Kamis, 16 Januari 2014

Cerpen Ke-6 "Antara Rena dan Dua Cinta"



Sebulan sudah waktu berlalu terasa begitu lambat bagi Rena, suasana kampus pun tak lagi seperti hari-hari sebelumnya, karena Rangga, pria berpostur tinggi dan berkulit putih yang Rena kagumi selama ini ia ketahui sudah menjadi pacar Hellen, teman sekampusnya. Sejak dari semester lima Rena memendam perasaan cintanya dengan sangat rapi—hingga kini telah menginjak semester tujuh. Nyanyian burung terkadang seperti mengejek ketika mereka bertiga duduk bersama menikmati jajanan di kantin. Saat ini, seperti biasa di dekat kolam ikan di tengah taman kampus Rena duduk termangu, sendirian.
“Kamu kenapa duduk sendiri di sini?” tegur Rangga ketika menghampiri Rena. Ia pun duduk di sebelahnya.
“Mmm..” Rena gugup melihat Rangga datang menegurnya, “tidak apa-apa, kamu sendiri ada perlu apa ke sini?
“Aku lagi kepingin lihat-lihat ikan di kolam ini aja. Rangga melirik ke arah kolam dengan ikan-ikannya yang bewarna-warni. “Sering aku lihat kamu duduk sendiri di sini, kalau ada masalah, mungkin aku bisa bantu.” lanjutnya.
“Oh, terimakasih. Nggak ada apa-apa kok, aku cuma senang aja bisa duduk di sini sambil lihat ikan.” hati Rena berdesir, juga tak mampu menatap mata Rangga.
Diam sejenak, angin berhembus lembut menyentuh kulit mereka; berikan rasa sejuk sesaat.
          “Oya, Ren..” Rangga menghentikan perkataannya. Kedua alis Rena terangkat. “Ada salam dari temanku.”
          “Siapa?” Rena hanya berharap salam itu dari orang yang ada di hadapannya saat ini.
          “Dari sahabatku, Gio namanya.” Ia menunjuk Gio, jauh di lapangan basket sana. Rena hanya tersenyum tipis. Pupuslah harapannya.
          “Kemarin, sahabatmu sudah mengajakku kenalan, jadi kami sudah saling kenal. Kemarin juga dia mengajakku nonton, tapi aku ada kesibukan lain, jadinya aku tolak ajakannya.”
          “Oya? Kok dia nggak bilang-bilang sama aku?”
          Rena hanya mengangkat kedua bahunya lalu tersenyum tipis. Jauh mata memandang, Hellen mendekat dengan senyum merona.
          “Hey, Ren!” sapa Hellen.
          “Hey.. silakan duduk, Hel.”
          “Enggak usah, aku mau langsung pulang. Yuk!” Hellen melirik dan menggaet tangan Rangga.
          “Kami duluan ya, Ren.” ujar Rangga.
          “Iya..” jawab Rena lirih, hatinya mulai bercampur dengan rasa cemburu.
          Langkah Helen dan Rangga semakin menjauh, dan Rena pun bangun dari duduknya, mulai berjalan untuk pulang. Angin berhembus tak beraturan, awan hitam mulai menutupi langit biru. Sampai di depan rumah, terlihat surat di kotak surat yang tak sampai masuk ke dalam. Rena mengambilnya. Lalu masuk ke dalam rumah, dan seketika itu hujan turun dengan sangat lebat.
Dibukanya surat yang terbungkus sangat rapi itu, dan perlahan dibacanya.


Teruntuk Rena..

Lukisan senja gambarkan senyummu
saat itu, dalam dekapan layung
terpancar puspa pesona
nun jauh mata memandang

Kau senandung rindu
elok bagaikan kizib
temani embun pagi bersahaja
sejuk, membelai kalbu

Degup hati terasa berdebar
saat mata beradu pandang
tak ingin cepat berlalu, sementara
jam mendetik bertalu begitu cepat

Tak bisa kupungkiri, aku jatuh cinta
Padamu; pemadu hari, penabur mimpi

Dariku, No name.

          Usai coretan dalam surat itu dibaca, Rena menyimpannya dalam kotak khusus dan mencoba mengira siapa pengirim tanpa nama itu. Hujan belum kunjung reda, mengingatkan Rena pada kejadian tiga hari lalu ketika hujan lebat turun tanpa permisi. Rena berjalan seorang diri dengan sepeda yang di tuntun hendak pulang ke rumah dari kampus. Dan, malamnya yang membuatnya terasa berada dalam dimensi lain.
          “Mau pulang ya, Ren?” Rangga datang sebelum hujan membasahi pakaian Rena.
          Rena kaget, laki-laki yang dicintainya tiba-tiba datang dari belakang memberinya perlindungan dari rintikan hujan. Hati pun berdegup kencang.“Oh iya, kamu mau ke mana?”
          “Aku hendak mengantarmu pulang, boleh?”
          “Nggak usah, aku takut Hellen lihat dan dia jadi marah sama aku.” Rena menghentikan langkah, dan juga sepeda yang dituntunnya.
          “Dia enggak akan marah, lagian kita kan hanya teman. Sekalian aku ingin menyampaikan salam dari Gio untukmu, dia sering cerita sama aku kalau dia jatuh cinta sama kamu, tapi belum bisa menyampaikannya.”
          Rena berpikir sebentar dan mengira surat yang kemarin datang itu dari Gio, “Sudah lama kamu menjalin sahabat dengan Gio?”
          “Sambil jalan aja Yuk!” ajak Rangga. Mereka melanjutkan perjalanan diiringi dengan lantunan rintik hujan yang berdecik menghantam  aspal. “Lumayan, sejak kelas satu SMA. Apa kamu mau aku ceritakan tentang Gio? Yah, kalau kamu mau mengenal dia lebih jauh lagi, lagian dia anaknya baik kok.” Rangga tersenyum, membuat hati Rena semakin berdebar.
          “Boleh..” ia membalas senyum Rangga dan mencoba membuka hatinya untuk laki-laki lain. “Perasaan hati memang tidak bisa dibohongi, tapi aku juga tidak ingin merusak hubungan kamu dengan Hellen yang sudah saling mencinta.” ia membatin.
          “Gio adalah perangai yang baik, dia sangat pandai dalam menjaga hati wanita. Semenjak  dua bulan lalu dia mengamati kamu dari jauh dan mulai menyukai kamu, tapi belum berani untuk mengungkapkan perasaannya pada kamu. Kamu nggak perlu heran, karena dia memang tak biasa singgah di hati wanita.”
          “Apa dia suka merangkai kata?”
          “Ya, dia sangat senang merangkai kata, dia juga punya banyak karya tulis.”
          “Seperti apa?”
          “Dia pandai dalam merangkai syair, puisi, sajak, cerpen.”
          “Oya?”
          “Ya, apa kamu pernah diberinya salah satu dari yang aku sebutkan tadi?”
          “Kemungkinan iya, ada orang yang mengirim coretan kerumahku, tapi tanpa nama.”
          “Wah selamat yah.. oya, nanti malam dia mau main ke rumahmu.”
          “Main?” kening Rena mengernyit.
          “Iya, main ke rumahmu, boleh?”
          “Mmm… Boleh.”
          Tak terasa perjalanan kaki sudah mengantarkan mereka di rumah Rena yang tak terlalu jauh dari kampus. Rumah yang dipenuhi dengan tanaman hias dan gemercik air dari kolam ikan di setiap sudut pagar halaman rumah.
          “Terimakasih yah.. sampaikan salamku pada Hellen.”
          Geo mengangguk dan tersenyum. “Baiklah, akan aku sampaikan kepadanya. Bersiaplah untuk nanti malam, mungkin dia akan memberimu kejutan yang tak terkira.”
          Rena mempersiapkan diri untuk nanti malam, mulai dari pakaian sampai hati yang tak jua bertuan seperti yang diinginkannya. Ia akan mencoba menghilangkan cintanya pada Rangga dengan mencoba mencintai Gio. Hari mulai merambat gelap, hujan pun sudah berhenti dua jam yang lalu. Seperti yang sudah diketahui, Gio datang seorang diri.
          “Malam Rena..” sapa Gio.
          “Malam, silakan duduk.” Rena mempersilakan Gio untuk duduk di sofa, luar rumah. “Tunggu sebentar yah, aku ambil air minum dulu.” Rena masuk, meyiapkan minuman hangat untuk Gio. Setelah dipersilakannya minuman, suasana membeku, tak ada yang memulai percakapan, dingin angin terasa membius kulit menambah kebekuan suasana. Wajah Gio terlihat kaku di mata Rena, sangat menggambarkan kalau ia memang belum terbiasa dengan wanita, dan dari sinilah Rena mulai meyakinkan hatinya kalau Gio memang lelaki yang baik untuknya. Karena yang ia tahu dari ibunya, lelaki yang tidak biasa bermain-main dengan cinta terlihat  kaku saat di depan wanita yang ia cinta, tidak pandai merangkai kata rayuan atau gombalan. Dan itu terlihat dalam diri Gio, meski kata Rangga ia pandai dalam merangkai kata, namun ketika di hadapannya, kata-kata itu sama sekali tak terlihat.
          “Silakan diminum kopi jahenya, Gio!”
          “Iya, terimakasih..” Gio menyeruput kopi jahe itu, cukup membuat tenggorokannya hangat.
          Seiring dengan hangatnya tenggorokan, suasana pun mulai mencair, mereka banyak membiacarakan tentang aktivitas di kampus. Tawa kecil kadang keluar dari kedua insan malam ini, di malam yang dingin dengan kopi jahe sebagai penghangatnya.

***

Sore ini, Rena tengah duduk di taman kampus dekat kolam ikan  seperti biasa seraya membaca ketika dosen tidak hadir, jauh mata memandang menangkap Rangga sedang bermain basket, di luar lapangan ada Hellen yang menyemangatinya, tampak bahagia mereka. Pikiran Rena mulai menerawang jauh menembus dinding waktu memasuki ruang dimensi lain, di mana ia akan menghabiskan banyak waktu dengan Gio, lelaki yang belum membumbui hatinya dengan cinta.
          “Ren, sendiri aja..” kata Gio.
          “Eh, kamu. Silakan duduk, Gio!”
          Gio pun duduk di sebelah Rena, matanya menyusuri lembutnya kulit wajah gadis di hadapannya; putih tanpa jerawat yang menempel.
          “Ren, apa Rangga sudah pernah cerita tentang aku  padamu?”
          “Sedikit-banyak sudah, kenapa?”
          “Eeee.. aku.. aku.. aku mau ajak kamu keluar nanti malam, bisa?”
          “Bisa, emangnya mau ke mana?”
          “Ke suatu tempat, nanti malam aku akan jemput kamu jam tujuh, gimana?”
          Rena mengangguk seraya memberikan senyumnya yang manis.
          Gio pun menyudahi pembicaraannya dengan suka cita, lalu pergi ke lapangan; bermain basket bersama sahabatnya, Rangga. Ia pulang sambil mengira-ngira apa maksud Rio mengajaknya jalan nanti malam. Sampai di depan rumah terlihat surat yang lagi-lagi tak sampai masuk ke dalam kotak surat.

Teruntuk Rena..

Rembulan mungkin saja mengumpat
sembunyi di balik dinding dusta
jauh di relung hati
tersirat rindu tiada batas

Aku hanyalah lelaki yang sedang jatuh cinta
namun bibir tak mampu mengatakannya
bukan karena cintaku tak kuat
namun cinta, tak mungkin berbentur
hingga kuharus mengumpat jauh;
berteman senyap, bersandar kenestapaan

Cinta, Sejujurnya sering berkata;
Antar aku pada tuanku? Aku ingin temani kekosongan hatinya.
Kujawab; aku tak bisa, hanya waktu yang mampu.
pilu terasa sering melanda
hanya rindu yang terbalut rapi kujaga tanpa jemu

Nun jauh di sana
telaga biru telah menanti
kau akan bahagia, kau akan tersenyum indah
kini, kuberusaha tuk selalu terjaga
bahwa cinta, tak semestinya untukku

Dariku, No name.

          Rena mencoba memahami apa yang baru ia baca, dan mulai menyangka bahwa surat itu bukanlah dari Gio. Ia kembali berpikir, mengarahkan ingatannya untuk berjalan mundur. Tepat lima hari yang lalu, juga ada lelaki yang mengajaknya kenalan, namanya Rendi. Ia pernah membuntuti Rena sampai rumah, hal itu diketahui Rena. Jarum jam terus berganti hingga waktu yang ditentukan sudah tiba, Gio dengan pakaian rapi telah menunggu di depan rumah. Rena yang sudah mempersiapkan diri sebelumnya langsung berlalu pergi bersama Gio, menyusuri jalan di bawah terang lampu yang mewarnai aspal, hingga terhenti di sebuah danau dengan taman yang dihiasi lampu-lampu yang menerangi sisinya.
          Gio meyakinkan hati kalau malam ini ia mampu mengatakan cintanya pada Rena, ia mulai menyusun kata-kata seindah mungkin selayaknya kata-kata yang selalu ia tuangkan dalam secarik kertas. Detik terus merayap, obrolan pun sudah terasa cukup sebagai pembukaan. Ia menarik napas—lalu membuangnya dengan perlahan. Hatinya berdegup kencang bertalu-talu.
          “Ren.. apa.. apa kamu bisa temani aku?” Gio gugup, tangannya mulai mengepal-ngepal kosong.
          “Lho, bukannya sekarang aku sedang menemani kamu?”
          “Mmmm.. maksudku, apa kamu mau jadi.. jadi.. jadi pacar aku?”
          Rena diam tak segera menjawab, ia mengingat Rangga yang jauh dari jangkauan hatinya dan dua surat yang ia terima tanpa nama, ia coba mengira-ngira, “Apa surat itu dari Rendi atau Rangga? Tapi kalau Rangga tak mungkin, dia sudah jadi pacar Hellen, bahkan mereka terlihat sangat mesra sekali, bahkan kemesraan mereka sudah terlihat semenjak Hellen masuk sebagai mahasiswa baru di kampus. Mungkin sebelumnya mereka sudah berpacaran lama. Sementara Rendi, sampai sekarang aku tidak pernah lihat dia lagi di kampus. Mungkinkah Rendi pengirim tanpa nama itu?” batin Rena selalu mengira-ngira siapa pengirim surat itu.
          “Ren....” Gio membuyarkan lamunan Rena.
          “Sebelum aku jawab, aku ingin bertanya satu hal padamu. Kenapa kamu mau aku jadi pacar kamu? di luar sana banyak wanita cantik dan baik.”
          Sejenak Gio berpikir, Di bawah lampu yang menerangi tubuh mereka, pandangannya menyusuri danau yang membentang luas, tenang dan memberikan kedamaian. Ia menarik nafas dalam, menyusun kata-kata yang akan dikatakan dan menyiapkan hati akan kalau-kalau segala keinginan hati tak terpenuhi. Dengan ragu, ia berkata:
          “Kamu perhatikan danau itu, indah bukan?” Rena tersenyum, kemudian Gio meneruskan pembicaraannya “Ia memberi kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya, termsuk kita malam ini. Coba kamu lihat sekeliling taman ini, indah juga, kan?” Rena kembali tersenyum seraya menganggukan kepala. “di tengah taman dan di hadapan danau yang indah ini aku merasa nyaman, bahkan setiap aku kesini membawa masalah yang sering memberatkan pikiranku pun—masalah itu terasa berkurang dan aku dapat solusi untuk menyelesaikannya. Seperti itulah mungkin yang dapat aku gambarkan, semua itu dapat kutemukan pada dirimu. Jadi, untuk apa aku mencari wanita lain yang tidak kuketahui dapat memberi aku kenyamanan atau tidak? Sementara ada wanita yang selama ini bisa memberiku rasa nyaman.”
          Rena meyakinkan hati dan tak memperdulikan dua surat tanpa nama itu, ia berharap cinta bisa hadir secara perlahan dan Rangga pun segera terlupakan, serta Rendi—mungkin hanya angin lewat baginya. Ia menggigit bibir bagian atas dan meyakinkan hati kalau Rangga memang bukanlah tercipta untuknya.
          “Bagaimana, Ren?” tanya Gio.
          Rena mengangguk mengiyakan kalau ia menerima cinta Gio. Malam ini adalah malam terindah bagi Gio, tak sabar ia ingin mengatakan pada Rangga kalau malam ini Rena telah resmi menjadi teman hatinya.

***

Kesokan harinya, sesuai dengan apa yang Gio niatkan sejak semalam setelah cintanya tersampaikan. Ia akan mengajak Rena ke rumah sahabatnya, Rangga. Dengan laju motor yang berjalan santai, Rena menghirup nafas panjang mencoba menebak mau di bawa kemana ia dengan Gio. Lima belas menit berlalu, sampailah mereka di halaman rumah yang belum pernah ia kunjungi. Rangga terlihat duduk di bangku tamu sambil menulis di atas selembar kertas. Saat melihat kedatangan mereka, Rangga langsung meremas kertas itu dan membuangnya.
          “Ehm… habis nulis apa tuh langsung dibuang ke tempat sampah?” Ledek Gio, ia dan Rena menghampiri Rangga yang sempat tersentak dengan kedatangan mereka.
          “Biasa…, lagi iseng-iseng bikin coretan. Wiihh.. udah bawa yang dimimpiin nih sekarang.”
          Rena tersenyum, dan Gio bangga sudah bisa mengajak Rena main ke rumah Rangga dengan status sebagai pacarnya.
          “Selamat ya, Ren..” Rangga tersenyum mekar. “Kapan nih ada traktiran buat gue atas terjalinnya hubungan kalian.”
          “Sore ini rencananya gue mau ajak lo sama Hellen ke tepi danau sambil menikmati martabak hangat..” Gio menunjukan martabak yang ia beli sewaktu di perjalanan.
          “Waaahhh.. enak nih.” Rangga melirik martabak yang masih dipegang Gio. “Bentar ya, gue panggil Hellen dulu di dalam, sekalian mau ambil cemilan juga buat di sana.”
          Rena mengernyitkan kening. “Hellen di dalam?” hatinya berkata.
          “Sekalian gue ikut ke dalam, pengen kencing.” kata Gio.
          Mereka masuk. Rena penasaran dengan kertas yang tadi dibuang oleh Rangga. Ia pun mengambil kertas yang sudah terbuang itu—kemudian membacanya.

Teruntuk Rena..

Ketika cinta tak lagi berkata
pasrah dengan keadaan
aku pun diam membisu
mungkin, esok mentari kan bersinar cerah
beriku kecerian baru tuk jalani hari

Seribu kata menjelma

          Coretan yang baru dibuat sepotong itu cukup meyakinkan Rena bahwa dua surat yang ia terima tanpa nama itu pengirimnya Rangga. Ia mengambil satu surat yang ada di tasnya, memastikan bahwa tulisan yang ia ambil dari tempat sampah sama dengan dua surat yang ia terima. Dan tercenganglah ia ketika tulisan dan tinta yang tertuang di antara dua surat itu sama jenisnya. Dan ketika itu pun Hellen keluar.
          “Rena...”
          “Hey, Hellen.. Wah.. sudah akrab banget ya kamu dengan keluarga Rangga, semoga langgeng yah..”
          Hellen tertawa kecil, kemudian melirik surat yang masih dipegang Rena.
          “Kertas apa itu, Ren?”
          “Ah, nggak. Bukan apa-apa kok.” Rena langsung menyimpan kedua kertas itu dalam tasnya.
          “Tanpa kamu beri tahu, sepertinya aku sudah tahu apa kertas itu.”
          “Sudah tahu?” kening Rena mengkerut.
          Tak sempat menjawab, Rangga dan Gio sudah keburu keluar. Mereka langsung menuju danau yang semalam menjadi saksi bisu pernyataan cinta Gio pada Rena. Sesampai di sana, mereka makan makanan yang di bawa, sesekali mata Rangga menatap Rena lekat, dan itu dapat tertangkap dengan kedua matanya. Penasaran dengan apa yang Hellen tahu tentang kertas-kertas yang ia sembunyikan. Ia pun meminta sedikit waktu untuk berbincang empat mata dengan Hellen.
          “Apa yang kamu tahu dengan kertas-kertas tadi Hellen?”
          “Rangga adalah kakakku, mungkin kamu sama seperti yang lain mengira kalau aku dan kakaku adalah pacaran. Usia kami memang tak jauh berbeda, hanya selisih dua tahun. Kak Rangga mencintaimu, namun ia selalu memendam perasaannya lantaran kak Gio, sahabatnya, mencintaimu juga. Ia lebih memilih mengalah dan mengorbankan perasaannya demi sahabatnya.”
          “Dan surat itu?”
          “Ya, benar. No name itu adalah kak Rangga. Jika kalian memang benar-benar saling mencintai, kuharap kamu bisa menjaga perasaan kakakku sampai dia benar-benar menemukan cinta yang lain.”
          “Hellen....” belum sempat menjelaskan, Hellen sudah memotong.
          “Lihatlah di sana, yang satu tengah bahagia karena cintanya tersampaikan, sementara yang satunya lagi sedang menahan kepedihan di hati karena harus mengorbankan perasaannya untuk sahabatnya. Kakakku tidak tahu kalau kamu mencintainya, sementara kak Gio selalu curhat tantng kamu ke dia. Dan itu pilihan sulit bagi dia untuk bisa mendekati kamu, hanya lewat surat ia bisa menyampaikan segenap perasaannya padamu.”
          Rena terdiam, tak bisa membayangkan bagaimana kedepannya menjalani hubungan dengan Gio, sementara cintanya terpaut pada satu lelaki, Rangga.
Sore ini berjalan dengan senyum palsu yang bisa Rena keluarkan di hadapan mereka, namun hati tak bisa berbohong, setiap kali menatap matanya selalu ada getar di dada.

***


Rangga sedang duduk di taman kampus seorang diri, Rena pun menghampirinya.
          “Rangga..” panggil Rena dari belakang, dan Rangga menoleh.
          “Eh, ada Rena. Silakan duduk.”
          “Nggak usah, aku cuma mau kasih ini, surat yang kamu buang di tempat sampah kemarin.” Rena meletakan surat itu ke tangan Rangga. Rangga hanya terdiam, matanya beradu pandang dengan Rena yang mulai berkaca-kaca. “Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Gio, karena aku mencintai kamu Rangga, aku hanya ingin menjadi bagian hidupmu, bukan hidupnya. Aku memilih menerima dia karena aku tak tahu kalau kamu juga mencintaiku, dan dengan menerima dia kuharap aku bisa belajar mencintainya dan bisa melupakanmu.”
          Hening sesaat menyusup di antara mereka. “Putus???”
          Rena mengangguk. “Berat rasanya membohongi hati setelah kamu juga mencintai aku.”
          “Aku tak bisa memaksakan keadaan, aku nggak bisa menyakitinya. Kalau benar kamu mencintai aku, tunggulah waktu yang tepat untuk kita bisa menjalin kasih, tidak untuk sekarang. Apa kamu siap?”
          Rena kembali mengangguk—siap menanti waktu yang tepat, karena ia paham dengan keadaan yang dihadapi Rangga. Tiba-tiba, Gio bersuara dari balik badan mereka.
          “Rangga, gue rasa lo berhak mendapatkan Rena, gue yang harus mengalah—karena kalian sudah saling mencinta. Berjanjilah kalau lo akan terus menjaga Rena, gue ikhlas dengan hubugan kalian. Gue bukan laki-laki egois yang memaksakan cinta. Gue ingin kalian bisa menuruti kata hati kalian.”
          “Tapi..”
          “Nggak ada kata tapi, gue ingin melihat kalian bahagia.” Gio memberikan senyumnya yang terpaksa dilakukan. Lalu berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Sementara Rangga dan Rena bersepakat untuk tak menjalin hubungan dulu—demi menjaga perasaan Gio.

***

Sebelum pulang, Hellen dan Gio datang menghampiri Rena. “Hey, Ren. Rangga sudah resmi menjadi pacarmu?” tanya Gio. Rena menggeleng.
          “Lho, kenapa belum? Kami aja sudah resmi pacaran.”
          “Kok bisa?” Rena mengernyit. Seketika Rangga datang berbaur bersama mereka.
          “Aku baru menyadari cinta Hellen begitu besar untukku yang selama ini tersimpan rapi. Itu semua kuketahui saat membaca Diarynya tadi siang. Dan mulai sekarang aku akan belajar mencintai orang yang mencintai aku dengan setulus hati. Kurasa, ini memang sudah takdirnya. Kamu bukanlah teman hatiku, tapi Hellen.” Ujar Gio. Dan pipi Hellen seketika bersemu merah.
          Semua perkatakan Gio tentang hellen yang mencintainya sudah ia ketahui, mereka sering saling curhat. Rangga dan Rena pun beradu pandang diiringi dengan senyum merona. Tanpa dengan kata, mereka menganggap kalau mereka resmi menjadi pasangan kekasih.

***[_SELESAI_]***

Tidak ada komentar: