Kamis, 27 Agustus 2015

Perempuan

PEREMPUAN
Perempuan hidup dengan alasan
Memilih jalan yang ditawarkan laki-laki
Setiapnya bernafaskan kerinduan
Rindu akan segala janji yang tak dimiliki
Pada suatu hari ia menangis
Karena sebuah luka yang diterima dengan sadis
Ia menangis dan hanya bisa menangis
Dalam ruang hampa tiada batas
Aku bagian dari perempuan
Tiada daya dan guna untuknya meneduh
Aku tak memiliki hingga tak jadi pilihan
Aku, musafir kelana yang merindui kasih
Ketika itu kulihat perempuan
Tidak-kah kau lihat dengan hati? Tanyaku
Dia jawab dengan tangis bertahun-tahun
Aku, musafir kelana tak mengerti perempuan
Suatu waktu ia bersua:
Semua lelaki sama tiada benar!
          Perempuan
          Memilih jalan yang ditawarkan laki-laki
          Tidak-kah kau memilih dengan hati?


Jakarta, Aku yang dalam kebimbangan.

Kubenci dan Kumalu Oktober

Antara September dan Oktober

September merambat dengan cepat melalui hari
Sementara tahun berganti tak dapat kumengerti
Malu, malu bertemu Oktober yang sadis
Seumpama gadis manis yang menghilang dengan bengis

Antara September dan Oktober

Aku lenyap dalam kenistaan yang malang
Enggan menyapa apalagi bertemu meski remang
Kau, Oktober yang tak luput dalam hening
Seperti mantra yang bangun saat kulepas kenang

Harusnya kulepas kasih di senja itu
Sebelum laba-laba meninggalkan sarang yang usang
Sebelum kaca-kaca kau pecahkan dan melukaiku
Sebelum kau tipu aku di tepi jurang

Antara September dan Oktober

Meski kuberdarah memenuhi hati
Kuat kudalam cengkraman takdir memisahkan kelingking
Tetap rela dalam tikaman yang kau beri
Malu, dan aku memilih pulang dengan wajah berpaling


Jakarta, dalam kamar.