“Kerikil
Berbalut Sutera”
@Sudarman_BK
Masalah hidup silih berganti menaungi perjalananku, namun kali ini
masalah yang kuhadapi terasa sulit dan tidak mungkin rasanya bisa
kulewati—meski banyak teman yang memberi wejangan padaku, “Allah memberi
masalah tidak melebihi dari kemampuan hamba-Nya.” Tapi tetap saja wejangan
itu tidak membuat masalahku terasa ringan atau sekadar bisa menjadi penyemangat
bagiku untuk bisa melewatinya.
Tiga hari sudah aku
berada di Cisarua, Bogor. Di sini aku mencoba untuk menenangkan pikiran dan
berpikir apa yang harus aku lakukan. Rena, sahabat baikku menelepon sekitar jam 24.00, dimalam yang ketiga aku di Bogor. Ia mengatakan kalau keberadaanku di sini sama saja aku lari dari
kenyataan. Saat ia mengatakan seperti itu, batinku terasa berontak dan berkata,
“Aku hanya ingin tenang sebentar saja.” Ditambah ia mengabarkan kalau
Ibuku sedang jatuh sakit. ingin sekali aku kembali ke rumah melihat keadaan
Ibu, tapi aku tidak bisa, tiga hari yang lalu aku diusir Ayah karena aku sudah
membuat malu keluarga, aku dikejar-kejar hutang setelah acara pensi musik yang kuadakan tidak berhasil digelar. Dan pihak sponsor menagih hutangnya
ke orangtuaku, padahal sebelumnya aku meminta pihak sponsor untuk tidak menagih
hutangku pada mereka, tapi semua itu lagi-lagi tak sesuai dengan yang
kuinginkan. Saat sponsor menagih hutang ke orangtuaku di rumah, saat itu pula
aku diusir dari rumah. Hidupku terasa sangat berantakan dan tidak tahu harus
bagaimana menjalani hidup ini.
Esok pagi kuputuskan pulang dengan
ongkos yang sudah kuhitung hanya cukup untuk sampai ke rumah. Sesampainya, dari
jauh kulihat rumah yang sepi, pintu tertutup rapat seperti tak bertuan. Aku
rindu Ibu, sangat merindukannya. Kubalikan badan dan mulai melangkah lagi menuju
rumah Rena, berharap dapat solusi tepat darinya. Tiba di rumahnya, aku tak mendapat solusi apa-apa selain wejangan kata “sabar”.
Akhirnya kujual ponselku, barang satu-satunya yang kumiliki. Awalnya ia menolak
untuk membeli, ia mau memberikan uang kepadaku cuma-cuma, namun aku tetap
memaksanya untuk membeli ponselku. Dan Rena pun membeli ponselku
dengan harga yang tak kupatok, tetapi ia membayarnya lebih dari harga jual yang
sewajarnya. Dari inilah aku berniat mengumpulkan uang untuk membayar semua
hutangku. Aku berpikir lagi bagaimana caranya agar kubisa menghasilkan uang
lebih banyak, sementara aku pergi tak membawa ijazah dan barang
yang lainnya.
Hari-hari yang kulewati sambil mencari
kerja diwarung ataupun di restoran-restoran, tapi semua tidak semudah yang
kubayangkan; aku tetap menganggur dan uang yang kudapatkan dari hasil menjual
ponsel semakin menipis. Malam semakin tua, kupilih untuk tidur di bangku halte
bis. Angin terasa tajam kurasakan malam ini, seperti jarum yang menusuk pori-pori
dan masuk menembus
daging sampai akhirnya menusuk tulangku. Tubuh
terasa beku, dalam posisi mata terpejam terdengar suara rintik-rintik hujan
yang turun membasahi tanah, memberikan bau yang khas. Kubuka mata, benarlah apa
yang terdengar ditelingaku, air sudah membasahi tanah dan aspal yang tertangkap
dipengelihatanku. Hatiku menagis, menjerit sekuat-kuatnya. Tak pernah kubayangkan sebelumnya kalau hidupku akan terdampar seperti ini,
tak jelas dan tak ada arah tujuan. Rasa dingin kurasakan hingga matahari mulai
tergelincir, berbagi kehangatan untukku yang seperti musyafir gadungan.
Pagi harinya, kulihat disekeliling,
orang-orang sibuk bepergian mencari nafkah untuk keluarganya, ada hal yang
membuat aku ingin meniru ketika aku melihat seorang yang mencari nafkah dengan
gitar tua. Dan dari situlah aku coba untuk memberi hak perutku, yaitu makan.
Kucari botol kosong, lalu kuisi dengan pasir didalamnya. Langkah pertama berpijak
di bis karyawan pabrik, ketika sudah menaiki bis yang tengah berjalan, aku diam
di dekat pintu, kulihat karyawan berseragam heran menatapku, atau mungkin aku
yang salah kiprah. Terasa hina diri ini meminta dengan alat seadanya, bahkan
ini kali pertama kualami. Kukuatkan hati bahwa tidak ada cara lain saat ini
untuk mendapatkan uang, untuk membayar hutangku. Aku pun mulai melangkah lagi,
memasuki ruang bis lebih jauh hingga kuterhenti di bangku paling depan belakang
kursi pak sopir, aku mulai bernyanyi sambil menggerakkan botol berisi pasir
itu, betapa malu kurasakan. Usai bernyanyi, kulepas topi dari kepalaku dan
meminta imbalan dari apa yang sudah kuberikan lewat suaraku. Dan hasilnya aku
dapat uang lebih dari cukup untuk sekedar makan, sisanya kukumpulkan untuk
membayar hutang.
Hari berikutnya kumengamen di tempat
yang sama, ada yang berbeda dihari ini. Ketika baru turun dari bis, aku dijegat
dua orang bertato, berbadan biasa sepertiku, sedang, dan tinggi 170an. Kumengira
mereka juga seorang pengamen, tak lama salah satu dari mereka berkata dengan
nada menantang dan dada dibusungkan. “hebat lu berani ngamen di sini.” Mereka
semakin mendekat, merampas uang yang kudapat dari hasil perjuanganku, tak
terima dengan tindakan mereka, aku pun melawan sebisaku, hingga terjadilah
perkelahian dua lawan satu. Dari tiga diantara kami, salah satunya mendapatkan
luka memar yang cukup banyak di wajah hingga mengucurkan darah lewat hidung,
dan orang itu adalah aku. Bukan hanya itu, uang yang ada di kantong celanaku
semua dikuras, termasuk hasil mengamen kemarin.
Hidup terasa semakin hampa dan penuh
tantangan disetiap langkahnya, aku tidak mengerti bagaimana caranya agar aku
bisa menghasilkan uang. Kuberjalan menahan perih diwajah dan dibagian tubuh
yang lain, ditambah perutku yang juga mulai terasa lapar. Aku coba lagi untuk
mencari pekerjaan di warteg-warteg, satu, dua, tiga warteg sudah kusinggahi,
namun tak ada yang mau mempekerjakan aku, sampai di warteg yang keempat, aku
tidak lagi meminta pekerjaan, aku hanya minta beberapa suap nasi dengan imbalan
aku bekerja untuknya; cuci piring ataupun yang lainnya. Alhasil, aku pun diberi
makan dan kemudian aku disuruh untuk mencuci piring-piring yang kotor.
Terlepas dari mencuci piring, aku
kembali melangkah. Ketika kumelihat sebuah pakaian di jemuran, kulihat baju dan
celana yang kukenakan, pakaian yang sudah beberapa hari kupakai dan sudah
menimbulkan bau dari keringat dan dari terik matahari. Kulihat sekelilingku,
sepi, dan ini kesempatan untukku, aku pun mulai melangkah, semakin mendekati
pakaian yang menggantung itu, tiba-tiba hatiku terbesit ingatan tentang Ibu di
rumah yang sedang sakit. Kuhentikan langkahku dan merenungi apa yang membuat
aku diusir Ayah. “Karena hutang aku berada di sini, berjalan tak tentu arah.
Jangan sampai karena sepasang pakaian aku mendekam dipenjara dan tak bisa
melihat Ibu lagi. Ya Tuhan.. maafkanlah aku.” Demikianlah yang kurenungkan dan
yang menggagalkan niatku untuk mencuri pakaian. Aku kembali melangkah, aku
benar-benar rindu Ibu di rumah, aku ingin merawatnya. Sedih teramat pedih
hatiku, aku anak satu-satunya tapi malah menyusahkan orang tuaku. Sepanjang perjalanan, aku hanya mengikuti kemana pun kakiku
melangkah, pasrah. Ku cari botol lagi lalu kuisi dengan pasir, kali ini aku
bukan hanya ingin menghasilkan uang dari mengamen, aku punya tujuan lain, yaitu
menenangkan diri kesuatu tempat. Dengan mengamen, kuberharap aku bisa ketempat
yang sejuk mengandalkan pindah-pindah dari bis ke bis hingga mengantarkanku
dari penatnya hidup ini.
Langkahku terhenti di depan masjid
Al-Mukarromah, Subang. Lalu aku memasuki halamannya untuk sekadar istirahat. Kupejamkan
mata sebelum kembali melangkah, kubayangkan wajah Ibu di rumah hingga tak
terasa air mataku menggenang diujung mata. Sejuk angin membasuh tubuhku,
berdendang riang membelai telingaku di pelataran masjid. Kembali kumelangkah,
duduk dan rebahan di luarnya, sesekali aku melihat ke dalam—ada beberapa orang
yang melaksanakan shalat, kulihat jam dinding yang terpampang di dalam masjid
masih pukul 10.14 WIB. Tiba-tiba kuteringat pada masa kecil yang riang
melangkah sebelum adzan maghrib berkumandang ke mushalla untuk mengaji. Astaghfirullahal’azim...
aku melupakan satu hal yang paling sakral dalam hidup ini, sudah lama aku
melupakan-Nya, tak pernah melibatkan-Nya dalam setiap urusanku, padahal sering
kulihat Ibu sujud di rumah, tapi aku tak pernah mengindahkannya.
Rupanya, aku sudah menjadi orang yang
sombong selama ini karena tidak meminta kepada yang Maha Memberi dan yang Maha
Mengatur kehidupan ini. Kuberanjak bangun untuk shalat dhuha, tapi pakaianku
dekil dan bau, jangankan untuk shalat, untuk memasuki ruangan masjidnya saja
rasanya tak pantas. “Ya Allah... izinkan aku
bersujud pada-Mu.” Batinku memohon. Tak lama, seseorang datang
menghampiriku, ia mengaku kalau ia adalah pengurus masjid Al-Mukarromah, masjid
di mana aku berada saat ini, namanya Rahmat, lalu kami pun mengobrol. Pengurus
masjid itu seperti orang yang pernah aku lihat, tapi aku tidak tahu di mana dan
kapan. Kuceritakan apa yang kurasakan, ia bilang, “Sebelum kita berada di dunia
ini dan di alam rahim, kita berada di alam ruh, dan di dalam alam ruh kita
berkelompok-kelompok. Saat itu kita melakukan persaksian bahwa Allah adalah
tuhan kita semua. Mungkin saat dalam alam ruh kita satu kelompok dan itulah
yang menyebabkan ketika seseorang bertemu dengan orang lain seperti sudah
pernah melihatnya sebelumnya, padahal belum pernah bertemu sama sekali.” itulah
yang ia katakan, mendengar wejangan darinya, dinding keangkuhan hatiku terasa
runtuh, ingin rasanya kubersujud memohon ampunan dan mengakui segala kelemahan
dan keterbatasanku, hingga akhirnya aku dipinjamkan sarung dan baju koko
olehnya. Kuteringat saat Ayah mengusirku dan Ibu menangis, kuteringat pensi
yang kuadakan gagal total, kuteringat kesalahan-kesalahan yang pernah kulakukan
tanpa rasa sesal dan semua dosa-dosa yang sudah kuperbuat. Air mataku mengalir
deras seperti tak terbendung lagi dalam waktu dhuha.
Dua hari aku tinggal di masjid bersama
pengurus masjid itu, segala masalah yang membebani sudah kuceritakan padanya, dan
aku ditugaskan membersihkan masjid berikut dengan pelataran bersamanya. Setelah tiga hari, aku pamit pulang untuk
menemui ibuku, aku semakin rindu dengannya. Pak Rahmat memberiku sedikit uang
yang ia punya, aku pun pulang. Kembali kumencari botol plastik untuk diisikan
pasir, lalu mengamen lagi, hasilnya untuk membeli kue kesukaan Ibu. Setelah
uang kurasa cukup untuk membeli kue, kumencari toko kue dan membeli kue yang
kumaksud. Kembali kumelanjutkan perjalanan, ketika sampai di terminal, seorang
Ibu tua
sambil menggendong anak kecil menadahkan tangannya kepadaku. Aku tak punya
uang lagi, uangku sudah habis untuk membeli kue. Akhirnya kuputuskan untuk
memberikan dua kue itu untuk Ibu tua dan menyisakan satu untuk ibuku. Jarak
terminal dan rumahku masih jauh, aku mengamen lagi agar sampai dekat dengan
rumahku, saat ini aku tak mengharapkan uang lagi dari mengamen, aku hanya ingin
bisa sampai rumah dan bisa memberikan kue ini untuk Ibu.
Tiga puluh menit kemudian, rumahku
sudah terlihat, tapi hanya dari jauh mata memandang. Kutakut Ayah murka dengan
kedatanganku, tapi bagaimana keadaan Ibu sekarang? Huffftt... aku tidak tahu
harus bagaimana. Tak lama terlihat Ayah keluar dan pergi menunggangi sepeda
motornya. Setelah Ayah sudah benar-benar menghilang dari
pandanganku, aku segera berlari, dan berhenti di depan pintu. Kuketuk pintu
seraya mengucapkan salam, dan tak lama Ibu membuka pintu, aku memeluknya erat
sambil menetesakan air mata. Pun demikian dengan Ibu, ia membelai kepalaku,
mencium pipiku seraya mengucurkan air mata. Kuberikan kue yang kubawa
beriringan dengan kata maaf yang tulus karena kesalahan yang kuperbuat.
Ibu berkata Ayah akan kembali besok
pagi, maka satu hari ini aku coba untuk membahagiakan Ibu dengan apa yang aku
bisa, termasuk menyuapinya kue yang kubawakan. Malam pukul 02:45 WIB Ibu
membangunkanku dan mengajakku untuk tahajud bersamanya. Dalam shalat itu, tubuhku
bergetar, rasa dingin menyerang tubuhku; berawal dari tangan, kemudian merambat
hingga ujung kaki, hal yang baru kurasakan seumur hidupku. Usai shalat, kumencium
tangan ibu, kulihat wajahnya, sudah basah dengan tetesan air mata yang
mengalir. Terucap doa-doa dari bibirnya seraya membelai kepalaku hingga air
mataku pun kembali meleleh.
Setelah melaksanakan shalat subuh, aku
kembali keluar dari rumah sebelum Ayah kembali pulang, kupeluk Ibu erat dan
kucium pipinya sebelum benar-benar melangkah dan menjauh. Ditelingaku, Ibu
membisikan kata “Doa ibu senantiasa tercurah untukmu, anakku.” Kata itu terasa
cepat merasuk otakku dan menyentuh bagian terhalus di hati sehingga memberikan
energi untukku. Seiring dengan langkah mundur, Ibu terus menangis menatap
kepergianku. Kulambaikan tangan, dan air mata Ibu semakin deras kulihat,
bibirnya tertutup rapat tak bergeming sedikitpun.
Setelah melaksanakan shalat dhuha di
sebuah masjid besar di Depok, aku duduk di luar masjid memikirkan kemana
kuharus melangkah. Dalam diam, tiba-tiba aku dikagetkan dengan kawan lamaku, ia
mengatakan kalau ia sukses dengan acara pensi yang ia gelar, dan ide itu berkat
ideku yang pernah kusampaikan padanya. Aku diajak bekerja sama dengannya untuk
mengadakan pensi yang lebih besar dengan sponsor yang besar pula. Beberapa
bulan aku tinggal di apartemennya untuk mempersiapkan pensi yang akan kami
selenggarakan selanjutnya. Hingga sampai waktu yang ditentukan, acara yang kami
selenggarakan berjalan dengan sukses. Bukan hanya itu, kami berhasil memasarkan
produk sponsor dengan hasil mengagumkan. Setelah punya cukup uang untuk
mengganti semua hutangku pada sponsor yang kurugikan dulu, aku mendatangi
kantornya dan menyerahkan sejumlah uang. Dari sini, karierku semakin meningkat.
Aku juga membuka usaha waralaba kuliner berikut dengan minumannya berkat kerja
sama dengan kawan temanku. Esok, kurencanakan untuk kembali pulang, memberitahu
semua ini pada Ibu sekaligus aku ingin meminta maaf pada Ayah, juga berharap
bisa berkumpul seperti sedia kala.
Malam ini kurasakan damai, tak sabar
rasanya untuk menemui hari esok hingga pikiranku jauh melayang-layang bak
Cendrawasih. Perlahan, mata terpejam menyiapkan kebahagiaan hari esok. “Alhamdulillah...”
ucapku sebelum benar-benar berlabuh ke pulau impian.
Pagi yang kunanti pun tiba, setelah
melaksanakan shalat dhuha, aku pergi ke toko kue kesukaan Ibu, lalu aku
langsung menuju rumah dengan hati riang gembira. Ketika sampai di depan rumah,
puluhan orang berkumpul, bendera kuning terpasang di pagar, semua orang
menatapku, diam. Aku langsung berlari menerobos kerumunan orang-orang yang
berkumpul. Tiba di dalam, sebujur tubuh terbaring dengan wajah ditutupi kain
putih. Seorang tetangga mendekat ke arahku, ia berkata “Yang sabar atas musibah
ini, beliau meninggal di rumah sakit, dan saat ini, ayahmu sudah memaafkanmu.”
Mataku terbelalak “Ayah….” Air mataku kembali mengalir. Perlahan, kubuka kain
yang menutupi wajah tubuh yang terbujur
kaku dihadapanku. Dan semakin terpukul aku setelah melihat dibalik kain itu.
aku menangis menahan duka, linangan air mata semakin membasahi pipi. “Ibu, aku
bawakan kue kesukaan Ibu, kenapa Ibu pergi Bu…” belum sempat aku memberikan
kabar gembira atas kesuksesanku saat ini pada Ibu, beliau telah pergi
meningggalkanku. Kata-katnya masih terngiang ditelingku yang beliau ucapkan
sebelum aku pergi beberapa waktu lalu, “Ibu selalu mendo’akanmu, anakku.” Aku
terpaku melihat jasad Ibu berbaring dihadapanku. Seketika, Ayah datang
memberikan selembar kertas untukku, “Sebelum pergi, ibumu menulis ini.” Ku buka
dan mulai membacanya.
“Mas,
maafkanlah Riki anakmu, dia anak semata wayang kita. Aku ingin kalian bisa
hidup rukun. Kesalahan yang dilakukan Riki bukanlah ketersengajaan, ia hanya
belum berhasil menjalankan acaranya, sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua
untuk terus menasehati dan membimbingnya..
Dan
untuk Riki…
Ibu
minta maaf tidak bisa menarikmu kembali pulang sebelum Ibu benar-benar pergi,
semua tahu, sifat bapakmu sangat keras. Teruslah belajar memaknai hidup ini dan
cari siapa dirimu, doa Ibu selalu tercurah untukmu, anakku.”
“Terima kasih Ibu atas doamu yang
selalu temani langkahku…” ucapku lirih. Setelah Ibu dimandikan dan dikafani
serta dishalatkan. Kuantar beliau sampai peristirahatan terakhir. Kuazankan
lalu perlahan tanah menutupi tubuh yang berbalut kafan putih. “Selamat tinggal
Ibu, suatu saat mudah-mudahan kita bisa berkumpul lagi..”
[_SELESAI_]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar