”
Rena
mengangguk. “Berat rasanya membohongi hati setelah kamu juga mencintai aku.”
“Aku
tak bisa memaksakan keadaan, aku nggak bisa menyakitinya. Kalau benar kamu
mencintai aku, tunggulah waktu yang tepat untuk kita bisa menjalin kasih, tidak
untuk sekarang. Apa kamu siap?”
Rena
kembali mengangguk—siap menanti waktu yang tepat, karena ia paham dengan
keadaan yang dihadapi Rangga. Tiba-tiba, Gio bersuara dari balik badan mereka.
“Rangga,
gue rasa lo berhak mendapatkan Rena, gue yang harus mengalah—karena kalian
sudah saling mencinta. Berjanjilah kalau lo akan terus menjaga Rena, gue ikhlas
dengan hubugan kalian. Gue bukan laki-laki egois yang memaksakan cinta. Gue
ingin kalian bisa menuruti kata hati kalian.”
“Tapi..”
“Nggak
ada kata tapi, gue ingin melihat kalian bahagia.” Gio memberikan senyumnya yang
terpaksa dilakukan. Lalu berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Sementara
Rangga dan Rena bersepakat untuk tak menjalin hubungan dulu—demi menjaga
perasaan Gio.
***
Sebelum pulang, Hellen dan Gio datang
menghampiri Rena. “Hey, Ren. Rangga sudah resmi menjadi pacarmu?” tanya Gio.
Rena menggeleng.
“Lho,
kenapa belum? Kami aja sudah resmi pacaran.”
“Kok
bisa?” Rena mengernyit. Seketika Rangga datang berbaur bersama mereka.
“Aku
baru menyadari cinta Hellen begitu besar untukku yang selama ini tersimpan
rapi. Itu semua kuketahui saat membaca Diarynya tadi siang. Dan mulai
sekarang aku akan belajar mencintai orang yang mencintai aku dengan setulus
hati. Kurasa, ini memang sudah takdirnya. Kamu bukanlah teman hatiku, tapi
Hellen.” Ujar Gio. Dan pipi Hellen seketika bersemu merah.
Semua
perkatakan Gio tentang hellen yang mencintainya sudah ia ketahui, mereka sering
saling curhat. Rangga dan Rena pun beradu pandang diiringi dengan senyum
merona. Tanpa dengan kata, mereka menganggap kalau mereka resmi menjadi
pasangan kekasih.
***[_SELESAI_]***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar