Selasa, 21 Januari 2014

Puisi Ke-5 "HUJAN JANUARI"


HUJAN JANUARI

hujan yang turun di bulan januari
tak pernah terduga sebelumnya
genangan air di mana-mana
banjir, mengangkat sampah-sampah
tidak sewajarnya

juga dengan rupiah;
          elektronik
          perhiasan
          pengangkut tubuh
habis tergilas oleh ganasnya

teringat diawal bulan ini
begitu riang kau tiup terompet
jejingkrakan tiada tara
parau suara membelah malam
seraya ledakan petasan di udara

sampai kini, sepertiga januari
hujan masih bayangi hari
mengumpat dari balik awan gelap
siap melompat secara gerombolan
menyerang makhluk bumi

hujan adalah teman
bagi petani dan seisi bumi

hujan adalah teman
yang marah karena bising;
          terompet
          juga ledakan petasan
diawal januari selepas semua berlalu

hujan sedang marah
mencari-cari temannya;
          pohon
          rawa
semua yang jadi tempatnya singgah
                                                                                                                        

Puisi ke-4 "SEMBILAN ALFATIHA"


SEMBILAN ALFATIHA

kubuka pembukaan
samudranya luas;
elok tiada tara
sebab akal tak bisa mengira

sembilan setelah shalat;
tujuh untuk senja menuai pagi
satu untuk mereka tersayang
satu untuk alam ketiga; almarhum

selalu dan begitu
taka ada doa yang tak didengar
kuyakin

kelak, kan kubawa ibu dan keluarga
berpijak dibelahan lain
merasakan suasana berbeda
tak hanya kemarau dan hujan

Bekasi, 20 Januari 2014

Senin, 20 Januari 2014

Puisi Ke-3 "Mimpi Besar"


MIMPI BESAR

berawal dari setetes tinta
kutabur dalam lembaran kertas
lalu menjelma menjadi kata
ungkapkan mimpi besarku

“bukan hanya bermimpi
tapi harus bangun”
begitulah mereka berkata
seperti mengejek, aku terpojok

padahal aku selalu terjaga
bersama mimpi yang melekat
iringi hati nurani yang suci
bukan hanya bunga mimpi

beribu kata menjadi sebilah mata pisau
mengkilat, sayat hatiku
berdarah-darah lalu kutambal
dengan sabar tiada batas

bagaimana dengan kau
sudahkah berjalan
berlari bahkan melompat?
kuharap demikian

Bekasi, 19 Januari 2014

Sabtu, 18 Januari 2014

Puisi Ke-2 "POLUSI"


POLUSI

kuhirup udara pagi
hitam masih bayangi putih
bercampur gumpalan asap;
sesakan nafas

jalanan telah ramai; padat
dengan bising suara mesin
pengendaranya manusia bertopeng
berhamburan di mana-mana

embun yang dulu bening
kini entah kemana
mungkin telah binasa
ia melahirkan generasi baru
bukan bening, melainkan keruh

aku rindu embunku
aku rindu alamku
aku rindu udara sejukku
yang kini hanya tertulis di batu nisan

Bekasi, 18 Januari 2014

Puisi Ke-1 "BANJIR"

BANJIR

berjuta rintik hujan
turun basahi tanah tiada henti
hanyutkan debu jalanan
basahi puisiku

tentu bukan salah alam
apalagi hewan yang tak mengenal dosa
namun salah siapa?
kutanya pada rumput, ranting dan daun
tak bersua; juga telah hanyut

hanya tinggal aku di sini
bersama kata dan genangan air
setumpuk kata—kemudian kurangkai
berjuta kulah air terus bertambah
hingga tak ada tanah tersisa

kuharap besar pada semesta
derasnya hujan; lunakan hati
tak hanya debu jalanan yang hanyut
juga debu dalam hati yang keras

alam telah menamparku
kau, kalian, juga mereka

Bekasi, 18 Januari 2014